Adik Antagonis

Adik Antagonis
CHAPTER 39


__ADS_3

Akhirnya Erlangga dengan Elvano yang selalu berada gendongannya pun sampai di kelas, dan Erlangga pun segera memasuki ke dalam kelas untuk mengikuti perkuliahan, dan saat memasuki kelas, seperti biasanya Elangga menjadi pusat perhatian, namun sepertinya perhatian itu sekarang menuju ke Elvano yang tidak menyadari jika dia menjadi pusat perhatian, dan pembicaraan


Hingga Erlangga pun menuju tempat duduk yang berada paling belakang yang di dekat jendela, dan di saat dia sudah duduk, secara bersamaan Demian yang juga sudah datang, berserta Ryo yang ngos-ngosan, dan dia menghampiri Erlangga dengan Demian yang duduknya berdekatan.


"parah amat sih kalian, masa iya ninggali-" sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba, dosen yang mengajar sudah datang.


Dan akhirnya Ryo, harus menelan perkataan yang ingin dia keluarkan, dan dia hanya bisa menghela nafas, dan Langsung duduk di bangkunya yang berada tepat di depan Erlangga.


Elvano yang sejak tadi diam, langsung sadar jika dia sudah berada di kelas milik abangnya itu, dan dia melihat abangnya yang fokus mendengar penjelasan dosen yang mengajar di depannya, karena bosan dia pun hanya sibuk menatap ke arah jendela, melihat pemandangan langit yang cerah.


Hingga dia tidak menyadari jika ada seseorang yang melihat setiap gerak geriknya dengan pandangan sendu.


Orang itu yang tidak lain adalah Demian, mungkin memang aneh tapi Demian juga sudah menganggap Elvano seperti adiknya, lahir sebagai anak tunggal, Demian merasa kesepian setiap kali harus ditinggalkan oleh orang tuanya yang hanya sibuk bekerja, membuat dia memiliki kepribadian tertutup maupun seperti kulkas yang berjalan, dan dia pun hanya merasa kehidupan yang hampa dan kesepian baginya, hingga dia bertemu dengan teman-temannya, dan membuatnya lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya itu. Dan hingga akhirnya dia pun bertemu dengan si kecil Elvano, apalagi Elvano sendiri yang mengajak berbicara untuk pertama kali kepadanya, dan entah kenapa hal itu membuatnya iri dengan temannya Erlangga, yang mempunyai adik kecil yang riang.


Elvano yang awalnya sibuk melihat ke arah jendela, dia yang merasakan jika adanya seseorang yang sedang menatap ke arahnya, dan dia pun segera menoleh, dan melihat ke sekelilingnya, namun dia tidak menemukan siapa pun, malahan dia hanya menemukan mahasiswa maupun mahasiswi yang melihat dan mendengar penjelasan dosen yang ada di depan.


Karena tidak menemukannya, Elvano pun melanjutkan kegiatan yang menatap ke arah jendela, dan dari jendela itu sepertinya karena di bawah, dia melihat orang-orang yang bermain basket. Dan hal itu pun tidak membuat Elvano merasa bosan menunggu di kelas abangnya itu.


Hingga akhirnya tanpa disadari jika waktu sudah berjalan lama, dan akhirnya dosen yang berada di depan pun menghentikan penjelasannya dan menutup sekaligus pamit untuk undur diri.


Hal itu pun tentunya membuat semua mahasiswa dan mahasiswi yang berada di kelas tersebut menghela nafas lega, setelah berjam-jam duduk untuk mendengar penjelasan dosen yang ada di depan.


Erlangga tanpa banyak kata, Langsung saja keluar dari kelas dan tak lupa menggendong adiknya.


Ryo, yang awalnya yang ingin menoleh kebelakang tempat Erlangga duduk, tapi dia tidak menemukan keberadaan Erlangga berserta adiknya itu. Lalu dia pun mencari keberadaan Elangga berserta adiknya, dan menemukan mereka berdua yang sudah berada di pintu kelas, Ryo yang melihatnya itu pun segera menyusul Erlangga yang sudah keluar kelas duluan.

