
Happy Reading !😉
"Kau datang memberi sedikit warna diantara kabut. Kau seharusnya bertanggungjawab dengan detak jantungku yang selalu upnormal saat bersamamu seperti ini !"
~Muhammad Gibran Hutama~
***
Hari ini adalah jadwal mata pelajaran olahraga untuk kelas XII IPA 1, XII IPA 2 dan kelas XII IPS 5. Semua sudah berkumpul di lapangan dan melakukan pemanasan dipimpin oleh ketua kelas masing-masing.
"Padahal kamu bisa istirahat aja kalau memang masih sakit, Az !" ucap Citra merasa khawatir melihat Azkia yang baru masuk hari ini setelah satu minggu izin sakit.
"Aku benar-benar sudah baik-baik saja, don't worry !" kata Azkia dengan senyum ceria andalannya.
Azkia tidak bohong saat mengatakan dirinya sudah baik-baik saja. Karena dia benar-benar telah kembali sehat sekarang. Tinggal sudut bibirnya yang belum sembuh sepenuhnya. Tapi mungkin dua atau tiga hari lagi pasti akan sembuh total.
"Apa kau sudah dengar tentang 25 siswi yang menyerangmu itu ?" tanya Putri.
"Kenapa dengan mereka ?" tanya Azkia ingin tahu.
Apa mereka diberi poin ? Ataukah mereka diskors ?
"Mereka kena drop out !" kata Putri sukses membuat Azkia terkejut bukan main.
"APA ?" pekik Azkia tanpa sadar.
"Kenapa Azkia ?" tanya Pak Syam, guru olahraga yang sedang mengawasi mereka dari tempat duduknya.
"Ahh, ma-maaf ! Bukan apa-apa kok, pak !" Azkia merutuki kebodohan dirinya sendiri.
"Kok bisa ? Siapa yang melaporkan mereka ? Aku bahkan sama sekali nggak pernah berniat membuat laporan atas apa yang sudah mereka lakukan padaku !" tanya Azkia dengan suara berbisik.
"Masa sih kamu nggak tau ?" Citra ikut nimbrung.
Azkia menggeleng membuat Putri dan Citra kompak mendesah keras. Mereka tidak menyangka Azkia belum mendengar berita tentang siswi-siswi yang telah menyerangnya telah di drop out karena ulah siapa.
"Apa kau bahkan tau siapa direktur SMA Nusantara ?" tanya Citra tak habis pikir.
Lagi-lagi Azkia menggeleng polos. Citra dan Putri langsung memasang wajah dongkol melihat cengiran bodoh si golden student pindahan dari SMA Bayangkara itu.
Apakah gadis itu benar Azkia yang menjadi siswi terbaik SMA Bayangkara selama dua tahun berturut-turut ?
Bagaimana mungkin gadis itu tidak mengetahui apa-apa tentang sekolah yang kini menjadi sekolahnya ? Bagaimana mungkin gadis itu sama sekali tidak update tentang berita penting dan fakta dari orang-orang yang ada di dekatnya ?
Ahh, tidak perlu mengetahui semuanya ! Setidaknya gadis itu harus mengetahui fakta tentang seorang Muhammad Gibran Hutama. Yah ! Azkia hanya perlu tahu tentang pria itu.
"Tapi kau tau kan Gibran adalah ketua geng Thunder ?" tanya Putri dan Azkia mengangguk.
"Apa kau tau Gibran sudah tidak mempunyai Ibu ?" tanya Citra yang lagi-lagi diangguki Azkia.
"Kau tau Gibran adalah anak tunggal dari pengusaha ternama dari Korea Selatan ?" tanya Putri lagi. Azkia mengangguk namun detik berikutnya ia kembali menggeleng.
"Apa kau tau kenapa selama ini Gibran suka seenaknya dan tidak ada yang berani menghentikannya bahkan guru sekalipun ?" Azkia menggeleng.
