Adik Antagonis

Adik Antagonis
CHAPTER 19


__ADS_3

Erlangga, terdiam berdiri di depan pintu kamar milik Elvano, dia masih penasaran, akan dengan kejadian yang masih melekat di pikrannya. Bagaimana bisa adiknya itu seperti sudah mengenal lama Riko.


Dan pikirannya itu membuatnya menghela napas dan merasakan pusing hanya untuk dipikir.


Apalagi dia harus menjelaskan kepada Diana, yang membuatnya mengusap wajahnya yang merasa frustasi. Lalu dia pun turun ke bawah untuk menemui Diana.


Sesampainya di bawah, dia melihat Diana yang masih menunjukkan rasa cemas dan khawatirnya kepada putra bungsunya itu. Bagaimana dia tidak khawatir, anaknya yang biasanya selalu ceria, tiba-tiba saja pulang dalam keadaan yang suram dan menjadi pendiam secara tiba-tiba.


Melihat Erlangga yang menghampirinya Diana pun segera menanyainya.


"Abang, bisa Abang jelasin semua ini?"tanya Diana kepada anaknya Erlangga.


Erlangga terdiam selama beberapa detik, dan setelahnya dia menghela napas, dan mulai mengatakannya


"Itu, sebenarnya Abang juga enggak tau gimana jelasin ma"


Sebenarnya adek enggak kenapa-napa ma, cuman gimana jelasinnya soalnya juga bingung ma"jawab Erlangga seadanya yang sesuai dengan kejadian.


Diana yang melihat jawaban anak pun juga ikut bingung, dia tidak paham bagaimana bisa Erlangga yang bersamanya tidak tau.


"Kok Abang enggak tau, bukannya Abang sama adek seharian ini?"tanya Diana lagi kepada Elangga, yang tidak puas atas jawaban Erlangga yang berikan.


" Mama tahu Riko kan temannya Abang?"tanya Erlangga kepada Diana untuk memastikan sesuatu.


Diana yang ditanyain tentunya tahu, siapa Riko temannya Erlangga, apalagi Riko sendiri sering main kerumah.


"Mama tahu bang, Riko teman Abang bukan?, memangnya kenapa sama Riko bang?"ujar Diana.


"Sebelum adek pernah enggak ketemu sama Riko kak sebelum adek koma, kan bisa aja adek pernah ketemu sama Riko ma, apalagi Riko kan sering main kesini dulunya, tapi kok enggak pernah ketemu ma?"Ujar Erlangga kepada Diana dan mengabaikan pertanyaan Diana.


"Benar kok bang, adek belum pernah ketemu sama Riko, lagian itu juga udah lama, soalnya kan sekarang orang tuanya Riko udah bercerai terus juga kabarnya dulu Perusahaan ayahnya pernah hampir bangkrut."jawab Diana kembali kepada Erlangga yang kukuh jika Elvano adiknya itu mengenal Riko.


Erlangga yang mendengarnya pun kaget dan bingung, terus jika memang adiknya itu tidak pernah ketemu dengan Riko.


Diana yang melihat keterdiaman Erlangga pun mendesak Erlangga agar segera untuk memberikan penjelasan kenapa secara terus-menerus menanyainya tentang Riko.


"Memang kenapa sih bang, sama Riko. memang Abang ada masalah sama dia?"desak Diana kepada Erlngga yang hanya diam.


Erlangga yang didesak pun menghela napas, Lalu.


"awalnya saat abang sama adek datang ke rumah teman Abang adek, happy - happy aja kok ma.Cuamn pas Riko datang, tiba-tiba adek teriak manggil Riko. Lalu setelah memanggil Riko adek langsung lari memeluk Riko. Mama tau enggak apa yang terjadi kemudian?, tiba-tiba adek nangis. Tangisan adek kencang pa malahan tangisannya itu kayak gimana ya jelasinnya?, seolah-olah adek merindukan Riko karena udah lama enggak berjumpa ma, apalagi mereka baru ketemuan. Kalau mama lihat secara langsung mama aja pasti bingung."jawab Erlangga dengan panjang lebarnya kepada Diana


Diana yang mendengar penjelasan Erlangga, hanya terdiam, dia kebingungan dengan penjelasan Erlangga, namun dia percaya kalau Erlangga tidak mungkin akan membohonginya.


"Yaudah, kalau begitu Abang istirahat aja dulu ya, nanti saat makan malam mama bangunin ya, kita tanyain sama adek pelan-pelan ya?"ujar Diana


Lalu setelahnya Erlangga pun menuruti perkataan Diana dan kembali ke atas untuk menuju ke kamarnya yang tepat disamping milik adiknya.

