AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
29. Siap Jatuh Cinta Siap Patah Hati


__ADS_3

Happy Reading!😉🤗


"Siap jatuh cinta artinya sudah siap patah hati. Karena tidak semua cinta di dunia ini akan selalu mendapatkan balasan. Semua orang berhak mencintai, tapi tidak ada paksaan dalam cinta."


~Azkia Aqilla Candra~


***


Hari ini langit tampak cerah. Sangat berbeda dengan kemarin yang terus saja memuntahkan air menghujami bumi. Hujan bahkan terus turun dengan derasnya sejak sore kemarin hingga subuh tadi. Beruntung, sekarang sudah terang benderang tanpa awan mendung.


Sisa-sisa air hujan masih menyisakan bekas. Rumput-rumput tampak masih basah dan banyak genangan di jalanan. Menegaskan bahwa hujan baru saja selesai menyelesaikan tugasnya menyirami bumi.


Seperti biasa, para penggemar Azkia selalu berupaya mendekati gadis itu jika terlihat ada sedikit saja cela. Tapi tentu saja terkecuali Fredy. Sejak kejadian waktu itu Fredy tidak pernah lagi berani mendekati Azkia. Sepertinya Gibran dan anggota Geng Thunder benar-benar berhasil mengancamnya.


Hari ini Azkia terlihat datang sendiri. Tidak seperti biasanya yang selalu bersama Arta. Azkia seperti magnet yang menarik serbuk-serbuk besi mendekat padanya. Lihat saja para penggemarnya yang mulai berbondong-bondong mendekat ke arahnya.


Namun sebelum mereka bersahasi mencapai Azkia, seseorang sudah lebih dulu menarik tangan gadis itu pergi. Membuat semua penggemar Azkia sontak menghentikan langkah mereka untuk mendekati gadis itu. Sial, lagi-lagi mereka gagal mendekati gadis pujaan mereka.


"Hendry?" Azkia menaikkan kedua alisnya seakan bertanya 'kenapa?'. Sedikit bingung mengapa Hendry tiba-tiba seperti itu.


"Kita harus bicara." Alis Azkia tampak semakin berkerut mendengar penuturan Hendry. Pria itu terdengar sedang serius.


Sebenarnya ada apa?


"Ini tentang Gibran."


"Gibran? Gibran kenapa?"


"Gue akan langsung pada intinya saja. Bisakah lo tidak terlalu dekat dengan Gibran? Itu tidak akan baik untuk dia. Gibran mencitnai lo, tapi lo jelas mencintai Arta. Jadi, kedekatan lo dengan Gibran jelas tidak baik untuknya. Itu hanya akan membuatnya terus berharap sama lo."


Sial. Pria itu benar-benar langsung bicara pada intinya. Tanpa intro atau basa-basi. Dia benar-benar mirip Gibran dalam hal to the point.


"Tunggu tunggu! Gue nggak ngerti kenapa semua orang selalu mengatakan hal yang sama kalau Gibran mencintai gue. Kalau karena alasan selama ini Gibran baik dan peduli sama gue, gue rasa dia memang selalu baik pada semua o...rang?"


Kalimat penuh keyakinan Azkia tiba-tiba berubah seperti pertanyaan di akhir kalimatnya. Ia seakan bertanya pada dirinya sendiri apakah yang dia katakan itu memang benar?


Namun, ia langsung tertampar telak oleh fakta bahwa itu jelas tidaklah benar. Pria itu sama sekali bukanlah tipe pria yang baik dan peduli pada semua orang. Gibran, dia hanya selalu perhatian padanya. Itulah kenyataannya.


"Lo mau bilang Gibran baik dan peduli kepada semua orang? Kalau menurut lo itu benar, bisa lo sebutkan satu saja nama perempuan yang mendapatkan kebaikan dan kepedulian Gibran?"


Hendry kembali mempertegas segalanya. Bahwa Gibran memang hanya perhatian padanya. Tidak ada perempuan lain yang mendapatkannya selain Azkia.


Benarkah Gibran mencintainya?


Azkia dilema.


"Lo adalah yang pertama untuk Gibran. Sebelumnya, dia belum pernah sekalipun dekat dengan perempuan manapun. Sebelumnya, ia belum pernah peduli dan perhatian kepada perempuan seperti yang sekarang ia lakukan padamu. Lo benar-benar membawa banyak perubahan di hidup Gibran. Dan gue sungguh berterima kasih untuk itu. Sekarang gue bisa melihat senyumnya lagi berkat lo. Senyum dan raut kebahagiaan yang sudah lama lenyap, kini kembali menghiasi wajahnya." Hendry menjeda.


"Gibran benar-benar banyak berubah berkat lo. Bang Vino tak perlu lagi pusing memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan masalah yang Gibran perbuat. Dan ajaibnya lagi, hubungannya dengan Appa pun sudah jauh lebih baik. Ayah dan anak yang selama ini hubungannya tak lebih dari hanya sekedar status, kini benar-benar telah menjadi ayah dan anak yang sesungguhnya. Sekarang, Gibran rutin mengabari Appa setiap harinya. Benar-benar perubahan yang luar biasa." Hendry mengakhiri penuturannya.