"Apa kau tau ayah Gibran adalah Kim Min Joo ?" Azkia mengangguk.
"Apa kau tau Gibran mempunyai nama lain selain nama Indonesianya Muhammad Gibran Hutama yakni nama Koreanya, Kim Ye Jun ?" Azkia menggeleng untuk yang kesekian kalinya.
"Apa kau tau Kim Min Joo adalah direktur SMA Nusantara ?" Azkia kembali menggeleng.
Putri dan Citra memgangguk-angguk mengerti. Okay, fix ! Azkia benar-benar tidak tahu apapun tentang Gibran. Dan itu tentu saja membuat Putri dan Citra mengerang tertahan.
Ohh, ayolah ! Bagaimana mungkin dia tidak mengetahui apapun tentang pria yang selama berbulan-bulan ini dekat dengannya ?
"Sekarang kau tau Gibran adalah anak tunggal dari pengusaha ternama dari Korea Selatan bernama Kim Min Joo yang tidak lain adalah direktur sekolah kita. Jadi, sekarang kamu tahu siapa yang membuat mereka dikeluarkan dari sekolah ? And why he do that ?" tanya Putri semakin gemas.
Azkia mengangguk untuk membenarkan pernyataan pertama Putri, namun kemudian ia menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan gadis itu. Citra dan Putri seketika menatapnya horor. Keduanya menghembus napas berat melihat kepolosan atau mungkin kebodohan Azkia dalam hal cinta ?
Bagaimana mungkin gadis itu belum juga mengerti apa yang mereka maksud ?
"Azkia kamu sebenarnya pindah ke sini untuk apa, sih ?" tanya Citra semakin gemas.
"Untuk bisa selalu dekat sama Arta !" jawab Azkia jujur dengan wajah menggemaskannya.
"Yaak ! Are you crazy ?" pekik Citra tertahan.
"Wah ! You make me crazy, Azkia ! Gibran yang membuat mereka di drop out dari sekolah ! Kau tau kenapa ? Kau tau alasan kenapa dia mengangkat kamu menjadi Ratu Geng Thunder ?" jelas Putri tidak tahan lagi. Dan ia semakin frustasi melihat tanggapan gadis itu.
Ohh, see !
Gadis itu lagi-lagi menggeleng tidak tahu ! Sepertinya Putri dan Citra lama-lama bisa gila gara-gara kepolosan Azkia.
"Azkia ! Itu karena Gibran menyukaimu !" geram Citra dan Putri.
"Ratu Geng Thunder berarti pacar dari ketua geng Thunder. Kamu pikir kenapa Gibran menjadikanmu Ratu Geng Thunder kalau bukan karena dia menyukaimu ?" tanya Putri.
What the hell !
Azkia menatap Citra dan Putri dengan tatapan tidak percaya. Alisnya saling menaut mendengar penuturan kedua gadis itu. Tidak mungkin yang mereka katakan itu benar, kan ?
Ahh, tentu saja tidak mungkin !
Dia tidak menyukai Gibran dan Gibran juga tidak mungkin menyukainya. Yah ! Normalnya seharusnya seperti itu, bukan ?
"Azkia, Citra, Putri ! Bapak liat dari tadi kalian malah sibuk bergosip. Lari keliling lapangan 5 kali putaran ! Baru pindah tapi sudah banyak tingkah !" teriak Pak Syam membuat semua mata tertuju pada Azkia, Citra dan Putri.
Citra dan Putri tersentak kaget mendengar teriakan Pak Syam yang menggelegar. Berbeda dengan Azkia yang terlihat biasa saja. Gadis itu langsung meninggalkan barisannya diikuti Citra dan Putri di belakangnya.
__ADS_1
"Maaf, pak !" ucap Azkia penuh penyesalan. Ia sedikit menunduk sebagai tanda permintaan maaf. Citra dan Putri ikut melakukan hal yang sama.
