
Sesampainya di kamar Elvano, Erik pun mentidurkan anaknya itu di atas kasur, yang nyenyak dalam tidurnya, tanpa terusik saat Erik mentidurkannya lalu Erik pun tidak lupa untuk mencium kening putra bungsunya itu.
"selamat tidur sayang"
Setelah mengatakannya Erik pun keluar dari kamar Elvano, dan segera menuju ke bawah, untuk menemui adiknya bima, yang masih bersama istrinya di ruang tamu.
Lain halnya di ruang tamu, Diana dan Bima berbicara dengan seriusnya, hingga kedatangan Erik tiba, dan dia pun bergabung dengan pembicaraan yang dilakukan oleh Bima dan Diana.
"Ada urusan apa kau ke sini?, jika tidak ada yang diperlukan pastinya kau tidak akan berkunjung bukan?"ujar Erik yang membuat pembicaraan Diana dengan Bima terhenti.
Bima yang mendengar kakaknya itu, hanya cengir. Kakaknya itu selalu mengetahui apa yang diinginkan olehnya.
Erik yang melihat kelakuan adiknya Bima hanya menatapnya dengan datar dan tatapan tajam yang mengarah kepadanya. Lalu dia hanya menghela napas.
"Jadi, apa maumu?"ujar Erik kembali.
Bima yang ditanya oleh Kakaknya langsung mengubah wajahnya serius, untuk mengatakan maksud kedatangan.
"Sebelum aku menjawab, itu yang tadi benaran anak bungsu kakak?"tanya Bima yang sepertinya masih belum percaya, kalau keponakan imutnya itu sudah bangun dari komanya.
"hmmm"Erik hanya berdehem untuk menjawab dari pertanyaan Bima.
"kak, aku sedang serius kak"kata Bima dengan datar yang tidak puas dengan jawaban dari Erik, Kakaknya itu.
Diana yang sejak tadi hanya diam pun langsung menjawab pertanyaan dari adik iparnya itu. takutnya nanti tidak habisnya dan hanya akan menjadi perdebatan, Erik yang datar, dingin dan selalu bicara irit. Sedangkan Bima yang yang cerewet, kepo, dan ramah ke semua orang. Mereka itu walaupun bersaudara, namun memiliki watak ataupun sifat yang berbeda-beda. Dan setisp bertemu mereka akan selalu berdebat tanpa hentinya.
"Iya Bima, yang tadi itu putra kami si bungsu keluarga Anggantara. Namanya Elvano Anggantara, dia sudah bangun dari koma beberapa hari lalu. walaupun sudah berumur 10 tahun, proporsi badannya memang seperti anak umur 5 tahun. Mungkin karena sudah tidur selama 5 tahun. Makanya badannya masih seperti anak kecil"
Oh soal kejadian tadi kakak minta maaf ya?, soalnya Elvano udah bicara enggak sopan sama kamu, sekali lagi kakak minta maaf ya?"jawab Diana yang menjelaskan tentang Elvano, dan sekaligus meminta maaf kepada Adi iparnya itu.
Bima yang mendengarkannya hanya bisa kaget mendengar, dia tidak menyangka putra bungsu kesayangan kakaknya itu sudah bangun dari koma.
Bima sendiri walaupun adik dari Erik, dia tidak mengetahui kalau kakaknya itu memiliki anak bungsu yang memiliki jarak umur yang cukup jauh dari kedua anaknya Erik yaitu Erlangga dengan Celline.
Dia sendri lebih memilih untuk tinggal di Amerika, di tambah lagi dengan pekerjaannya yang membuatnya harus tinggal di Amerika di negeri Paman sam itu, Jadi itulah yang membuatnya tidak mengetahui apapun tentang Elvano. Hingga tiba-tiba Erik menyelutuk, di saat Bima yang masih sibuk dengan pemikirannya.
"Kenapa minta maaf si sayang, lagian kan pasti bocah tua ini kan yang mulai?"jawab Erik yang sangat menyebalkan bagi Bima
__ADS_1
Bima yang mendengarkan ucapan kakaknya itu hanya berwajah suram. Diana yang mendengar perkataan suaminya itu langsung menyikut lengan suaminya yang tidak sopan kepada adiknya itu.
"Kamu ini mas, enggak boleh kayak gitu. Itu adik mu sendiri Lo"ujar Diana yang memarahi Suaminya.
di lain tempat di kamar si kecil Elvano. Elvano yang berada di atas tempat tidur tertidur dengan terlelap, tanpa ada gangguan, lalu dia terusik dalam tidurnya yang nyenyak, dia merasakan kalau dia membutuhkan untuk ke kamar mandi, agar dapat menuntaskan panggilan alamnya itu
Lalu dia pun bangun dari tidurnya dan duduk untuk mengumpulkan nyawanya. Setelahnya dia melihat sekitar, dan di pun berteriak supaya, papa dan mama nya mendengar.
"PAPA"
"MAMA"
Karena tidak ada jawaban dia termenung dan air matanya terbendung di pelupuk matanya, yang akan mengeluarkan butiran air mata. Dia sangat membutuhkan seseorang untuk segera pergi ke kamar mandi, dan dia sudah merasakannya di ujung tanduk.
Dan butiran air mata itu pun terjatuh.
Erlangga, yang ingin turun ke bawah untuk minum, tidak sengaja mendengar suara tangisan seperti suara adiknya saat melewati kamar adiknya itu.
