
Setelah hari itu aku jadi sering bengong.
Kadar kemarahanku pun sepertinya menurun.
Ada cewek yang nggak sengaja nyenggol denganku aku biasa aja.
Ada cewek yang jatuhin buku-buku di depan mataku, aku malah tolong.
Bahkan ada yang ajak aku ngobrol dan aku layanin aja tanpa pikir panjang.
"Apa yang terjadi?"
Emil mengetahui perubahanku.
"Nggak ada," dustaku.
Gila aja kalo dia tahu apa yang terjadi kemarin?! Aku merasa telah mengkhianatinya.
Untung saja pulang sekolah ada pertemuan OSIS, aku jadi nggak harus lebih lama bersama Emil dan merasa berdosa di sampingnya.
"Kalian harus selalu tanam di OTAK kalian semboyan OSIS angkatan ke-50! Yaitu GO GREEN!! Jadi NO bunga batangan yang bertebaran! NO coklat kemasan yang terlihat selama VALENTINE!" Kak Theo sedang menjelaskan peraturan khusus untuk GREEN VALENTINE. Dia sampai memberi penekanan pada kata-katanya.
"Inti Valentine kali ini, KASIH SAYANG PADA ALAM! Aku gamau liat ada yang buang SAMPAH bungkus coklat atau bunga BATANGAN di hari itu!"
Kita para anggota sih sudah hafal dengan gaya bicara militan nya itu.
"Karena itu," Dia berbalik menghadap papan tulis yang sudah selesai ditulis kak Sherly, " Ini poin-poin yang harus kalian perhatikan!"
Inspeksi sampah coklat dan bunga batangan.
Pamflet mengenai syarat coklat dan bunga yang diijinkan.
Penanaman bunga di setiap taman kelas.
Setelah mencatat poin-poin dari papan tulis, kita dibagi per kelompok sesuai tugas. Aku mendapat tugas inspeksi membosankan, dan kelompokku cewek semua seperti biasa berkat kak Sherly yang maha agung.
Biasanya aku bakal malas berpartisipasi dalam diskusi. Menatap para hawa aja aku malas, apalagi bicara dengan mereka. Tapi hari ini perasaan itu nggak sekuat sebelumnya.
Tiba-tiba pulpen cewek di sebelahku nggak sengaja terlempar ke arahku.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf." Katanya dengan wajah ketakutan. Di luar dugaannya aku mengembalikannya tanpa memarahinya seperti yang biasa aku lakukan.
"Seperti itu penjelasan inspeksi, kalau kalian setuju kalian tanda tangan disini." Kata salah seorang dari mereka.
"Kamu mintain tanda tangan dia dong."
"Serem ah! Nanti dimarahin ogah!"
"Terus gimana nih."
__ADS_1
Kalau mau minta tanda tanganku, cepat bawa kemari! Payah amat sih kayak gini aja nggak bisa minta terus terang!!
Itu yang biasanya bakal aku jawab sih.
Tapi kali ini aku mengulurkan tanganku meminta kertasnya. "Mana!" Kataku lebih bisa mengontrol diriku.
Dan bukannya mereka langsung menyerahkan kertasnya padaku, mereka malah bengong di depanku.
Saat aku mulai bicara mereka kelihatan ketakutan. "Aku mau tanda tangan."
Biasanya aku menikmati melihat mereka memandangku ketakutan atau jengkel atau apapun yang mereka nggak suka.
Tapi membayangkan cewek di bengkel yang merasa tersiksa menjadi cewek, atau Eli yang berterima kasih dengan tulus pada hadiah konyol yang sama yang aku kasih setiap tahun, aku sekarang jadi merasa bersalah.
Cewek punya perasaan, dan tak semuanya buruk. Itu yang mulai aku rasakan sekarang.
Selesai rapat OSIS, aku dikejutkan oleh Emil dan Leon yang menungguku.
"Nggak ada masalah, serius!" kataku meyakinkan mereka.
Mendengar itu Leon memanggil seorang cewek yang kebetulan adalah salah seorang anggota OSIS.
"Maaf mengganggu waktumu," katanya sesopan mungkin, "Sebentar aja tolong salaman dengan Angy."
Ngapain sih Leon? Apa tujuannya?!
Cewek berkacamata yang kelihatan culun itu melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Saya tidak sudi bersalaman dengan laki-laki penganut misoginis seperti orang ini." Katanya dengan bahasa formal dan kalem tak berekspresi.
