
Happy Reading!😉🤗
Jangan lupa support Author dengan cara like, vote dan komennya!😉😉😙
"Kenangan masa lalu bersama seseorang yang berharga tidak hanya bisa menjadi memory berharga untuk dikenang setelah perpisahan, tapi juga bisa menjadi parasit yang selalu siap menggerogoti hati setiap detik setelah tak ada lagi pertemuan. Perpisahan, memang selalu sekejam itu."
~Azkia Aqilla Candra~
***
Acara wisuda baru saja selesai digelar. Fajar, Azkia, Siska dan Candra berjalan beriringan meninggalkan aula tempat dimana acara wisuda tadi dilaksanakan. Fajar yang masih mengenakan toga tampak tak kuasa menahan tawanya melihat wajah murung sang adik. Tak jauh berbeda dengan Candra yang kini tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah ajaib anak dan istrinya.
Azkia yang lebih suka dengan boyish style, sementara sang ibu selalu ingin melihat anak gadisnya berpenampilan layakanya gadis-gadis pada umumnya. Tak heran jika di hari yang berbahagia ini keduanya harus melewati perdebatan panjang sebelum berangkat pagi tadi.
"Sekarang Azkia sudah bisa ganti baju, kan Mah?" tanya Azkia tak bisa menyembunyikan ketidaknyamanannya. Ia bahkan sudah menyiapkan baju salinan sebelum berangkat tadi.
"Kata siapa kamu sudah bisa ganti baju? Kita bahkan belum mengambil foto keluarga," tolak Siska cepat. Tangannya terulur merapikan rambut Azkia yang sedikit berantakan.
Azkia langsung mencebik kesal. Ia benar-benar tidak nyaman memakai kebaya yang kini melekat di tubuh mungilnya. Juga heels model ankle strappy heels yang tampak manis membingkai kedua kakinya. Jenis heels simple yang tidak akan membuat penderita parises kejang-kejang. Tetapi untuk kaki seorang Azkia yang terbiasa memakai sneakers jelas merasa sangat tidak nyaman saat memakai heels tersebut.
Gaya busana kebayanya terlihat semakin elegan saat dipadukan dengan ankle strap heels. Terdapat pengunci di bagian pergelangan kaki, kesan glamor dan feminin pun semakin menguar.
Ohh! Dan jangan lupakan riasan yang kini menempel di wajahnya. Riasan tipis nan simple yang sukses mempertegas indahnya pahatan wajah indah itu. Menonjolkan guratan wajah cantik yang kini tampak semakin menawan dalam kesan misterius yang kental.
Azkia benar-benar cantik dalam balutan kebaya kekian yang sengaja ibunya jahitkan untuknya. Juga dengan riasan dan rambut panjangnya yang sengaja digerai dan dimodel sedemikian rupa hingga mendapatkan hasil yang menambah kecantikan Azkia berkali-kali lipat.
Siapa pun yang melihatnya pasti akan terpana dengan kecantikan alaminya.
"Mamah! Azkia benar-benar nggak nyaman pake baju kayak gini. Azkia pengen ganti baju." Azkia menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Tahan sebentar, sayang. Kamu bisa ganti baju setelah kita mengambil foto nanti. Hari ini adalah hari bahagia kakakmu. Setidaknya kamu harus tampil dengan penampilan terbaik, bukan?" Siska kembali merapikan tatanan rambut sang anak.
"Sudah, sudah! Kenapa buru-buru diganti, sih? Anak gadis Papah cantik bangat kalau pake baju begitu padahal." Candra ikut menimpali. Masih tak bisa menyembunyikan senyumnya melihat tingkah anak gadisnya.
"Berarti kalau nggak pake baju begini Azkia nggak cantik, yaa?"
"Iya!" jawab Siska dan Candra kompak. Keduanya memang selalu suka menggoda gadis mungil itu.
"Kakak! Mamah sama Papah nyebelin," aduh Azkia pada sang kakak, berharap mendapatkan dukungan dari pria tampan itu. Ia memeluk lengan kiri Fajar dengan wajah ditekuk.
"Kenapa? Memang benar kok apa yang Papah dan Mamah katakan."
Bugh!
