AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 26. Ulangan Semester


__ADS_3

Happy Reading !😉😙


"Bagi Azkia, Gibran dan dirinya layaknya langit dan bumi. Selalu saling berdampingan dan berjalan beriringan, namun selamanya tidak akan pernah bisa bersatu. Hanya bisa saling melengkapi dan saling menjaga, namun tidak akan mampu untuk saling memiliki. Seperti itulah mereka."


~Azkia Aqilla Candra~


***


Waktu berlalu cepat. Seperti hembusan angin yang lewat hanya sekejap mata. Berlalu tanpa disadari bahwa ternyata sudah begitu banyak yang berlalu. Membawa setiap insan meninggalkan hari kemarin menuju hari berikutnya, membawa hari ini pada hari esok, dan begitu seterusnya. Menyisakan kenangan yang akan menjadi satu-satunya bukti bahwa waktu itu pernah ada.


Ulangan Semester Ganjil pun tiba. Seluruh siswa-siswi SMA Nusantara pun tampak sibuk dengan lembaran demi lembaran buku di tangan mereka. Padahal jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Yang berarti ulangan di jam pertama sebentar lagi akan dilaksanakan.


Setidaknya masih ada waktu beberapa menit untuk mengulang-ulang pelajaran. Begitulah pikiran mereka.


Semua duduk diam tak bersuara di kursi masing-masing. Hanya sepasang mata, kedua tangan dan otak mereka yang kini bekerja keras. Mencari materi, melihatnya dengan seksama dan mencoba merekamnya baik-baik dan menyimpannya di dalam memori mereka.


Teng...teng...teng...


Bel berdering nyaring, membuat para siswa-siswi yang tadi sibuk dengan buku pelajarannya terpaksa mengakhiri acara belajar mereka. Membangunkan para kaum rebahan yang lebih memilih rebahan di menit-menit terakhir sebelum pertempuran dengan soal-soal ulangan yang tingkat kesulitannya hampir mengalahkan sulitnya menebak kata 'terserah' yang keluar dari mulut suci para perempuan.


Semua telah duduk di kursi yang mereka pilih dengan bebas setelah guru masuk. Seperti biasa, ulangan semester di SMA Nusantara dilaksanakan dengan sedikit unik. Seluruh siswa-siswi dari semua kelas di-mix hingga tak ada satu pun yang berada di kelas yang sama dengan teman sekelasnya.


Bukan hanya sekali, namun selama satu minggu ulangan mereka tidak akan berada di kelas yang sama dengan orang-orang yang di hari sebelumnya telah berada di kelas yang sama dengan mereka. Mereka akan berada di kelas yang berbeda dan sekelas dengan orang-orang yang berbeda setiap harinya selama ulangan berlangsung.


Semua dilakukan untuk menghindari kecurangan seperti kerja sama saat ulangan dengan teman-teman mereka. Akan sulit bagi siswa-siswi untuk bekerja sama dengan siswa-siswi lain yang belum mereka kenal dengan baik. Juga untuk membuat semua fokus belajar daripada bercengkrama kosong. Karena hampir seluruhnya tak saling mengenal sebelumnya. Mungkin hanya sekedar kenal nama saja, tidak lebih.


Hanya kecil kemungkinan mereka berada di kelas yang sama dengan orang yang mereka kenal dengan baik. Itu karena guru telah bekerja keras demi mengatur letak kelas mereka untuk ulangan.


Dengan harapan semua berjalan dengan sebagaimana mestinya. Dan keuntungan lain untuk para siswa-siswi adalah bisa menambah kenalan mereka dari kelas lain yang sebelumnya belum sempat mereka kenal. Itu adalah salah satu cara bagaimana SMA Nusantara menghasilkan lulusan-lulusan yang hebat.