Lalu dia yang khawatir dengan adiknya segera memasuki kamar adiknya itu. Dan di saat di masuk, dia melihat adiknya yang seperti baru bangun tidur yang sedang duduk di atas tempat tidurnya.
Dia yang melihat abangnya itu pun segera memanggil abangnya untuk mengantarnya ke kamar mandi.
"Abang~"panggil Elvano kepada Erlangga sambil memggentangkan tangannya untuk menggendongnya.
Erlangga yang melihat keadaan adiknya yang baik-baik saja langsung menghela napas lega. Lalu dia pun segera menghampiri adiknya itu. Dan langsung menggendong adiknya itu.
"Adek Abang ini kenapa hmm?"tanya Erlangga kepada Elvano yang terlihat gelisah.
Elvano pun langsung menunjuk kamar mandi dan menepuk pundak abangnya itu dengan keras untuk membawanya dengan segera ke kamar mandi, kalau tidak, dia akan membuat kejadian yang memalukan.
Erlangga yang melihat adiknya yang menunjuk ke kamar mandi pun menjadi paham, lalu dia pun terkekeh melihat adeknya itu yang seperti tidak dapat menahannya, Lalu dia pun menjahili adeknya itu dengan berpura-pura tidak paham maksud adeknya.
"Memang kenapa dengan kamar mandi dek?"tanya Erlangga yang bingung, yang menjurus ke berpura-pura bingung.
Elvano yang melihat abangnya itu langsung menoleh ke Abangnya itu dengan wajah yang kesal, dan ingin rasanya dia menangis, tanpa disadarinya air matanya berkaca-kaca, dan siap untuk mengeluarkan butiran air mata. Dia merasa kesal yang bercampur marah dengan ketidak pekaan abangnya itu. Lalu tiba-tiba Elvano menangis dengan kencang.
Erlangga yang melihat adiknya yang menangis langsung panik, apalagi adiknya itu yang bergerak secara terus-menerus dalam gendongannya.
__ADS_1
adek, mau ke kamar mandi, adek enggak tahan abang~"ujar Elvano dengan kesal kepada abang yang masih tidak peka beserta dengan tangisan yang masih mengencang.
Erlangga pun langsung dengan tergesa membawa adiknya itu ke kamar mandi dan menduduki adiknya itu di atas closet, dan membantu adiknya itu untuk menuntaskan panggilan alam yang di tahannya sejak tadi, Dan di setelah menuntaskan panggilan alamnya Elvano merasakan kelegaan yang luar biasa, dia merasakan beban yang di tahannya sejak tadi terangkat.
Erlangga yang melihat adiknya yang merasakan kelegaan yang tiada duanya, apalagi adeknya itu yang memasang muka yang sangat imut baginya dengan mata yang tertutup.
Walaupun merasa salah terhadap adiknya karena menjahilinya, dia tidak dapat untuk mengabdikan momen adiknya yang lucu baginya.
Lalu setelah urusan alamnya sudah selesai, Elvano segera menoleh kepada Elangga, Tidak lupa memasang wajah yang dibuat marah, dan kesal kepada Abangnya itu, apalagi Abangnya itu sekarang malahan menertawakannya.
"ni Abang udah enggak peka, udah salah, bukanya minta maaf kek, malahan sibuk ketawa aja kerjaannya, dasar Abang enggak pekaan, untung sayang, kalau enggak udah gue tendang tu anunya"batin Elvano, dengan perasaan yang kesal, dan marah.
Erlangga uang melihat adiknya itu yang masang wajah kesal di wajahnya imutnya itu ingin rasanya untuk memeluk adiknya itu dengan erat, Namun karena adiknya yang marah kepadanya dia pun langsung meminta maaf kepada adiknya itu.
"Adek, Abang minta maaf ya,?"bujuk rayu Erlangga untuk mendapatkan maaf adiknya itu.
"Abang janji deh, nanti turutin permintaan adek kesayangannya Abang"bujuk rayu Erlangga kembali berusaha untuk mendapatkan maaf dari adeknya.
Elvano yang mendengarnya pun langsung menoleh kepada abangnya itu.
"Abang janji?"tanya Elvano untuk memastikannya.
"iya, Abang janji"jawab Erlangga untuk meyakinkan adeknya itu.
"okey, adek maafin"ujar Elvano kepada Erlngga.
Erlangga yang mendapatkan maaf dari adeknya tersenyum senang, lalu membawa Elvano kembali ke kamar, dan mengajak Elvano untuk tidur kembali. Namun, karena tidak mengantuk lagi, Elvano tidak mau tidur lagi. Dan Elangga pun mengajak Elvano untuk ke kamarnya yang tepat di samping kamar adiknya itu. Untuk menghabiskan waktunya dengan bermain di kamar Abangnya itu.
di lain tempat di ruang kerja, terdapat dua orang pria dewasa yang serius dalam pembicaraannya, Dia antaranya tidak lain adalah Erik dengan Bima.
Mereka membicarakan alasan Bima yang datang ke rumahnya.
"Jadi, apa yang membuat mu datang ke sini?"
Bima yang mendengarkan perkataan kakaknya itu menghela napas sebelum menjawab. Hingga
"Aku membawakan informasi tentang pelaku yang menyebabkan kecelakaan 5 tahun yang lalu."
__ADS_1