
Matahari yang mulai membenamkan dirinya, hingga membuat langit yang awalnya cerah hingga membuatnya senja ke orenan yang mengatakan waktu malam akan tiba, di sebuah rumah yang megah yang terdapat para pemuda dan seorang anak kecil yang masih asik dengan kegiatan dan tidak terasa pun waktu yang semakin cepat hingga hari sudah akan malam.
Erlangga yang melihat notifikasi yang berbunyi dari handphone yang merupakan dari Diana yang memintanya untuk segera pulang, karena dirumahnya akan kedatangan tamu.
Erlangga pun melihat jam di tangannya yang menandakan jam 17.30, jadi dia pun segera untuk berdiri, dan pamit kepada Riko yang berada di sampingnya.
"Rik gue pamit dulu ya"ujar Erlangga kepada Riko
Dan Riko pun hanya mengangguk untuk menjawab ucapan Erlangga.
Melihat Riko yang mengangguk, Erlangga pun langsung mendekati adiknya yang masih asik berbicara dengan teman yang lainnya.
Dan dia tidak bisa melihat adik kesayangannya itu yang sangat senang dan apalagi sampai akrab dengan teman-temannya itu, dan itu membuatnya cemburu dan itu tidak bisa dibiarkan.
"Adek, ayo pulang mama udah nyuruh kita pulang"ujar Erlangga dan langsung tanpa persetujuan Elvano dia pun langsung menggendong adiknya itu. Dan sebelum adiknya itu protes kepadanya, dia segera pamit dengan temannya yang lain dan dengan buru-buru dia pun langsung keluar dari rumah tersebut.
Elvano yang tanpa aba-aba digendong oleh abangnya langsung tidak terima dan dia secara berterus-terusan bergerak di dalam gendongan abangnya itu.
"Abang adek masih mau di sini~"rengek Elvano kepada abangnya Erlangga, dan terus-menerus bergerak agar abangnya itu segera menurunkannya.
Erlangga yang mendapati adiknya bergerak di gendongannya membuatnya kelimpungan.
"Abang kan udah bilang kalau mama udah nyuruh kita pulang, lagian juga malam Loh dek"ujar Erlangga yang berusaha untuk membujuk adiknya elvano
"Ya, tapi kan gimana rencana gue deketin Riko. Karena asik sama bang Kai, kan gue sampai lupa sama rencananya, Pokoknya rencana gue harus berjalan hari ini kalau enggak pastiin Riko dulu baru pulang"batin Elvano yang masih tidak ingin pulang dan bersikeras untuk tetap tinggal , hingga mata Elvano sudah mulai berkaca-kaca dan kapan pun butiran air matanya itu dapat keluar dari matanya.
Namun tanpa disadari mereka seseorang pria yang memakai baju kantoran memasuki rumah, dan di saat masuk seseorang tersebut melihat pemandangan Erlangga yang sibuk membujuk adiknya dan Elvano yang meminta kepada Erlangga agar tidak pulang, hingga hampir mau menangis. lalu
"Ada apa ini?"ujar Bariton seseorang tersebut membuat mereka langsung berhenti dan langsung menoleh.
Elvano yang mendengar suara langsung menoleh dan dia tidak menyangka apa yang dilihatnya seseorang itu yang berdiri sekarang merupakan seseorang yang sangat mirip dengan ayah dari sahabatnya yang dulu yang sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri dan juga selalu baik kepadanya.
Matanya berpaku dan tidak dapat berpaling dari sesorang paruh baya tersebut.
Orang yang disebutkan oleh Elvano merupakan ayah dari Riko yang bernama Kevin, dia merupakan seorang orang tua tunggal setelah dirinya bercerai dengan istrinya dan istrinya pun lebih memilih pergi dengan pria lain membuatnya tidak berpikiran untuk menikah lagi, dia hanya ingin meluangkan waktu bagi anaknya Riko, apalagi anaknya sekarang berubah seperti kutub es, dan tidak tersentuh.
"hmm?, baru pulang om?"tanya Erlangga kepada Kevin.
"iya, om baru pulang"jawab Kevin, namun matanya menoleh kepada Elvano yang ternyata masih terpaku dengan Kevin dan membuat Kevin bertanya-tanya siapa anak kecil yang berada di gendongan Erlangga.
"Er, anak kecil ini siapa?"tanya Kevin kepada Erlngga dan juga tetap menatap elvano tanpa menoleh kepada Erlangga.
