
Happy Reading !😉😙
"Sudah tahu jatuh sudah pasti akan sakit, namun banyak yang lebih memilih untuk tetap jatuh. Sudah tahu akhirnya akan tersakiti, tapi tetap memilih untuk mencintai. Sudah tahu cintanya tidak akan terbalaskan, namun masih tetap dengan tulus memberikan cintanya tanpa ragu."
~Azkia, Gibran, Arta, Fikri, Hendry, Putri, Citra~
***
Senin kembali menyapa. Memaksa setiap insan mengakhiri segala aktivitas di akhir pekan. Para pekerja kembali sibuk dengan pekerjaan mereka di tempat kerja masing-masing, para ibu rumah tangga sibuk dengan pekerjaan rumah, sementara para pelajar kembali masuk ke sekolah dimana mereka sedang menimbah ilmu.
Para kaum rebahan pun mau tidak mau harus bangun untuk melanjutkan hidup. Menyudahi acara bermesraan dengan selimut hangat dan kasur empuk mereka. Mengakhiri acara kencan mereka dengan sang zona nyaman.
"Azkia berangkat !" kata Azkia yang kini meminum air minumnya dengan sedikit terburu-buru.
"Bekalnya, sayang !"
Azkia yang sudah hendak berlari keluar pun kembali berbalik. Meraih kotak bekal makan siangnya dan juga botol air minum miliknya di atas meja makan. Ia memasukkannya ke dalam ranselnya kemudian kembali berpamitan dengan benar sebelum benar-benar berlari keluar rumah.
Candra dan Siska hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak gadis mereka. Ahh, padahal gadis itu baru saja keluar rumah sakit kemarin sore tapi dia terlihat begitu sehat sekarang. Sama sekali tidak terlihat ada tanda-tanda seorang pasien yang baru saja sembuh.
Gadis itu kembali penuh semangat seperti biasanya.
Selalu seperti itu !
"Arta ! Ayo berangkat !" teriak Azkia yang baru saja memasuki rumah Caca. Ia bahkan tidak mau repot-repot mengucapkan salam atas setidaknya mengetuk pintu lebih dulu.
Dasar gadis laknat !
"Arta lagi ambil tasnya di atas, sayang !" sahut Caca yang baru saja keluar dari kamarnya.
Azkia mengangguk mengerti. Ia tersenyum lebar menatap Caca tanpa dosa. Padahal jelas-jelas dia sedang melakukan kesalahan dengan masuk ke rumah itu tanpa melepas sepatunya.
"Tumben kamu cepat siap ?" Arta yang masih berada di anak tangga menatap Azkia penuh keheranan. Padahal biasanya setiap pagi ia harus melatih kesabaran karena dibuat menunggu oleh gadis pecicilan itu.
"Iya dong ! Emang kapang aku telat ?" ucap Azkia bangga.
Arta berdecak sementara Caca hanya tertawa melihat tingkah Azkia.
"Sudah, berangkat sana !" suruh Caca penuh sayang. Tak lupa mengelus lembut puncak kepala Azkia.
"Yak ! Aku sudah bilang jangan pake sepatu masuk ! Bandel bangat, sih !" dumel Arta yang baru menyadarinya.
Yang ditegur hanya cengengesan tanpa rasa bersalah. Dan tidak ada yang bisa Arta lakukan selain mendengus jengah. Itu pun hanya sesaat karena beberapa detik kemudian ia sudah kembali seperti biasa, seakan-akan Azkia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun. Ia selalu tidak bisa marah kepada gadis itu.
Gadis itu terlalu menggemaskan untuk diomeli !
Sekolah sudah ramai saat mereka memasuki gerbang sekolah. Padahal mereka bahkan sudah berangkat sebelum pukul tujuh tadi. Namun itu wajar saja karena hari ini adalah hari Senin. Hari dimana semua yang bergelar siswa-siswi atau pun guru harus sudah berada di sekolah lebih cepat dari hari-hari biasanya.