__ADS_1


"Dari semua penjelasan panjang lo itu, gue sama sekali belum menemukan satu alasan pun kenapa gue harus menjauhi Gibran," ucap Azkia telak.


Kali ini Hendry yang tertampar oleh sebuah kenyataan bahwa Azkia atau pun Gibran sama-sama tidak mempunyai alasan mengapa mereka harus saling menjauhi. Hendry tertegun, mencoba merangkai kata yang pas untuk ia katakan.


Tapi, nihil. Tak ada kalimat yang pas untuk membantah tudingan Azkia. Karena kenyataannya, apa yang gadis itu katakan memang benar adanya.


"Gue nggak tahu apa alasan lo meminta gue untuk tidak terlalu dekat dengan Gibran. Tapi jika yang lo takutkan adalah Gibran yang akan patah hati setelah cintanya tidak terbalaskan, maka lo benar-benar konyol, Hen. Itu bukan hal yang harus lo ikut campuri." Azkia terkekeh kecil memberi jeda.


"Orang yang sedang jatuh cinta bahkan tidak tahu alasan mengapa ia mencintai orang tersebut. Bagaimana mungkin orang lain yang jelas tidak tahu apa-apa bertingkah seolah memahami segalanya? Siap jatuh cinta artinya sudah siap patah hati. Karena tidak semua cinta di dunia ini akan selalu mendapatkan balasan. Semua orang berhak mencintai, tapi tidak ada paksaan dalam cinta. Gibran tak bisa memaksa gue membalas perasaannya, begitu pun dengan gue yang tidak bisa memaksa Arta membalas perasaan gue. Kita tahu cinta tak terbalaskan akan sesakit itu, tapi kita memilih untuk tetap mencintai. Itu karena kita memang sudah siap untuk patah hati," jelas Azkia panjang lebar. Ia menepuk-nepuk pelan salah satu pundak Hendry.


Untuk sesaat, Azkia seakan mendadak menjadi seorang ahli cinta. Padahal kenyataannya, dia sendiri belum benar-benar memahami akan cinta yang sesungguhnya. Menggelikan.


Hendry diam tak berkutik. Seakan tertampar oleh semua yang Azkia katakan. Ia lagi-lagi tidak menemukan kalimat yang tepat untuk membantah kata-kata Azkia. Diam-diam ia malah membenarkan semua yang gadis itu katakan.


"Gue tahu lo bilang begitu karena lo peduli sama Gibran. Gue tahu lo cuma nggak mau adik kesayangan lo itu sakit hati. Gue cuma mau menegaskan satu hal sama lo, tidak ada yang terjatuh tanpa mengalami sakit. Begitu juga dengan jatuh cinta, namanya juga jatuh yaa pasti sakit. Tak perlu terlalu mengkhawatirkan Gibran. Toh, dia sudah besar, dia bukan anak kecil lagi. Dia pasti tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang harus dan tidak harus ia lakukan." Azkia mengakhiri ceramahnya.


Hendry masih bungkam. Lagi-lagi membenarkan kata-kata Azkia dalam hati.


"Sudahlah, ayo ke kelas. Pagi-pagi lo sudah merusak mood-ku saja. Menyebalkan."


Tanpa kata lagi Azkia langsung merangkul salah satu lengan Hendry. Menariknya menuju kelas mereka yang berada di lantai dua. Hendry terpaksa menuruti gadis kepala stone itu. Dasar, Azkia.


"Lepaskan tangan lo. Lo mau Gibran menghajar gue karena sudah berani menyentuh gadisnya?" dumel Hendry sambil berusaha melepas tangan Azkia yang melilit lengannya.


"Cih! Hendry nggak asyik." Azkia melenggang pergi meninggalkan Hendry yang masih mematung di tempatnya. Menatap gadis pecicilan itu menjauh dari pandangannya.


Sebuah senyuman tipis menghiasi bibirnya. Menambah ketampanannya yang memang tidak perlu diragukan lagi. Rasanya ia begitu lega karena sudah mengatakan semua yang mengganjal di hatinya selama ini.


"Ck ck ck, benar-benar kakak yang luar biasa. Kau bahkan mengkhawatirkan masalah percintaan adikmu. Tapi, yang Azkia katakan memang sepenuhnya benar. Orang yang sedang jatuh cinta bahkan tidak tahu alasan mengapa ia mencintai orang tersebut. Cinta bukan hal yang bisa dilarang atau pun diperintah."


Hendry menoleh pada seorang gadis yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Ia bahkan tidak menyadari kehadirannya. Gadis itu ikut menoleh, hanya sekedar memamerkan senyuman manisnya sebelum berlalu meninggalkan Hendry. Hendry berlari-lari kecil mengejar gadis itu. Mensejajarkan langkahnya dengan langkah gadis itu.


🍁🍁🍁


"Hay!" sapa Gibran kikuk. Ia baru saja datang dan meletakkan ranselnya di atas meja sebelum duduk di kursi miliknya.


"Hay, sepertinya lo datang telat mulu sejak kemarin," jawab Azkia tak kalah kikuk. Benar-benar tidak seperti biasanya.


