Adik Antagonis

Adik Antagonis
CHAPTER 29


__ADS_3

Di kantin terdapat dua orang paruh baya pria , dengan seorang anak kecil yang sibuk makan dengan lahapnya, dan tidak mempedulikan tatapan orang-orang yang mengarah kepadanya.


Mereka adalah Erik, Kevin dengan si kecil Elvano. Mereka sendiri berada di kantin, salah satu fasilitas yang terdapat dalam kantor milik Erik, namun semua karyawan yang berada di kantin tidak bisa untuk tidak menatap atasan mereka, Direktur sekaligus pemilik kantor tempat mereka bekerja, mereka tentunya terkejut dan terheran-heran, bagaimana bisa atasan mereka mau menginjakkan kakinya di kantin yang memang dikhususkan untuk karyawan, biasanya diketahui bahwa atasan mereka jarang, ataupun tidak pernah terlihat batang hidungnya di kantin pada saat jam istirahat.


Sedangkan yang menjadi pembicaraan hanya diam tanpa peduli yang dibicarakan oleh karyawannya, karena sekarang dia hanya sibuk menyuapi putra bungsu kesayangannya yang makan dengan lahapnya.


Awal mereka berada di kantin, di saat Elvano masih berpelukan dengan Erik papanya, tiba-tiba perut Elvano, berbunyi dengan kerasnya, dan itu membuat elvano merasa malu dan Erik yang mendengar suara dentuman dari perut putranya hanya terkekeh.


Dan hal itu pun membuatnya mengajak putranya dengan membawa ke kantin yang berada di kantor.


Dan dikarenakan itu membuat elvano, Erik berada di kantin dan Kevin yang ingin ikut dengan mereka berdua.


Erik yang sibuk dengan menyuapi Elvano, Elvano yang menerima setiap suapan Erik, dan Kevin yang senantiasa melihat kedekatan ayah dan anak itu.


"enak sayang?"tanya Erik kepada Elvano yang terlihat lahap memakan makanannya


"enak papa"ujar Elvano dengan riang

__ADS_1


Erik yang melihat putranya yang menjawabnya dengan riang seperti biasanya merasa senang, karena putranya sudah melupakan kejadian yang terjadi sebelumnya dan hingga Elvano yang tiba-tiba menangis dengan kencang.


Mungkin bisa saja karena Elvano yang lapar, dan melupakannya dengan cepat, atau mungkin karena dirinya yang bodoh amat dengan kejadian sebelumnya hanya Elvano yang mengetahuinya.


Hingga akhirnya makanan milik Elvano pun habis, dan Erik pun segera memberikan air minum kepada putranya.


Hingga setelah merasa kenyang Elvano pun menyandarkan dirinya kepada papanya dan mengelus perutnya yang menjadi buncit.


Hingga Kevin yang sejak tadi berada bersama mereka terkekeh melihat setiap kelakuan Elvano yang menurutnya itu lucu.


"om, kok om bisa ada disini?"ujar Elvano yang bingung dengan keberadaan Kevin


Kevin yang mendengar perkataan Elvano langsung menghentikan ketawanya dan hanya dapat menunjukkan wajah yang suram saat mendengarnya, bagaimana bisa Elvano tidak menyadarinya yang sejak tadi bersamanya, apalagi badan dia yang sebesar ini tidak dapat dilihat oleh Elvano.


Erik yang mendengar perkataan putranya dengan polos hanya terkekeh, baginya putranya ini sungguh anak ajaib bagaimana bisa anaknya tidak sadar dengan keberadaan Kevin yang sudah ada berada di sini.


Apalagi dengan senantiasa nya Kevin dengan sabar memperhatikannya hingga sampai dia selesai makan.

__ADS_1


"om sejak tadi berada di sini Elvano"jawab Kevin dengan sabar menghadapi kepolosan Elvano.


Elvano yang mendengarnya pun hanya mengangguk, dan entah kenapa dirinya merasa ngantuk setelah makan, dan dia hanya ingin untuk tidur.


Erik yang melihat putranya yang mengantuk, membiarkan putranya itu tidur, apalagi putra bungsunya itu sejak tadi berlarian ke sana ke mari, hingga membuat dirinya lelah mencari putranya itu.


Dan akhirnya Elvano dengan sekejap langsung tidur, dengan nyenyak, Kevin yang melihatnya pun terpukau dengan cepatnya Elvano saat tertidur, bagaimana bisa Elvano dengan cepatnya tertidur, apalagi dirinya itu yang berada di tengah-tengah dengan suara yang bising di sekitarnya.


Erik yang melihat putra yang sudah tertidur berencana akan pulang lebih awal, lalu dia pun melihat Kevin yang masih asik dengan melihat wajah Elvano yang tertidur.


"Vin, saya pergi dulu"ujar Erik dengan suara datar dan kaku dan tanpa menunggu jawaban Kevin, Erik pun tanpa aba-aba langsung pergi dari hadapan Kevin, tanpa melihat kearah belakang.


Sedangkan Kevin, yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya bisa tercengang melihatnya.


"sifatnya itu memang tidak pernah berubah"gumam Kevin dan dia pun memutuskan juga untuk pulang.


dan juga memutuskan untuk pulang juga.

__ADS_1


__ADS_2