
Happy Reading !😉😙
"Ada beberapa pertanyaan yang mungkin lebih baik tidak pernah mendapatkan jawaban. Ada beberapa pertanyaan yang mungkin sebaiknya tidak perlu kau cari jawabannya. Ada beberapa pertanyaan yang jawabannya tidak boleh kau dengar dari mulut sembarang orang. Karena ada beberapa pertanyaan yang jawabannya malah akan menghancurkanmu"
~Hendry Hendrawan Hutama~
***
Putri menunduk dalam tanpa berani mengangkat kepalanya sedikit pun. Kedua tangannya saling meremas gugup. Jantungnya jangan ditanya lagi. Jantungnya sudah bertalu-talu sejak tadi. Tubuhnya pun bergetar karena grogi.
"Maaf karena tiba-tiba memintamu ke sini !" ucap Gibran memulai pembicaraan.
"Ahh, ti-tidak apa-apa !" jawab Putri semakin grogi.
Demi Sandy Cheeks si Tupai yang tinggal di dasar lautan Bikini Bottom yang malah memakai baju astronot, Putri tidak pernah membayangkan akan berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Gibran apalagi berbicara empat mata seperti sekarang. Ia bahkan hampir stroke mendadak saat seseorang tiba-tiba saja menghampirinya dan mengatakan Gibran mencarinya dan menunggunya di dekat pintu kantin.
"Aku mau minta tolong sama kamu. Tolong jadi informanku !" Putri akhirnya memberanikan diri untuk mengangak kepalanya. Ia menatap Gibran dengan alis yang saling menaut.
"Informan ?" beonya.
Gibran mengangguk mengiyakan.
"Aku memang lebih dulu mengenal Kia dari kamu, tapi sebenarnya aku nggak tau apa-apa tentang dia. Aku yakin kau mengetahui tentangnya lebih banyak dari aku. Karena itu aku mau minta tolong sama kamu !" tutur Gibran dengan wajah datar seperti biasa, namun entah mengapa itu malah membuatnya berkali-kali jauh lebih gagah di mata Putri.
Putri mengangguk mengerti. Dan sekarang ia semakin yakin bahwa pria itu benar-benar menyukai Azkia. Sebagai penggemar Gibran garis waras sejak SMP tentu saja ia mendukungnya. Apalagi Putri tahu Azkia adalah gadis ceroboh berhati ibu peri. Ia akan sangat rela jika Gibran bersamanya.
Hanya saja, bukankah Azkia mencintai Arta ?
Putri tahu Azkia adalah cinta pertama Gibran. Tapi sayangnya cinta pertama Azkia adalah Arta. Bukankah itu akan mematahkan hati Gibran ?
Apa yang harus Putri lakukan ?
"Apakah kamu bersedia ?" tanya Gibran membuyarkan lamunan Putri. Gadis itu terlihat gelagapan karena ketahuan malah melamun.
"Ahh, tentu saja boleh ! Aku akan membantumu sebisaku" kata Putri sambil tersipu malu.
"Terima kasih, Putri ! Ohh iya, terima kasih juga untuk kue coklatnya. Itu sangat enak. Kau benar-benar mendengarkan saranku saat SMP dulu. Kalau gitu, aku duluan. Katakan semua tentang Kia padaku !" Gibran berlalu pergi sambil melambaikan tangannya di udara.
Putri seketika membulatkan matanya sempurna. Kata-kata Gibran benar-benar sukses membuat jantung Putri hampir meledak.
Pria itu mengingatnya ?
Senangnya !
Putri memang pernah memberikan kue coklat buatannya sendiri kepada Gibran saat mereka masih SMP dulu. Sayangnya, kue buatannya terlalu manis. Gibran memberikan saran untuk mengurangi gulanya. Karena ia menggunakan coklat batang yang memang sudah manis, maka seharusnya ia menambahkan gula sedikit saja.
