
Happy Reading !😉😙
"I always say, that you can cry whenever you want. If it hurts, cry ! Don't hold back ! Because it will only hurt you even more ! Tersenyumlah jika hatimu merasa senang, dan menangislah jika itu memang menyakitkan ! Berhenti berpura-pura kuat. Jangan terus-menerus bersembunyi dibalik topeng kuat itu ! Sesekali menjadi lemah bukanlah sebuah aib !"
~Arta Tristan Abrisam~
***
Enam pasang kaki dari enam orang yang berbeda tampak berjalan beriringan menuju tempat tujuan yang sama. Meski hati mereka berat untuk melangkah lebih jauh lagi dan meski ada begitu banyak keraguan di dalam hati mereka. Namun mereka tidak mempunyai pilihan lain selain harus terus melangkah maju menuju titik dimana luka lama yang telah susah payah mereka kubur harus terkuak kembali. Membuat luka yang sudah sedikit mengering itu harus kembali tersayat oleh sembilu.
Hari itu kembali datang. Hari dimana luka lama kembali basah oleh kenangan pahit yang menjadi satu-satunya kenangan yang terus memenuhi memori mereka. Air mata bahkan sudah lama mengering. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah kepergian. Lima tahun adalah waktu yang sangat lama untuk sebuah perpisahan dan kehilangan seseorang yang kamu cintai.
Langit tampak mendung berselimut awan gelap. Seakan sudah siap menumpahkan hujan ke bumi untuk mengiringi langkah mereka. Menggambarkan perasaan mereka yang kalut dalam luka lama. Melukiskan isi hati mereka yang mendung oleh kenangan yang mungkin lebih baik terlupakan.
Gadis itu sedikit memperlambat langkahnya. Membuatnya sedikit tertinggal oleh kelima orang yang kini berjalan di depannya. Perlahan ia menarik napas dalam sebelum menghembusnya perlahan. Ia mengulangi hal yang sama hingga beberapa kali.
Itu memang bukanlah yang pertama kalinya. Itu bahkan sudah yang kelima kalinya mereka datang ke tempat itu. Hanya saja, rasanya masih tetap sama seperti lima tahun yang lalu. Rasanya masih tetap sangat menyakitkan seperti lima tahun yang lalu. Semua masih tetap sama. Sedikit pun tidak ada yang berubah. Hanya waktu yang terus melangkah meninggalkan mereka.
Sesak dan menyayat hati !
Setiap tahun di hari yang sama, mereka akan selalu datang berkunjung ke tempat itu. Tak peduli akan sesakit apa hati mereka setiap kali berkunjung.
Katakan mereka bodoh !
Mereka datang jauh-jauh dari kota hanya untuk kembali mengenang luka lama. Mereka datang hanya untuk membuat hati mereka semakin terluka. Mereka datang hanya untuk membuat luka di hati mereka akan terasa semakin dan semakin menyakitkan.
Tapi persetan dengan hati mereka yang telah lama hancur tak berbentuk lagi. Mereka masih dan akan terus datang ke sana. Tahun kemarin, tahun ini, tahun depan dan tahun-tahun setelahnya. Mereka akan terus datang mengunjungi seseorang yang sangat mereka cintai itu.
Tes...tes...tes...
Langit mulai menumpahkan air matanya tepat setelah mereka menghentikan langkahnya. Semua kompak menoleh kepada gadis yang kini berada dalam dekapan sang kakak. Tubuhnya mulai bergetar seiring tetesan hujan yang semakin lama semakin deras. Pandangannya mulai memudar dan perlahan alam kegelapan seakan merenggut paksa kesadarannya.
Tidak !
Kali ini saja kau harus kuat !
Kali ini saja kau harus melawannya !
Kali ini saja kau harus tetap bertahan !
Ahh, bahkan alam semesta pun tidak pernah merestui kedatangannya di sana. Langit dan bumi seakan kompak menolaknya untuk datang ke tempat itu.
Menyedihkan sekali !
"Kali ini saja...biarkan aku bertahan di tengah tetesan air hujan ! Kali ini saja. Aku mohon ! Kali ini saja...bertahanlah ! Aku ingin memperlihatkan padanya bahwa aku sungguh baik-baik saja tanpanya !"
Gadis itu tumbang !
Tubuhnya jatuh terkulai di atas gundukan tanah dengan sebuah nama yang tertulis di sana. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, dengan sisa-sisa kesadaran yang masih bertahan dalam raganya, ia memeluk erat gundukan tanah itu dan mulai menumpahkan air matanya di sana.
"Lihatlah ! Aku baik-baik saja, kakak !" gumamnya lirih.