Itu karena hari ini mereka akan menjelma menjadi jemuran yang harus dijemur di bawah terik matahari pagi selama puluhan menit. Yang katanya momen paling baik untuk menyerap vitamin D dari pancaran Sang Mentari. Namun bagi seluruh siswa-siswi lebih menganggap itu adalah sebuah cobaan berat.
Mengenaskannya lagi, setelah itu yang terjadi malah baju mereka basah oleh keringat dan menyisahkan bau matahari di sekujur tubuh. Tidak heran jika banyak dari jemuran-jemuran itu yang memilih kabur daripada harus dijemur.
Pria berperawakan tinggi tegap dengan wajah tampan yang baru saja mendudukkan bokongnya di atas kursi miliknya terdengar menghembus napas berat. Tubuhnya yang sedang disandarkan di sandaran kursi sedikit miring ke samping untuk menoleh. Menatap kursi di sampingnya yang tak kunjung diduduki oleh sang empunya.
Sial !
Lagi-lagi dia dibuat kelimpungan karena tidak bisa melihat sosok itu setelah berhari-hari. Ia ingin memastikan gadis itu baik-baik saja. Ia ingin memastikan wajah gadis itu selalu dihiasi senyuman manis.
"Lo nggak ikut upacara ?" tanya Hendry yang sejak tadi hanya menatap Gibran dari kursinya.
"Nggak !" jawab Gibran sekenannya. Nyatanya, pikirannya tidak benar-benar sedang berada di sana.
"Okay !" Hendry tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
Wajahnya memang selalu hemat ekspresi seperti biasa, ia berlagak seakan ia sama sekali tidak terusik dengan perubahan sikap Gibran selama satu minggu ini. Padahal hatinya sudah meraung-raung ingin melampiaskan kekesalan.
Tapi, ia harus marah pada siapa ?
Gibran ?
__ADS_1
Gadis itu ?
Atau pada dirinya sendiri yang tidak becus menjaga adiknya itu ?
Ahh, Hendry benci berada di posisinya sekarang. Posisi yang membuatnya merasa serba salah. Semua pilihan yang ada selalu saja harus menyakiti dua hati sekaligus. Namun jika ia tidak memilihnya, akan ada lebih banyak lagi hati yang akan hancur.
Sunyi...
Gibran duduk termenung di kursinya. Kelas sedang dalam keadaan tak berpenghuni selain oleh dirinya. Seluruh siswa-siswi sedang mengikuti upacara. Kegiatan wajib seluruh pelajar di hari Senin.
Hah !
Hembusan napas berat darinya terdengar begitu menyesakkan. Seakan ada begitu banyak luka yang ikut menguap bersama dengan hembusan napas itu.
"Sebenarnya ada apa denganmu ? Seberapa besar rasa sakit dari masa lalu yang masih bersarang di hatimu ?" Gibran bergumam gusar.
"Tidak bisakah kau berbagi sedikit saja rasa sakit itu kepadaku ? Aku ingin setidaknya sedikit saja bisa mengurangi bebanmu. Aku ingin setidaknya berguna untukmu, Kia !" lanjutnya.
Gibran mengusap wajahnya yang dipenuhi kekhawatiran dengan sedikit kasar. Mencoba mengusir sedikit saja rasa khawatir itu. Ahh, padahal dia belum pernah seperti itu sebelumnya. Selama ini ia bahkan tidak peduli dengan siapa pun yang ada di dekatnya.
Namun semua berubah sejak ia bertemu dengan Azkia. Gadis pecicilan yang membuatnya langsung tertarik sejak pertama kali melihatnya. Gadis yang ia lihat di rumah Arta beberapa tahun lalu. Saat itu, hubungannya dengan Arta masih baik dan ia berkunjung ke rumah pria itu.
Disanalah ia melihat Azkia untuk yang pertama kalinya. Sayangnya, setelah itu ia tidak pernah lagi melihat Azkia. Namun bayangan wajah manisnya masih tetap membekas di dalam ingatan Gibran. Hingga akhirnya mereka kembali dipertemukan di sekolah itu beberapa bulan yang lalu.