Beberapa hari yang lalu Putri memang menitipkan kue coklat buatannya pada Azkia. Putri tidak berani memberikannya langsung pada Gibran. Karena itulah ia meminta Azkia untuk memberikannya kepada pria itu. Dan sungguh mengejutkan, Gibran ternyata masih mengingat bahwa dulu Putri juga pernah memberikan kue coklat kepadanya.
"Azkia lahir tanggal 1 Januari 2004 tepat pada pukul satu malam. Ia masuk Sekolah Dasar di umur 5 tahun karena tidak mau berpisah dengan Arta. Warna kesukaannya adalah mocca. Suka coklat, jus alpukat dan nasi goreng super pedas. Azkia cuma suka ikan dan ayam (ayam krispi, ayam goreng, ayam bakar). Karena dia gadis ceroboh, Arta selalu menyediakan hansaplast di dalam tasnya. Azkia menyukai Arta. Katanya Arta adalah cinta pertamanya. Kemarin kami belanja skincare karena dia tidak ingin terlihat kucel di depan Arta. Apalagi saat mengetahui Arta juga menyukai sahabatnya !" Putri mengirim pesan pada Gibran sebelum kembali bergabung bersama Azkia dan Citra.
Di tempat yang berbeda, Gibran membaca pesan itu dengan ujung bibir yang tertarik naik membentuk sebuah senyuman. Namun senyum itu tidak bertahan lama. Karena emosinya mendadak meledak saat membaca kalimat terakhir dari pesan yang baru saja dikirim Putri.
"Holy shit !" umpat Gibran yang sukses menarik perhatian seluruh penghuni kantin. Sepertinya ia tanpa sadar berteriak.
Bimo dan Saldi bahkan sampai tersedak kuah bakso super pedasnya saat Gibran tiba-tiba mengumpat sambil menggebrak meja. Jangan ditanya lagi bagaimana tersiksanya kedua pria itu sekarang. Keduanya bahkan berebut teko air agar bisa minum lebih dulu.
"Si kambing ! Kalau mau ngamuk bilang-bilang dulu, dong ! Keselek kuah bakso gue, anying !" dumel Bimo masih sesekali meneguk air putih. Padahal itu sudah gelas keempatnya.
"Si kadal ! Emang sejak kapan orang kalau mau marah harus bikin proposal dulu ?" timpal Firman.
"Buk Siti, susunya satu ! Cepat, buk !" teriak Saldi tidak tahan lagi. Ia sudah meneguk tiga gelas air putih tapi rasa pedisnya belum juga hilang.
"Si monyet, pesan susu kok sama buk Siti ? Istighfar lo, Sal !" canda Bastian, sukses membuat Saldi merasa dongkol.
"Ck ck ck !" semua geleng-geleng kepala menatap Saldi dengan wajah pura-pura tidak habis pikir.
__ADS_1
"Persyaiton dengan bacot lo semua ! Gue kepedasan, nyet !" Saldin langsung meneguk susu pesanannya yang baru saja diantar ibu Siti.
Belum selesai Saldi meneguk seluruh susu pesanannya, sebuah tangan tidak tahu sopan santun tiba-tiba menarik kerah bajunya kasar. Membuat susunya yang masih tersisa sepertiga gelas itu tumpah hingga mengenal baju putih lengan panjangnya.
Saldi menarik dan menghembus napas panjang dengan kasar sambil meletakkan gelas di tangannya ke atas meja dengan sedikit dibanting. Kini ia dalam posisi berdiri berhadapan dengan pria bermata hitam legam yang dengan tidak tahu dirinya mencengkram kerah bajunya kuat.
"Apa ?" Saldi membalas tatapan tajam dan menusuk dari sepasang mata hitam itu tanpa rasa takut sedikit pun.