__ADS_1


Akhirnya malam pun mulai menunjukkan kegelapannya dan hanya disinari oleh bulan. Salah satunya kamar Elvano, anak kecil yang menjadi pembicaraan Erlangga dengan Diana masih tertidur dengan nyenyak setelah menyusun berbagai rencana untuk mendekati Riko teman abangnya itu.


Namun sepertinya dia melupakan sesuatu jika dari perbuatannya yang tiba-tiba di tempat rumah teman abangnya membuat semua orang kebingungan dengan sikapnya apalagi setelah bertemu dengan Riko tersebut, dia menangis dan menjadi pendiam.


Lalu masuklah seseorang ke kamarnya, seseorang itu yang tidak lain Diana, Diana yang melihat anaknya yang masih tertidur dengan nyenyak tersenyum apalagi kamarnya ini gelap.


Untuk tidak membuat anaknya terkejut, oleh cahaya lampu yang tiba-tiba dihidupkan. Diana pun menghampiri Elvano, untuk membangunkan anaknya terlebih dahulu.


Lalu dia pun duduk di pinggir tempat kasur miliknya anaknya itu, baginya cara anaknya tertidur itu lucu. Apalagi Wajah anaknya sekarang, bibirnya itu dimanyunkan, dan tak lupa sambil mengecap-ngecap dan membuat pipi mochinya juga ikut bergoyang, seolah-olah ada makanan dalam mulutnya. Sepertinya Elvano memimpikan sedang makan banyak. Walaupun gelap, namun dia dapat melihat betapa imutnya anaknya saat tidur yang dibantu dengan cahaya rembulan. Walaupun tidak tega untuk membangunnya, namun Diana harus membangunkan Elvano agar dia tidak kelaparan di tengah malam dan itu akan membuatnya menangis, dan akhirnya hanya akan membuatnya demam.


"Adek sayang, bangun dek"ucap Diana kepada Elvano dengan suara yang lembut dan tak lupa sambil mengelus rambut anaknya itu.


Namun bukannya bangun, Elvano hanya sebentar membuka matanya namun setelahnya di membalikkan badannya yang memunggungi Diana.


Diana yang yang melihatnya pun terkekeh, putra bungsunya ini memang susah untuk bangun.


"Sayang ayo bangun, adek memangnya enggak lapar?"ujar Diana lagi yang berusaha untuk membangunkan si bungsu dari tidurnya.


Akan tetapi, hanya terdengar suara rengekkan yang lucu.


"hmm?, enggak mau bangun, masih ngantuk~"rengek Elvano dengan suaranya khas bangun tidur kepada Diana.


Namun Diana yang melihat anaknya yang akan melanjutkan tidurnya segera untuk mendudukkan anaknya itu.


Dan akhirnya Elvano pun bangun, namun masih dengan wajah ngantuknya. Diana yang melihatnya pun segera menggendong Elvano sebelum putranya itu kembali tidur, dan segera menuju ke kamar mandi. Untuk membasuh muka anaknya itu.


Dan Diana bersama Elvano yang berada di gendongannya turun kebawah untuk makan malam bersama. Sesampainya di ruang makan, semua anggota keluarga lainnya sudah berkumpul, dan sedang menunggu kedatangan Elvano dengan Diana.


Lalu Diana pun duduk tepat di samping Erlangga.


dengan memangku Elvano yang masih mengantuk.


"Adek, ayo makan dulu, nanti baru adek lanjutin tidurnya, oke?"ujar Diana kepada Elvano.


Namun karena masih mengantuk Elvano hanya diam tanpa menjawab dan sekarang pun Elvano menguap dan mengusap matanya dengan tangannya.


"Adek jangan diusap nanti matanya merah Lo"ujar Diana lagi, sambil menghentikan tangan adeknya supaya tidak mengusap matanya.


Tapi tetap aja Elvano yang sepertinya sangat mengantuk, Saat Diana mamanya menyuapinya pun mulutnya pun tidak terbuka. Diana yang melihatnya itu pun hanya menghela napas. Sedangkan Erik yang melihatnya pun segera untuk membantu istrinya.


Erik pun mengambil Elvano dari pangkuan Diana, dan memeluk putra bungsunya yang tanpa mau ingin membuka matanya itu.


"Adek, ayo makan kalau adek makan nanti adek boleh deh makan eskrim kesukaan adek"ujar Erik yang berusaha untuk membujuk anaknya agar mau makan.


Elvano yang mendengarnya matanya langsung menoleh kepada papanya Erik dengan mata bulatnya itu.


"Papa, benaran bolehin adek makan eskrim?"tanya Elvano untuk meyakinkannya.