Azkia yang duduk di kursi paling depan, tepatnya berada tepat berhadapan dengan meja guru pun mengoper kertas jawaban serta soal ulangan ke belakang. Setelah semua mendapatkan lembaran soal dan lembaran jawaban, guru yang menjadi pengawas mereka hari ini pun memberi instruksi untuk mulai mengerjakan ulangan.


Selama ulangan berlangsung, guru pengawas terus berjalan-jalan untuk memastikan tidak ada yang berbuat curang. Membuat kesempatan untuk meminta bantuan atau sekedar melirik contekan sangat sulit dilakukan. Pengawasan di SMA Nusantara saat ulangan benar-benar sangat ketat.


Ulangan semester berlangsung selama satu minggu full. Membuat Azkia benar-benar tidak pernah bertemu atau sekedar bertegur sapa dengan teman-teman satu kelasnya selama satu minggu itu. Bahkan sekedar bertukar kabar di media sosial pun tidak pernah. Sepertinya semua terlalu fokus dengan pelajaran mereka.


"Azkia !"


Azkia yang baru saja turun dari motor besar Arta pun berbalik saat mendengar seseorang memanggil namanya. Senyumnya melebar sambil melambaikan kedua tangannya di udara. Ia terlihat begitu kegirangan layaknya seseorang yang sudah bertahun-tahun lamanya baru dipertemukan kembali. Seseorang di seberang sana pun melakukan hal yang sama. Bahkan mungkin tak kalah girangnya dari Azkia.


Arta membantu Azkia melepaskan helm-nya sebelum berjalan beriringan menghampiri pria berambut pirang yang kini masih setia memamerkan senyumannya kepada mereka. Deretan gigi putihnya yang tersusun rapi bahkan sampai terlihat.


Manis !


"Huaa ! Perasaan kita nggak ketemu cuma seminggu, tapi kok rasanya kayak satu tahun ?" cerocos Azkia yang langsung diangguki Fikri.


"Hmm. Betul !" pria itu membenarkan.


Bahkan kini kedua tangannya sudah merengkuh hangat tubuh mungil gadis itu. Azkia membalas pelukan Fikri layaknya adik kecil yang memeluk kakaknya setelah sekian lama berpisah. Saling melepas rindu dan berbagi kasih sayang.


Azkia tertawa renyah saat lagi-lagi ia berpikir Fikri membuatnya merasa seperti mempunyai seorang kakak perempuan. Dipeluk Fikri rasanya seperti dipeluk oleh seorang kakak perempuan. Lucu sekali !


Padahal Fikri bukanlah pria bertulang lunak. Di jelas pria normal yang bahkan masuk kategori pria tampan most wanted di SMA Nusantara. Wajah blasterannya menjadi nilai plus untuknya. Membuat kesan ketampanannya lebih unik dari wajah-wajah tampan pria lokal.


Ahh, sepertinya Azkia baru sadar bahwa ia dikelilingi oleh pria-pria tampan blateran. Arta, Fikri dan Gibran. Mungkin karena mereka akrab hingga membuat Azkia sesaat lupa bahwa pria-pria itu bukanlah 100% produk dalam negeri seperti dirinya.


Elusan lembut di kepala didapatkan Azkia setelah acara pelukan itu berakhir. Mereka melanjutkan langkah mereka menuju kelas. Azkia yang sedang dirangkul Fikri berada ditengah-tengah kedua pria itu.


Azkia dan Fikri terus bercerita banyak hal tentang pengalaman ulangan kemarin. Berbeda dengan Arta yang hanya menjadi pendengar setia dan sesekali ikut tertawa saat mendengar cerita lucu dari kedua manusia itu.


Menggemaskan !


🌟_🌟


"Ulangannya susah bangat nggak sih ? Aku hampir menangis saat melihat soal Matematika" celetuk Citra. Ia menyandarkan kepalanya di atas meja tanpa semangat.

