Adik Antagonis

Adik Antagonis
CHAPTER 24


__ADS_3

Di malam hari menuju waktu datangnya makan malam keluarga Anggantara sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang masih bersiap-siap seperti Elvano, yang sedang dipakaikan pakaian oleh Erik dengan wajah yang cemberut.


Bagaimana tidak, dia lebih memilih dipakaikan oleh mamanya daripada papanya yang masih sibuk dan bingung memilihkan pakaian untuknya.


Elvano yang sedang duduk di atas kasur yang hanya diselimuti handuk mulai menggigil karena kedinginan, Elvano yang sudah kesal kepada Erik yang lama, langsung berseru kesal kepada Erik.


"papa, kok lama sih?. Adek udah kedinginan ini, ntar adek sakit papa mau tanggung jawab?"ujar Elvano yang kesal kepada Erik dengan suara yang menggigil.


"iya, sabar sayang"jawab Erik yang masih sibuk dengan pemilihan pakaian untuk Elvano.


Elvano yang mendengar jawaban papanya hanya mendengus dan melipatkan tangan mungilnya di dadanya.


Hingga beberapa saat Erik akhirnya memilih pakaian untuk dipakai kepada Elvano.


"ayo sayang dipakai bajunya"ujar Erik kepada Elvano yang masih kesal.


Elvano yang sudah menunggu lama, masih mempertahankan wajah kesalnya kepada Erik papanya.


Erik yang melihat anaknya yang kesal hanya dapat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bagaimana pun dia sendiri tidak pandai dalam hal memilih pakaian, tidak seperti istrinya yang pandai memilih pakaian untuk anaknya.


"sayang ayo bajunya dipakai nanti adek masuk angin terus nantinya sakit, papa minta maaf sama adek ya?"ujar Erik yang berusaha membujuk anaknya itu dan sekaligus meminta maaf kepada Elvano.


"kok papa, kayak gitu sama adek, kan ini salah papa, adek udah kedinginan Loh papa, kalau adek sakit kan salah papa. Kenapa jadi adek"jawab Elvano dengan panjang lebarnya kepada Erik dengan suara yang menahan tangisan.


Hingga tanpa bisa ditahan isak kan mulai keluar dari mulut Elvano hingga berubah menjadi tangisan yang kencang.


"Mama~"teriakkan Elvano dengan tangisan yang bergema di kamarnya yang memanggil mamanya.


Diana yang berada di ruang makan di lantai bawah, mendengar suara putra bungsunya dengan tergopoh-gopoh berlari menuju ke kamar putranya itu. Dan tanpa aba-aba langsung memasuki kamar putranya.


Dan saat memasuki kamar anaknya dia melihat anaknya yang masih dalam keadaan diselimuti handuk menangis dengan kencangnya yang memenuhi kamar putranya itu, dan suaminya yang menutupi kedua telinganya sambil memegang pakaian milik Elvano.


Elvano yang melihat kedatangan mamanya segera merentangkan kedua tangannya kepada mamanya untuk menggendongnya.


Diana yang melihat anaknya yang ingin digendong segera menghampiri anaknya yang masih menangis dan segera menggendong anaknya tersebut.


Elvano yang berada di gendongan mamanya segera memeluk leher mamanya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher milik Diana.


Diana melihat sekeliling kamar putra bungsunya yang berantakan dengan berbagai pakaian milik putranya yang berserakan di lantai. Dan saat dia melihat suaminya, yang hanya tersenyum dengan canggung Dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


Diana hanya dapat menghela napas, setelahnya dia berusaha untuk meredakan tangisan putranya itu sambil mengelus punggung putranya. Hingga membuat tangisan putranya itu mulai mereda, dan hanya terdengar suara sesenggukan.


"udah, ya sayang jangan nangis lagi nanti kepala adek pusing"ujar Diana dengan lembut sambil mengelus punggung Elvano.


"mas, mendingan kamu keluar aja, biar aku yang ngurus adek"ujar Diana kepada suaminya.


Erik yang diminta untuk keluar, akhirnya meletakkan baju yang masih dipegangnya di atas kasur milik putranya, dan segera keluar dari kamar milik putranya itu, jika dia berlama-lama dikamar hanya membuat anaknya bertambah menangis dan hanya membuat istrinya kesulitan.


Setelah kepergian Erik, Diana mulai mengajak anaknya itu berbicara.


"adek tenang ya, papanya udah pergi. Nanti biar mama marahin papanya, sekarang adek pakai bajunya ya?, supaya enggak sakit"ujar Diana kepada Elvano yang masih memeluknya dengan erat.


Setelahnya baru lah Elvano melepaskan pelukan eratnya dari mamanya, dan dapat dia lihat Erik papanya tidak berada di kamarnya lagi.


Melihat anaknya yang sudah tenang. Diana pun mulai memakai kan pakaian untuk anaknya dan tak lupa terlebih dahulu untuk menuangkan minyak telon kepada badan anaknya terlebih dahulu, dan memberikan bedak baby untuk seluruh badan anaknya itu.