Baru saja Azkia akan melangkahkan kakinya saat kedua tangannya ditahan oleh dua orang berbeda yang kini berdiri menjulang tinggi di sisi tubuhnya. Azkia mengangkat kepalanya menatap kedua pria itu bergantian dengan kening berkerut dalam.
"Saya yang akan menggatikan Azkia, pak !" ucap Arta dan Gibran kompak.
"Kalian berdua nggak usah sok jadi pahlawan kesiangan, deh ! Gue bisa sendiri, kok !" ucap Azkia jelas tidak suka.
Ohh, ayolah ! Sekali lagi jangan lupakan tatapan tajam dari fans kedua pria itu yang sepertinya sudah siap mencabik-cabiknya !
"Arta, Gibran kembali ke dalam barisan kalian ! Jangan ikut campur ! Azkia yang berbuat jadi dia yang harus menanggung akibatnya ! Kenapa kalian yang harus menggantikannya ?" sarkas Pak Syam.
"Kia baru saja masuk sekolah hari ini setelah dirawat selama satu minggu di rumah sakit. Dia belum boleh terlalu kelelahan !" balas Gibran tak kalah sarkastik.
"Cukup, Gibran ! Kamu memang anak direktur sekolah tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya menentang perintah guru !" Pak Syam bahkan berteriak.
"Kalian berdua sebaiknya balik ke barisan, deh ! Jangan memperkeru keadaan !" pintah Azkia dengan wajah berubah datar.
Azkia mencoba melepas tangan Arta dan Gibran dari tangannya, namun kedua pria itu malah enggan untuk melepaskannya. Mereka malah semakin mengeratkan genggaman mereka di tangan Azkia.
Benar-benar dua pria keras kepala !
"Nggak ! Lo belum sehat sepenuhnya. Lo nggak boleh capek, Kia !" tolak Gibran.
Arta bisa melihat ketulusan dari kedua mata Gibran saat mengatakan kata-kata itu. Ahh, seketika rasa iri tiba-tiba bergemuruh di dalam dada Arta. Andai saja Arta yang berada di posisi itu, dia pasti akan merasa sangat bahagia.
"Kalian berlima lari keliling lapangan 10 kali putaran, sekarang !" pekik Pak Syam seperti orang kesetanan.
Semua membulatkan matanya mendengar teriakan emosi Pak Syam. Azkia, Citra dan Putri kemudian hanya mampu mendesah pasra karena mereka tahu melawan Pak Syam sama saja dengan bunuh diri. Itu tidak akan ada gunanya. Guru killer itu tidak akan membiarkan mereka lolos dalam keadaan baik-baik saja.
Azkia berlari lebih dulu diikuti Citra dan Putri di belakangnya. Terakhir Arta dan Gibran menyusul. Jika kalian berpikir mereka hanya disuruh berlari mengelilingi lapangan volly or basket maka kalian salah besar. Karena lapangan yang akan mereka putari adalah lapangan sepak bola.
"Are you okay ?" tanya Gibran saat melihat Azkia terlihat sudah sangat kelelahan di putaran kelima.
"Jadi benar ayah lo direktur di sekolah ini ? Kenapa tidak pernah cerita ?" tanya Azkia dengan napas tersegal-segal alih-alih menjawab pertanyaan pria itu.
"Don't talk anymore ! It will make you even more tired. Kita bisa membahasnya nanti !" Azkia tidak membantah dan memilih untuk tidak lagi bertanya.
🍁
Azkia menelungkupkan wajahnya di atas meja dan menjadikan kedua tangannya sebagai alas. Beruntung, guru Bahasa Indonesia berhalangan datang hari ini jadi kelas mereka kosong setelah jam pelajaran Olahraga. Karena itu, saat ini kelas sedang dalam keadaan sepi. Sepertinya semua orang telah menghilang ke kantin.
Syukurlah ! Setidaknya Azkia bisa beristirahat sedikit lebih lama.