Putri, Citra, Hendry, Arta dan Fikri yang menyadari perubahan Azkia dan Gibran sontak menoleh menatap keduanya. Terlalu kaget mendengar keduanya sama-sama terdengar kaku saat bicara.


Ada apa dengan mereka?


"Ahh, iya. Soalnya gue harus ke kantor dulu sebelum ke sekolah."


Azkia tidak menjawab lagi. Ia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Padahal sebenarnya ia tidak benar-benar mengerti.


Ada yang aneh dengan jantung Azkia. Di dalam sana ia terus berdentum keras hingga Azkia sampai takut Gibran akan mendengar suara detak jantungnya. Wajahnya terasa panas dan mungkin sekarang sudah berubah merah padam.


Malu.

__ADS_1


Tak jauh berbeda dengan Gibran. Pria itu pun sudah sangat merah wajahnya. Ia harus menghela napas panjang beberapa kali untuk mengendalikan dirinya. Mengatur detak jantungnya yang menggila bahkan sejak ia melajukan motornya ke sekolah.


Gibran dan Azkia tiba-tiba menjadi canggung sejak kejadia kemarin. Kejadian tak terduga yang terjadi di kamar Azkia kemarin sore. Kejadian mengejutkan yang membuat mereka hampir saja mati muda mendadak.


Bagaimana tidak, saat mereka bangun kedua mata mereka menangkap pemandangan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Wajah Azkia dan Gibran hanya berjarak beberapa milli saja. Hanya perlu gerakan kecil saja hingga mereka berciuman.


Bukan itu saja, keduanya bahkan terbangun dalam posisi saling berpelukan erat. Entah bagaimana bisa hal itu terjadi. Padahal Azkia sudah tidur di sisi kasur terjauh dari posisi Gibran.


"PANGGILAN. Panggilan kepada seluruh anggota Geng Thunder agar berkumpul di ruangan BK. Sekali lagi, panggilan kepada semua siswa SMA Nusantara yang merupakan anggota Geng Thunder agar segera berkumpul di ruangan BK. Sekian."


Suara panggilan dari mikrofon yang terdengar menggema seantero sekolah SMA Nusantara seketika mengagetkan semua orang. Bukan hanya para anggota Geng Thunder, namun semua yang mendengar panggilan itu. Secara, sudah lama sejak terakhir kali mereka membuat onar di sekolah.


Dan lagi, mengapa seluruh anggota Geng Thunder dipanggil?


Apa yang telah mereka lakukan sampai melibatkan seluruh anggota geng?


Untuk beberapa saat semua hanya diam. Begitu pun dengan Gibran dan Hendry yang hanya saling melempar pandang. Bingung. Mereka tidak merasa telah membuat kesalahan, tapi mengapa pihak sekolah meminta mereka berkumpul di ruangan BK? Dan lagi, semua?


"Kenapa? Ada apa sebenarnya? Apa yang telah kalian lakukan?" Azkia langsung menarik kerah baju Gibran kuat, menahan pria itu yang sudah bangkit dari duduknya.


"Kami tidak melakukan apapun. Sepertinya ini hanya kesalahpahaman. Tidak perlu khawatir." Gibran mencoba menenangkan Azkia yang mendadak khawatir. Dengan lembut ia mengelus puncak kepala gadis itu.


"Tapi, kenapa kalian semua dipanggil ke ruang BK?" tanya Azkia lagi.


"Entahlah, gue juga nggak tahu. Kami pergi dulu, kita baru bisa tahu setelah pergi ke ruang BK."


Gibran melepaskan tangan mungil Azkia yang masih menarik kerah bajunya. Memang tidak ada kalem-kalemnya gadis itu. Bagaimana bisa ia menahan seseorang yang hendak pergi dengan cara menarik kerah bajunya. Tapi Gibran suka. Gadis pecicilan yang tidak ada kalem-kalemnya itu, Gibran suka.


Dengan raut wajah khawatir Azkia menatap punggung Gibran dan Hendry yang tak lama kemudian menghilang di balik pintu kelas. Ia menghembus napas gusar. Kembali duduk di kursinya dengan lesu.


"Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Putri dan Citra yang kini sudah duduk di sampingnya. Citra bahkan sengaja menggeser kursinya mendekat ke arah Azkia.


"Aku nggak tahu. Sepertinya ini benar cuma kesalahpahaman." Azkia mencoba berpikir seperti itu. Mengingat sejak kemarin siang hingga tadi malam Gibran ada di rumahnya.


"Azkia, kamu beneran nggak tahu apa-apa?" kali ini Fikri yang bertanya. Ia dan Arta bahkan sudah mengubah posisi duduknya menghadap ke belakang.


Azkia menggeleng.


Apa yang sebenarnya terjadi dengan Geng Thunder, Azkia sungguh tidak tahu.


~


~


~


~Semoga kalian suka!😉


Jangan lupa tinggalkan jejaknya. Please support Author dengan cara Like, Vote dan Comment, yaa!😉🤗😙

__ADS_1


Like, vote dan Comment kalian adalah mood booster untuk Author semangat update.😉😙😍


__ADS_2