
Elvano yang mendengar suara teriak Abang dan kakaknya tetap berjalan menuju ke kamarnya sendiri, dan tetap mengabaikan mereka.
Hingga dirinya pun sampai di kamar miliknya, dan sebelum Abang dan kakaknya, sampai dia pun segera menutup pintu kamarnya dan sekaligus menguncinya agar mereka berdua tidak dapat memasuki kamarnya.
Setelah menguncinya, Elvano memandang pintu kamarnya dengan pandangan puas.
"Rasain itu, mangkanya jangan macam-macam sama gue"ucap Elvano tentunya dengan suara pelan.
Dan dia pun segera menuju ke tempat tidur, dan dia hanya berbaring di atas tempat tidurnya, sambil menatap ke arah langit-langit kamarnya, hingga
Terdengar suara seseorang yang membuka pintu, dan menyadari jika pintu kamar tersebut terkunci seseorang itu pun mulai mengetuk pintu kamar tersebut dengan keras.
Dengan suara yang saling bersahutan.
"adek bukain pintunya Abang salah, abang janji enggak akan jahilin adek lagi, sekarang buka ya?"ujar Erlangga yang berusaha membujuk adiknya itu.
"iya dek, Kakak juga minta maaf sama adek"ucap Celline yang ikut membujuk Elvano
Sedangkan Elvano, hanya diam, tanpa ingin sedikit pun berkeinginan untuk membuka pintu kamarnya maupun menjawab suara Abang dan kakaknya itu.
Hingga, entah kenapa elvano merasakan ngantuk, hingga membuatnya menguap, dan tanpa di sadarinya dia dengan perlahan menutup matanya hingga dirinya tertidur dengan damainya menuju ke alam mimpi, dan tidak menghiraukan suara yang masih terdengar dari balik pintu kamarnya.
Di lain itu, Erlangga dengan Celline yang masih berusaha membujuk adik mereka pun akhirnya berhenti karena tidak terdengar dari suara dari dalam.
Dan mereka hanya menghela nafas, dan berpikir jika adiknya itu tertidur.
Dan tanpa banyak kata, mereka pun dengan lesuh juga menuju ke kamar masing-masing, dan akan menunggu esok hari untuk meminta maaf dari adiknya itu.
Dan keesokan harinya, terangnya mentari yang mulai menyinari bumi, burung-burung yang hinggap di dahan pohon berkicau yang saling bersahutan.
Namun hal itu tidak membuat adik kecil yang bernama Elvano terbangun, malahan dia dengan nyenyaknya tertidur tanpa terusik oleh bunyian kicauan burung yang saling bersahutan,
__ADS_1
Sedangkan di depan pintu, terdapat pemuda yang berdiri di depan pintu kamar milik adiknya, pemuda itu yang tidak lain adalah Erlangga, Erlngga sendiri sudah rapi dengan pakaiannya, dan akan menuju ke kampus, Namun dirinya hanya berdiam diri tanpa berkeinginan untuk mengetuk pintu kamar milik adiknya.
Dirinya hanya ragu untuk membuka pintu kamar adiknya itu, dirinya hanya berpikir bagaimana jika adik tahu jika dia mempunyai kunci cadangan yang diberikan oleh orang tuanya.
Dan akhirnya dia memutuskan untuk membuka pintu kamar adiknya, dan saat memasuki, kamar adiknya yang gelap dengan adiknya yang masih tertidur dengan nyenyaknya di atas tempat tidur.
Erlangga yang melihat adik kesayangan itu hanya terkekeh, apalagi adiknya yang tertidur dengan posisi yang lucu baginya dan tentunya tidak lupa dia mengabadikannya dengan kamera miliknya, dan setelah itu dia pun membuka gorden di kamar adiknya, hingga cahaya matahari memasuki kamar Elvano, Elvano posisi wajahnya yang memang menghadap jendela, pun merasa terusik dan membalikkan badannya hingga memunggungi abangnya Erlangga.
Erlangga pun hanya tersenyum dan segera menghampiri adiknya itu, dan duduk di tepi kasur milik adiknya.
"adek, ayok bangun"ujar Erlangga dengan suara yang lembut kepada elvano.