Askia Aqilla Candra...
Setelah itu...
Semua menjadi gelap !
Hanya ada dirinya dan alam kegelapan yang mengerikan.
🍃
Azkia membuka kedua matanya perlahan. Ia sedikit meringis saat merasakan kepalanya terasa begitu pening. Ia bangkit dari tidurnya dan memilih untuk duduk di atas kasur di sebuah kamar yang terlihat tidak asing di matanya. Yang ia yakini itu adalah salah satu kamar di rumah kakek dan neneknya.
Azkia duduk dengan kedua mata yang masih senantiasa tertutup. Salah satu tangannya terangkat memijat-mijat keningnya bermaksud untuk mengurangi sedikit rasa peningnya. Tapi sepertinya itu hanya sia-sia karena rasa sakit di kepalanya sedikit pun tidak berkurang.
"Akhirnya kamu bangun, sayang !" kata Siska yang sedang duduk di pinggir ranjang bersama Fajar.
Azkia hanya tersenyum untuk menanggapi sang ibu.
Bangun ?
Sepertinya itu bukanlah kata yang tepat untuk digunakan sekarang. Sepertinya, kata 'sadar' jauh lebih tepat. Karena selama berjam-jam itu Azkia bukannya sedang tertidur lelap, melainkan sedang tidak sadarkan diri.
Azkia menghembuskan napas panjang saat melihat jam dinding yang sudah hampir menunjukkan pukul lima sore. Ahh, ternyata ia sudah terlalu lama tenggelam dalam kegelapan. Dan lagi-lagi ia mengacaukan semuanya. Lagi-lagi ia tidak mampu berdiri tegak hingga akhir.
Memalukan !
"Adek baik-baik saja ? Nggak pusing lagi ?" tanya Fajar dengan suara beratnya.
__ADS_1
Azkia menganggukkan kepalanya sambil memamerkan senyum baik-baik saja-nya. Lagi-lagi mencoba mengelabui mereka bahwa ia sungguh benar-benar baik-baik saja saat ini.
"Azkia baik-baik saja, kak !"
Bohong !
Dia tidak sedang baik-baik saja sekarang !
"Maaf ! Lagi-lagi aku membuat kalian susah ! Aku pasti membuat semuanya cemas !" sesal Azkia.
"Nggak kok, sayang ! Mamah bahkan sama sekali tidak khawatir, karena mamah tau anak mamah kuat. Lihat, Azkia baik-baik saja sekarang. Sudah, ahh ! Ayo, kamu makan dulu ! Kamu belum makan dari tadi pagi" kata Siska sambil membantu Azkia turun dari ranjang.
Bohong !
Siska berbohong !
Nyatanya, ia tidak bisa menahan air matanya sejak Azkia pingsan tadi. Ia terlalu takut anaknya sampai kenapa-napa. Ia bahkan melewatkan makan siang karena Azkia tak kunjung bangun. Siska terlalu takut kehilangan Azkia. Ia benar-benar ketakutan !
Sore itu, Azkia duduk di teras rumah kakek neneknya sambil menikmati indahnya senja di sore itu. Padahal baru saja pagi tadi hujan turun dengan lebatnya, namun sekarang langit sudah tampak cerah di penghujung waktu. Membuat panorama indah berwarna jingga dari pancaran sinar matahari yang hendak berpulang terlihat begitu memesona untuk dipandang.
Azkia terlalu larut dalam pesona indahnya senja di Ufuk Barat sana hingga tidak menyadari kehadiran seseorang yang kini telah duduk tepat di sampingnya. Pria itu menoleh menatap Azkia dari samping. Meneliti setiap inchi wajah gadis itu seakan ingin menyimpannya baik-baik di dalam memorinya.
"Senjanya cantik ! Kamu masih suka senja ?" tanyanya membuat Azkia sontak menoleh padanya.
Azkia tersenyum tipis kemudian kembali menatap lurus ke depan. Menikmati langit jingga sore itu seakan tidak ingin melewatkannya sedetik pun. Karena senja di kampung itu memang selalu bisa membuat semua orang yang melihatnya langsung terpanah akan keindahannya.
"Masih...dan akan selalu menyukainya !" jawab Azkia sambil tersenyum.
"Bagaimana denganmu ?" Azkia balik bertanya tanpa menoleh pada pria itu.
"Aku akan selalu menyukai semua yang ia suka ! Semuanya dan selamanya !" jawab pria itu tanpa ada keraguan sedikit pun.
Azkia kembali melebarkan senyumnya mendengar jawaban penuh keyakinan itu.
"Maaf !" ucap Azkia tiba-tiba.
"Untuk ?"
