
Libur telah selesai dan semester baru dimulai.
Kali ini kita sudah diminta untuk memikirkan jurusan mana yang akan kita ambil.
"Aku sih IPA karena nggak bisa hidup tanpa fisika." Kataku tanpa pikir panjang ketika ditanya Leon saat jam istirahat pertama.
"Sebenarnya aku berharap bisa sekelas denganmu Gy, tapi aku lebih tertarik IPS." Kata Leon sedikit kecewa.
"Masa SMA itu kan harus dinikmati," ungkap Reec. "Ngapain mati-matian belajar?!"
"Nggak salah ndes? Tugas anak sekolah itu kan belajar!" Bantah Alv.
"Gue gamau dengar itu keluar dari mulut lu! Kerjanya ke mall terus!"
"Ingat aja jangan sampai dapat nilai merah di mapel penting, nanti nggak bisa masuk jurusan manapun!" Kataku memperingati mereka.
Emil yang dari tadi terdiam sepertinya menatap sesuatu. Saat kuikuti arah pandangnya, aku melihat Eli yang sedang jajan di kantin.
Ampun deh dia itu sampai segitunya sama Eli?!
Jujur aku sebenarnya mau mematahkan niatnya buat jadian dengan monyet gila itu. Tapi melihat Emil tipe cowok yang serius aku yakin perasaannya ini sungguh-sungguh, dan aku ragu dia bisa hilangin perasaannya itu.
...****************...
Hari ini hari komunitas.
"Nah, kali ini misi siapa yang mau kita jalankan?" tanyaku pada mereka.
Leon sedang membaca lembaran kuesioner kita. "Gimana dengan Emil? Kamu tulis ingin membuat para cewek menyesal telah berbohong." bacanya.
"Iya, itu masalah ibuku."
"Terus, yang bisa kita lakukan?" tanyaku.
"Saat kalian main ke rumahku, ibuku udah cerita semua."
Kalau nggak salah ingat sih waktu aku ngobrol dengan ibunya, dia bicara mengenai daddy monster yang entah apa maksudnya.
"Lho kalian ke rumah pangeran nggak ngajak-ngajak!" protes Reec.
"Ngapain ngajakin orang bawel entar malah diusir kamu!"
"Penasaran kan, pangeran tinggal di Istana semewah apa!" seru Reec.
Aku dan Leon saling pandang. Kita sepakat untuk nggak menceritakan pengalaman luar biasa kita waktu itu.
"Lalu gimana denganmu Leon?" tanyaku kemudian.
"Menjebak mereka dengan perbuatan mereka sendiri." Leon membaca kuesionernya sendiri. "Susah kalau mau dijalanin. Kita skip aja misiku."
"Punya Alv gimana?" tanya Reec.
"Nggak usah punyaku buang aja!"
"Emang apa isinya?" Reec mendekati Leon untuk membaca kuesioner Alv. Tapi belum sempat dibaca, Alv merebutnya dari tangan Leon dan merematnya.
"Emang apa yang mau ditutupi?" tanyaku heran.
"Itu dulu tentang gebetanku yang suka ghosting chatku. Gebetan baruku sih belum pernah ghosting aku."
"Maksumu Fani? Ihirr..!" Reec menggodanya.
"Apaan! Kemarin kamu aja diam-diam foto pacar bayanganmu!" balas Alv.
__ADS_1
"Kampret! Gue cuma foto lapangan basket!"
"Orang biasanya foto langit atau pemandangan indah, ini malah foto lapangan basket!" Alv terus memojokkannya.
"Udah kita bahas misi dulu. Gimana dengan misimu Gy?"
Sebelum Leon membaca kuesionerku, aku ingat betul apa yang aku tulis.
"Membuat mereka jatuh cinta, lalu mencampakkannya." bacanya. "Siapa yang kamu maksud?"
Mereka semua memandangiku menunggu jawaban dariku.
Sebenarnya cewek yang aku maksud dalam kuesioner itu Eli. Tapi mengetahui perasaan Emil padanya sekarang, mana mungkin aku bisa melakukannya?
"Kita skip dulu." kataku setelah berpikir sejenak.
"Berarti nggak ada misi yang bisa kita jalani." Reec terlihat sedikit kecewa.
"Nggak usah khawatir. Kita bisa latihan pertahanan hidup. Bulan April juga akan ada lustrum sekolah. Tiap kelas harus membuat stand. Nanti kita bahas lagi kalau hari sudah dekat."
Selama kegiatan komunitas kita hanya bercerita mengenai pengalaman buruk bersama perempuan. Tapi ujungnya lagi-lagi membahas tentang gebetan Alv dan pacar boongan Reec. Leon bahkan mengaku sedang menyukai seseorang.
