
Happy Reading !😉🤗
"Maybe you can try to hide your feelings, but you forget your eyes speak the true !"
~Muhammad Gibran Hutama~
***
"Kita berangkat dulu, yaa ! Pulang sekolah nanti kita akan langsung ke sini lagi !" Azkia mengangguk sebagai jawaban. Senyumnya melebar saat Arta mengusap lembut puncak kepalanya.
"Makan yang banyak biar cepat sehat lagi ! Jadi sedih hari ini nggak bisa belajar bareng Azkia di sekolah. Pokoknya Azkia harus cepat sembuh, okay !" celoteh Fikri dengan wajah khawatir.
Azkia menempelkan tangan kanannya di dekat pelipisnya memberi hormat pada Fikri. Pria itu terkekeh melihat tingkah Azkia yang masih saja kocak meski kini terbaring lemah di atas ranjang inap rumah sakit. Di tangan kanannya bahkan tertancap jarum infus untuk mengalirkan cairan ke dalam tubuhnya yang sangat lemah.
Azkia melambaikan tangan kirinya sebelum Arta dan Fikri menghilang dibalik pintu kamar dimana ia sedang dirawat. Senyum Azkia kembali tercetak membayangkan bagaimana Arta dan Fikri memperlakukannya.
Tadi malam kakak dan ayahnya bahkan harus mati-matian menyuruh keduanya pulang karena mereka ngotot ingin ikut menginap di rumah sakit untuk menjaga Azkia. Mereka akhirnya mengalah saat setelah melewati penolakan panjang. Sebagai gantinya Candra mengizinkan mereka untuk berkunjung kapan pun selama bukan jam sekolah.
Pagi-pagi sekali kedua pria itu sudah datang mengunjunginya. Mereka bahkan harus ditahan satpam lebih dulu karena berkunjung terlalu pagi. Rumah sakit bahkan belum buka saat mereka sampai. Beruntung Candra mengenal satpam itu dan memintanya untuk membiarkan mereka berdua masuk.
Bersama Arta, Azkia selalu bisa merasa aman dan merasa begitu dihargai. Dan bersama Fikri membuat Azkia merasa mempunyai seorang kakak perempuan. Azkia bahkan terkikik geli membayangkannya. Padahal Fikri adalah seorang laki-laki tapi entah mengapa ia malah merasa seperti mempunyai kakak perempuan saat bersama pria itu.
Aneh !
Arta masuk dan duduk di kursi penumpang di samping kursi kemudi dimana Fikri sedang duduk. Hari ini Arta menumpang di mobil Fikri karena motornya ia tinggalkan di sekolah tadi malam.
Dari kejauhan terlihat tiga pria berseragam sama sedang berjalan menuju parkiran rumah sakit. Mereka adalah Hendry, Bastian dan juga Diki yang tadi malam menginap di rumah sakit itu untuk menjaga Anto.
Anto adalah anak yatim piatu dan hanya mempunyai seorang nenek sebagai satu-satunya keluarga yang ia miliki. Hari ini Hiro dan teman-temannya yang memang bukan pelajar yang akan menjaga Anto selama mereka ke sekolah.
"Bukannya itu Arta sama Fikri ? Kok mereka bisa ada di sini sepagi ini ?" Hendry dan Diki mengikuti kemana telunjuk Bastian terarah.
"Apa mereka juga menginap di sini tadi malam ? Tapi siapa yang sakit ? Tumben bangat juga Arta nebeng di mobil Fikri. Biasanya kan dia berangkat naik motor sama Azkia. Tapi Azkia kok nggak ada ?" celoteh Diki panjang lebar yang hanya dibalas Bastian dan Hendry dengan mengedikkan bahu.
Arta yang berjalan beriringan bersama Fikri memasuki kelas terlihat memijat keningnya yang terasa pening. Sudah ia duga akan jadi seperti itu. Seisi sekolah akan heboh dengan gosip yang sedang panas.
Gosip apalagi kalau bukan bukan tentang kejadian yang terjadi kemarin. Tentang kabar Gibran yang menjadikan Azkia sebagai Ratu Geng Thunder dan yang paling hits adalah tentang Azkia yang diserang Gibran's Lovers gara-gara ia diangkat sebagai Ratu.