Namun karena melihat adiknya yang tidak bergerak sedikitpun Erlangga hanya bisa menghela nafas, dan berusaha lagi untuk membangun adiknya itu. Namun dia memilik cara agar adiknya itu mau bangun.
"adek, kalau adek mau bangun nanti abang janji kabulkan permintaan adek"ujar Erlangga kepada Elvano.
Namun secara mengejutkan, setelah Erlangga mengatakannya Elvano bangun, dan dirinya pun mendudukkan dirinya sendiri, dan dengan santainya merenggang kedua tangannya.
Dirinya tidak habis pikir dengan adiknya.
"Abang gendong~"ujar Elvano dengan tatapan nya yang tidak merasa bersalah sedikit pun.
Erlangga pun tanpa banyak kata menggendong adiknya, untuk segera bersiap-siap, agar dirinya tidak terlambat menuju ke kampus.
Dan setelah rapi dengan pakaiannya mereka berdua pun menuju ke bawah untuk sarapan bersama dengan Celline.
Sedangkan Celline yang sejak awal berada di meja makan pun dengan sabar menunggu kedatangan Erlangga dengan Elvano, dan dia pun menoleh di saat mendengar suara langkah kaki.
Dan dia melihat Elangga dengan Elvano di gendongannya. Dan dia pun menyapa adiknya itu dengan ceria.
"selamat pagi adek kesayangannya kakak, gimana tidurnya?"ujar Celline dengan riang, dan tak lupa menanyakan tidur adiknya.
__ADS_1
"hmm"gumam Elvano untuk menjawab ucapan Celline kakaknya, dirinya masih kesal kepada kakaknya, dengan kejadian tadi malam.
Celine yang melihat adiknya yang masih ngambek dengannya pun, dirinya merasa canggung dengan adiknya itu, bagaimana tidak Elvano hanya menjawabnya dengan gumam tanpa melihat sedikit pun ke arahnya.
"adek kakak, minta maaf ya, Kakak akui kalau Kakak salah, adek mau kan maafin kakak?"ujar Celline dengan suara dibuat sedih.
Elvano yang melihat kakaknya yang sedih, akhirnya dia pun memaafkan kakaknya itu.
"iya adek maafin kakak"jawab Elvano kepada Celline.
"kalau Abang gimana, adek maafin juga?"tanya Erlangga penuh harap kepada adiknya itu.
"Abang beda, Abang belum adek maafin adek masih marah"jawab Elvano kepada Erlangga dengan tatapan yang sinis.
"yaudah, Abang tarik perkataan Abang tadi, yang bilang mau nurutin kemauan adek"ujar Erlangga
Elvano yang mendengarnya tentu tidak terima, dan dirinya pun langsung protes kepada abangnya itu.
"masa kayak gitu, itu beda lagi ceritanya, Abang kan udah janji masa iya mau ingkari janji yang Abang buat sendiri"ujar Elvano yang protes dengan Erlangga.
"kalau adek mau maafin, baru abang turutin permintaan adek, atau kalau enggak kalau adek mau maafin abang, Abang janji seharian ini Abang janji turutin kemauan adek, apa pun "ujar Erlangga yang berusaha membujuk rayu adiknya.
Elvano yang mendengarnya pun terdiam, sepertinya Elvano tergiur dengan perkataan, dan akhirnya.
"iya deh adek maafin, tapi Abang harus janji"ujar Elvano kepada abangnya.
"iya Abang janji"jawab Erlngga kepada adiknya itu.
Dan akhirnya mereka bertiga pun sarapan pagi bersama, dengan hikmat tanpa adanya Erlangga yang menggangu ataupun menjahili adiknya itu, ataupun suara Elvano yang merengek, sepertinya Erlangga ingin mencari aman.
Dan setelah mereka sarapan bersama mereka pun bangkit dari tempat duduk, dan segera untuk berangkat ke kampus, dan tak lupa Elvano yang ikut dengan Abang itu. Dan mereka pun bepergian dengan mobil, dan mobil mereka pun keluar dari pekarangan rumah, hingga mobil mereka pun tidak terlihat lagi di pandangan.
__ADS_1