Benang takdir diantara mereka ternyata masih terhubung, hingga akhirnya mempertemukan mereka kembali. Melanjutkan kisah yang sebelumnya masih nge-stuck di awal cerita. Merangkai jalan cerita untuk mencapai klimaks, hingga sampai di akhir kisah atau prolog.
Namun sayang, lagi-lagi fakta kejam menamparnya tanpa rasa malu. Fakta bahwa dia bukanlah pemeran utama pria di dalam kisah perjalanan hidup gadis itu. Ia hanyalah pemeran pembantu yang perannya mungkin hanya sekedar lewat.
Bertemu dengannya, kemudian jatuh hati padanya, mencintainya sepenuh hati, mencoba memperjuangkannya, namun tetap memendam rasa, yang pada akhirnya hatinya akan hancur berantakan. Menyisahkan pilu dan rasa sakit yang tak tertahankan.
Bodoh ?
Yah ! Katakanlah seperti itu !
Karena sejak awal ia sudah tahu akhir ceritanya akan seperti apa. Ia tahu bahwa kisah cintanya akan berakhir tragis. Namun bodohnya ia masih tetap ingin berjuang. Mencoba mengejarnya hingga akhir. Mencoba menarik perhatiannya sedikit saja.
Gibran ingin mempercayai sekali lagi. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Mencoba mempercayai segala kemungkinan hingga akhir.
Tak apa rasanya tak terbalaskan. Gibran hanya ingin Azkia sedikit saja menoleh padanya. Memberinya senyuman tulus dan berkata 'Aku bahagia mengenalmu'. Bagi Gibran, itu sudah lebih dari cukup.
Hanya itu !
Ahh, ternyata mencintai sesakit itu !
Anehnya, meski sudah tahu akan sesakit itu orang-orang masih tetap ingin mencintai dengan tulus. Bahkan rela memberikan seluruh cintanya kepada dia yang ia cintai tanpa memaksa untuk mendapatkan balasan.
Orang-orang yang mencintai dengan tulus itu...
Selalu bisa tetap tersenyum lebar dengan wajah yang bersemu merah dan jantung yang berdegup kencang meski orang yang ia cintai mencintai orang lain. Menyesakkan namun mereka tetap bahagia karena telah mencintai.
Yah !
Cinta memang seaneh itu !
Pletaak...
Gibran yang sedang duduk bersandar di kursinya dengan kedua mata yang sengaja dipejamkan seketika menegakkan punggungnya saat sebuah jitakan maut mendarat mulus di puncak kepalanya. Ia mendongak dengan tatapan mata penuh amarah. Berniat membalas atau setidaknya mengomeli pelaku jitakan itu.
Namun sebelum ia berhasil melakukannya, seseorang jauh lebih dulu mengomelinya. Layaknya seorang ibu-ibu rempong yang melihat anaknya bandel. Tidak hanya mulutnya yang sibuk mengocek panjang kali lebar, tapi salah satu tangannya pun sudah menjelma menjadi capit kepiting yang menempel di telinga Gibran.
Gibran mengaduh kesakitan namun itu sama sekali tidak berpengaruh pada gadis yang kini tengah membacakan khutbah.
"Lo kenapa nggak ikut upacara, nyet ?" tanya Azkia yang lebih tepat disebut teriakan. Lihat saja, seluruh pasang mata di kelas itu menoleh padanya.
"Kia, lepasin ! Sakit, tau !" Gibran balik berteriak.
Gibran tidak berbohong saat mengatakan itu sakit. Karena Azkia benar-benar menarik telinganya dengan kuat. Tidak tanggung-tanggung, telinga Gibran kini bahkan terlihat sudah memerah.
"Okay, okay ! Gue salah. Gue janji tidak akan mengulanginya lagi ! Puas ?"
__ADS_1
Azkia akhirnya melepaskan tangannya setelah mendengar pengakuan Gibran. Ia terlihat tersenyum penuh arti sambil menatap Gibran yang malah memasang wajah dengan ekspresi yang sebaliknya. Pria itu masih mengusap-usap telinga kanannya yang terasa sakit.
Azkia duduk di kursinya. Mengisi kekosongan yang tercipta sejak satu minggu terakhir. Gadis itu benar-benar tidak masuk sekolah selama satu minggu full. Sepertinya dia benar-benar telah berhasil membuat Gibran khawatir setengah mati.