"Karena aku masih saja tetap lemah. Lagi-lagi aku mengacaukan semuanya. Aku pasti mengecewakannya. Mungkin sekarang dia tengah menertawakanku. Melihatku yang lagi-lagi tidak mampu berdiri tegak dan mengatakan padanya bahwa aku baik-baik saja sekarang. Aku sungguh menyedihkan !" Azkia akhirnya mengalihkan pandangannya dari sang senja. Ia memilih menundukkan kepalanya dalam. Menatap kedua kakinya yang beralaskan sendal jepit sebagai pelarian.
Tak ada jawaban. Keduanya terdiam lumayan lama. Azkia bahkan sempat mengira Arta telah pergi dari sana.
Azkia mengangkat kepalanya dan menatap Arta tidak mengerti. Juga sedikit terkejut karena tidak menyangka Arta akan menyadari bahwa ia menangis. Padahal tadi air matanya jelas berbaur dengan air hujan.
Tapi jika dipikirkan lagi, memang benar yang Arta katakan. Selama lima tahun, itu adalah kali pertamanya Azkia menangis di depan makamnya. Ia memang selalu saja tumbang setiap kali mengunjunginya tapi tidak pernah sekali pun Azkia mengeluarkan air matanya di sana. Karena Azkia selalu ingin memperlihatkan sosoknya yang kuat di depan pemilik pusara itu.
"Dia pasti akan senang melihatmu menjadi dirimu sendiri. Tersenyumlah jika hatimu merasa senang, dan menangislah jika itu memang menyakitkan ! Berhenti berpura-pura kuat. Jangan terus-menerus bersembunyi dibalik topeng kuat itu ! Sesekali menjadi lemah bukanlah sebuah aib !"
Lagi-lagi Azkia tersenyum lebar mendengar penuturan Arta. Pria itu memang selalu bisa diandalkan. Dia adalah pondasi yang kokoh. Dia adalah penyokong yang kuat. Azkia tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa bertahan hingga hari ini jika tidak ada Arta di sampingnya.
Ahh, padahal mereka merasakan rasa sakit yang sama. Mereka sama-sama terjatuh ke jurang yang sama. Mereka sama-sama kehilangan seseorang yang sangat berarti di dalam hidup mereka. Mereka sama-sama hancur setelah ia pergi untuk selamanya.
Tapi dalam kehancuran itu, Arta masih tetap mampu berdiri tegak. Ia masih tetap bisa membantu Azkia untuk ikut bangkit dari tumbangnya. Ia masih mampu memapah Azkia untuk melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Arta adalah pria yang hebat. Dia adalah pria yang luar biasa. Mungkin Azkia sudah lama menyerah andai saja Arta tidak ada di sisinya. Arta adalah penyemangatnya setelah kepergian sosok seseorang yang sama-sama mereka cintai.
Saat ini, Arta adalah segalanya bagi Azkia.
"Hah ! Bukankah dulu kita sering bermain bertiga di sini ? Aku masih ingat dengan jelas saat kalian berebut coklat. Dan setelah berhasil mendapatkannya dengan susah payah, coklat itu malah ia berikan padaku karena dia tau aku sangat menyukai coklat !" kata Azkia dengan pandangan menerawang jauh ke masa lalu.
Arta terlihat terkekeh mendengar cerita Azkia. Ia ingat kejadian yang Azkia maksud. Saat itu mereka masih kecil. Sepertinya Arta masih berumur 8 tahun dan Azkia 7 tahun. Demi bisa memberikan coklat untuk Azkia, dia rela berebut dengan Arta yang juga menginginkan coklat itu.
Mereka kembali bernostalgia, mengenang kenangan manis mereka dengannya. Kenangan berharga yang terpaksa berakhir direnggut takdir. Karena ajal datang lebih dulu menjemputnya pergi begitu jauh dari mereka. Menyiksa mereka dengan rindu yang mungkin akan sulit untuk dituntaskan karena perbedaan alam.
"Dia benar-benar menyangimu !" ucap Arta. Senyumnya masih senantiasa menghiasi wajah tampannya.
"Dia sangat menyayangi kita. Dan kita juga sangat menyayanginya ! Ahh, mungkin benar kata orang tua. Orang baik akan selalu berpulang lebih cepat. Hah ! Sepertinya hingga hari ini aku belum cukup baik, karena aku masih ada di sini dan belum juga menyusulnya !"
"Kau tau, dia tidak akan suka jika kau mengatakan hal seperti itu ! Jika ia tahu, mungkin dia akan sangat kecewa padamu dan juga kecewa padaku karena belum juga bisa membuatmu baik-baik saja, Azkia !" raut wajah Arta berubah serius. Ia menatap kedua mata Azkia dalam. Mencoba menguatkan gadis rapuh itu.
