
Selama di perjalanan menuju ke kelas, Erlangga dan Elvano menjadi pusat perhatian. Erlangga yang memang sudah merasa biasa, hanya cuek dan dingin seperti biasanya. Namun lain halnya dengan Elvano. Elvano yang berada di gendongan Erlangga, yang tidak terbiasa menjadi pusat perhatian hanya bisa memeluk abangnya dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Erlangga.
Erlangga yang melihat adiknya yang memeluknya dengan erat terkekeh melihat, dan dari perbuatannya itu semakin membuat semua orang heboh yang melihat Erlangga yang terkenal cuek dan dingin tiba-tiba tertawa.
Akhirnya mereka pun sampai di depan kelas mata kuliah Erlangga, dan dia pun memasuki kelas dan dia kembali menjadi pusat perhatian apalagi, dia menggendong seorang anak kecil bersamanya.
Dan itu tidak lepas dari pandangan Demian, protagonis pria yang ditunggu-tunggu oleh Elvano, dan Ryo yang heboh dengan kedatangan Erlangga yang ditunggu-tunggunya.
Lalu Erlangga duduk di tempat kursinya yang di berada di dekat jendela, dan bertepatan di samping Demian yang duduk di sebelah kanannya. Dan Ryo yang duduk di depannya.
Dan Ryo pun mendekati Erlangga untuk menjawab pertanyaannya.
"Er, Lo bawa anak siapa?, ini anak Lo?"kata Ryo yang dengan hebohnya.
Erlangga yang mendengar suara Ryo yang berisik menatapnya dengan tajam. Ryo yang mendapatksn tatapan tajam dari Erlangga hanya mencengir.
Elvano yang mendengar suara yang berisik menjadi bangun dari tidur singkat, Elvano yang merasa nyaman selama di gendongan Erlangga membuatnya tertidur. Tapi karena suara berisik yang cempreng membuatnya bangun sekaligus kaget, apalagi suara tersebut berdekatan dengan telinganya.
Erlangga yang melihat adiknya bangun dan kaget, segera mengelus punggung agar membuat adiknya tenang, dan supaya adiknya kembali melanjutkan tidur nyenyaknya.
Namun bukannya melanjutkan tidurnya, Elvano duduk membelakangi Erlangga yang memangkunya. Dan itu membuat sekelas heboh karena melihat keimutan Elvano yang baru bangun.
mata yang masih ngantuk, bibir yang di manyunkan, dan tidak lupa dengan pipinya yang tembam. Ryo yang melihatnya juga ikut heboh, karena melihat keimutan dari anak kecil yang berada di depannya.
Di saat ingin mencubit pipinya. tangannya segera di tepis oleh Erlangga dan menatapnya tajam, namun di abaikan olehnya.
Dan Elvano melihat Ryo dengan tatapan yang dibuat tajam, dia marah, karena Ryo membuatnya terbangun dari tidur nyenyaknya. Dan karena ingin mencubit pipinya yang seperti mochi.
__ADS_1
"Abang, siapa?, kok berisik, Abang kayak tante-tante yang adek lihat di dalam tv yang ditonton mama"ujar Elvano dengan kesal.
Erlangga yang mendengar perkataan adiknya, menahan tawanya yang ingin keluar. Sedangkan Ryo yang mendengar perkataan anak kecil yang tidak lain Elvano, tercengang mendengarnya. Dia seorang laki-laki yang berwajah tampan ini di samakan oleh ibu-ibu yang suka bergosip.
Demian yang mendengar perkataan Elvano juga ikut terkekeh, mendengarkan. Namun, setelahnya hanya keheningan setelah dia tertawa dan setelah menyadari hening. dia pun menoleh ke seluruh kelas dan melihat semua orang yang ada di kelas melihat kepadanya, Dan juga kedua temannya. Erlangga dan Ryo juga ikut menoleh, apalagi dengan Ryo dengan mukanya yang terlalu berlebihan, seolah-olah dia menemukan peta harta Karun.
Elvano yang juga ikut menoleh kepada teman abangnya itu dengan bingung dan tatapan yang polos, dan dia pun menyelutuk di tengah keheningan tersebut.
"Abang, Abang itu siapa?"
setelah mengatakannya, dosen yang mengajar di kelas Erlangga masuk, dan Erlangga langsung duduk menghadap ke depan. dan Elvano yang tidak mendapatkan jawaban hanya bisa mendongak kepada abangnya dengan kesal. Lalu dia menghela napas dan tiba-tiba dia menoleh ke arah Demian yang juga ternyata menoleh juga kepadanya.
Elvano yang masih kesal dengan abangnya, lalu melampiaskan dengan Demian dengan tatapan mata yang di buat dengan melotot ke arah Demian.
Demian yang melihatnya hanya tersenyum tipis, hingga tidak ada yang menyadarinya. Lalu dia pun menghadap ke depan untuk mendengarkan penjelasan dosen di depan dengan masih tersenyum tipis dan pikiran yang tidak dapat di tebak yang ada dalam dipikirannya.
...****************...
Lalu setelah waktu mata kuliah habis, dosen yang mengajar keluar. Dan semua mahasiswa dan mahasiswi mulai bersiap-siap untuk pulang.
Dan Erlangga yang juga siap-siap untuk pulang.
Dan tak lupa untuk mengendong adiknya, yang merasa lelah karena tidak melakukan apapun. Lalu
"Abang, lapar~"rengek Elvano kepada Erlangga.
lalu Erlangga yang mendengar rengekan adiknya segera membawanya ke kantin untuk makan, dan tak lupa tas kecil punya adiknya yang berisi kebutuhannya.
__ADS_1
Ryo dan Demian, yang melihat Erlangga yang hanya pergi aja, segera menyusul mereka berdua,apalagi mereka mendengar kalau Erlangga dan Elvano akan ke kantin.
Sesampainya di kantin, Erlangga segera membawa adiknya untuk duduk di tempat Biasa dia duduk dengan kedua temannya.
"Abang mau makan bakso"ujar Elvano. Erlangga yang mendengar ucapan Elvano segera memesan makanannya untuk Elvano dan tentunya juga untuknya.
Begitu juga dengan Ryo dan Demian yang juga memesan makanan. sambil menunggu pesanannya. kemudian Ryo bertanya kepada Erlangga.
"Er, ini adek Lo?"
Erlangga hanya mendehem untuk menjawab pertanyaan Ryo.Lalu dia pun kembali bertanya tapi ke Elvano.
"adik, namanya siapa?"tanya Ryo
Elvano yang ada yang memanggilnya menoleh kepada Ryo yang memanggilnya. Dan dia pun menjawab pertanyaan dari Ryo dengan senyuman yang manis.
"Nama, adek Elvano Anggantara. Anak dari papa Erik ganteng dan mama Diana yang cantik. Adik dari Abang Erlangga yang ganteng sama Kak Celline yang cantik tentunya."jawab Elvano yang riang.
Erlangga yang mendengar perkataan adiknya terkekeh, apalagi adiknya itu bukannya hanya memperkenalkan namanya, tapi semua nama keluarganya yang lain.
"nama Abang berdua siapa?"tanya Elvano
Ryo yang ditanya oleh Elvano, langsung dengan semangat memperkenalkan dirinya kepada Elvano, yang sudah dia anggap adiknya juga sejak awal bertemu. Namun sebelum memperkenalkan dirinya. Tiba-tiba
Demian yang hanya diam tiba-tiba bersuara
"Demian Dirgantara"ujar Demian dengan menatap Elvano dengan lekat.
__ADS_1