Azkia menggigit bibir bawahnya mencoba menahan rasa sakit di perutnya. Sialnya ia lupa kalau hari ini adalah jadwal haidnya. Seperti biasa ia akan merasakan rasa sakit luar biasa yang hanya bisa dirasakan oleh kaum hawa saat sedang datang bulan. Perut kram atau istilah medisnya dysmenorrhea yang terasa begitu nyeri.
"Azkia kamu nggak apa-apa ?" tanya Citra cemas saat mendapati Azkia masih menelungkupkan wajahnya sama seperti sebelum ia keluar untuk sholat Dhuha berapa menit yang lalu.
Citra begitu terkejut melihat wajah pucat Azkia begitu gadis itu akhirnya mengangkat kepalanya.
"Nggak usah, Cit ! Aku mau izin pulang saja kayaknya" tolak Azkia.
Dia adalah gadis yang kuat, tapi salah satu yang tidak bisa membuatnya tetap kuat adalah saat ia datang bulan. Azkia hebat dalam hal bersandiwara, tapi tidak dengan berpura-pura baik-baik saja saat siklus bulanannya datang.
"Kamu tunggu di sini, aku akan panggilkan Arta !" Citra sudah ingin berlari keluar saat Gibran tiba-tiba berdiri menghalangi jalannya.
"Biar aku yang antar pulang ! Arta sedang ada urusan" ucap Gibran. Ia kemudian mengemasi barang-barang Azkia dibantu Citra.
Dengan hati-hati Citra membantu Azkia berdiri. Berlari keliling lapangan sepak bola yang luasnya hampir membunuh mereka tadi tentu saja menyisahkan kenangan di kedua kaki mereka. Termasuk Azkia yang kini sudah mulai merasakan pegal yang luar biasa.
"Azkia kau..." kata Citra memberi kode pada Azkia.
Azkia langsung memutar tubuhnya hingga berdiri dengan posisi menghadap Gibran. Kedatangan tamu bulanan secara tiba-tiba benar-benar menyebalkan. Apa Gibran melihatnya ?
Ahh, malunya !
"Lo me-melihatnya ?" tanya Azkia malu.
Gibran menaikkan kedua alisnya dan mengedikkan bahunya acuh tanpa menjawab pertanyaan Azkia. Dia meraih jaketnya yang hanya melihatnya saja sudah membuat orang bisa menebak itu bukanlah jaket biasa. Dari kualitasnya, jaket itu pasti memiliki harga selangit.
"Kalau gue lihat memangnya kenapa ? Itu kan bukan aib, kenapa semua perempuan malu kalau ada laki-laki yang melihatnya tembus ?" tutur Gibran santai.
Gibran mengikatkan jaket miliknya di pinggang Azkia hingga bisa menutupi noda darah di celana olahraga yang memang masih gadis itu kenalan.
"Jaket lo bisa kotor, Bran !"
"Kan bisa dicuci"
Gibran kemudian berjongkok di depan Azkia. Meminta gadis itu untuk naik ke punggungnya. Ia tahu jelas gadis itu pasti kesusahan untuk berjalan. Azkia awalnya menolak namun Gibran memaksanya. Dan Azkia tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti keinginan pria itu.
Seperti biasa, dimana ada Gibran atau Arta di sana pasti akan menjadi pusat perhatian. Seperti sekarang, Gibran yang sedang menggendong Azkia ke arah parkiran sekolah lagi-lagi menjadi pusat perhatian. Membuat fans keduanya patah hati karena melihat kedekatan mereka.
Dengan hati-hati Gibran menurunkan Azkia. Ia mengambil helm dan memakaikannya di kepala gadis itu sebelum memakai helm-nya sendiri. Gibran naik lebih dulu ke atas motor gedenya sebelum membantu Azkia naik.
