Adik Antagonis

Adik Antagonis
CHAPTER 36


__ADS_3

Acara makan malam bersama di keluarga Anggantara berlangsung dengan hikmat, dan tak lupa dengan suara rengekkan si bungsu dan Erlangga yang di setiap kesempatan selalu menjahili adiknya itu. Namun secara tiba-tiba, Erik selaku kepala keluarga, mendapatkan panggilan dari seseorang. Akan tetapi sepertinya dari raut wajahnya dia mendapatkan kabar buruk.


Setelah mengakhiri panggilan tersebut, dia mengusap wajahnya dan menghela nafas.


Diana yang melihat sikap suaminya itu bingung dan langsung saja dia bertanya


"ada apa mas?, ada masalah?"tanya Diana kepada suaminya.


"iya, ada masalah di cabang perusahaan di luar negeri"jawab Erik seadanya kepada Diana.


"jadi, mas harus berangkat sekarang ke Bandara"ujar Erik lagi


Elvano yang sejak tadi fokus dengan makanannya, menatap bingung Erik yang seperti frustasi.


"papa, papa kenapa?, papa sakit?"tanya Elvano yang memasang wajah khawatir kepada Erik


Erik yang ditanya oleh anak bungsunya hanya tersenyum, dan berusaha agar putranya itu tidak khawatir kepadanya lagi.


"papa enggak papa sayang"jawab erik kepada Elvano agar putranya itu tidak khawatir dengan keadaannya lagi.


Dan setelahnya hanya keheningan yang melanda, namun tiba-tiba


"papa mau ngomong sama kalian, papa malam ini harus ke bandara"ujar Erik kepada semua anggota keluarganya yang masih setia menatapnya.


"papa mau pergi?"nyelutuk Elvan dengan polosnya


"iya, papa mau pergi sayang, mungkin selama beberapa hari atau enggak selama seminggu papa perginya" jawab Erik yang menjawab pertanyaan putra bungsunya itu.


"oh gitu, yaudah papa pergi aja"ujar Elvano kembali dengan cuek


Lah, Erik yang mendengar ucapan putra bungsunya itu hanya bisa melongo mendengarnya, Erik yang awalnya berpikir jika putranya itu akan melarangnya pergi atau mungkin merengek agar dirinya tidak pergi, namun apa yang diharapkannya, malahan putra itu hanya bersikap cuek dan tak peduli dengannya dan hanya sibuk dengan makanannya yang belum dihabiskan.


"sayang kamu enggak ingin larang papa, pergi mungkin?"ujar Erik sambil menatap penuh harap kepada Elvano yang masih sibuk dengan makanannya.

__ADS_1


Elvano yang ditanyain oleh papanya, hanya menolehkan wajahnya sekilas, dan dengan cuek dia hanya mengatakan


"papa, kan kerja untuk dapat uang, terus kalau papa enggak kerja, nanti adek enggak bisa minum susu rasa coklat favorit adek, sama main mainan gimana?"jawab elvano yang menasihati Erik dengan suara yang dibuat dewasa mungkin tanpa menoleh kepada erik


Semua anggota keluarga yang berada di meja makan tertawa mendengar bagaimana cara Elvano yang berbicara dengan nada dewasa, dan menasihati Erik, namun ada satu orang yang tidak ikut tertawa dan hanya menambah aura di dekatnya menjadi suram.


Ya orang itu yang tidak bukan adalah Erik, Erik yang menerima siraman rohani secara tiba-tiba dari putra bungsunya yang masih kecil hanya dapat terdiam dan menunjukkan wajah yang bertambah suram setelah mendengarnya


Dirinya yang hanya ingin mendengar suara putranya yang melarangnya pergi, namun yang dia terima malahan siraman rohani dari putranya itu.


Diana yang tertawa pun akhirnya menghentikan tawanya, setelah melihat wajah muram suaminya, namun tiba-tiba


"mas, ayo kita siap-siap nanti takutnya telat"ujar Diana secara tiba-tiba kepada Erik.


Elvano yang sibuk dengan makanannya pun, langsung menatap dengan mata bulatnya melotot dan bingung kepada Diana.


"Mama, maksud mama apa?"tanya Elvano kepada Diana dengan suara pelan.


Diana yang ditanya oleh putranya pun menoleh dan menjawab kebingungan putra itu "mama mau pergi sama papa"


"iya adek tahu, maksudnya adek, kok mama juga ikut sama papa?, lagian papa kan udah besar masa dia masih ditemani"ujar Elvano yang protes kepada Diana.


Erik yang mendengar putra yang menyebutnya pun hanya bisa menghela nafas, dirinya hanya diam namun tetap saja selalu salah di depan mata putranya itu, Untung sayang.