__ADS_1


Erik yang melihat mata anaknya itu langsung terbuka karena bujuk rayu, hanya bisa berwajah masam. Kalau enggak di bujuk dengan bolehin makan eskrim, mungkin dia membutuhkan berjam-jam untuk membujuk anak bungsunya ini.


"kalau papa, bilang bolehin makan eskrim, baru adek mau bangun ya?"ujar Erik kepada Elvano.


Sedangkan yang lain yang melihat wajah kepala keluarga Anggantara yang berwajah masam, hanya terkekeh. Bagaimana tidak, Erik seperti dijahili oleh anaknya.


Sedangkan Elvano yang belum mendapatkan jawaban dari Erik langsung mendesaknya.


"Papa~, papa janji kan?"desak Elvano kepada Erik, untuk memastikan janjinya kepada Elvano.


Erik hanya menghela napas, dai tidak tahu darimana anak bungsunya ini pandai menjahili papanya sendiri. Mungkin karena Erlangga yang selalu menjahilinya.


"Papa~"desak Elvano kembali.


"iya, sayangnya papa. Papa bolehin, tapi adek harus habisin makan malam kalau enggak dihabiskan adek enggak boleh makan eskrim adek"jawab Erik kepada Elvano.


"Okey papa, mama adek mau makan, ayo cepat ma~"Rengek Elvano kepada Diana mamanya agar segera untuk menyuapinya.


Diana yang melihatnya hanya bisa terkekeh karena ke antuasias anaknya karena akan makan eskrim, yang hanya dapat dimakan sekali sebulan.


Tentunya janji Erik kepadanya merupakan sesuatu yang tidak akan bisa Elvano abaikan.


Dan Diana pun mulai menyuapin putra bungsunya. Dan Elvano pun menerimanya dengan senang hati.


Namun satu hal yang tidak diketahui oleh Elvano jika kalau papanya Erik bersikap licik, dengan memberikan makan malam dengan porsi sedikit banyak untuk Elvano. Dan itu akan membuat dia merasakan kenyang dan tidak akan meminta eksrim lagi.


Dan akhirnya Elvano pun menghabiskan makan malamnya, dan memakannya dengan lahap. Elvano yang merasakan kekenyangan langsung bersandar kepada Erik yang masih memangkunya. Dia merasakan kenyang, setelah makan malam, namun sepertinya dia tetap mau Erik menepati janjinya kepadanya.


"Papa, eksrim mana?, tadi papa udah JANJI Lo" ujar Elvano kepada Erik dan tidak lupa untuk menekankan kata janji saat di ucapkan.


Erik, saat anaknya meminta janjinya langsung merasakan kaku pada tubuhnya, bagaimana bisa di saat anaknya sudah merasa kenyang, namun tetap meminta eskrim.


"Sayang, adek kan baru siap makan, nanti kalau adek muntah gimana?. Nggak baik kalau makan banyak-banyak Lo dek" ujar erik kepada Elvano untuk memberikannya nasihat. Dan segera untuk melupakannya.


Elvano yang mendengarkan cemberut dan menatap kesal kepada papanya dia merasakan penghianatan papanya kepadanya sendiri.


"Papa, kok gitu sama adek, kan papa yang janjiin adek makan eskrim, kok sekarang tiba-tiba enggak jadi. Papa pembohong, hmm"jawab Elvano dengan kesal, dan tanpa menoleh kepada Erik, dan tak lupa dengan tangan mungilnya yang melipat di dada dan menggembungkan kedua pipi mochi.


Erik yang melihat putra bungsunya ngambek langsung panik, apalagi anaknya itu mengatakannya pembohong. Dia merasa frustasi dengan anaknya itu dan hanya bisa menghela napas.


Dan akhirnya, di ruang tengah, setelah melaksanakan makan malam, mereka berkumpul dan sambil menonton televisi, dan si kecil Elvano yang akhirnya mendapatkan eskrim sesuai dengan keinginannya.


Erik yang melihat anaknya yang asik dengan eskrim sendiri. Langsung menyelutuk di tengah kesenangan anaknya itu.


"Nggak, boleh banyak-banyak makannya"kata Erik kepada Elvano.


Namun sepertinya Elvano tidak mendengar kan kata papanya itu, dan hanya sibuk dengan makan eskrim dengan nikmat.

__ADS_1


Sedangkan keluarga yang lain yang melihat interaksi antara Erik dengan Elvano hanya tertawa, kapan lagi mereka dapat melihat Erik, sang kepala keluarga yang dikenal berwibawa, dan tegas. Namun dengan mudahnya kalah dengan anak bungsunya itu.


__ADS_2