Azkia hanya diam tanpa menolak saat Gibran mengambil kedua tangannya dan melingkarkannya di pinggang pria itu. Azkia tahu mungkin saja ia akan lagi-lagi mendapat masalah dengan fans Gibran setelah itu, tapi saat ini Azkia benar-benar tidak berdaya. Rasa sakit di perutnya benar-benar mengalihkan segalanya.
Gibran terus mengajak Azkia mengobrol selama dalam perjalanan, takut-takut gadis itu kenapa-napa dan ia tidak menyadarinya. Azkia yang duduk di jok belakang sambil menyandarkan kepalanya di bahu Gibran hanya bergumam tidak jelas untuk menanggapi ocehan pria itu. Azkia tahu dengan jelas Gibran sedang mengkhawatirkannya. Kedua mata hitam pria itu dengan terang-terangan meneriakkan kekhawatiran sejak ia melihat wajah pucatnya di kelas tadi.
Azkia mengerutkan keningnya bingung saat mendapati rumah mereka sedang sepi. Pintu rumah juga terkunci menandakan ibunya sedang tidak ada di rumah. Hari masih pagi menjelang siang, berarti ayah dan kakaknya belum pulang. Ayahnya pasti masih di kantor sementara kakaknya mungkin saja masih di kampus. Akhir-akhi ini kakaknya memang sedang sibuk mengurus tesisnya.
Untunglah Azkia membawa kunci cadangan.
"Terima kasih sudah ngantar gue pulang. Sebaiknya lo balik ke sekolah sekarang !" kata Azkia yang kini sudah berada di ruang tamu.
"Nggak ! Gue nggak mungkin ninggalin lo di sini sendirian. Gue akan pergi setelah keluarga lo sudah pulang" tolak Gibran. Ia ikut duduk di samping Azkia.
"Apa yang bisa gue lakukan untuk mengurangi rasa sakit lo ?" tanya Gibran pada Azkia yang kini bersandar di sandaran sofa dengan mata terpenjam, tapi Gibran tahu gadis itu tidak sedang tertidur.
__ADS_1
Azkia membuka mulutnya namun kemudian mengatupkannya lagi. Ia meraih ponselnya yang berdering tanda ada panggilan masuk.
"Hmm ?" gumam Azkia setelah merima panggilan.
"Kamu sekarang dimana ? Citra bilang kamu izin pulang karena sakit. Apa perutmu kram lagi ?" Azkia mengangguk sebagai jawaban padahal ia tahu Arta tidak akan melihatnya.
"Aku akan pulang sekarang. Tante dan om katanya lagi pergi ke acara rekan kerjanya. Kak Fajar juga mungkin pulang malam" Azkia menghembus napas berat.
"Tidak ! Kamu tidak perlu pulang ! Di sini ada Gibran, kok" kali ini Arta yang menghembus napas berat.
"Kalau gitu berikan ponselnya pada Gibran. Aku mau bicara dengannya" pintah Arta di seberang sana.
Azkia menurut dan memberikan ponselmya pada pria yang kini duduk tepat di sampingnya, menatapnya dengan alis yang saling menaut karena sedang mengkhawatirkannya. Kerutan di kening Gibran semakin dalam saat Azkia menyodorkan ponsel miliknya kepadanya, seakan bertanya 'untuk apa ?'.
"Arta mau bicara !" jelas Azkia yang mengerti maksud tatapan Gibran.
Gibran menerima ponsel itu dan mendekatkan ke telinganya.
"Mau bicara apa ?" tanyanya to the point.
"Sebelumnya thanks sudah mengantar Azkia pulang. Ini hari pertamanya, jadi perutnya akan sakit karena kram. Ditambah lari keliling lapangan tadi, mungkin ia akan susah bergerak. Bawa dia ke kamar dan biarkan dia istirahat. Tapi sebelum itu, tolong buatkan lemon tea hangat, pakai chamomile tea. Pastikan juga dia minum air hangat sebelum tidur. Perempuan yang sedang kedatangan tamu bulanannya bisa lebih buas dari singa lapar. You know I mean ? Jangan mengatakan atau melakukan apapun yang bisa membuat Azkia marah. Kau bisa berada dalam bahaya kalau kau sampai melakukannya. Ahh dan satu lagi, seingatku pembalut Azkia sudah habis. Bisakah kau ke minimarket untuk membelikannya ?" Gibran mengerjakan matanya berkali-kali mendengar penuturan panjang Arta.