"Aku...aku hanya sangat merindukannya !" suara Azkia hampir tidak terdengar.
Arta langsung merengkuh tubuh mungil Azkia. Menenangkan gadis itu dari pikiran-pikiran yang sebaiknya tidak ia pikirkan. Nyatanya gadis itu sangat rapuh. Namun ia terus saja bersembunyi dibalik topengnya. Mengelabui semua orang hingga mereka mengira bahwa dia benar-benar adalah gadis yang kuat tanpa luka. Padahal hatinya telah lama hancur tak karuan.
"I always say, that you can cry whenever you want. If it hurts, cry ! Don't hold back ! Because it will only hurt you even more !" Arta semakin mengeratkan pelukannya.
"Dia tidak akan membenciku, kan ?" tanya Azkia dalam pelukan Arta.
Suaranya terasa tercekat di tenggorokan namun sebisa mungkin ia mencoba untuk mengendalikan dirinya. Ia tidak ingin menangis lagi. Bahkan jika itu harus, Azkia akan menangis saat ia hanya sendiri.
__ADS_1
"Tidak akan pernah ! Karena dia sangat menyayangimu dan akan selalu menyayangimu. Kenapa dia harus membencimu saat tidak ada satu pun alasan untuk dia melakukannya ? Dia menyayangimu dan selamanya akan tetap seperti itu, Azkia !"
"Kuharap begitu, Ta !" balas Azkia. Ia merengangkan pelukan mereka dan menatap Arta dalam. Senyumnya tersungging manis menghiasi bibir mungilnya.
"Padahal akan jauh lebih baik jika aku melihatmu menangis, daripada melihat dirimu yang selalu terlihat kuat namun hanyalah sebuah topeng. Itu malah membuatku sakit, Azkia !" batin Arta menjerit sakit.
🍃
Azkia memilih pamit ke kamar setelah makan malam. Rasanya dadanya sesak jika harus terus berada dalam radius yang dekat dengan kakek dan neneknya. Sepertinya itu tidak akan baik untuk kesehatan jiwa Azkia.
Sejak sampai di rumah itu Azkia bahkan belum mengeluarkan sepatah kata pun untuk kakek dan neneknya. Begitu pun juga dengan kakek dan neneknya yang juga tidak mengucapkan sepatah kata pun kepadanya. Selalu seperti itu. Sejak kejadian lima tahun yang lalu, kakek dan neneknya dengan terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaan mereka pada Azkia.
Seharusnya tadi mereka akan langsung pulang setelah melakukan ziarah kubur. Sayangnya Azkia malah tidak sadarkan diri hingga sore. Membuat mereka terpaksa harus menginap di sana malam ini. Padahal itu adalah hal yang paling Azkia hindari.
Karena di rumah itu hanya terdapat dua kamar, Azkia akan tidur di kamar tamu bersama ibunya dan Caca. Sementara Candra, Fajar dan Arta akan tidur di ruang tamu.
Malam semakin larut tapi Azkia belum juga bisa memejamkan matanya. Siska dan Caca sudah terlelap sejak tadi. Suasana di luar kamar pun sudah sunyi, menandakan semua orang telah tertidur. Menyisakan Azkia yang rasanya enggan untuk memejamkan matanya.
Dengan sangat hati-hati Azkia memindahkan tangan Siska yang sedang memeluk pinggangnya. Pelan-pelan Azkia beranjak dari sana, berniat keluar ke teras rumah. Sepertinya ia butuh menghirup segarnya udara malam. Mungkin itu bisa membantunya untuk tertidur nanti.
Azkia melewati ruang tamu dimana ayah, kakaknya dan juga Arta sedang tertidur lelap dengan sangat hati-hati. Setelah itu ia membuka pintu rumah perlahan kemudian keluar sebelum kembali menutupnya. Sebisa mungkin ia tidak membuat suara yang bisa saja membangunkan ketiga pria itu.
Berhasil !
Dan disinilah dia sekarang ! Di teras rumah kakek dan neneknya. Tempat dimana ia dan Arta menikmati senja sore tadi. Udara malam yang terasa sangat dingin berhembus pelan dan menyapa kulit Azkia dengan lembut. Udara malam di pegunungan memang jauh lebih dingin daripada di kota.
Jika itu adalah orang lain, mungkin mereka sudah merasa kedinginan. Namun tidak dengan Azkia. Ia bahkan tetap terlihat santai meski hanya mengenakan celana panjang dan baju kaos berlengan pendek. Padahal malam itu udara rasanya jauh lebih dingin dari biasanya karena telah memasuki musim hujan. Ditambah hujan turun dengan derasnya pagi tadi. Tanah dan dedaunan bahkan belum sepenuhnya kering.