Semua hanya diam sambil menatap Gibran dan Saldi tanpa berniat melerai keduanya. Mereka sudah sering melihat Gibran seperti itu dan mereka juga sudah sangat paham bahwa semarah apa pun pria itu, ia tidak akan sampai menyakiti temannya sendiri. Hendry bahkan tetap melanjutkan makan siangnya tanpa merasa terusik sedikit pun dengan Gibran yang sedang kumat padahal pria itu berada tepat di sampingnya.
"Kenapa kalian tidak bilang ?" bentak Gibran semakin mengeratkan cengkeramannya.
See ?
Monyet itu mengucapkan kata kalian tapi ia hanya melampiaskan amarahnya kepada Saldi. Benar-benar sahabat kurang ajar !
Bukan hanya Saldi yang dibuat bingung dengan pertanyaan ambigu Gibran. Semua saling melempar pandangan sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada obyek yang sama, yakni Gibran yang terlihat sangat marah.
"Lo bisa nggak sih sebelum marah-mara lo bertanya baik-baik dulu, hah ?" Saldi balik membentak. Dengan sekali gerakan ia berhasil menyingkirkan kedua tangan Gibran dari kerah bajunya.
Apa pria bodoh itu lupa kalau Saldi adalah ketua tim penyerangan geng Thunder ?
Saldi membersihkan tumpahan susu yang tadi mengenai bajunya dengan tisu sebelum kembali duduk di kursinya semula. Ia melanjutkan memakan baksonya seakan tidak terjadi apa-apa tanpa peduli dengan Gibran yang masih mematung di tempatnya.
"Kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang mengatakan apa yang terjadi saat gue mengantar Kia pulang ?" tanya Gibran dengan nadara datar.
Uhuk uhuukk uhukkk...
Kali ini Hendry yang tersedak makanannya.
Sial !
Secepat itu Gibran mengetahuinya ?
Sial sial sial !
"Itu ide gue ! Gue nggak mau lo sampai meledak karena hal itu. Gue..."
Hendry tidak melanjutkan kalimatnya karena Gibran sudah lebih dulu pergi meninggalkan kantin dengan langkah lebar. Semua ikut bangkit dari duduknya dan langsung menyusul Gibran yang sudah pasti sedang mencari seseorang. Mereka sudah bisa menebak akan jadi seperti itu jika Gibran sampai mengetahuinya. Karena itu mereka sepakat untuk tidak memberitahunya.
Semua mata tertuju pada mereka. Tidak terkecuali guru-guru yang sedang berada di kantin pun yang sedang berada di koridor. Semua dibuat kebingungan dengan tingkah geng Thunder yang terlihat aneh.
"Gibran, lo tenang dulu ! Jangan melakukan sesuatu disaat lo sedang emosi !" Hendry mencoba menghentikan Gibran untuk yang kesekian kalinya namun sia-sia.
Braakkk...
Suara bantingan pintu sukses mengejutkan seluruh siswa-siswi kelas XII IPA 1 yang hampir seluruhnya sudah berada di kelas. Jam istirahat sudah hampir habis dan bel tanda masuk sebentar lagi akan berdering. Mungkin kurang dari lima menit lagi guru akan datang.
Brak !
Dengan kasar Gibran menendang meja Arta hingga terdorong lumayan jauh dari tempatnya semula. Arta dan Fikri kompak mendongak menatap Gibran dengan tatapan ketidaksukaan yang begitu jelas. Azkia yang sedang berselancar di alam mimpi pun sontak terbangun saat mendengar decitan meja dengan lantai. Kini semua mata tertuju pada Gibran dan Arta.
Arta baru saja akan memberikan komentar, namum Gibran sudah lebih dulu menarik kerah bajunya kasar. Tidak sampai di situ saja, Gibran juga melayangkan bogem mentah sebanyak dua kali di pipi kiri Arta.
Fikri langsung menghampiri Arta yang kini tergeletak di atas lantai. Bogeman Gibran tentu saja meninggalkan jejak di sudut bibir Arta yang kini mengeluarkan darah segar. Azkia yang masih setengah sadar mencoba mencerna apa yang baru saja ia saksikan dengan kedua matanya sendiri. Ia butuh waktu beberapa saat untuk memahami semuanya dan tersadar dari keterkejutannya.