Kepala Arta semakin pusing melihat seisi kelas ribut membicarakan Azkia. Apalagi saat melihatnya datang tanpa Azkia. Arta melempar asal ransel miliknya sebelum berjalan ke arah meja guru untuk meletakkan surat sakit Azkia. Seisi kelas yang tadinya hanya berbisik-bisik kini bahkan bicara dengan terang-terangan.
Dan emosi Arta seketika meledak saat melihat Gibran yang baru saja memasuki kelas bersama Hendry. Dengan langkah lebar ia menghampiri pria itu dan langsung melayangkan pukulan keras ke wajah tampan Gibran. Tubuh Gibran yang tidak siap mendapatkan serangan dadakan itu pun jatuh menghantam lantai.
Tidak puas hanya melayangkan satu pukulan saja, Arta kembali mendekati Gibran yang masih terbaring di atas lantai. Dengan kasar Arta menarik dan mencengkram kerah baju Gibran sebelum kembali melayangkan bogeman mentah. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali.
Sepertinya Arta benar-benar marah sekarang. Seisi kelas sampai dibuat begitu terkejut melihat Arta yang sedang mengamuk. Mereka belum pernah melihat Arta seperti itu sebelumnya. Arta sang teladan sekolah yang mereka kenal selama ini entah mengapa terlihat kalap hari ini.
Kejadiannya terjadi begitu cepat hingga Gibran bahkan tidak sempat untuk menghindar. Ia baru saja akan membalas saat Fikri dan Hendry tiba-tiba datang dan menghentikan mereka.
"Arta, cukup !" teriak Fikri saat Arta masih ingin memukul Gibran.
"F*ck ! Lo apa-apaan sih datang-datang langsung ngamuk ?" Hendry mendorong dada Arta kasar.
"Lo nggak tau apa-apa jadi sebaiknya lo diam !" sarkas Fikri.
Entah bagaimana Arta bisa lolos dan kembali mencengkram kerah baju Gibran kuat. Kedua matanya menatap mantan sahabatnya itu tajam. Matanya bahkan terlihat memerah menandakan pria itu benar-benar sedang dikuasi emosinya sekarang. Sebenarnya Gibran bisa saja membalas namun tidak ia lakukan. Gibran ingin mendengar alasan mengapa Arta memukulnya.
"Kalau lo nggak bisa menjaga Azkia, berhenti mendekatinya ! Karena lo hanya akan mendatangkan petaka buat dia, sialan !" mata Gibran membulat sempurna saat baru menyadari kebodohannya.
Dan Gibran semakin gusar saat menyadari siapa pemilik surat sakit yang tadi Arta letakkan di atas meja guru.
"Dimana dia ?" tanya Gibran. Wajahnya berubah pucat pasih membayangkan Azkia yang sampai sakit karena kebodohannya.
"Berhenti mendekati Azkia ! Lo masih tidak mengerti apa yang gue katakan, hmm ?" ucap Arta dingin, sedingin balok es kutub Utara.
Hendry yang baru mengerti apa yang terjadi ikut membulatkan kedua matanya sempurna. Arta dan Fikri yang tadi ada di rumah sakit dan surat sakit yang Arta bawa. Sepertinya Hendry paham sekarang.
"Azkia ada di rumah sakit yang sama dengan Anto !" ceplos Hendry.
Mendengar itu, Gibran langsung menepis tangan Arta yang masih mencengkram kerah bajunya. Tanpa memperdulikan ucapan Arta, Gibran berlari meninggalkan kelas dengan perasaan yang campur aduk.
Gibran mengendarai motor besarnya seperti orang gila. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan maksimum. Bahkan beberapa kali ia nekat menerobos lampu merah. Persetan dengan umpatan dari pengendara lain. Ia tidak peduli. Ia hanya ingin bisa sampai di rumah sakit sesegera mungkin. Dan memastikan Azkia baik-baik saja.
Hanya butuh waktu 10 menit untuk Gibran bisa sampai di rumah sakit. Padahal normalnya ia seharusnya membutuhkan waktu setengah jam untuk perjalanan dari sekolah ke rumah sakit itu di jam pagi yang pasti lumayan padat kendaraan.
Gibran memarkir motornya asal sebelum berlari memasuki pintu utama rumah sakit. Jam masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi saat ia sampai yang berarti jam besuk belum terbuka. Jam besuk masih sekitar dua setengah jam lagi.