__ADS_1


Dan setelah keluar dia pun segera berteriak kepada Erlangga yang sudah semakin jauh.


"Er, tungguin"teriak Ryo yang memenuhi lorong kampus, dan membuat orang-orang yang berada di sekitarnya menoleh kepada yang berteriak, namun sepertinya Ryo tidak perduli dan dia pun terus berlari menuju ke arah Erlangga yang tidak berhenti.


Hingga akhirnya dia pun dapat menggapai bahu lebar milik Erlangga, dan hal itu tentu membuat Erlangga menghentikan jalannya.


Dan melihat Ryo yang hanya sibuk mengatur nafas, karena ngos-ngosan.


Karena merasa tidak memiliki keperluan, Erlangga pun akan melanjutkan perjalanannya, namun Ryo yang melihat Erlangga yang pergi langsung saja menghentikannya.


"oi, Er tungguin dulu, gue udah capek ngejar-ngejar loh, masa iya lo langsung pergi"ujar Ryo yang menghentikan pergerakan Erlangga.


"ada apa?"tanya Erlangga dengan datar, dengan Elvano yang juga menatap Ryo dengan tatapan polosnya


"ya ampun kok bisa ya mereka berdua saudara kandung?"batin Ryo yang tidak menatap percaya terhadap apa yang ada di depannya, bagaimana tidak percaya. Erlangga seorang pemuda yang memiliki watak yang dingin, dan datar, seperti kulkas yang berjalan. Sedangkan Elvano yang riang, cerewet, dan suka menyebarkan senyum kepada semua orang.


Seperti sekarang ini, Elvano yang bertanya kepada Ryo, dengan wajah bingungnya yang imut yang ditambah dengan pipi mochi miliknya, yang ingin membuat Ryo ingin mencubit dan menguyel-uyel pipi tersebut.


" enggak kok dek"jawab Ryo kepada Elvano dengan nyengir. Lalu Setelahnya dia pun menoleh kepada Erlangga.


"Er, Lo enggak lupa kan kita kan ada main basket di rumahnya Riko?"tanya Ryo kepada Erlangga, yang mengingatkan Erlangga.


"iya, nanti gue langsung ke rumah Riko"jawab Erlangga kepada Ryo.


Selagi mereka berdua sibuk berbicara, Elvano yang awalnya hanya menyimak pembicaraan Abangnya dengan Ryo, pun langsung membola kedua matanya ketika Abang dan temannya yang menyebut Riko.

__ADS_1


"Riko?, pokoknya gue harus ikut"batin Elvano yang merasa senang akan bertemu kembali dengan Riko.


"kenapa enggak langsung aja Lo perginya?, biar bareng perginya"tanya Ryo kepada Erlangga.


"gue enggak bisa, gue harus antarin adek gue dulu, soalnya-" belum menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Elvano memotong perkataan Erlangga.


"Abang adek ikut, sama abang~"rengek Elvano kepada abangnya


"tapi"belum selesai mengatakan, saat menoleh kepada adiknya itu.


Erlangga tidak kuasa saat melihat raut wajah adeknya yang mulai berkaca-kaca.


Lalu Erlangga pun menghela nafas, dan akhirnya mengangguk kepala kepada adiknya itu yang mempertandakan memperbolehkan nya ikut.


Elvano pun yang senang, lsngsung mencium pipi milik Abangnya itu. dan tak lupa dia pun berterima kasih kepada abangnya itu.


"terimakasih Abang, adek sayaaaanggg Abang"ujar Elvano dengan riang.


Erlangga yang melihat nya pun hanya terkekeh, dan mengelus rambut milik adiknya yang lembut.


"iya sama-sama, Abang juga sayaaaanggg sama adek"jawab Erlangga kepada Elvano.


Mereka berdua pun tertawa bersama, dan menganggap dunia hanya milik berdua,


Dan sepertinya mereka melupakan sesuatu.

__ADS_1


Ya mereka melupakan jika Ryo, masih berada di dekat mereka, dan Ryo yang melihat mereka hanya sibuk berdua pun tidak dapat menutupi raut wajahnya yang suram.


__ADS_2