
Happy Reading !😉😙
"Semua orang akan pergi pada akhirnya. Kamu juga ! Tidak ada orang di dunia ini yang akan sungguh bersamamu hingga akhir. Ada beberapa hal yang meski kau rindukan begitu parah, dia akan tetap hanya akan berada di masa lalu. Karena tidak semua hal bisa tetap kau miliki saat waktu telah menjalankan tugasnya. Memisahkanmu saat waktunya telah tiba. Saat waktumu dengannya telah habis. Karena semua mempunyai durasi."
~Azkia Aqilla Candra~
***
Matahari pagi sudah mulai merangkak naik di Ufuk Timur saat Azkia dan Arta bersiap-siap untuk jalan-jalan keliling kampung. Sudah lama sejak terakhir kali mereka datang ke sana. Mungkin berkeliling untuk mengenang kenangan lama mereka di sana bukanlah ide yang buruk sebelum pulang siang nanti.
"Hati-hati, sayang ! Jangan pergi terlalu jauh !" kata Siska sambil membetulkan letak jaket yang sedang dikenakan Azkia.
"Iya, mah !"
"Om titip Azkia yaa, Arta !" ucap Candra. Arta menganggukkan kepalanya.
Azkia melambaikan tangannya di udara membuat Candra, Siska, Caca dan Fajar yang sedang berdiri di teras rumah untuk mengantar mereka pergi pun melakukan hal yang sama. Jam sepertinya masih menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit saat mereka meninggalkan rumah itu dengan sepeda masing-masing.
Arta mengayuh sepedanya perlahan mengikuti laju sepeda Azkia yang tidak terlalu cepat. Sesekali mereka bercerita tentang kenangan mereka bersamanya saat melewati tempat-tempat yang dulu sering mereka kunjungi bertiga.
Kampung Dermawan, kampung yang berada sekitar 20 kilometer dari jalan besar. Butuh waktu sekitar dua hingga tiga jam untuk sampai ke kampung itu. Kampung yang masih sangat menyatu dengan alam itu benar-benar indah. Jaringan di kampung itu belum terlalu bagus hingga para penduduknya tidak terlalu bergantung dengan gadget.
Kampung Dermawan adalah kampung kelahiran Azkia dan Arta. Dulu mereka tinggal di kampung itu hingga akhirnya pindah lima tahun yang lalu. Semua karena kejadian lima tahun yang lalu yang akhirnya memporak-porandakkan semuanya.
Suasana perkampungan yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang pengap oleh padatnya penduduk serta polisi udara yang menyesakkan siap memanjakan mata. Udara segar nan bersih pun siap mengisi paru-paru siapa pun yang ada di sana. Disepanjang jalan banyak pepohonan yang membuat udara di sana semakin sejuk.
Jalanan masih sangat sepi karena memang masih terlalu pagi. Hanya terdengar bunyi decitan rantai dan gir sepeda yang sedang dikayuh Azkia dan Arta. Sesekali mereka turun dan mendorong sepeda mereka saat melewati jalanan menanjak.
"Huaa...di sini masih sama seperti dulu ! Rasanya tidak ada yang berubah sejak terakhir kali kita ke sini. Iya nggak sih, Ta ?" seru Azkia kegirangan. Ia menoleh pada Arta yang kini duduk di atas rerumputan hijau.
"Benar ! Di tempat ini masih sama seperti dulu !" Arta tampak menjeda.
"Hanya kita yang berbeda !" lanjutnya.
Ekspresi kegirangan Azkia seketika berubah sedih. Dadanya mendadak sesak mendengar kata-kata Arta. Matanya menatap lurus ke depan. Memperhatikan setiap sudut tempat itu dengan pikiran kalut.
Benar yang Arta katakan. Tempat itu memang masih sama persis seperti dulu. Hanya mereka yang berbeda. Karena dulu mereka selalu datang bertiga, tapi sekarang hanya mereka berdua yang bisa datang. Dan dia, tidak ada lagi di sana bersama mereka.
"Iya ! Padahal semua akan jauh lebih indah kalau dia juga ada di sini bersama kita. Aku merindukan kehadirannya. Sangat !"
"Aku juga sangat merindukannya. Kenangan kita bersamanya semuanya ada di disi. Karena itu, aku selalu ingin berlama-lama berada di sini. Aku selalu merasa dia ada di sampingku setiap kali kita datang. Mungkin kedua mata kita memang tidak bisa melihatnya. Tapi hati selalu bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata !" tutur Arta. Pandangannya menerawang jauh ke masa lalu. Masa dimana mereka masih selalu bertiga.
Azkia bungkam tanpa suara. Raganya mungkin memang berdiri di sana, namun pikirannya telah pergi jauh berkelana ke masa lalu. Mencoba mengenang setiap rincian kenangan mereka bersamanya. Tentang setiap senyuman yang terukir indah karenanya. Tentang tawa renyah tanpa beban dengannya.