Dua satpam berbadan besar yang sedang berjaga di depan pintu utama tentu saja langsung menghentikan Gibran. Gibran menatap kedua satpam itu dengan tatapan nyalang.
"Minggir, sebelum kesabaran gue habis dan mematahkan leher kalian !" ucap Gibran dingin.
Kedua satpam itu saling berpandangan sebelum tertawa mengejek mendengar penuturan Gibran.
"Dasar bocah ingusan ! Kamu yang sebaiknya pergi sebelum om mematahkan tulangmu, nak !" ucap salah satu satpam itu.
Gibran menyeringai mendengar kata-kata satpam itu.
Dengan gerakan gesit Gibran menepis tangan kedua satpam itu yang hendak memaksanya keluar. Dengan mudah ia mengunci kedua tangan salah satu satpam itu sementara kakinya dengan gencar memberikan tendangan kepada satpam yang satunya lagi. Dan dengan sekali dorongan Gibran bisa membuat keduanya tumbang di atas lantai.
"Jadi siapa yang akan mematahkan siapa, paman ?" ejek Gibran dengan seringai yang semakin lebar.
Beberapa perawat bahkan dokter yang mendapat shift pagi langsung berlari ke arah mereka saat mendengar keributan. Dan senyum di bibir Gibran seketika melebar saat melihat salah satu dari orang-orang itu adalah seseorang yang sangat ia kenal. Dengan semangat ia melambaikan kedua tangannya di udara membuat orang itu langsung berdecak kesal melihatnya.
"Oi, Hendry appa ! Ahh, joesonghabnida. Geureonikka, we samchon !" dengan sopan Gibran meraih tangan kanan pria itu dan mencium punggung tangannya.
📌*A**ppa : Papah*
📌Joesonghabnida : Maaf (formal)
__ADS_1
📌*Geureonikka : Maksudku
📌**We samchon : Paman (dari ibu*)
Benar-benar bukan Gibran yang pria itu kenal !
"Dasar, bocah tengik ! Kau memanggilku apa, hmm ?" Damar menatap Gibran kesal namun bocah itu malah tersenyum santai seakan ia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun.
"Arasseoyo arasseoyo, abeoji !" ucap Gibran cepat sebelum tangan pamannya itu mendarat di daun telinganya.
📌Arasseoyo : Baiklah !
📌Abeoji : Ayah
"Jadi apa yang membuatmu datang ke sini dan membuat keributan sepagi ini ? Ini rumah sakit bukan ring tinju kalau kau lupa, nak ! Abeoji sudah menuruti semua kemauan kamu untuk menempatkan temanmu itu di ruang VIP kelas elit. Apa lagi sekarang, hmm ?" tanya Damar.
Damar adalah ayah Hendry, yang tidak lain adalah paman Gibran sendiri. Damar adalah kakak dari ibu Gibran. Dan Damar adalah direktur di rumah sakit itu. Rumah sakit yang sebenarnya adalah milik ayah Gibran namun Damar dipercayakan untuk bertanggungjawab atas rumah sakit itu.
"Ahh, tapi sebelum itu sebaiknya pindahkan mereka dari pintu utama ! Karena dengan senang hati aku akan benar-benar mematahkan leher mereka jika aku sampai melihatnya lagi di sini, abeoji !" Damar menghela napas berat mendengar perintah Gibran. Ia memang sedang tersenyum manis tapi percayalah, Gibran tidak main-main dengan apa yang ia katakan.
Mengerikan seperti biasa !
Damar sudah cukup tahu tabiat seorang Gibran. Keponakan tampannya itu menurunkan semua sifat ayahnya yang terkadang lebih mengerikan dari serigala ketika sudah kalap. Gibran sama sekali tidak menurunkan sedikit pun sifat lemah lembut adiknya yang tidak lain adalah ibu dari keponakannya itu.
"Kau dengar yang bocah tengik ini katakan ? Cepat tukar mereka dengan satpam lain !" pintah Damar pada asisten pribadinya yang tentu saja langsung diangguki oleh asistennya itu.
"Noona tolong cari dimana pasien atas nama Azkia Aqilla Candra dirawat !" pintah Gibran lagi.
📌Noona : Kakak perempuan (khusus digunakan oleh laki-laki untuk memanggil kakak perempuan atau perempuan yang lebih tua).
Perawat yang sedang berdiri di depan meja resepsionis langsung mengangguk dan mulai mencari pasien atas nama yang disebutkan Gibran. Tidak butuh waktu lama hingga perawat itu menemukan kamar Azkia.
