
Elvano dengan sekeluarga, akhirnya tiba di rumah besar mereka, setelah si kecil yang tidak sabar ingin pulang, dan Celline yang juga sudah di perbolehkan, untuk pulang.
Elvano yang merasa sudah sampai di rumah, segera berlarian menuju masuk ke rumah. Sebelum sampai
seseorang yang tidak lain Erik, segera mencegahnya dan membawa ke gendongannya.
"Hati-hati sayang, bagaimana kalau kami kenapa-napa lagi?"ujar Erik dengan kekhawatiran yang terpasang di mukanya.
Elvano yang mendengarnya merasa bersalah, jadi untuk itu Elvano lebih memilih untuk menurut dan mengiyakan kata papanya, apalagi papanya yang memasang wajah khawatir.
Salah satu hal yang tidak bisa terlepas Erlando sudah memasuki tubuh Elvano adalah jika seseorang dia anak yang mudah penurut, dan juga tidak bisa melihat orang yang di sayanginya itu khawatir dengannya.
Sepertinya kebiasaan ini akan selalu menjadi kebiasaan Elvano sekarang
Selepasnya, sekeluarga tersebut pun memasuki ke rumah keluarga Anggantara. Rumah keluarga Anggantara merupakan rumah yang termasuk jajaran rumah mewah, dan memiliki harga yang fantastis untuk membuatnya.
Di dalam rumah itu memiliki desain interior yang kebarat-baratan. Dan di lengkapi barang-barang antik yang tentunya juga memiliki harga fantastis. Di rumah Anggantara memiliki banyak ruangan yang digunakan.
__ADS_1
Elvano yang melihat tempat yang akan menjadi rumahnya kagum dengan tema rumah yang memiki Desain dengan kesan kebarat-baratan, dan matanya pun berbinar melihat rumah yang akan dia tempati.
"Ayah, mau ke kamar"Rengek Elvano yang ingi segera melihat kamarnya.
"Oke sayang"
Sesampainya di depan kamar Elvano yang memiliki pintu yang berbeda dengan lainnya, pintu kamar sendiri berwarna biru langit dan tidak lupa dengan ukiran namanya yang berwarna putih yang tertampang bahwa kamar di depannya itu milik Elvano, Elvano Anggantara.
Erik pun membuka pintu yang bercat biru langit itu, dan setelah memasuki kamarnya Elvano, tidak bisa menampik kan wajahnya yang senang dengan tema kamar yang akan di tempatnya, didalam kamar Elvano sendiri berwarna biru langit yang merupakan warna favorit Elvano. sebuah kasur besar yang terletak di tengah kamar, dengan di sampingnya memiliki lemari kecil dengan di atasnya lampu tidur yang lucu bergambar Doraemon. sebuah meja belajar, lemari yang berisikan baju-baju Elvano yang tentunya memiliki harganya yang fantastis.
"Adek suka?"
"iya adek suka papa"ujar Elvano yang tidak lupa dengan binaran pada matanya yang menyala dan senyum yang imut hingga membuat matanya menyipit dan siapa pun yang melihatnya akan langsung terpana dengan keimutan dari seorang Elvano"
Erik yang tidak dapat menerima langsung keimutan Elvano, langsung memeluk anaknya itu dengan erat. dan tidak mengetahui kalau Elvano merasa sesak dengan pelukannya yang erat tersebut.
"papa, sesak"ujar Elvano yang berusaha untuk melepaskan pelukan tiba-tiba dari papanya
__ADS_1
Erik yang mendengar suara Elvano yang mengatakan sesak tentunya segera melepaskan pelukannya dan langsung bertanya dengan muka paniknya.
"sayang, papa minta maaf, dadanya sesak?. papa minta maaf ya"
"iya papa, adek maafin. besok-besok papa enggak boleh kayak gitu sakit tau"
"iya, papa minta maaf"
"ya ampun, untung sayang kalau enggak udah gue Jambak rambutnya"batin Elvano
Setelahnya Elvano kembali melanjutkan kekagumannya dengan kamar yang akan di tempatnya. apalagi kamar ini akan dia sendiri menempatinya. Elvano yang merasakan ngantuk tiba-tiba dan tanpa di sadarinya, dia menguap karena tidak tahan dengan ngantuknya.
Erik yang melihat Elvano yang mengantuk, langsung membawanya ke tempat tidur, dan menidurkan di tempat kasur dan tidak lupa mencium dahi Elvano dengan sayang.
"selamat tidur sayang"
Setelah mengatakannya, Erik pun keluar dari kamar Elvano agar tidak menggangu tidur nyenyak si kecil.
__ADS_1