Satu pukulan dari tangan kecil Azkia mendarat di lengan Fajar yang tadi ia peluk. Wajahnya terlihat semakin ditekuk. Padahal ia berharap mendapat dukungan dari sang kakak. Tapi bukannya mendukung, pria itu malah ikut-ikutan mengejeknya.
Menyebalkan.
"Kakak nyebelin! Azkia marah, Azkia mau pulang aja!"
Azkia langsung berlenggok pergi dengan langkah cepat. Berpura-pura ingin pulang. Tapi, Azkia melupakan satu fakta besar bahwa dirinya sama sekali tidak terbiasa memakai heels.
Azkia baru saja berada beberapa meter dari tempat ayah, ibu dan kakaknya saat ia tak sengaja menginjak kerikil hingga membuatmu tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Azkia memejamkan kedua matanya pasrah. Ia pasrah jika tubuhnya harus berakhir mengenaskan di bawah lantai.
Aneh.
Hingga beberapa detik kemudian Azkia sama sekali tidak merasakan sakit pada bagian tubuhnya karena mendarat di atas lantai. Ia bahkan tidak merasakan tubuhnya jatuh menghantam kerasnya keramik. Alih-alih tumbang, tubuhnya malah seperti sedang melayang.
Apa yang terjadi?
Perlahan Azkia membuka kedua matanya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Deg!
Jantungnya tiba-tiba berdetak menggila saat mendapati sebuah wajah tampan berada sangat dekat dengan wajahnya. Terlalu dekat hingga Azkia bahkan bisa merasakan tarikan dan hembusan napas pria itu. Kedua tangan sang pria melingkar memeluk pinggang ramping Azkia. Menahan tubuh itu agar tidak sampai jatuh ke lantai.
Azkia mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Mencoba mengembalikan kesadarannya yang entah menghilang kemana. Tubuhnya tiba-tiba saja kaku. Ia seakan lupa bagaimana cara bergerak. Bukan hanya Azkia, tapi juga pria itu.
Untuk beberapa saat keduanya tetap bertahan dalam pose itu, layaknya adegan romantis dalam sebuah film ataupun drama-drama romantic. Butuh waktu beberapa lama untuk mengembalikan kesadaran mereka. Beruntung, kewarasan sang pria kembali lebih dulu.
"Sudah gue bilang, hati-hati. Jangan sampai lo melukai diri lo sendiri!" alih-alih bertanya apakah Azkia baik-baik saja atau tidak, pria itu malah langsung mengomelinya.
Pria itu membantu Azkia menegakkan badannya. Memastikan gadis itu benar-benar sudah bisa berdiri sendiri tanpa perlu bantuannya.
"Dasar, gadis ceroboh! Jalan pelan-pelan kan bisa. Kenapa harus buru-buru, sih?" dumel pria itu lagi sambil menoyor pelan kening Azkia.
Ahh, Azkia hampir lupa. Kemarin Gibran memang mengatakan akan datang ke acara wisuda Fajar. Ia bahkan sudah menyiapkan kado untuk kakak Azkia.
Bibir Azkia bergerak-gerak seperti sedang mendumel tanpa suara. Ia menatap pria itu penuh kekesalan. Salah satu tangannya terangkat mengusap keningnya yang baru saja ditoyor pria kurang ajar itu.
"Kakinya nggak sakit, kan?" tanya Gibran dengan suara yang mendadak melembut.
Dumelan tanpa suara Azkia seketika terhenti digantikan degupan jantungnya yang semakin dan semakin menggila saat Gibran tiba-tiba berjongkok di depannya. Mengecek apakah kaki itu baik-baik saja atau tidak. Memastikan gadis itu tidak sampai keseleo.
__ADS_1
Bodoh!
Kenapa sih dengan jantungnya?
"Gue baik-baik saja. Jangan khawatir!"
"Lo selalu bilang baik-baik saja dan menyuruh gue untuk tidak perlu khawatir. Tapi faktanya lo selalu saja membuatku khawatir, Kia." Gibran yang sudah kembali berdiri menatap kedua manik Azkia dalam.
Lagi, Gibran tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Itu terlihat begitu jelas hingga Azkia bisa menyadarinya dengan mudah. Raut wajah penuh kecemasan Gibran selalu saja membuat Azkia merasa sangat bersalah.