Semua tentangnya, Azkia ingin mengingat semuanya !
Dan setiap kali mencoba mengenang dirinya, Azkia kembali diselimuti perasaan bersalah. Perasaan sesak karena luka di masa lalu kembali mencuat ke permukaan. Luka yang tidak pernah kering meski telah termakan waktu.
Menyebalkan memang !
Azkia harus terus merasakan sakit yang sama selama lima tahun lamanya setiap detiknya. Ia harus terus merasakan sakit itu dengan rasa yang sama selama itu. Rasanya menyesakkan dan teramat sakit.
Akan lebih baik jika luka itu adalah fisiknya. Dengan begitu akan mudah mencari penawarnya. Sayangnya bukan fisik Azkia yang terluka, melainkan batinnya. Tidak ada luka yang memiliki rasa sesakit itu.
"Jadi berhentilah menyakiti dirimu sendiri, Azkia ! Kepergiannya bukanlah kesalahanmu. Dia pergi karena durasinya melangkah bersama kita memang sudah habis. Bukan karenamu, karena aku atau karena siapa pun, melainkan karena itu memang sudah menjadi takdirnya !" Arta kembali berujar.
Azkia seperti mendadak lupa bagaimana caranya bersuara. Ia tetap diam tanpa menanggapi kata-kata Arta. Dadanya terlalu sesak untuk mencerna semuanya. Kesadarannya mungkin saja tidak akan sampai ke sana. Semua selalu saja membuat Azkia menjadi lemah seketika. Ia tidak sanggup bahkan untuk mengenang satu kenangan buruk lagi tentangnya.
Terlalu menyakitkan !
Bahkan untuk mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua memang bukanlah kesalahannya pun Azkia tidak mampu. Setiap kali ia mencoba untuk berpikir seperti itu, rasa bersalah akan kepergiannya malah semakin besar. Membuat sesak di dadanya semakin tak tertahankan.
Azkia tidak sanggup !
Semua terlalu berat untuknya. Padahal Azkia sudah mendengar kata-kata itu ratusan atau bahkan mungkin sudah ribuan kali. Tapi bahkan hanya untuk sekedar menanyakan apakah yang dikatakan Arta itu memang benar pun Azkia tidak sanggup.
__ADS_1
Karena kepergiannya adalah pukulan yang teramat besar untuk Azkia. Kehilangannya adalah hantaman keras untuknya. Rasanya, separuh jiwanya telah pergi bersama kepergiannya.
Azkia selalu ingin mempercayai kata-kata ayah, ibu, kakak, Bunda Caca dan juga Arta. Namun rasanya begitu berat. Karena semua alasan kepergian dia selalu terarah padanya. Bahkan kakek dan neneknya dengan gamblang menyebutnya sebagai penyebab kematiannya. Membencinya dengan sepenuh hati karena berpikir Azkia-lah yang membuatnya kehilangan nyawa.
Setelah mencoba menenangkan Azkia, Arta mengajaknya untuk mengunjungi tempat-tempat lain. Ada banyak tempat penting yang dulu sering mereka datangi, tapi mungkin hari ini mereka belum bisa mendatanginya semua. Mereka hanya mengunjungi tempat yang berada tak jauh dari rumah kakek dan nenek Azkia.
Arta menghentikan sepedanya di depan sebuah warung makan, membuat Azkia ikut menghentikan sepedanya. Warung kecil di pinggir jalan itu akan menjadi tempat terakhir yang akan mereka datangi. Warung itu juga menjadi salah satu tempat yang dulu selalu mereka datangi bertiga.
Warung Sederhana !
Namanya memang Warung Sederhana dan tempatnya pun memang terlihat sederhana, namun tidak dengan menunya. Makanan di warung itu tak kalah enak dari makanan-makanan restoran. Itu menurut penilaian mereka.
Jam memang masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi, tapi warung itu sudah buka dan siap menyambut pelanggannya. Hari ini Azkia dan Arta mungkin akan menjadi pelanggan pertama di warung itu. Ahh, rasanya rindu sekali dengan semua menu yang ada di sana. Semuanya enak dan terjangkau.
"Selamat datang, mau pesan a...pa ?" sambut pemilik warung ramah, namun kemudian ia terlihat begitu terkejut saat melihat siapa yang datang.
Bi Miya, Sang pemilik warung itu langsung berlari dan memeluk Azkia dan Arta. Arta bisa merasakan tubuh wanita baya itu bergetar saat memeluk mereka. Benar saja, Bi Miya menangis !
Azkia tersenyum manis dan membalas pelukan Bi Miya erat. Rasanya sudah begitu lama sejak terakhir kali mereka datang ke sana. Dan yah, memang sudah begitu lama. Rasanya rindu sekali !