"Pasien atas nama Azkia Aqilla berada di lantai 7 kamar nomor 321" Gibran mengangguk mengerti.
"Atur kepindahannya ke ruang inap VIP elit !" ucap Gibran dengan seenak jidat.
Dasar Gibran !
"Abeoji aku mau ke..."
"Abeoji akan ikut. Abeoji tidak mau kau membuat keributan lagi !" potong Damar cepat, Gibran hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Jadi dia seorang gadis ? Siapa gadis itu, nak ? Apa dia cantik seperti adikku ?" tanya Damar tiba-tiba kepo.
"Dia jauh lebih cantik dari eomma !" jawab Gibran yang tanpa sadar merona malu.
📌Eomma : Mamah
Plakk...
"Berani sekali kau menyebut adik abeoji tidak cantik !" Gibran langsung menggaruk kepalanya yang baru saja ditampol oleh pamannya sendiri.
Plaakk...
"Dasar anak durhaka ! Dimana-mana anak kalau ditanya siapa perempuan paling cantik di dunia ini, mereka pasti akan menjawab ibu mereka. Dasar bocah tengik !" Damar kembali menampol Gibran.
"Arasso, abeoji ! Arasso !" pasrah Gibran.
Husni, asisten pribadi Damar sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak pecah melihat pertengkaran konyol paman dan keponakan itu. Meski itu bukan pertama kalinya ia melihat pemandangan yang sama namun tetap saja itu terlihat sangat lucu.
Sebenarnya Damar bukanlah orang kurang kerjaan yang bisa bersantai-santai seperti sekarang. Tapi memastikan keponakannya tidak membuat keributan lagi jauh lebih penting untuk saat ini dari apapun. Bukan karena Damar khawatir keponakannya itu kenapa-napa.
Bukan !
Damar malah mengkhawatirkan hal yang sebaliknya. Damar takut ada yang mengusik Gibran. Damar takut Gibran sampai kalap dan menghajar siapa pun tanpa ampun. Setidaknya kehadirannya akan memberi pengaruh meski hanya sedikit untuk meredam amarah keponakannya.
Ketiganya berjalan menelusuri koridor rumah sakit lantai 7 menuju kamar inap nomor 321 dimana Azkia berada. Damar dan Husni bahkan harus mempercepat langkahnya agar bisa mengimbangi langkah lebar Gibran.
Gibran benar-benar pria tidak sabaran !
Damar sontak membulatkan kedua matanya saat melihat Gibran dengan tidak tahu sopan santunya langsung membuka pintu kamar itu. Ia bahkan tidak ingin capek-capek mengetuk pintu itu lebih dulu.
Azkia yang sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit yang sedikit ditegakkan dibuat terkejut dengan pintu yang tiba-tiba terbuka dari luar. Ia semakin dibuat terkejut saat melihat Gibran-lah orang tidak tahu diri yang baru saja membuka pintu itu dengan tidak manusiawi.
Belum selesai keterkejutan Azkia, lagi-lagi ia dibuat semakin tercengang saat Gibran langsung memeluknya erat. Azkia mengerjabkan matanya berkali-kali mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi dengannya.
Tunggu !
Kalau bukan Azkia yang sedang bermimpi maka Gibran yang memang sudah tidak waras !
Itulah yang bisa Azkia simpulkan.
"Sorry ! I'm so sorry ! Semua karena kebodohanku. Maaf, Kia ! Maaf ! Seharusnya kemarin..."
"Shut up !" potong Azkia cepat.
Ohh, ayolah !
Azkia sudah mati-matian berbohong pada kakak dan kedua orang tuanya dan pria kurang ajar itu malah ingin mengacaukan semuanya dengan seenak jidat ? Ahh, juga jangan lupakan usaha keras Azkia untuk membujuk Arta dan Fikri agar mereka tutup mulut.
Bagaimana mungkin sekarang Gibran malah ingin mengacau segalanya ?
"Keluarga gue nggak tau yang sebenarnya terjadi, jadi tutup mulutmu ! Aku bohong kalau aku jatuh saat berkunjung ke rumah teman. Understand ?" bisik Azkia.
"Kenapa lo berbohong ?" tanya Gibran.
"Kalau mereka sampai tau semua karena ulang fans gila lo maka hari ini juga papah akan mengurus surat pindah gue ke sekolah lain !"
