
Hingga akhirnya mereka pun tiba di parkiran kampus, dan setelahnya Erlangga yang lebih awal keluar dari mobil, dan hal itu pun membuat mahasiswi lainnya yang juga berada di parkiran kampus, berteriak dengan hebohnya, mengagumi tampannya sosok Erlangga, dan teriakan semakin heboh karena Celline yang keluar dari mobil yang sama dengan Erlangga, bagaimana tidak berteriak, setahu mereka Erlangga dengan Celline itu memiliki hubungan buruk, malahan mereka itu bagaikan musuh ketika bertemu.
Lain halnya dengan Erlangga dan Celline, Elvano yang masih berada di dalam mobil, hanya berdiam diri kaku, dan dapat dia rasakan sejak memasuki gerbang kampus, dia sudah merasakan kegugupan yang luar biasa. Dan tiba-tiba dirinya merasa terkejut ketika teriakan semakin kencang, dan hal itu pun membuat dirinya merasa kesal dan semakin membuat dia merasa gugup.
"Buset, itu suara atau toa sih ?, kencang amat sih suaranya"gerutu Elvano dengan kesal.
Namun, masih sibuk dengan gerutunya, dan Elvano tidak menyadari dengan Kedatangan abangnya Erlangga yang sudah membukakan pintu mobil yang tepat di samping duduk Elvano.
Sedangkan Erlangga yang melihat adiknya yang masih sibuk menggerutu, hanya tersenyum, ditambah dia dapat melihat jika adiknya itu merasakan gelisah dan gugup yang melanda.
Dan setelahnya Erlangga pun secara tiba-tiba mengangkat Elvano tanpa sepengetahuan adiknya itu, dan hal itu pun tentunya membuat adiknya merasa terkejutnya kembali, dengan gerakan abangnya yang tiba-tiba.
Setelahnya Elvano keluar dari mobil hal itu pun membuat dirinya menjadi santapan tatapan semua orang yang berada di parkiran kampus tersebut, Elvano yang terkejut menatap Abangnya itu dengan kesal, dan cemberut.
"abang~"rengekkan Elvano kepada Abangnya itu, karena merasa kesal karena Abangnya itu menggendongnya secara tiba-tiba.
Dari perbuatan Elvano itu tentunya membuat semua orang yang menatapnya kembali berteriak dengan histeris, saat melihat bagaimana dirinya yang imut seperti buntalan kapas merengek kepada Abang itu.
Elvano, yang merasa jika orang-orang berteriak karena dirinya tentunya merasa malu, karena merengek di depan umum, dan langsung menenggelamkan wajahnya di ceruk leher milik Erlangga untuk menyembunyikan rasa malunya. Bukannya mereka tapi semua orang kembali berteriak dan tentunya menahan gemas, bagiamana cara Elvano menutupi rasa malunya itu dengan manja kepada Abangnya.
Erlangga yang melihat adiknya yang malu, hanya terkekeh melihat adiknya yang berusaha menutupi rasa malunya, dan setelah, begitu pun juga dengan Celline yang juga ikut terkekeh yang melihat adiknya itu.
Namun setelahnya, Celline pun memutuskan undur pergi dari hadapan Erlangga dan Elvano, dan dia pun tentunya tak lupa pamit apalagi kepada adiknya elvano.
"adek, Kakak pergi duluan ya, teman kakak udah nunggu nanti ketemuan lagi di kantin ya"ujar Celline kepada Elvano sambil mengelus rambut milik adiknya.
Elvano yang mendengar kakaknya yang berbicara kepada pun menoleh kepada kakaknya yang tepat berada di sampingnya, dengan pipi mochinya yang tetap menempel di pundak lebar milik Abangnya itu.
__ADS_1
Elvano hanya diam memandang kepada kakak perempuannya itu, dirinya yang merasa nyaman dengan perlakuan kakaknya yang mengelus rambut miliknya. Namun kenyamanan itu hanya berlangsung sebentar karena Celline yang sudah pergi. Lalu Elvano yang melihat kepergian Kakaknya itu pun tidak lupa melambaikan tangan mungilnya kepada Celline.
"bye kakak"ujar Elvano kepada Celline yang juga melambaikan tangan kepada adiknya itu dan tak lupa memberikan senyuman manis kepada adiknya itu.
Elvano yang mendapatkan senyuman manis dari kakaknya, tidak menyadari jika kalau pipi mochinya itu menimbulkan merah merona, hingga seperti kepiting rebus.
Lalu dia pun segera memeluk leher milik Abangnya dengan erat dan tak lupa menyembunyikan kembali wajahnya di ceruk leher Abangnya itu.