__ADS_1


Putri langsung mengangguk menyetujui. Berbeda dengan Azkia yang tampak biasa saja karena Matematika adalah salah satu dari mata pelajaran kesukaannya. Dan menurutnya, soal ulangan Matematika kemarin tidaklah sesusah itu. Azkia bahkan bisa menyelesaikan seluruh soal hanya dalam waktu 20 menit saja.


Saat ini mereka sedang berada di perpustakaan. Karena ulangan semester ganjil telah dilaksanakan, maka mereka sudah harus mengembalikan beberapa buku paket yang sebelumnya mereka pinjam untuk persiapan ulangan.


"Ohh yaa, Az ! Kamu sudah ketemu sama Gibran belum ?" tanya Putri tiba-tiba.


Karena antrian masih panjang mereka memilih untuk menunggu di salah satu meja yang ada di perpustakaan. Sudah satu minggu juga mereka tidak pernah bertemu. Sepertinya ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan.


"Gibran ? Belum, sih ! Tadi aja dia belum datang pas kita ke sini. Kenapa memangnya ?" kata Azkia santai.


"Hah ! Azkia, kamu belum sadar juga yaa kalau pria itu suka sama kamu ? Beberapa hari yang lalu aku juga sempat ketemu sama dia saat jam istirahat. Sepertinya dia sudah mencoba mencarimu ke beberapa kelas tapi tidak menemukanmu. Dia bertanya ini itu soal kamu ke aku. Sayangnya aku juga nggak tahu apa yang kamu lakukan selama satu minggu kemarin karena kita juga tidak pernah ketemu" jelas Citra panjang lebar.


"Gibran...sepertinya dia sangat merindukanmu, Azkia !" lanjut Citra.


"Betul bangat ! Dia juga selalu nanya ke aku soal kamu. Sejak awal sudah aku bilang kan kalau Gibran itu suka sama kamu" Putri turut membenarkan.


Azkia mengerutkan keningnya mendengar penuturan kedua sahabatnya itu. Seperti tidak menyangka, atau mungkin lebih tepatnya tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Citra dan Putri.


"Gibran merindukanku ? Yang benar saja. Dia bahkan tidak pernah mengirim pesan padaku selama satu minggu ini" ceplos Azkia.


Citra dan Putri seketika saling melempar pandangan sebelum kembali fokus pada gadis berkuncir kuda itu. Keduanya tersenyum penuh arti menatap Azkia yang kembali mengerutkan keningnya dalam.


"Jadi kamu juga merindukan Gibran ?" tebak Putri dan Citra kompak.


"Aku ? Merindukan beruang kutub itu ? Yaa, nggaklah. Baru juga nggak ketemu seminggu" sangkal Azkia cepat.


"Tapi kamu terlihat seperti sedang merindukannya juga. Kamu jelas menunggu pesan darinya, kan ?" goda Putri. Citra langsung mengangguk setuju.


Hey ! Sejak kapan Azkia mengatakan ia menunggu pesan dari Gibran ? Yang benar saja !


Azkia langsung memasang wajah dongkol mendengar tebakan sok tahu dua gadis yang kini duduk berdampingan tepat di depannya. Melongo dan tidak habis pikir melihat kedua sahabatnya yang masih saja berpikir bahwa Gibran menyukainya.


Ohh, ayolah !


Azkia bukanlah mereka !


Tokoh-tokoh fiksi dengan segala kesempurnaan mereka. Azkia teramat jauh dari kata layak untuk mendapatkan terlalu banyak cinta. Apalagi mendapatkannya dari pria seperti Gibran.


Azkia bahkan sesekali masih merasa malu untuk berdiri di samping pria itu. Gibran terlampau sempurna untuk gadis seperti dirinya. Berdiri di sisi Gibran membuat Azkia merasa sedang berdiri di sisi seseorang yang tidak akan pernah bisa ia raih. Derajat mereka jelas jauh berbeda. Apalagi sejak ia tahu siapa Gibran sebenarnya.