"Maaf! G-gue akan lebih hati-hati kedepannya." Entah bagaimana kata-kata itu bisa keluar dari mulut Azkia.
"Lo sudah mengatakan kata-kata itu berulang kali. Tapi sampai sekarang lo masih saja selalu membuat diri lo berada dalam bahaya. Dasar, gadis bodoh!" Gibran terkekeh kecil di akhir kalimatnya. Dengan gemas ia mengacak-acak rambut Azkia saat melihat gadis itu kembali mendumel tanpa suara.
"Cantik," gumam Gibran tanpa sadar.
"Hmmm? Apa? Barusan lo bilang apa?"
"Nggak! Gue nggak bilang apa-apa," dusta Gibran.
Ia menoleh ke sembarang arah untuk menyembunyikan wajah meronanya. Jantungnya tak perlu ditanyakan lagi. Sejak pertama kali melihat Azkia tadi jantungnyanya sudah bertalu-talu di dalam sana. Apalagi saat melihat wajah mungil Azkia yang dipoles dengan make up tipis.
Gibran bahkan hampir kehilangan akal sehatnya saat membantu Azkia tadi. Melihat wajah cantik Azkia dalam jarak yang begitu dekat hampir membuatnya gila. Bibir mungil gadis itu yang berwarna merah alami membuat kewarasan Gibran menguap hampir tak tersisa.
Azkia benar-benar candu untuknya. Azkia adalah satu-satunya yang bisa membuatnya berubah 180° dari dirinya yang biasanya. Hanya Azkia yang mampu membuatnya seperti orang bodoh karena sering tersenyum sendiri hanya karena mengingat gadis itu.
"Cih!" Azkia berdecik kesal karena tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Assalamu'alaikum, Tante Om!" Gibran mencium punggung tangan Siska dan Candra sopan. Tak lupa mengucapkan selamat kepada Fajar yang terlihat semakin menawan dalam balutan toga.
"Wa'alaikumussalaam," jawab Siska dan Candra kompak.
"Ma syaa Allah! Anak Dewi dan Min Joo benar-benar sudah besar, yaa. Kamu terlihat sama persis seperti ayahmu." Siska mengelus lembut puncak kepala Gibran. Senyumnya merekah menyalurkan kasih sayang yang tulus.
Gibran hanya bisa tersenyum malu mendengar penuturan Siska. Salah satu tangannya terangkat mengusap tengkuknya mengusir canggung. Setiap kali ia bertemu orang yang mengenal ayahnya, semua pasti akan mengatakan hal yang sama. Bahwa ia terlihat begitu mirip dengan sang ayah. Itu berarti, ia mewarisi wajah menawan ayahnya.
Haruskah Gibran menyombongkan itu?
"Dulu Ibumu sangat ingin menjodohkan kamu dengan anak gadis Tante. Gibran mau nggak jadi menantu Tante?"
"Mah! Mamah apa-apaan, sih? Jangan bikin malu, deh. Gibran abaikan saja apa yang Mamah katakan. Mamah memang suka ngaco kalau ngomong." Azkia menatap sang ibu kesal. Tak bisa menyembunyikan rasa malunya.
Bagaimana mungkin ibunya bisa mengatakan kata-kata sememalukan itu?
"Azkia pasti mau. Iya kan, sayang? Lagian, memang ada gadis yang nggak akan suka sama Nak Gibran yang tampan ini?" Siska terlihat sangat antusias saat membicarakan perjodohan itu.
"Ada, Tante. Dan naasnya gadis itu adalah anak gadis Tante." Gibran membatin.
Miris.
"Mah!" desah Azkia semakin dongkol.
"Sudah, sudah! Ngomongin perjodohannya nanti saja. Mending sekarang kita ke studio foto dulu. Sebentar lagi antrian kita," potong Candra melerai.
"Bagaimana kabar Ayahmu? Kapan dia akan kembali ke Indonesia?" tanya Candra. Kini mereka berjalan beriringan menuju studio foto yang berada di seberang jalan.
"Alhamdulillah Appa sehat, Om. Katanya minggu depan Appa akan pulang untuk menghadiri pembagian raport."