Senyum Azkia merekah melihat langit yang terlihat sangat cantik malam itu. Hamparan langit yang membentang luas tampak dihiasi bulan yang sudah hampir membulat sempurna dan taburan bintang-bintang yang berkelap-kelip indah.
Dulu...
Dulu sekali, di masa lalu yang telah lama berlaku. Azkia sering menikmati indahnya langit malam di sana, tepat di tempat yang sama dimana ia sekarang duduk. Hanya saja, semua tidak lagi sama. Karena seseorang yang biasanya selalu menemaninya duduk di sana di malam yang semakin larut tak ada lagi di sana.
Azkia merindukannya ! Sangat-sangat merindukannya ! Tapi bagaimana caranya mengobati rindu disaat mereka berada di dua alam yang berbeda ?
"Tidak bisa tidur ?"
Azkia tersentak kaget mendengar suara seseorang dari arah belakangnya. Ia menoleh dan mendapati kakaknya di sana. Pria berwajah teduh itu tampak menyunggingkan senyumnya membuat Azkia melakukan hal yang sama.
"Kenapa kakak bisa tau aku ada di sini ?" tanya Azkia penasaran.
"Karena kakak juga tidak bisa tidur. Kakak melihatmu saat keluar tadi !" jawab Fajar.
Fajar melepas jaketnya dan memakaikannya di tubuh mungil Azkia. Azkia ingin menolak namun tentu saja Fajar tidak membiarkannya. Azkia memilih untuk menurut karena tidak ingin membuat keributan di malam selarut itu.
Untuk beberapa saat keduanya hanya larut dalam pikiran masing-masing. Cukup lama mereka hanya saling terdiam, hingga akhirnya Fajar memilih untuk memulai pembicaraan.
"Kamu merindukannya ?"
"Tentu saja ! Amat sangat merindukannya !"
Fajar menganggukkan kepalanya mengerti.
"Hah ! Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sekarang, sudah 5 tahun saja dia pergi meninggalkan kita. Sudah selama itu, tapi rasanya baru saja terjadi kemarin sore. Rasanya kemarin kita masih bisa melihatnya tersenyum lebar, namun hari ini ternyata sudah 5 tahun kita kehilangannya" Fajar menghembuskan napas panjang setelah mengatakan itu.
"Bukankah takdir begitu kejam, kak ?"
Fajar menatap kedua manik adiknya yang kini juga sedang menatapnya. Fajar menarik tubuh Azkia ke dalam pelukannya. Ia berniat menghibur adiknya tapi sepertinya dialah yang harus dihibur sekarang.
Ahh, bodoh sekali !
"Tidak ! Takdir tidak kejam, dek. Tapi inilah takdir yang telah tertulis untuknya. Yang berarti itulah yang terbaik !"
"Terbaik ? Sejak kapan kehilangan orang yang dicintai menjadi takdir terbaik, kak ? Kalau memang seperti itu, maka takdir sungguh sangat kejam !"
Pertahanan Azkia runtuh. Air matanya akhirnya tumpah jua. Fajar mengeratkan pelukannya. Membiarkan Azkia menumpahkan air matanya di dadanya. Melihat Azkia yang seperti itu benar-benar membuat hatinya sesak. Sudah begitu lama Fajar harus terus-menerus melihat adiknya terluka oleh kepergian seseorang yang sangat berarti bagi mereka.
Sudah begitu lama, tapi bagaimana mereka bisa mengobati luka mengangah di hati gadis itu ? Menyedihkannya, tak banyak yang bisa mereka lakukan untuk Azkia.
Malam itu, Azkia menumpahkan kesedihannya di dalam pelukan Fajar. Ia terus menangis hingga kelelahan dan tertidur di dalam dekapan Fajar.
Malam semakin larut dan waktu terus berjalan pergi. Membuat satu detik yang lalu menjadi masa lalu dan tinggal kenangan. Detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun telah banyak pergi. Sudah begitu banyak waktu telah berlalu.
Dan semua telah berubah seiring berjalannya waktu. Hanya Azkia yang masih tetap setia berdiri di tempat yang sama. Hanya Azkia yang masih tetap bertahan dengan luka lama. Hanya dia yang masih saja berkubang dalam kesedihan masa lalu.
Semoga kalian suka !😉😙
Please, support author dengan vote, like dan comment !😉🤗
__ADS_1
Saran dan masukannya juga ditunggu, yaa !😉🤗😊