"oh, ini adeknya Erlangga om yang paling bungsu, namanya-"sebelum Erlangga melanjutkannya tiba-tiba Elvano memotong perkataan abangnya sendiri.
"nama adek Elvano Anggantara, om panggil aja Elvano atau el"ujar Elvano dengan suara yang lirih dan matanya yang tetap berpaku kepada Kevin yang juga menatanya.
Kevin menatap kepada Elvano dan di matanya itu dia dapat merasakan kerinduan amat besar kepadanya, Namun dia hanya menyangkal perasaannya itu karena tidak mungkin Elvano mengenalnya, karena ini merupakan pertemuan pertama dia dengan Elvano.
Kevin yang mendengar suara Elvano yang lucu baginya hanya tersenyum dan mengelus rambut Elvano yang sangat lembut saat dia pegang,
"ayah, ini Erland, apa Ayah enggak kangen sama Erland?"batin Elvano dan ingin dia mengatakannya kepada seseorang yang ada di depannya ini, yang sudah dia anggap sebagai seorang ayah, namun apa yang dapat dikata kalau wujudnya sekarang yang berbeda dengan dirinya yang dulu, apalagi ditubuhnya yang kecil dan itu hanya akan membuat Kevin menertawakan tingkah lakunya yang lucu bagi Kevin , dan Elvano hanya dapat bungkam dan menyimpannya di dalam hatinya sendiri.
Satu hal yang dapat dia syukuri walaupun dengan wujud yang berbeda dia dapat bertemu kembali dengan Riko sahabatnya dulu dan Kevin, seorang ayah dan sebagai panutan bagi kehidupannya.
Dan dia tidak peduli kalau yang dihadapannya seseorang yang hanya mirip, namun dia bahagia dan biarkan dirinya melepaskan kerinduan kepada seseorang yang sangat dirindukannya itu.
"Nama kamu Elvano ya, salam kenal ya Elvano namanya om, Kevin"
...****************...
Lalu sekarang Erlangga dengan Elvano pun sudah berada di dalam mobil, mereka dalam perjalanan untuk pulang.
Erlangga yang melihat adiknya hanya diam berpikir jika adeknya ini ngambek dengannya karena tidak di perbolehkan lagi lebih lama di rumah temannya itu. Dia hanya akan diam karena ini lebih baik daripada dibujuk dirinya akan marah dan akan bertambah ngambek dengannya.
Elvano yang hanya diam sibuk berpikir, tentang kejadian yang menimpanya hari ini, dia benar-benar merasa tidak paham semuanya. Dia hanya berpikir apakah ini memang di dunia asli atau dunia novel.
Kalau di pikir itu hanya akan membuatnya sakit kepala, lalu dia menoleh ke arah abangnya yang sedang menyetir dan tidak biasanya abangnya itu jika melihat dia Diam termenung, akan selalu berusaha untuk membujuknya. Namun apa yang terjadi sekarang abangnya Erlangga itu tidak lagi membujuknya. Dan hal itu pun membuatnya entah kenapa merasa kesal,
Bagaimana kalau ternyata abangnya itu sudah nemu adik yang baru.
"TIDAK, itu tidak boleh, hanya gue sendri yang boleh menjadi anak yang terkecil dan sekaligus putra bungsunya keluarga Anggantara. Pokoknya enggak boleh kalau sampai dia punya adik gue tumbuk kepalanya"batin Elvano dan tak lupa dengan matanya yang menatap tajam kepada abangnya Erlangga.
__ADS_1
Erlangga yang merasakan tatapan yang tajam mengarah kepadanya, tanpa sengaja sekilas menoleh kepada Elvano. Dia yang tidak tahu apa-apa langsung bingung kenapa tiba-tiba adiknya marah ya, itu yang menjadi pikirannya.
"Adek kenapa sih?, kok tiba-tiba menatap abang kayak gitu?, Abang ada salah?"tanya Erlangga yang bingung kepada adiknya itu.
Elvano yang ditanya hanya diam dan hanya menjawab pertanyaan abangnya itu dengan ogahan.
"Adek enggak marah sama Abang kok"jawab Elvano namun tidak wajahnya yang tetap di pasang marah.
Erlangga yang mendengar jawabannya adiknya yang berbeda dengan apa yang ditanya dan dapat dipastikan jika adiknya ini marah kepadanya.