"Yaak ! Lepasin, nggak ! Tangan lo berat !" kali ini Gibran yang menjahili Azkia. Azkia tampak kesulitan melepas lengan Gibran yang kini melingkar di lehernya.
"Katanya lo sakit. Sakit apa ?" tanya Gibran tanpa melepaskan rangkulannya. Nada bicaranya memang terdengar santai, namun percayalah hatinya meronta mengharapkan semua baik-baik saja.
"Demam" jawab Azkia sedikit ketus. Ia memanyunkan bibirnya kesal. Ia bahkan tidak mau lagi capek-capek untuk melepaskan tangan Gibran. Kekuatannya jelas hanya seuprit dari pria itu. Yang artinya ia tidak akan bisa menang darinya.
Menyebalkan !
"Demam doang lo sampai seminggu nggak masuk sekolah ? Cih ! Cemen bangat, sih !" cerocos Gibran panjang lebar.
Itu jelas-jelas bukanlah Gibran yang biasanya !
Pria yang biasanya selalu memasang wajah kaku tanpa ekspresi dan tatapan dingin sedingin balok es, tiba-tiba bicara panjang lebar. Itu jelas ada yang salah. Kalau bukan salah minum obat berarti dunia benar-benar sudah hampir kiamat.
"Lo pikir demam nggak termasuk sakit ? Cih !"
Azkia bisa melihat ada kekhawatiran besar terpancar dari wajah tampan yang biasanya dingin yang kini tengah memamerkan senyuman manis. Bibirnya memang melukiskan senyuman, namun matanya jelas mengatakan hal yang sebaliknya.
"Gue baik-baik saja, jangan khawatir !" ucap Azkia mencoba menenangkan.
"Siapa juga yang khawatir !"
"Kalau begitu singkirkan tangan lo !" pintah Azkia dengan wajah yang terlihat semakin kesal.
"Siapa yang khawatir, katamu ? Jadi, untuk apa kau langsung mengecek suhu tubuhnya setelah ia mengatakan demam ?" batin Hendry yang sejak tadi hanya diam di tempatnya.
Tanpa Azkia dan Gibran sadari, sejak tadi banyak telinga yang sedang terfokus mendengarkan percakapan mereka. Dan salah satu dari orang-orang tersebut adalah Hendry sendiri. Ia semakin dibuat khawatir dengan adiknya itu.
Bagaimana jadinya hatinya kelak saat semua telah sampai pada ending cerita ?
Apakah dia akan baik-baik saja melihat gadis yang ia cintai sepenuh hati itu pun mencintai pria lain dengan sepenuh hatinya ?
Hendry harus melakukan sesuatu, bukan ?
Ia tidak boleh diam saja melihat Gibran yang semakin hari semakin dekat melangkah ke arah jurang kehancuran. Hendry tidak bisa diam saja melihat Gibran hancur tepat di depan matanya. Hendry tidak mungkin membiarkan Gibran merasakan kehancuran lagi. Sudah cukup saat Hendry melihat Gibran hancur saat ia kehilangan sosok ibunya untuk selamanya. Yang juga menjadi hari terakhir persahabatannya dengan Arta.
Hendry, Putri dan Citra masih memfokuskan netra mereka pada Azkia dan Gibran. Meski tidak menoleh, tapi Arta dan Fikri yang tengah menatap lurus ke papan tulis pun sebenarnya tidak benar-benar sedang fokus dengan pelajaran. Kedua telinga mereka masih terfokus untuk mendengarkan percakapan dua manusia yang duduk di bangku belakang mereka. Padahal kedua orang itu bahkan sudah tidak bercakap-cakap lagi dan memilih fokus dengan guru yang sedang menjelaskan pelajaran di depan sana.
"Aku benar-benar ingin mengetahui perasaan kamu yang sebenarnya, Azkia. Entah mengapa aku masih meragukan bahwa kau benar-benar mencintai Arta. Karena ucapan dan tingkahmu menunjukkan dua hal yang berbeda dan saling bertolak belakang. Mulutmu mengatakan mencintai Arta, tapi tingkahmu dengan jelas menunjukkan kenyamanan berada di dekat Gibran !" batin Citra.