Walau yang lain belum tahu, Emil juga suka pada Eli. Anggota komunitas anti cewek malah punya orang yang disukai!
Dan aku pun, dengan cewek moge ikal itu...
Entahlah.
Tapi aku mulai berpikir, apa memang cowok nggak bisa hidup tanpa cewek?
...****************...
Hari Minggu seperti biasa aku nginap dirumah Emil. Peraturan yang melarang kita untuk mengendarakan kendaraan bermesin setiap hari Senin masih berlaku.
"Bukannya bagus kamu bisa tiap minggu main ke rumahku?" Yang dikatakan Emil ada benarnya juga.
"Libur kemarin les apa aja?" tanyaku mengganti topiknya.
"Les nggak penting."
"Contohnya seperti apa?"
"Piano, renang, tennis, tari daerah..."
Emil berhasil mengalahkanku dalam game. Karakter gamenya yang menang berpose aneh.
"Ngapain les itu semua?!" tanyaku sekarang menoleh ke arahnya.
"Karena bosan," jawabnya santai. "Mau main satu ronde lagi?"
"Laper nih!" Kataku sekarang berdiri. "Mau makan keluar?"
Kita berdua pun pergi dengan motorku untuk mencari makanan. Kalau aku nggak masak kita biasanya pergi kuliner. Rumah Emil letaknya di kota yang ramai dengan rumah makan. Tapi kali ini aku mengajaknya ke tempat yang agak jauh.
"Sini aja ya!" saranku. Aku dan Emil seleranya sama. Kita suka makan di pinggir jalan daripada di restoran.
Dulu saat pertama kali pergi makan dengannya, aku ragu mengajaknya ke tempat kumuh seperti ini. Uang jajanku yang nggak mampu membayar menu restoran, terpaksa mencoba untuk mengajaknya makan ke warung. Dan Emil makan sampai nambah 3 piring!
"Tempat apa ini?" tanyanya.
"Nasi kucing enak!"
Sekarang sih aku ajak dia makan di pedagang kaki lima pinggir got aja, udah nggak pikir panjang lagi.
__ADS_1
Kita pun turun dan membuka helm.
"Mas sate usunya tambah dua ya!"
"Ambil aja neng!"
Tiba-tiba aku mendengar suara serak-serak basah yang nggak asing.
Saat aku menengokkan wajahku ke sumber suara, aku kaget setengah mati melihat cewek gila yang waktu itu kutemui di bengkel.
Karena nggak mau ketahuan Emil, aku pun berusaha menyembunyikan diriku dengan kembali mengenakkan helm.
Emil memandangku heran.
"Minumnya apa mas?"
Aku terdiam berharap Emil untuk menjawab. Dia harusnya tahu kalau kita selalu memesan minuman yang sama. Tapi sepertinya aku terlalu berharap pada orang introvert seperti Emil.
Tak ada dari kita yang bicara.
"Minumnya apa?" tanya penjualnya lagi.
Aku mengangkat tanganku membuat angka dua lalu menunjuk ke gelas dengan teh.
"Es teh manis dua?"
Aku mengangguk.
"Kamu nggak enak badan?" tanya Emil khawatir.
Dengan telunjukku aku menunjuk ke arah tenggorokanku.
"Sakit tenggorokan?"
Aku mengangguk lagi.
"Mas tolong minta piring mendoannya dong!" Cewek gila yang duduk di sebelah Emil dengan teganya mengajakku bicara.
Aku pun meraih piring penuh dengan mendoan yang ada di hadapanku itu dan menyerahkan padanya tanpa menoleh sedikitpun.
Masih aman, pikirku.
Masalahnya sekarang gimana caranya aku makan dengan tetap mengenakkan helm?
Aku berdoa dalam hati agar cewek itu cepat menyingkir dari sini, dan doaku terkabul.
"Berapa semuanya pak?"
Setelah membayar makanannya dia pun pergi.
Melihatnya menghilang dari sudut mataku, aku pun langsung membuka helmku.
Emil melihatku heran tanpa bertanya.
Satu hal yang kusukai darinya: nggak banyak bicara.
"Huhhh!" Aku menghembuskan nafas panjang dan langsung makan karena kelaparan.
Tiba-tiba cewek tadi masuk kembali.
"Pak HPku ketinggalan ya?" Dia melihat ke arahku dan secara nggak sadar aku menoleh ke arahnya.
"Lho! Ternyata kamu dek!"
__ADS_1
Perjuanganku untuk menyembunyikan diriku darinya jadi sia-sia.