Gibran tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya membayangkan kepulangan sang ayah. Apalagi ayahnya sendiri yang akan mewakilinya mengambil raport. Selama ini Vino-lah yang selalu datang ke sekolah sebagai wali Gibran.
"Syukurlah, baik-baiklah dengan ayahmu. Min Joo dan Dewi pasti bangga mempunyai anak sepertimu." Candra menepuk-nepuk bahu Gibran. Ada aliran kasih sayang yang menjalar dari sentuhan itu. Pun terpancar jua dari tatapan mata Candra.
"Aku mau jadi menantu Tante Siska dan Om Candra!" teriak Gibran dalam hati. Melihat kebaikan kedua orang tua Azkia membuatnya selalu mendapatkan kasih sayang yang sempat tidak ia dapatkan.
🍁🍁🍁
"Selamat datang, Tuan Muda, Nona Azkia," ucap enam pengawal yang berdiri berjejer di depan pintu utama mension dengan kompak. Tak lupa membungkuk sopan saat Azkia dan Gibran berjalan melewati mereka hendak memasuki mension.
Azkia tersenyum sebagai tanggapan atas sambutan mereka. Ia tidak mengucapkan apa-apa dan langsung berlenggok memasuki mension yang pintunya telah dibuka oleh dua dari enam pengawal yang menjaga pintu utama. Sungguh, Azkia benar-benar sudah tidak sabar ingin mengganti kebaya yang menyiksanya itu.
"Beraninya kalian menatap Kia! Jaga mata kalian atau aku akan mencongkelnya!" teriak Gibran emosi. Tatapan matanya menatap tajam keenam pengawal itu, layaknya seekor singa yang sudah siap menerkam dan mencabik-cabik mereka.
"Ma-maaf, Tuan. Kami tidak akan mengulanginya," ucap mereka ketakutan.
"Keparat sialan! Tidak ada yang boleh menatapnya lebih dari 3 detik. Mengerti?!" Gibran kembali berteriak. Ia benar-benar terlihat sangat emosi.
"Ba-baik, Tuan."
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku!" ucap Gibran mempertegas. Ia berlalu pergi setelah mengucapkan itu. Menyisahkan bulu kuduk keenam pengawal itu yang langsung meremang mendengar ancaman dari Tuan Muda mereka.
"Kami tahu, Tuan. Bahkan sebelum Tuan Muda mempertegasnya." batin mereka. Bahkan tak ada satu pun yang berani membuka mulut setelahnya.
Gibran masuk menyusul Azkia yang telah masuk lebih dulu. Melihat Azkia yang telah sampai di lantai dua membuat Gibran menghembus napas lega. Syukurlah, Azkia tidak sampai mendengar teriakannya tadi. Sepertinya gadis itu benar-benar sudah tidak sabar mengganti pakaiannya sampai ingin tiba di kamar Gibran secepat mungkin.
__ADS_1
"Gibran, kamu mau kemana?" tangan Gibran yang sudah bertengger di knop pintu hendak mendorong daun pintu untuk membukanya langsung terhenti saat mendengar suara seseorang.
"Bang Vino? Jam segini tumben Abang sudah ada di rumah?"
"Kamu mau kemana?" Vino mengulangi pertanyaannya.
"Yaa mau masuk ke kamarkulah, Bang. Emang mau kemana lagi?"
"Berduaan saja dengan Azkia di dalam sana?" Vino menarik kerah baju Gibran. Mencoba menginterogasi sang adik.
"Bran, boleh gue pinjam handuk lo? Gue mau sekalian mandi. Gue pinjam kamar mandinya boleh, kan?" Terdengar teriakan Azkia dari dalam kamar.
Tak lama kemudian pintu terbuka memperlihatkan Azkia di sana.
"Wow! Beautiful!" seru Vino saat melihat penampilan Azkia. Ia melirik Gibran berniat menggoda sang adik.
"Jaga matanya yaa, Bang!" Gibran langsung memberi peringatan.
Tak peduli itu adalah pengawal, teman, atau kakaknya sendiri sekalipun, bagi Gibran tak ada yang boleh menatap Kia-nya. Hanya dia yang boleh melakukan itu. Itulah yang Gibran coba proklamirkan kepada semua orang.