"Mama, harus ikut sama papa, soalnya mama juga harus bantu papa, nanti mama janji pas pulang mama bawain oleh-oleh untuk adek, adek maunya apa, mau mainan?"jawab Diana kepada Elvano.


"adek maunya makanan, terus harus banyak"jawab Elvano dan mempertahankan wajah ngambeknya kepada Diana.


Diana yang melihat sikap putranya itu hanya dapat terkekeh, walaupun sedang ngambek putranya itu tetap menjawabnya.


"Okey, nanti mama bawain ya"ujar Diana kembali


Dan tanpa banyak kata Diana dan Erik pun bangkit dari kursi dan menuju ke kamar mereka untuk bersiap-siap agar tidak telat ke bandara.

__ADS_1


Dan akhirnya setelah bersiap-siap, mereka pun turun kebawah, dan dapat dilihat jika mereka mulai rapi dengan pakaiannya masing-masing dan tak lupa dengan koper yang dibawa.


Dan tentunya mereka berdua pun berpamitan dengan anak-anak mereka terlebih dahulu dan juga disertai dengan adanya drama menangis yang dilakukan oleh si kecil Elvano.


Elvano berserta Erlangga dan Celline, pun berdiri di pintu dan melihat kepergian orang tua mereka yang memasuki mobil dan mobil orang tua mereka yang mulai keluar dari pekarangan rumah, hingga mobil itu tidak terlihat lagi di depan mata mereka.


Elvano yang berada di gendongan Erlangga, dengan mata yang sembab, menatap kepergian orang tuanya dengan ketidak relakan, hingga mobil tersebut tidak terlihat lagi di matanya.


Erlangga yang melihat adiknya elvano pun hanya dapat terkekeh, bagaimana tidak wajah Elvano yang terdapat bekas nangis, berserta mata yang sembab, dan tak lupa hidung adiknya yang memerah. Melihat wajah adiknya itu, tiba-tiba Erlangga memiliki niat jahil dengan adiknya itu.


"adek kok cengeng amat, nanti mukanya jadi jelek loh"ujar Erlangga dengan jahilnya kepada Elvano.


Elvano yang sejak tadi hanya diam pun langsung menoleh kepada Abangnya itu, dan tak lupa dengan tatapan yang dibuat tajam.


Erlangga yang melihat pun tidak merasa takut malahan dirinya tidak dapat menahan tawanya, bagaimana dia tidak tertawa, adiknya dengan wajah sembab karena sisa menangis berusaha untuk membuatnya terintimidasi. Begitu juga dengan Celline yang melihat usaha adiknya pun itu tentu juga tidak dapat menahan tawanya.


Elvano yang melihat Abangnya dan kakaknya yang tertawa pun merasa kesal dan marah, dan tak lupa dengan menggembungkan pipi mochinya itu.


"Abang, sama kakak kok adek diketawain sih, adek marah nih?"ujar Elvano yang tidak terima jika ditertawakan oleh Erlangga dan Celline.


Erlangga yang merasa capek tertawa pun menghentikannya dan menghela nafas, dirinya hanya tidak ingin adiknya itu akan menangis jika dia tidak menghentikannya.


"Abang minta maaf dek, soalnya adek imut makanya Abang ketawa"ujar Erlngga yang memberikan alasan kepada adiknya itu.


"alah, bohong"jawab Elvano singkat dan tetap mempertahankan wajah kesalnya kepada Erlangga dan menolehkan wajah dari hadapan Erlangga.


Karena masih kesal, dia pun segera menggerakkan badannya untuk segera diturunkan oleh Abang itu. Erlangga yang melihat adiknya yang seperti minta diturunkan pun akhirnya menurunkan adiknya, dan setelah diturunkan dia pun menghadap ke Abangnya maupun Kakaknya sambil berkacak pinggang dan tak lupa melototi terutama abangnya yang seperti masih menahan ketawa.


"Abang jahat, adek enggak mau lagi tidur bareng sama abang, adek ngantuk jadi jangan nyari adek, kakak juga"


Setelahnya mengatakan dan tanpa banyak kata, Elvano pun pergi dari hadapan Erlangga dan Celline, menuju ke kamarnya tanpa menoleh sedikit pun kebelakang.


Erlangga dengan Celline pun hanya bisa terdiam dan menganga lebar melihat kepergian Elvano, dan setelahnya mereka pun saling pandang, dan tanpa aba-aba

__ADS_1


"adek kami minta maaf"


Mereka berteriak kepada Elvano yang mulai menjauh dan mereka pun mengejar Elvano yang menuju ke kamar.


__ADS_2