"Lo bisa tau semua itu ? Lo bahkan tau stok pembalut Azkia sudah habis ?" tanya Gibran dengan berbisik takut Azkia mendengarnya.
"Azkia menghabiskan hampir seluruh masa hidupnya bersamaku. Bagaimana mungkin aku tidak tau semua tentangnya ? I know everything about Azkia"
"But she doesn't know anything about you. Itu karena lo adalah laki-laki pengecut ! Right ?" sinis Gibran.
"Apa sekarang waktunya membahas itu ? Aku akan kirimkan foto pembalut yang Azkia pakai. Aku titip dia selama aku masih di sekolah. Aku akan segera ke sana setelah pulang nanti !" Arta mengakhiri panggilannya.
Gibran mendengus kasar sebelum menoleh pada Azkia yang masih menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Dia masih memejamkan kedua matanya. Kedua tangannya memeluk perutnya dengan wajah yang jelas seperti sedang menahan rasa sakit.
Apa perut kram saat menstruasi sesakit itu ?
Rasanya Gibran tidak tega melihat wajah kesakitan itu. Itu bukanlah raut wajah Azkia yang ia kenal. Gibran lebih suka wajah angkuh dan songong Azkia daripada wajah kesakitan itu. Gibran lebih suka mendengar dumelan pedis dan ocehan tidak jelas Azkia daripada rintihan kesakitan yang tanpa sadar lolos dari bibir mungil gadis itu. Gibran lebih suka Azkia yang biasanya.
"Sebaiknya lo istirahat di kamar !" ucap Gibran dan langsung menggendong Azkia ala bridal style.
Azkia yang kaget dengan refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Gibran. Dengan posisi seperti itu, Gibran bisa melihat wajah Azkia dengan jelas. Sekuat tenaga ia harus menahan agar tidak terbawa suasana. Gibran merutuki jantungnya yang malah berdentum keras seperti disko.
Bagaimana kalau Azkia sampai mendengar suara detak jantungnya ?
"Lo jangan tidur dulu, yaa ! Arta bilang pembalut lo sudah habis, gue keluar sebentar untuk beli !" Azkia mengangguk malu mendengar penuturan Gibran.
"Maaf jadi ngerepotin lo, Bran !" ucap Azkia merasa bersalah.
"Anything for you !" Gibran mengelus lembut puncak kepala Azkia membuat gadis itu ikut tersenyum.
Azkia memilih membersihkan diri sepeninggalan Gibran. Jam pelajaran Olahraga tadi benar-benar membuatnya mengeluarkan banyak keringat. Azkia tersenyum sendiri membayangkan wajah Gibran yang biasanya terlihat dingin dan kaku tampak berbeda hari ini. Sepertinya ia benar-benar telah membuat pria itu khawatir.
Dasar Gibran !
Di tempat yang berbeda...
Gibran memasuki salah satu minimarket terdekat dari rumah Azkia dengan sedikit terburu-buru. Tanpa malu ia berjalan menuju rak perlengkapan perempuan yang berada di sudut minimarket itu. Gibran Dengan teliti membandingkan gambar yang dikirim Arta dengan pembalut yang tertata rapi di rak itu.
Gibran baru tahu, pembalut memiliki banyak jenis dan ukuran. Selama ini ia pikir semua sama saja. Ahh, sepertinya mulai hari ini ia harus belajar tentang menstruasi dan segala hal yang dialami perempuan saat sedang kedatangan tamu bulanannya. Hitung-hitung persiapan untuk menjadi suami siaga kelak setelah menikah.