"Kok adek gue kayak cewek lagi pms ya?"batin Erlangga.
Hingga sampainya mereka berada di rumah keluarga Anggantara, lalu mobil pun berhenti. Erlangga yang melihat adiknya yang ngambek dengannya bingung dengan adiknya itu, Memang apa salahnya.
atau jangan-jangan karena tidak diperbolehkan lama di rumah temannya itu.
"Abang minta maaf sama adek, besok-besok kalau Abang mau ketemu sama temannya Abang. Abang janji deh bawa adek, tapi sekarang sudah malam apalagi kita juga udah pergi sejak pagi, memangnya adek enggak kangen sama mama ?"ujar Erlangga kepada adiknya elvano.
"yaudah"jawab Elvano dengan tetap mempertahankan wajah ngambeknya.
Erlangga yang melihat wajah ngambek adiknya tentunya terkekeh, Lalu
"yaudah ayo turun?"ujar Erlangga kepada Elvano dengan jahilnya, dia ingin melihat adiknya itu kesal kepadanya.
"Abang, ini gimana sih, adek mana bisa buka pintu mobilnya. Biasanya kan Abang yang bukain, abang masih muda Loh, jadi jangan sampai pikun"jawab Elvano dengan ketidak pekaan abangnya itu.
"iya, Abang tahu kok dek, maksud abang bukan gitu. tapi kan Abang mau sekalian ingin gendong adek dari sini aja, terus baru kita turun lewat pintu di samping Abang"
Elvano yang mendengar perkataan abangnya itu tidak dapat menahan malu, bagaimana bisa dia tidak berpikiran seperti itu.
"oh, gitu"jawab Elvano kepada Erlangga dengan menahan malu.
Erlangga yang melihat adiknya itu ingin rasanya menertawakan adiknya, adiknya sekarang pasti lagi malu.
"adek lagi malu ya?, bilang aja malu"ujar Erlangga kepada Elvano yang masih menahan malunya dan menoel-noel kan pipi mochi milik adik imutnya itu.
"iih, Abang adek marah ini"ujar Elvano dengan suara seraknya dan akan seperti menangis.
Elvano hanya diam saat abangnya itu yang berusaha membujuknya, lalu tiba-tiba ada yang mengetuk jendela mobil mereka yang masih terparkir.
Erlangga pun membuka jendela tersebut yang tepat di terletak di samping miliknya.
Dan yang mengetuknya tersebut adalah Diana yang bingung kenapa mobil putra sulungnya yang sudah terparkir di depan rumah, tapi tidak terlihat batang hidungnya, apalagi si bungsu juga dia juga tidak melihatnya.
Elvano yang melihat Diana segera menangis dengan kencang dan tak lupa merentangkan kedua tangannya itu ke arah Diana.
"Mama~"ujar Elvano dengan suara yang dicampur dengan Isak tangisnya, dan meminta Diana agar segera menggendongnya.
Diana yang melihat putra bungsu kesayangannya menangis langsung saja, segera menghampiri anaknya tersebut dan tak lupa membukakan pintu mobilnya terlebih dahulu, Lalu barulah dia langsung menggendong anak bungsunya itu.
"Mama, Abang jahat sama adek masa iya adek"ujar Elvano yang tidak dapat dimengerti olehnya, apalagi anaknya itu berbicara kepadanya sambil sesenggukan.
"iya, Abang jahat ya, nanti mama marahin abangnya ya"jawab Diana, agar anaknya itu segera menghentikan tangisannya.
"kalau gitu adek ayo ikut mama, biar siap-siap dulu ya, soalnya kita mau kedatangan tamu"ujar Diana
"tamu?, siapa ma?"tanya Erlangga yang sudah di samping Diana.
"keluarganya Demian temannya kamu itu sama orang tuanya mau datang"jawab seadanya kepada Erlangga.
"Demian, maksudnya tunangan kak Celline ma?"ujar Elvano yang sudah menghentikan tangisannya.
"iya sayang"jawab Diana
"pantesan tadi gue enggak Nemu batang hidungnya si Demian"batin Elvano, yang saat datang ke rumah teman abangnya itu dia tidak melihat keberadaan Demian.
"adek mau turun ma"ujar elvano kepada Diana, sambil menggerakkan badannya agar Diana segera menurunkannya.
"iya, sabar sayang"jawab Diana dan segera menurunkan anaknya itu.
Elvano yang sudah diturunkan, langsung saja dia berlari untuk segera menemui kakaknya Celine.