"Sudah lama sekali ! Kalian sudah sebesar ini sekarang. Bibi benar-benar rindu !" tutur wanita itu.
"Kita juga rindu sama Bibi ! Bibi gimana kabarnya ?" tanya Azkia antusias.
"Alhamdulillah Bibi baik. Bibi benar-benar senang bisa bertemu kalian lagi setelah lima tahun lamanya. Bibi nggak nyangka bisa ketemu kalian lagi hari ini. Bibi kira Bibi tidak akan pernah bertemu lagi sama kalian !" Azkia dan Arta kembali melebarkan senyumnya saat Bi Miya kembali merengkuh tubuh mereka.
"Kalian mau makan apa ? Bibi kasih gratis deh khusus buat Arta dan Kia !" seru wanita baya itu bersemangat.
Dari wajah cerahnya, dengan jelas terlihat bahwa Bi Miya begitu senang karena setelah sekian lama akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan Arta dan Azkia. Anak-anak menggemaskan yang dulu menjadi pelanggan setianya. Karena kedekatan mereka, membuat orang-orang mengira bahkan mereka adalah anak-anak Bi Miya sendiri.
Sepertinya Bi Miya terlalu bersemangat hingga tidak menyadari sesuatu. Bi Miya langsung berlenggok pergi ke dapur untuk mempersiapkan makanan untuk kedua pelanggan istimewanya.
Ia tidak menyadari perubahan ekspresi wajah Azkia. Menyadari itu, Arta langsung mengelus lembut lengan Azkia dan menyunggingkan seulas senyum manisnya. Seakan berkata pada Azkia bahwa 'tidak apa-apa !'. Mencoba menenangkan gadis itu yang kembali kalut akan memori lama.
"Silahkan dimakan, nak !" pintah Bi Miya penuh keramahan.
Azkia dan Arta mengangguk sambil membalas senyum wanita paruh baya itu. Keduanya memakan hidangan itu dengan lahap. Rasanya sama sekali tidak berubah. Masih enak seperti lima tahun yang lalu. Keduanya bahkan menghabiskan semuanya tanpa sisa sedikit pun.
"Mau nambah ? Atau minuman hangat ?" tanya Bi Miya antusias saat melihat piring mereka telah bersih.
"Aku mau es buah deh, Bi !" kata Azkia tak kalah semangat.
"Es buah sepagi ini ? Hahaa...ternyata nak Kia belum berubah, yaa !" Bi Miya mengelus kepala Azkia lembut sambil tertawa mengingat kebiasaan aneh gadis itu.
"Bi ! Aku...aku bukan Kia, Bi. Tapi aku Qilla !" kata Azkia berusaha santai.
Tapi tidak bisa !
Suaranya bahkan terdengar bergetar saat mengatakan kata-kata itu. Meski begitu, ia tetap mencoba untuk mengulum senyum senatural mungkin.
"Kia tidak suka makanan atau minuman dingin. Dia lebih suka yang panas-panas. Yang suka dingin itu aku, Bi. Qilla !" lanjut Azkia menjelaskan.
Deg...
Bi Miya merutuki dirinya sendiri atas kebodohannya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan itu ?
Bodoh !
"Nak Qilla, Bibi minta maaf !" kata Bi Miya penuh penyesalan sambil menampar mulutnya sendiri.
Azkia memamerkan senyum lebarnya.
"Tak apa, Bi !" kata Azkia semakin melebarkan senyumnya.
"Saat kau tersenyum semua terlihat seakan baik-baik saja. Sedikit pun tidak terlihat bahwa ada luka yang mengangah cukup lebar di relung hatimu. Bagaimana bisa kamu masih mampu tersenyum selebar itu disaat hatimu tengah hancur tak berbentuk lagi ? Bagaimana bisa, kamu masih sanggup tersenyum seindah itu saat kamu bahkan tidak mempunyai alasan untuk tersenyum ?" Arta menatap Azkia dengan hati yang terasa sesak. Rasanya, hatinya sakit setiap kali melihat Azkia tersenyum.
__ADS_1
Sakit sekali !
🍁
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh saat mereka sampai di rumah kakek dan nenek Azkia. Di teras rumah terlihat sedang ramai saat mereka tiba. Semua orang menunggu mereka pulang. Karena jaringan di kampung itu susah, maka mereka tidak bisa menghubungi keduanya.
Arta tersenyum ramah pada orang-orang yang sedang duduk melantai di teras rumah itu. Berbeda dengan Azkia yang hanya menampakkan wajah datar dan bersikap acuh seakan mereka hanyalah patung yang tidak terlihat.
Selalu seperti itu.