Lagi-lagi Gibran menurutku dirinya sendiri yang malah berpikir kemana-mana. Apa sih yang sedang ia pikirkan ?
Tanpa Gibran sadari, sejak memasuki minimarket itu ia langsung menjadi pusat perhatian para kaum hawa yang juga sedang berbelanja di sana. Apalagi saat ia menghampiri deretan pembalut wanita tanpa ragu. Benar-benar pria idaman, pikir mereka.
"Maaf mbak, ini sudah benar yang ini kan ?" tanya Gibran pada kasir sambil memperlihatkan foto yang tadi dikirim Arta untuk dicocokkan dengan pembalut yang tadi ia ambil.
"Iya ! Itu sudah benar, dek. Beli untuk siapa pembalutnya ?" tanya kasir itu basa-basi.
Gibran menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan itu. Tahu begitu tadi ia akan mengganti seragamnya lebih dulu dengan pakaian biasa. Dan dengan begitu ia akan menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan akan membeli untuk istrinya.
"Calon istri saya, mbak !" dan entah bagaimana kata-kata itu bisa keluar begitu saja dari mulut Gibran.
"Wah ! Beruntung bangat jadi cewek yang akan jadi calon istrinya, kak. Dia pasti senang bangat bisa punya calon suami seperhatian kakak. Jarang-jarang loh ada laki-laki yang mau beli pembalut untuk pacarnya. Biasanya mereka malu. Iri, deh !" Gibran menoleh pada siswi berseragam SMP yang berdiri di belakangnya.
Gibran hanya tersenyum tipis untuk menanggapinya. Sebenarnya ia malu karena sudah mengatakan hal tersebut. Sepertinya dia benar-benar sudah gila. Bagaimana mungkin ia mengatakan Azkia adalah calon istrinya ? Gadis itu bahkan tidak pernah menganggapnya lebih dari hanya sekedar sahabat. Gadis itu hanya memandang ke arah Arta, bukan padanya.
Fakta yang benar-benar menggelikan.
"Fyi, cewek kalau lagi datang bulan itu suka dimanja loh, dek !" ucap kasir itu lagi.
"Ahh, benarkah ? Terima kasih informasinya, mbak !" ucap Gibran sopan sebelum berlalu meninggalkan minimarket setelah membayar belanjaannya.
"Gila ! Sudah cakep, baik, perhatian, body goals, dan dari motornya gue yakin dia adalah pria tajir. Beruntung bangat jadi calon istrinya !" ucap siswi SMP yang satunya lagi.
Senyum Gibran merekah selama perjalanan kembali ke rumah Azkia. Hatinya berbunga-bunga dan jantungnya semakin berdentum keras hanya karena ia membayangkan jika kelak ia duduk di pelaminan bersama Azkia.
Sepertinya otak Gibran benar-benar sudah tidak berfungsi lagi. Ia mulai sering tersenyum sendiri hanya karena membayangkan wajah kesal Azkia karena ulahnya.
Bagi Gibran, Azkia itu sangat istimewa. Ia sudah tertarik denganya sejak mereka masih SMP dulu. Saat itu ia pertama kali melihat Azkia di rumah Arta. Sikap pecicilan dan apa adanya membuat Gibran semakin tertarik.
Dan Gibran paling menyukai sikap ceplas-ceplos Azkia dan dumelan pedis gadis itu. Meski terkadang rasanya benar-benar nge-jleb tapi karena itu jualah Gibran sadar akan banyak kesalahan yang selama ini lakukan.
"Kau datang memberi sedikit warna diantara kabut. Kau seharusnya bertanggungjawab dengan detak jantungku yang selalu upnormal saat bersamamu seperti ini !" Gibran tersenyum lebar.
Semoga kalian suka !😉😙
Please, support author with vote, like and comment !😉😙
Jangan lupa bintang limanya (🌟🌟🌟🌟🌟) juga, yaa !😉😅🤗
__ADS_1