"Gibran, cukup !" teriak Azkia namun sama sekali tidak dihiraukan Gibran.
Pria itu menepis Fikri yang mencoba menghalanginya dengan kasar. Membuat tubuh pria berambut pirang itu ikut terhempas menghantam lantai. Kedua mata hitam Gibran yang terlihat memerah karena amarahnya meledak sedikit pun tidak beralih dari Arta. Ia terus menatap pria itu tajam seakan bisa mencabik-cabik pria itu hanya dengan menatapnya.
Arta mencoba menepis dan melakukan perlawanan saat Gibran kembali melayangkan serangan. Fikri juga tidak tinggal diam. Sebisa mungkin ia melindungi Arta yang sudah berkali-kali terkena pukulan mematikan Gibran. Sudah mereka bilang kan, Gibran yang sedang meledak kadang lebih buas dari serigala ?
Geng Thunder pun tidak diam saja. Semuanya sudah mencoba menghentikan Gibran namun sia-sia. Gibran yang sudah terlanjur meledak tidak akan mudah dihentikan. Ia bahkan bisa menumbangkan anggota geng-nya hanya dengan menggunakan satu tangan.
Azkia tidak bisa hanya diam saja. Air matanya mengalir deras melihat Arta yang sudah babak belur tapi Gibran masih saja memukulinya. Azkia juga mencoba menghentikan Gibran yang sama sekali tidak terlihat ingin menghentikan amukannya. Pria itu terlihat malah semakin ingin memukuli Arta, lagi dan lagi.
__ADS_1
"Gue mohon berhenti ! Sudah cukup, Gibran !" Azkia memeluk erat tubuh Gibran. Membiarkan air matanya tumpah ruah di dada bidang pria itu.
"Gue mohon ! Sudah cukup ! Please, Gibran !" mohon Azkia masih setia memeluk Gibran erat.
Tubuh Azkia bergetar. Antara takut dan khawatir. Ia merasakan Gibran sudah jauh lebih tenang. Pria itu tidak lagi memberontak. Azkia senang tapi masih tetap setia dengan pelukannya. Merasa enggan melepaskan pria itu karena takut ia akan kembali memukuli Arta.
Cukup lama mereka berdiri dalam posisi itu. Setelah merasa kelas sudah lebih tenang dan memastikan Arta telah dibawa ke UKS, barulah Azkia melepaskan pelukannya. Namun sebelum itu berhasil, kedua tangan Gibran lebih dulu kembali menariknya ke dalam pelukannya lagi.
"10 menit saja. Tidak ! 5 menit pun sudah cukup !"
Azkia ingin menolak namun tidak ia lakukan. Ia membiarkan Gibran memeluknya erat. Bahkan jauh lebih erat dibandingkan saat pria itu memeluknya waktu itu.
"Maaf !" ucap Gibran lirih. Azkia menghembus napas berat.
"Maaf karena itu tidak akan menjadi pertama dan terakhir kalinya ! Maaf karena gue masih akan melakukan hal yang sama !" Azkia langsung mendorong tubuh Gibran berniat melepas pelukannya, namun tentu saja pria itu tidak membiarkannya. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Bisakah lo tidak mencintainya ? Tidak bisakah lo mencintai laki-laki lain saja ?" saat Gibran mengatakan itu, Azkia bisa merasakan ada kesedihan dalam nada bicaranya. Seakan-akan pria itu mempunyai beban yang dibawanya sendiri.
"Kenapa ?" Gibran sudah melepaskan pelukannya jadi Azkia bisa mendongak menatap sepasang mata hitam itu.
"Lo boleh menyukai laki-laki manapun tapi jangan dia !" ulang Gibran membuat Azkia malah semakin tidak mengerti.