"Heh! Emangnya aku juga sudi salaman dengan cewek kutu buku rambut mangkok seperti dirimu?!"
Balasku balik yang biasa kulakukan. Emil dan Leon malah terlihat lega.
Jadi mereka mengetesku nih ceritanya?!
"Eli sudah banyak bercerita tentang dirimu. Tapi pernyataannya kemarin membuatku sangat kecewa."
Tunggu dulu pernyataan apa maksudnya? Kenapa kecewa? Dia kenal Eli?!
"Kemarin saat kalian pergi kencan berdua," Hahh?? Kenapa dia tahu?? "Makan dan nonton berdua, jalan-jalan sambil bergandengan tangan dengan mesranya," Gawat masa dia tahu semua detailnya? Tapi ini sih dilebih-lebihkan!!
"Bahkan sampai kalian berciu..."
"GILA!! CEWEK GILA!!"
Aku membungkam mulutnya. Leon dan Emil kelihatan kebingungan.
Eli mulut baskom! Masa dia cerita semuanya ke cewek ini sih?!
"Dengar ya," bisikku pelan padanya, "kalau kamu nggak mau sahabatmu tercinta tuan putri Eli sampai malu, jangan ceritakan curhatannya ke orang lain!"
Dia pun mengangguk dan aku melepas bungkamanku darinya dengan bernafas lega.
__ADS_1
"Sepertinya dirimu salah paham. Eli sama sekali tidak terlihat malu, dia justru cerita ke semua teman-temannya, terutama ciuman mesra kalian di bawah rembulan di parkiran motor."
Tamat sudah riwayatku.
Kupikir aku akan menggali kuburku atas kejadian ini.
Emil kelihatan shok dan Leon tambah penasaran.
"Jadi kencanmu kemarin sukses? Walau nggak perlu sampai ciuman sih." kata Leon.
Aku hanya diam, nggak mau lebih mempermalukan diriku.
"Saya izin mengundurkan diri." Cewek culun itu, setelah ngomong seperti itu tanpa hati sama sekali, pergi begitu saja.
"Kalau nggak salah tadi Cantika, cewek jenius dari kelompok anti cowok songong milik Eli."
"Kenapa nggak bilang dari tadi?!" Tapi bukan itu masalahnya sekarang.
Aku lebih khawatir pada Emil. Dia pasti sakit hati mengetahui cewek pujaan hatinya malah berciuman dengan sahabatnya sendiri.
"Emil, dengar bro, aku nggak pernah ciuman dengan nenek sihir gila itu." Memang sih dia cium di pipi, tapi menurutku itu bukan ciuman, itu hanya semacam salam atau terima kasih.
Dia masih terdiam.
"Terserah kamu mau lebih percaya para cewek gila itu atau aku sebagai sahabatmu!"
Emil diam sejenak sebelum mulai bicara.
"Jadi, kau sudah mencampakkannya?"
Pertanyaannya itu membuatku membatu seketika.
Sekarang aku merasa hidupku sedang diuji dengan dihadapkan dua pilihan hidup dan mati. Apakah aku akan jujur padanya atau bohong putih demi kebaikan dirinya.
Selama ini aku nggak pandai berbohong. Kalau aku bohong ujungnya aku suka cerita jujur, membuat diriku seolah menggali lubang sendiri.
Tapi memang itu yang ingin aku lakukan, mengubur diriku di tanah paling dalam.
"Tentu saja Angy mencampakkannya sesuai strategi yang kita buat kan!" Leon membelaku.
Aku nggak tahu apa aku harus tambah berterima kasih kepada dirinya, atau justru merasa menyedihkan karena nggak berhasil menyelesaikan misiku sendiri.
Aku kemudian memilih jujur.
"Sorry guys, bukan maksudku menyembunyikan kejadian itu," akuku sungguh-sungguh terlihat kecewa. "Sorry banget Mil, tapi aku sungguh nggak bermaksud merebutnya darimu."
"Sudah nggak usah minta maaf gitu dong! Kita kan sahabat!"
"Benar. Kamu melakukan ini hanya karena misimu kan?" Emil ikut menambahi yang membuatku tambah merasa bersalah.
"Aku gagal total dengan misi kemarin."
"Apa maksudmu?" Leon mulai heran, begitupun Emil.
__ADS_1
"Dengar, aku nggak mau menyembunyikan ini dari kalian. Tapi sepertinya aku mulai menyukainya."