Bagi Azkia, Gibran dan dirinya layaknya langit dan bumi. Selalu saling berdampingan dan berjalan beriringan, namun selamanya tidak akan pernah bisa bersatu. Hanya bisa saling melengkapi dan saling menjaga, namun tidak akan mampu untuk saling memiliki. Seperti itulah mereka.


Azkia harus bersyukur karena ia tidak sampai mencintai pria itu. Karena ceritanya jelas akan berbeda jika ia sampai menyukai Gibran. Cerita cintanya jelas tidak akan berakhir dengan sebuah ikatan jika itu sampai terjadi.


Karena itu, sejak awal Azkia sudah menutup rapat hatinya. Mencegah segala celah yang mungkin saja akan menjadi melapetaka baginya di kemudian hari. Sikap Gibran yang selalu baik padanya tidak menutup kemungkinan bisa saja membuatnya salah paham. Hatinya bisa saja luluh. Jadi, menutup rapat semua jalan untuk rasa itu muncul adalah pilihan terbaik.


"Azkia ! Gibran benaran suka sama kamu, loh !" kata Putri lagi penuh keyakinan. Lagi-lagi Citra mengangguk memberi persetujuan.


"Berhenti bicara omong kosong !" Azkia pura-pura memasang wajah kesal.


"Azkia !" selah Citra yang tiba-tiba berubah serius. Kini ia bahkan menatap Azkia dengan tatapan menginterogasi.


"Kamu suka kan sama Gibran ? Perasaanmu pada Arta hanya obsesi dan bukan cinta, kan ?" tanya Citra seakan ingin memastikan, lagi. Lagi-lagi gadis itu menanyakan pertanyaan yang sama untuk yang kesekian kalinya.


Bukan hanya Azkia yang heran setiap kali Citra menanyakan itu, tapi juga Putri. Meski Putri bisa memastikan bahwa Gibran benar-benar mencintai Azkia, tapi ia tidak bisa memaksa Azkia untuk merasakan hal yang sama. Ini tentang perasaan yang tidak bisa dipaksakan.


Tapi entah mengapa Citra terus menanyakan pertanyaan yang sama pada Azkia. Seakan dia bisa melihat isi hati Azkia. Untuk yang satu itu, Putri benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Citra.


Kenapa dia terus bertanya hal seperti itu ?


Kenapa dia terlihat seakan-akan sangat mengharapkan jawaban 'iya' dari mulut Azkia ?


Citra terkesan sangat ingin Azkia mengatakan bawah apa yang ia katakan memang benar. Bahwa perasaan sukanya pada Arta hanyalah sebuah obsesi semata. Bukan cinta, tapi hanyalah sebuah keegoisan untuk bisa terus menjadi yang pertama untuk sahabat kecilnya itu.


Tapi, kenapa ?

__ADS_1


Azkia diam, begitu pun dengan Putri. Suasana di sana tiba-tiba menjadi sedikit canggung. Citra yang menyadari ketidaknyamanan sahabatnya seketika merasa sangat bersalah. Terkadang ia benar-benar tidak sadar telah mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak ia ucapkan.


"Ahh, maaf ! Padahal aku tidak bisa melihat isi hatimu, tapi aku malah bersikap sok tau begini. Maaf !" kata Citra penuh penyesalan.


Azkia tersenyum sebagai ungkapan 'tidak apa-apa'. Meski tidak paham mengapa, tapi Azkia yakin Citra pasti memiliki alasan mengapa ia terus-menerus menanyakan hal tersebut padanya.


Pasti !


Okay, mari berpikir positif !


🍁


Karena antrian panjang Azkia, Putri dan Citra baru bisa mendapat giliran tepat setelah Adzan Dzuhur berkumandang. Setelah itu, Azkia berpisah dengan Putri dan Citra. Citra dan Putri ke mushollah sementara Azkia ke toilet. Perutnya tiba-tiba sakit. Sepertinya ia kedatangan tamu bulanannya.