"Jalan-jalannya bagaimana, sayang ?" tanya Siska dengan senyum indahnya. Azkia tidak bisa untuk tidak membalas senyuman ibunya.
"Seru, mah ! Kami juga mampir ke Warung Sederhana milik Bi Miya. Menu di sana masih enak kayak dulu !" jawab Azkia dengan wajah berseri-seri saat bercerita.
"Benarkah ?" seru Siska tak kalah kegirangan.
Sebisa mungkin ia mengajak Azkia bercerita untuk mengalihkan perhatiannya dari orang-orang di sana yang kini menatapnya sinis. Susi dan Nurma yang tidak lain adalah kerabat mereka yang tinggal di kampung itu memang tidak pernah suka dengan Azkia. Karena itu, mereka selalu menatap Azkia dengan penuh kebencian.
"Dasar anak urakan, nggak ada sopan-sopannya ! Mentang-mentang sekarang tinggal di kota, orang di jalan dilewatin aja !" sinis Nurma.
"Sombong bangat ! Makanya aku selalu bilang lebih baik jika yang di sini itu Kia, bukan anak gak punya sopan santun kayak dia !" timpal Susi tak kalah sinis.
"Mbak kok ngomong gitu, sih ? Azkia kan keponakan kalian juga !" komentar Caca.
"Heh, Caca ! Berhenti membela anak urakan seperti dia !" Susi menatap Caca tidak suka.
"Kenapa diam saja, Azkia ? Merasa apa yang kami katakan memang benar adanya ?" Nurma kembali bersuara.
"Susi Nurma, cukup ! Kalau kalian ke sini cuma buat mengusik anakku, lebih baik kalian pulang ! Berhenti sok tau dengan keluargaku karena kalian berdua sama sekali tidak tau apa-apa !" suara berat Candra terdengar menggema. Matanya sedikit memerah karena emosi. Ia menatap tajam Susi dan Nurma yang tidak lain adalah istri dari adiknya sendiri.
"Jadi kamu bangga mempunyai anak pembunuh seperti dia ?" teriak Nurma.
Semua mata kompak menoleh pada Azkia yang masih berdiri di ambang pintu. Tempurung lutut Azkia seakan meleleh hingga tidak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri. Fajar yang sejak tadi berdiri di sampingnya dengan sigap menangkap tubuh mungil sang adik yang hampir saja merosot ke lantai.
Azkia diam seribu bahasa. Bibirnya mendadak kelu dan jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Membuat dadanya terasa sesak dan pandangannya mulai memudar. Kepalanya sakit saat ingatannya yang tanpa diperintah dengan sendirinya langsung bernostalgia. Mengenang kejadian hari itu. Hari dimana dia pergi untuk selamanya.
"Mbak Susi, Mbak Nurma ! Tau apa kalian dengan kejadian itu ! Berhenti menyalahkan anakku !" bentak Siska yang merasa sangat geram dengan Nurma dan Susi.
"Bawa adikmu masuk, Fajar !" pintah Candra yang langsung diangguki oleh Fajar.
Fajar menuntun Azkia masuk dengan hati-hati. Meski terlihat kuat, Fajar tahu dengan jelas bagaimana rapuhnya adiknya itu. Fajar tahu bagaimana hebat kejadian di masa lalu itu menghancurkan adiknya.
Fajar tahu !
Naasnya, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengobati luka itu.
Baru saja beberapa langkah, Azkia tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat Fajar ikut berhenti. Semua mata masih terus terfokus padanya. Tak terkecuali Arta yang kini diselimuti perasaan khawatir yang luar biasa.
"Diam adalah cara paling bijak menghadapi orang gila !" ucap Azkia datar tanpa menoleh. Setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya.
Susi dan Nurma yang paham dengan maksud Azkia pun langsung memasang wajah geram. Namun tidak ada yang bisa mereka katakan selain cacian dan hinaan kepada Azkia sebagai balasannya.
Kakek dan nenek Azkia yang sejak tadi hanya bungkam pun hanya bisa menghembus napas gusar mendengar perdebatan anak-anaknya. Dari awal semua memang adalah kesalahan mereka. Bodoh memang !
Semua orang akan pergi pada akhirnya. Kamu juga !
Tidak ada orang di dunia ini yang akan sungguh bersamamu hingga akhir.
Ada beberapa hal yang meski kau rindukan begitu parah, dia akan tetap hanya akan berada di masa lalu. Karena tidak semua hal bisa tetap kau miliki saat waktu telah menjalankan tugasnya. Memisahkanmu saat waktunya telah tiba. Saat waktumu dengannya telah habis. Karena semua mempunyai durasi.
Semoga kalian suka !😙😉
Jangan lupa untuk memberi support kepada author dengan cara vote, like, dan comment juga bintang limanya, yaa !😉😙😄😂
See you next part !😉🖐✋
__ADS_1