"Kenapa ? Katakan alasan kenapa gue nggak boleh menyukai Arta ? Lo bahkan tidak pernah mau memberitahu gue kenapa persahabatan kalian berantakan !" pandangan Azkia memudar karena genangan air matanya.
"Alasan ? Karena dia tidak pernah menyukaimu, Kia ! Dia bukan pria idaman seperti yang selama ini lo lihat. Dia bukanlah Arta yang ada di dalam bayangan lo dan semua orang. Sahabat yang dia cintai bukan lo, tapi orang lain. Dia...dia tidak seperti yang lo kira. Lo nggak tau apa-apa tentang dia ! Jadi, berhenti mencintainya karena cinta itu hanya akan menghancurkan lo di kemudian hari !" Gibran sekuat tenaga menahan mulutnya untuk tidak mengatakan semuanya kepada Azkia.
Tidak !
Azkia memang harus segera tahu semua kebenarannya. Tapi bukan Gibran yang harus mengatakannya. Bukan Fikri ataupun Hendry. Arta, pria itulah yang harus mengatakan semuanya kepada Azkia.
"Lo tau itu bukan jawaban yang mau gue dengar, Gibran ! Sebenarnya ada apa, sih ? Apa yang kalian sembunyikan dari gue ? Lo, Arta, Fikri dan Hendry. Kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang mau mengatakannya ?" air mata Azkia kembali tumpah.
Gibran menarik rambutnya sendiri. Frustasi, itulah yang ia rasakan sekarang. Dia tidak pernah ingin melihat Azkia menangis. Setetes pun Gibran tidak pernah ingin melihat air matanya tumpah. Tapi hari ini ia malah membuat gadis itu menumpahkan air matanya.
"Bukan gue yang harus mengatakannya, Kia. Bukan gue, tapi Arta. Laki-laki pengecut itu yang harus mengatakan semuanya sama lo !"
"Kenapa harus Arta ? Apa bedanya kalau lo yang bilang ke gue ?" Azkia semakin tidak mengerti dengan apa yang Gibran katakan.
Gibran kembali mengacak rambutnya sendiri. Ia semakin frustasi melihat wajah terluka Azkia.
"Karena Arta laki-laki be..."
"GIBRAN !" teriak Hendry menghentikan kata-kata Gibran.
Pria itu baru saja memasuki kelas karena tadi ia ikut membantu membawa Arta ke UKS.
"Apa lo sudah gila ?" bentak Hendry dengan amarah yang terlihat jelas tergambar dari raut wajahnya.
Gibran menghembus napas gusar. Kepalanya seperti akan meledak. Hatinya berdenyut sakit membayangkan semuanya. Semua menjadi sangat rumit. Semua menjadi kacau karena keegoisan mereka masing-masing.
"Ada beberapa pertanyaan yang mungkin lebih baik tidak pernah mendapatkan jawaban. Ada beberapa pertanyaan yang mungkin sebaiknya tidak perlu kau cari jawabannya. Ada beberapa pertanyaan yang jawabannya tidak boleh kau dengar dari mulut sembarang orang. Karena ada beberapa pertanyaan yang jawabannya malah akan menghancurkanmu" tutur Hendry berubah serius.
Deg !
Sebenarnya ada apa ?
Entah mengapa kata-kata Hendry itu tiba-tiba membuat jantung Azkia berdetak lebih cepat dari biasanya. Lagi-lagi, seakan jawaban yang ia cari adalah bom waktu yang akan meledak tepat setelah ia menemukannya.
Seberapa mengejutkan jawaban atas pertanyaannya sampai ia harus mendengarnya langsung dari mulut Arta ?
Sebenarnya seberapa dahsyat bom waktu itu akan menghancurkannya ?
Semoga kalian suka !😉
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ! Please support author dengan VOTE, LIKE, dan COMMENT !😉🤗😙
__ADS_1
Jangan lupa juga bintang limanya !(🌟🌟🌟🌟🌟)😂😄
Ditunggu saran dan masukannya, yaa !🤗🤗