Setelahnya baru lah dia memakaikan pakaian kepada anaknya dan akhirnya Elvano pun selesai bersiap-siap, lalu Diana pun menggendong anaknya itu untuk turun ke bawah karena tamu akan datang.


Dan sesampainya Diana dan Elvano di bawah, dan itu bertepatan dengan Kedatangan tamu yang tiba dengan menggunakan mobil, Diana dan sekeluarga menunggu di depan pintu.


Elvano yang melihat kedatangan tamu meminta mamanya untuk menurunkannya, dan dia pun segera menurunkan putranya itu sesuai permintaan putranya.


Tamu pun datang, dan dapat dilihat bahwa sepasang paruh baya, dan seorang anak laki-laki yang sepantaran dengan Erlangga.


Sang ayah yang saling berjabat tangan, sedangkan si ibu yang saling berpelukan, untuk melepaskan rindu.


Lalu Diana melihat ke seorang anak laki-laki tersebut.


"oh?, ini Demian ya?, wah tambah tampan saja ya"pujian Diana kepada Demian.


Tamu yang datang tersebut adalah keluarga Demian, yang akan pembahasan pertunangan Demian dengan Celline.


"iya, Tante"jawab Demian.


"ini Celline ya?, tambah cantik aja kamu sayang. Kok udah jarang ke rumah, Tante kangen loh"ujar mamanya Demian.


Demian yang mendengar mamanya memanggil Celline tanpa disadarinya dia menoleh kepada Celline, dan saat melihat Celline dia tidak dapat menutupi rasa kagumnya kepada Celline yang sangat cantik di malam hari, bagaimana Ceeline yang biasanya selalu memakai makeup yang tebal, yang membuat menutupi kecantikan alaminya.


Elvano yang melihat Demian yang masih terpaku akan kecantikan Ceeline, tersenyum dengan bangga.

__ADS_1


"Apa gue kata loh pasti akan terpukau dengan kecantikan kakak gue Demian, makanya loh itu seharusnya milih angsa putih yang berkilau bukannya bebek buruk rupa."batin Elvano yang melihat Demian yang masih terpesona dengan kecantikan Celline.


Celline yang di tatap secara langsung oleh Demian tentunya tidak dapat menyembunyikan kegugupannya dan merasakan hatinya berbunga-bunga. Akan tetapi, Celline segera mengenyahkan pikiran itu, karena dia selama ini sudah tidak dapat bertahan dan menderita akan sikap semena-mena kepadanya dia yakin jika keputusannya ini tepat, karena kebahagiaan sekarang sudah ada di sini, adiknya elvano. sambil memandang adiknya yang sedang bersembunyi di belakang kaki Erik.


Elvano yang merasakan jika seseorang melihatnya dia pun melihat sekitar, dan dia menemukan kakaknya Celine yang menatapnya sambil tersenyum.


Elvano yang paham dengan senyuman kakaknya itu segera mengangguk sambil mengangkat kepalan tangan kepada kakaknya itu, untuk meyakinkan kakaknya itu dengan keputusannya.


Lalu seseorang dari orang tua Demian melihat Elvano yang sedang bersembunyi di belakang kaki Erik.


"anak kecil imut ini siapa ya"ujar mamanya Demian, dan membuat mata semua orang tertuju kepada Elvano.


Elvano yang menjadi pembicaraan hanya dapat berdiri dengan kaku sambil memegang kaki Erik, Apalagi dia merasakan malu karena semua orang secara serentak menoleh kepadanya.


Diana yang melihat anaknya malu, langsung memperkenalkan putra bungsunya itu.


"ini putra bungsu kami namanya Elvano Anggantara, panggil aja Elvano, putra bungsu kami baru bangun dari koma panjangnya jadi baru dapat diperkenalkannya sekarang"ujar Diana untuk menjawab kebingungan sepasang paruh baya tersebut.


"sayang, ayo kesini"ujar Diana yang meminta Elvano untuk mendekatinya, Elvano yang diminta pun segera menuruti kemauan dari mamanya itu.


setelah berada di samping Diana, Dian pun meminta Elvano untuk menyapa orang tuanya Demian.


"sayang, ayo di sapa om dan tantenya"ujar Diana.


"hallo, om, tante. Nama adek Elvano Anggantara, panggil aja Elvano atau El"ujar Elvano yang memperkenalkan dirinya dengan suara yang riang.


Dan hal itu pun membuat semua orang terkekeh melihat.


"iya, salam kenal juga ya sayang"ujar Mamanya Demian.


"yaudah, kalau begitu ayo kita makan malam bersama"ujar Diana yang mengajak tamunya untuk menuju ke ruang makan.


...****************...


Sesampainya di ruang makan mereka pun duduk di kursi masing-masing, dan memulai makan malam bersama dengan hening.


Namun, tiba-tiba


"Mama, adek enggak mau sayur"ujar Elvano yang dipangku dan sekaligus suapi oleh Diana. Dan sepertinya makan malam ini, di penuhi oleh suara rengekkan Elvano.

__ADS_1


__ADS_2