__ADS_1
Gibran mengangguk mengerti.
"Khmmm Gibran ! Jaga sikapmu, nak !" komentar Damar dengan nada bicara tidak enak.
"So can you untie your hug, now ? Sebelum papah mematahkan kedua tanganmu karena sudah berani memeluk anak gadisnya !" kata Azkia masih dengan suara berbisik.
"Hah, kamjagiya !" pekik Gibran setelah melepas pelukannya dan mendapati ayah, ibu dan kakak Azkia yang kini menatapnya horor.
📌Kamjagiya ! : Aduh, kaget !/Bikin kaget saja ! (ekspresi kaget).
"Saya minta maaf atas ketidaksopanan keponakan saya pak, bu !" ucap Damar yang kini berdiri di samping Gibran.
Damar sedikit membungkuk sebagai tanda permohonan maaf. Gibran ikut melakukan hal yang sama. Ia sepenuhnya sadar apa yang baru saja ia lakukan.
"Ma-maaf om, tante !" ucap Gibran penuh penyesalan.
"Ahh, Anda tidak perlu sampai seperti itu ! Tapi, kalau boleh tau apa yang membuat Anda sampai datang ke sini ?" jujur saja Candra sedikit terkejut melihat direktur rumah sakit sampai datang ke kamar inap anaknya.
"Tunggu tunggu ! Katakan kalau saya benar kalian adalah Candra dan Siska, sahabat adik saya Dewi dan suaminya Kim Min Joon. Right ?" Candra dan Siska kompak menaikkan kedua alisnya terkejut namun tak urun mengangguk mengiyakan.
"Jadi Anda kakaknya Dewi ?" tanya Siska memastikan. Damar mengangguk sebagai jawaban iya.
"Dan Gibran pasti anak Dewi dan Min Joo, kan ?" tanya Siska dan langsung menarik Gibran ke dalam pelukannya bahkan sebelum Damar menjawabnya. Gibran harus menundukkan badannya untuk menyesuaikan tingginya dengan tinggi Siksa yang hanya setinggi bahunya.
"Benar ! Gibran adalah satu-satunya anak Dewi dan Min Joo"
"Ahh, seharusnya waktu itu tante menanyakannya saat kau datang ke rumah. Pantas saja wajahmu terlihat sangat familiar saat pertama kali melihatmu. Sudah lama tidak bertemu denganmu, nak ! Saat hari duka tante dan om sama sekali tidak melihatmu" tutur Siska yang mulai meteskan air matanya. Pelukannya semakin erat seiring kata yang keluar dari mulutnya.
Azkia dan Gibran yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa diam. Berbeda dengan Fajar yang sudah tidak terkejut lagi karena ia memang sudah tahu ayah dan ibunya bersahabat baik dengan Desi dan suaminya Min Joo sejak mereka kuliah di kampus yang sama dulu.
"Padahal wajahmu sama persis dengan wajah ayahmu tapi waktu itu om tidak mengenalimu. Bagaimana kabar ayahmu ?" tanya Candra. Ia juga memeluk Gibran sebentar.
"Entahlah ! Appa selalu sibuk dengan bisnisnya dan tidak pernah ada waktu untuk anaknya" jawab Gibran acuh.
"Jangan bilang seperti itu, nak ! Ayahmu seperti itu demi kamu. Saat kamu lahir dia menangis tersedu-sedu dan bilang kalau ia akan melakukan apa pun untuk anak dan istrinya. Ia akan menghasilkan banyak uang agar kelak anak istrinya bisa hidup enak dan tidak perlu lagi capek-capek untuk bekerja. Mungkin dia terlihat tidak peduli, tapi sebenarnya dia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak karena mengkhawatirkanmu. Cobalah sekali-kali mengiriminya pesan ! Itu akan membuatnya sedikit lebih tenang" Candra menepuk-nepuk pundak Gibran sambil tersenyum hangat.
Gibran terdiam mendengar penuturan Candra. Dan seketika rasa bersalah menyelimutinya. Memang benar, selama ini ia hanya terus menunggu ayahnya memberikan kabar tanpa sekali pun mencoba menghubungi ayahnya lebih dulu. Selama ini ia hanya terus menunggu ayahnya menanyakan kabarnya tanpa pernah sekali pun bertanya lebih dulu, apakah ayahnya baik-baik saja di luar sana ?