Sial !


Kenapa harus di sekolah ?


Azkia berjalan gontai menuju kelas. Langkah kakinya terlihat tertatih-tatih. Wajahnya pun sudah pucat sejak rasa sakit di perutnya muncul. Sesekali ia mengusap peluh di keningnya. Keringat dingin terlihat mengucur deras seiring rasa sakit di perutnya yang terasa semakin menggigit.


"Azkia ? Lo kenapa, muka lo kok pucat begitu ?" tanya Ken yang berpapasan dengan Azkia di depan pintu.


Suara Ken yang tanpa sadar menggunakan volume toa sukses mengundang perhatian semua teman-temannya yang kebetulan masih berada di kelas. Terutama Arta yang langsung bangkit dari duduknya tanpa membuang waktu sedetik pun setelah mendengar nama Azkia diucapkan oleh Ken.


Raut wajah cemas seketika menghiasi wajah Arta. Azkia bisa melihat kekhawatiran itu dengan sangat jelas. Padahal setiap bulan pria itu selalu melihat Azkia mengalami hal yang sama, tapi tetap saja itu masih membuatnya kelimpungan.


"Apa sih, Ta ! Aku nggak apa-apa kok ! Lagian ini bukan pertama kalinya kamu liat aku kayak gini" kata Azkia mencoba menenangkan Arta yang kini telah berdiri tepat di depannya.


"Ayo, aku antar pulang !" Azkia langsung menggeleng cepat.


"Tapi..."


"Nggak ada tapi-tapian, Azkia !" ucap Arta telak.


Dan Azkia tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti kata-kata Arta. Bagaimana pun ia tidak ingin membuat pria itu lebih khawatir lagi. Meski ia lebih sering membuat hidup Arta tidak tenang dengan segala tingkah ajaibnya, tapi di saat-saat seperti itu ia akan menjadi gadis penurut di depan pria itu.


"Hah ! Baiklah, kita pulang !" kata Azkia kemudian.


"Hari ini aku bawa mobil. Biar aku antar pakai mobil !" kata Fikri yang juga tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya melihat wajah pucat Azkia.


"Okay !" kata Arta setuju.


Azkia hanya diam tanpa protes. Rasanya ia memang tidak akan tahan jika harus naik motor. Perutnya benar-benar sakit.


Arta meraih jaket miliknya dan memakaikannya di tubuh mungil Azkia. Kemudian merapikan barang-barangnya dan juga punya Azkia. Fikri sendiri sudah siap.


"Thanks, Fikri ! Kamu sudah banyak membantuku. Aku beruntung bisa mempunyai sahabat sebaik kamu !" ucap Azkia tulus. Senyumnya masih terlihat menawan meski berpaduh padan dengan wajah pucat.


Deg...


Ada yang berdenyut di dalam dada Fikri. Mendengar kalimat indah itu keluar dari bibir gadis mungil itu dengan nada penuh ketulusan, membuat batin Fikri bergetar. Perasaan aneh seketika menyelimutinya. Perasaan yang mungkin akan terus menghantuinya.


Fikri mencoba bersikap biasa. Ia membalas senyum tulus itu dengan senyuman yang sama. Salah satu tangannya terangkat dan mengusap lembut puncak kepala Azkia. Siapa pun yang melihat itu akan tahu bahwa pria itu menyayangi Azkia.


Semoga kalian suka !😉😙


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ! Please support author dengan cara VOTE, LIKE, and COMMENT ! Bintang limanya juga, yaa !😉😉🤗


Saran dan masukan sangat author nantikan dari kalian. Tapi, jangan menghujat yaa !


Please !😉🤗


Syukurlah, author bisa update part ini ditengah kesibukan yang hampir membuat gila !😁😂


Semoga dalam waktu dekat bisa update part selanjutnya lagi ! Doain, yaa !😉😉😍

__ADS_1


__ADS_2