"Dia siapa?" Azkia berbisik pada Gibran yang kini berdiri menghalangi pandangan Vino pada Azkia.
"Dia Bang Vino, Abang gue."
"Abang? Bukannya lo anak tunggal?" Azkia masih setengah berbisik.
"Gue anak tunggal bukan berarti gue nggak bisa punya Abang, kan." Azkia berdecik kesal mendengar jawaban ambigu Gibran.
Azkia sudah berkali-kali datang ke mension itu. Tapi ini pertama kalinya ia melihat Vino. Bahkan saat mereka masih belajar bersama di mension itu, tak sekalipun Vino muncul di sana. Mereka memang sudah pernah bertemu sekali. Tapi mungkin itu tidak terhitung untuk Azkia karena saat itu ia sedang tertidur pulas. Hanya Vino yang melihatnya sementara Azkia tidak.
"Hay, Azkia! Perkenalkan, aku Vino Bramasta Hutama. Kakak Gibran. Kami saudara meski darah yang mengalir dalam tubuh kami berbeda." Vino memperkenalkan diri dengan ramah.
Azkia mengangguk-angguk mengerti. Sekarang ia baru tahu kalau Gibran ternyata mempunyai saudara angkat. Kakak angkat yang bahkan menyandang nama Hutama di belakang namanya. Azkia bisa menebak Vino tak pernah diperlakukan sebagai anak angkat, melainkan diperlakukan selayaknya anak kandung sendiri.
Itu pasti!
"Azkia Aqilla Candra. Salam kenal, Kak Vino." Azkia membalas uluran tangan Vino. Senyum ramahnya kembali bermekaran menghiasi wajah cantik itu.
"Azkia Aqilla Candra? Jangan bilang kamu adiknya Fajar! Muhammad Fajar Candra?" Vino terlihat terkejut. Azkia dan Gibran lebih terkejut lagi.
Bagaimana bisa Vino mengenal Fajar?
"Benar, Muhammad Fajar Candra adalah kakakku. Dia..."
"Dia wisuda hari ini, kan?" tebak Vino tepat sasaran.
Azkia mengangguk membenarkan.
"Wah, gila! Dunia emang sempit, yaa!"
"Abang mengenal Bang Fajar?"
"Tentu saja! Dia sahabat Abang. Dulu kami juga mengambil jurusan yang sama. Orang tua kita pun sudah bersahabat baik sejak dulu." Vino terlihat sangat antusias.
"Bagaimana? Sekarang Azkia sudah baik-baik saja, kan?" tanya Vino membuat suasana di sana tiba-tiba berubah drastis.
"Kak Vino," gumam Azkia. Ada potongan memori yang seakan mencoba terkuak kembali.
Wajah Azkia yang dipenuh senyuman beberapa detik yang lalu kini tampak suram tanpa ekspresi. Tidak ada lagi senyuman yang tersisa. Bahkan jejaknya pun tidak terlihat.
"Tidak! Aku tidak ingin mengingatnya!" Azkia menutup kedua telingatnya. Wajahnya mendadak panik ketakutan.
Gadis itu, kenapa menyimpan begitu banyak misteri?
"Hey, Kia! Lo kenapa? Kia!" Gibran langsung menangkap tubuh Azkia yang tumbang sebelum berhasil menghantam lantai.
"Kia!? Bang, Kia kenapa?" Gibran tak kalah panik melihat Azkia yang tidak sadarkan diri. Lagi-lagi Gibran melihat betapa misteriusnya seorang Azkia.
"Kita bawa Azkia ke rumah sakit. Aku akan menghubungi Fajar." Gibran mengangguk setuju. Dengan mudah ia mengangkat tubuh mungil Azkia dalam gendongannya.
Kenangan masa lalu bersama seseorang yang berharga tidak hanya bisa menjadi memory berharga untuk dikenang setelah perpisahan, tapi juga bisa menjadi parasit yang selalu siap menggerogoti hati setiap detik setelah tak ada lagi pertemuan. Perpisahan, memang selalu sekejam itu.
~
~
~
~
Semoga kalian suka.😉😙
Please support Author dengan Like, Vote dan Komen, yaa!😉🤗😍
__ADS_1