"Padahal jelas-jelas Gibran mencintaimu sebesar itu, Azkia. Mengapa kau bahkan tidak bisa menyadari perasaannya padamu ? Cinta sebesar itu sama sekali tidak nampak di matamu karena dibutakan oleh Arta, bukan ? Ahh, mungkin ini terdengar kejam tapi sungguh Arta tidak mencintaimu. Dia memang selalu menatap ke arahmu, tapi itu bukanlah tatapan cinta. Itu hanyalah tatapan seorang kakak kepada adiknya. Tidak lebih, Azkia ! Ahh, mengapa cinta harus serumit itu ? Aku hanya tidak ingin ada hati yang kelak akan tersakiti !" Putri membatin. Tatapan matanya masih terfokus pada Azkia dan Gibran.
"Berhenti mencintainya, Gibran ! Dia tidak mencintaimu. Dia mencintai pria lain. Jadi berhentilah sekarang sebelum semuanya semakin runyam ! Berhenti membawa dirimu sendiri ke tepi jurang yang kelak akan menghancurkanmu ! Karena pada akhirnya, kau dan dia akan tetap tersakiti. Tak peduli kalian berakhir bersama atau pun tidak" terdengar hembusan napas berat dari Hendry. Pria itu memilih mengalihkan pandangannya dari Azkia dan Gibran dan menatap ke luar jendela di sampingnya.
"Azkia, beruntung sekali kau bisa menjadi seseorang yang selalu dikhawatirkan Gibran. Aku selalu iri padamu karena itu. Dulu sekali, aku juga pernah berada di posisi itu. Bodohnya, aku mengacaukan semuanya. Memang benar, cinta selalu menjadi parasit dalam sebuah persahabatan !"
Tatapan mata pria itu jelas menatap lurus ke depan, namun tidak dengan pikirannya yang malah menoleh ke belakang. Pulpen yang sejak tadi digenggamnya hanya diputar-putar tanpa menorehkan setitik coretan pun di atas kertasnya. Kertas putih itu bahkan masih nampak polos dan suci. Tak ada sedikit pun noda di atasnya.
"Sudah aku duga, kamu belum bisa benar-benar melupakannya. Namanya ternyata masih tersimpan apik di sudut hatimu. Matamu memang tidak menatapnya, tapi hatimu dengan jelas meneriakkan namanya berulang kali. Jadi, apa artinya aku bagimu ? Apa sejak awal aku memang hanyalah sebagai pelarianmu ?"
Pria itu menatap sosok anak manusia yang duduk di sampingnya dengan tatapan sendu. Ada guratan kesedihan yang terpancar jelas dari kedua mata indah itu. Wajahnya pun turut mempertegas bahwa suasana hatinya sedang tidak baik. Rasanya ia ingin menangis saja sekarang. Berlarin pun percuma, karena hati dan pikirannya seluruhnya telah dipenuhi oleh anak manusia itu.
Sudah tahu jatuh sudah pasti akan sakit, namun banyak yang lebih memilih untuk tetap jatuh. Sudah tahu akhirnya akan tersakiti, tapi tetap memilih untuk mencintai. Sudah tahu cintanya tidak akan terbalaskan, namun masih tetap dengan tulus memberikan cintanya tanpa ragu.
Cinta memang seajaib itu !
Semoga kalian suka !😉😙
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ! Please support author dengan VOTE, LIKE dan COMMENT, yaa ! Bintang limanya juga jangan lupa !😉😙🤗
Maaf karena mungkin kedepannya akan jarang update ! Tapi, semoga saja author bisa membagi waktu dengan baik di tengah kesibukan nanti. Jadi, setidaknya masih bisa update meski jarang.
Jangan bosan menunggu AFTER A LONG TIME, yaa !😉😉🤗
See you next part ! Semoga kita bisa secepatnya bertemu lagi di part selanjutnya !😉🤗
__ADS_1
👋👋👋