"ya ampun, kok kakak gue cantik amat ya"batin Elvano dengan gemas.
Erlangga yang yang dipeluk erat oleh adiknya, hal itu membuat dirinya sulit bernafas, dan dengan sulit berbicara, Erlangga berusaha berbicara kepada adiknya itu.
"A-a-adek, lepasin dek"ujar Erlangga dengan kesusahan, sambil menepuk tangan mungil milik Adiknya itu.
Elvano yang baru menyadari jika dirinya mencekik Abangnya itu pun langsung saja melepaskan pelukannya dari leher Abangnya itu. Lalu tanpa bersalah, tiba-tiba Elvano menyelutuk.
Erlangga tidak menjawab, karena dia masih merasa sakit pada lehernya hingga sampai dia batuk-batuk.
"Hampir aja gue bunuh anak orang" batin Elvano dengan helahan nafas lega.
Hingga datang lah kedua teman Erlangga yaitu, Ryo dengan Demian.
"oi er, lo kenapa, batuk Lo?"tanya Ryo kepada Erlangga yang masih batuk.
Dan akhirnya batuk Erlangga berhenti, dan hanya menatap kepada kedua temannya itu dengan datar.
Elvano yang sedang berada di gendongan Erlangga hanya diam, melihat pembicaraan abangnya dengan kedua temannya itu. Hingga membuat dirinya sampai bosan.
__ADS_1
"Abang, ayo masuk~"rengek elvano kepada Erlangga, karena sudah merasa bosan sekaligus kesal karena berlama-lama di parkiran kampus.
"eh ada adek Elvano"ujar Ryo kepada Elvano saat menyadari jika, ada Ryo di gendongannya Erlangga.
Sedangkan elvano hanya diam, tanpa ada keinginan untuk menjawab, dan hanya menatap Ryo dengan tatapan sinis.
"ya ampun walaupun badan gue bocah, tapi masa enggak kelihatan badan gue yang sebesar ini. Masih muda kok Udah rabun sih"batin Elvano, yang menyuarakan kekesalannya kepada Ryo, teman abangnya itu.
"hallo dek, wah adek tambah imut aja sih"ujar Ryo kembali, sambil mencubit pipi mochi milik Elvano.
Elvano pipi yang di cubit, tentunya tidak terima, jadi dia berusaha untuk melepaskan cubitan Ryo pada pipinya.
Hingga setelah terlepas, dirinya tak lupa untuk segera mengelus pipinya yang di cubit oleh Ryo, apalagi saat di cubit rasanya itu sangat sakit. Dan tak lupa Elvano pun segera memberikan tatapan mata yang dibuat tajam kepada Ryo, Namun Ryo yang melihatnya hanya terkekeh, apalagi elvano yang saat ini berusaha menakutkan dirinya, namun bukannya takut malahan dia merasa Elvano imut baginya.
Dan hal itu pun membuatnya menjadi ingin kembali mencubit pipi mochi milik Elvano kembali. Namun belum sempat tangannya menjangkau pipi Elvano, Erlangga yang sedang menggendong adiknya itu segera menepis tangan Ryo, agar tidak mencubit pipi milik adiknya itu.
Apalagi adiknya itu terlihat akan menangis, dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.
Sedangkan Ryo, tangannya yang ditepis oleh Erlangga pun meringis, apalagi tepisan yang Erlangga lakukan dengan kuat, dan saat bertatapan dengan mata Erlangg, Ryo hanya bisa nyengir melihat tatapan Erlangga yang tajam mengarah kepadanya.
"sorry Er"ujar Ryo kepada Erlangga
Erlangga pun hanya diam, malahan dia hanya mengabaikan permintaan maaf milik Ryo, dan hanya fokus untuk mengusap pipi adiknya itu yang memerah.
Dan tanpa banyak kata Erlangga pun berjalan duluan menuju ke kelasnya, tanpa mengatakan apapun kepada kedua temannya itu.
Ryo, hanya yang melihat kepergian Erlangga hanya bisa melongo, sedangkan Demian yang sejak tadi tidak berbicara pun tanpa banyak kata, dia pun mulai berjalan menuju ke kelasnya tanpa berpamitan kepada Ryo.
__ADS_1
Ryo yang di cuekin untuk kedua kalinya pun, hanya bisa bertambah melongo, melihat kepergian kedua temannya itu. Namun setelah menyadari jika dirinya sudah ditinggal, dia pun menyadarkan dirinya dan segera berlarian untuk mengejar kedua temannya itu.