Ahh, ternyata selama ini Gibran seegois itu !
"Sepertinya saya harus pamit dulu. Saya titip bocah tengik ini ! Saya terpaksa mengikutinya ke sini karena takut dia membuat keributan lagi. Tapi sepertinya sekarang saya tidak perlu khawatir lagi karena dia bersama kalian. Kalau dia berulah jangan ragu mematahkan kakinya !" Candra dan Siska mengangguk dan tersenyum membalas senyuman Damar.
Azkia dan Fajar terliki geli mendengar kalimat terakhir Damar. Berbeda dengan Gibran yang langsung memasang wajah dongkol.
"Biar saya yang menyuapi Kia, tante !" Gibran mengambil alih nampan berisi makanan untuk sarapan Azkia.
"Gue bisa sendiri, Gibran. Lo nggak perlu bantu !" tolak Azkia.
Tapi sepertinya Azkia melupakan fakta bahwa pria di depannya itu adalah pria berkepala batu yang tidak akan menerima penolakan. Benar-benar menyebalkan !
"Setelah minum obat perawat akan datang untuk memindahkan lo ke kamar VIP elit di lantai 15" ucap Gibran santai.
"Kami tidak pernah meminta agar Azkia dipindahkan ke kamar VIP elit kok, nak Gibran" timpal Siska.
"Ahh, itu saya yang minta agar Kia dipindahkan ke kamar VIP. Pihak rumah sakit akan melakukan pelayanan terbaik untuk Kia di sana"
"Tidak perlu, Gibran ! Lo terlalu berlebihan padahal gue baik-baik saja" kesal Azkia.
"Lo tau kan gue nggak terima penolakan !" Azkia berdecak kesal.
"Dan lo tau gue nggak suka diperintah ! Ahh, dan jangan lupa setelah ini lo akan mendapat hukuman karena berani bolos sekolah ! Sepertinya lo lupa kata-kata gue waktu itu, yaa !" Azkia memicingkan matanya.
Candra, Siska dan Fajar hanya diam dan menonton perdebatan konyol Azkia dan Gibran. Keduanya terlihat sama-sama keras kepala hingga tidak ada yang mau mengalah.
"Kalau lo memang bisa memberi perintah kepada pihak rumah sakit, sebaiknya lo suruh dokter ganteng saja yang memeriksaku. Gue sih bisa langsung sembuh tanpa minum obat kalau kak Bryan yang periksa !" Gibran langsung menjentik kening Azkia kuat membuat gadis itu mengadu kesakitan.
"Okay ! Lo akan tetap di sini dan mulai sekarang tidak akan ada dokter ataupun perawat laki-laki yang datang ke sini. Titik !" kata Gibran lagi-lagi memberi final conclusion.
Azkia dibuat semakin dongkol mendengar penuturan gila Gibran. Wah ! Dosa apa dia hingga bisa mempunyai teman semenyebalkan Gibran ? Dia jelas salah besar saat mengira pria itu adalah pria baik di hari pertamanya pindah ke SMA Nusantara.
"Gibran nyebelin !"
"Bodoh !"
"Gibran sapi, kambing, monyet !"
"Tapi ganteng !"
"Cuih ! ganteng pala lo ! Kalau lo emang ganteng lo nggak mungkin masih jomblo sampai sekarang !" ejek Azkia.
"Kalau gitu lo juga jelek karena masih jomblo !"
"Ohh iya, yaa ! Kok gue rada bodoh semenjak masuk rumah sakit, yaa ?"
"Emang, baru sadar lo ?"
Dan perdebatan mereka terus berlanjut hingga membuat Candra, Siska dan Fajar muak. Perdebatan keduanya baru berakhir setelah Azkia ketiduran.
Mulut mungkin saja bisa berbohong, namun tidak dengan mata. Mata selalu tahu siapa yang selalu ada di dalam hati. Mata selalu tahu siapa yang mampu membuat jantung berdetak tidak normal. Mata selalu tahu kepada siapa ia harus menatap. Mata selalu tahu siapa yang harus ia perhatikan.
Karena mata tidak pernah berdusta !
Maybe you can try to hide your feelings but you forget your eyes speak the true !
Semoga kalian suka !😉🤗😙
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, yaa !
__ADS_1
Please support author with VOTE, LIKE, and COMMENT !!!🤗😉😙🌟