__ADS_1
Diana yang melihat anaknya berlarian tentunya tidak dapat menahan rasa terkejutnya.
"adek, jangan lari-lari nanti jatuh dek"teriak Diana kepada Elvano yang mulai menjauh darinya.
Tapi bukannya di dengar Elvano tetap berlarian karena dia, tidak tahu kenapa tidak sabar untuk segera menemui kakaknya itu.
Setelah menemukannya Elvano segera memanggil kakaknya itu.
"kakak"teriak Elvano kepada Celline, Sedangkan Celline yang mau turun segera menoleh saat mendengar suara adiknya yang memanggilnya.
Dan dia dapati adiknya itu dengan berlarian ingin menghampirnya, dan menubrukkan badannya kepadanya.
Celine yang mendapatkan serangan pelukan adiknya yang secara tiba-tiba, tentunya terkejut, untung saja mereka tidak terjatuh. Dan dia pun segera berjongkok hingga menyamai tinggi adeknya itu membuat pelukan adiknya itu terlepas.
"Ada apa dek, kok lari-larian sih, nanti terjatuh gimana?"ujar Celline yang tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya kepada adiknya itu.
Elvano yang mendengar perkataan kakaknya hanya bisa menunjukkan cengirnya kepada Kakaknya itu.
Namun setelahnya, dia melihat kakaknya itu belum bersiap-siap dan masih memakai baju rumahan.
"kakak, enggak siap-siap?"tanya Elvano yang kebingungan
"kakak?, kakak memang belum siap-siap dek lagian juga kakak nanti cuman Makai baju yang biasanya kakak pakai kok"jawab Celline.
Tapi Elvano yang mendengarnya merasakan tidak puas
"enggak boleh, pokoknya kakaknya adek harus dandan cantik"ujar Elvano.
Dan elvano langsung menarik tangan kakaknya itu agar segera menuju kamarnya dan untuk bersiap-siap.
"ayo kak"ajak Elvano kepada Celline.
"iya adek"jawab Celine.
Lalu tibalah mereka di kamar Celine dan Elvano meminta Celline untuk segera mandi.
Lalu Elvano menunggu kakaknya itu, dan segera keluar dari kamar kakaknya itu dan memanggil mamanya untuk mendadani kakaknya itu.
Dan saat keluar dia menemukan mamanya itu yang sedang berbicara dengan maid, langsung saja diam menghampiri mamanya.
"Mama, bantuin adek"desak Elvano sambil menarik pakaian milik Diana.
Diana yang dipanggil, langsung menoleh dan menemukan anak bungsunya.
Lalu maid itu pun pamit untuk segera menyelesaikan tugasnya.
Diana pun menyamakan tingginya dengan anaknya itu, lalu
"bantuan apa sayang?"tanya Diana kepada Elvano.
Dan tanpa menjawab Elvano pun segera membawa mamanya itu menuju ke kamar kakaknya.
Diana yang bingung tetap mengikuti anaknya itu.
apalagi anaknya itu menginginkannya untuk masuk ke kamar putrinya itu.
Dan setelah masuk, itu bertepatan juga dengan Celline yang juga sudah bersiap-siap. Namun pakaian yang dipakainya itu pakaian rumah.
Elvano segera menarik tangan mamanya itu, Diana yang melihat anaknya yang seperti ingin bicara secara berbisik dengannya langsung menundukkan tubuhnya.
"Mama, bisa enggak cariin baju yang bagus untuk kakak Celine, terus mama dandanin kakak agar Kakak cantik"bisik Elvano kepada Diana
Diana yang paham langsung menghampiri putri satu-satunya itu dan mendorong putrinya itu untuk mengganti bajunya dengan lebih baik, setelah menemukan yang cocok langsung saja dia mendadani anaknya itu agar bertambah cantik.
Elvano menunggu Kakaknya itu dan setelah menunggu dapat dia lihat kakaknya itu sangat cantik hingga membuatnya terpukau.
"kakak, kakak sangat cantik"ucap Elvano dengan mata yang berbinar-binar.
Celine yang dipuji oleh adiknya itu tidak dapat menyembunyikan rasa malunya
"Demian bodoh, lo salah kalau menyia-nyiakan kakak cantiknya gue, awas aja nanti sampai Lo terpukau sama kecantikannya kakaknya gue"batin Elvano sambil menyeringai.
__ADS_1