AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 13. Cinta atau Obsesi ?


__ADS_3

Happy Reading !😉😙


"Kesimpulannya adalah cinta mendatangkan kebahagiaan, sementara obsesi mendatangkan penderitaan karena sebuah paksaan."


***


Azkia mengekori Arta dan Fikri menaiki anak tangga rumah Arta menuju lantai dua. Lebih tepatnya menuju kamar Arta. Dengan hati-hati Fikri membantu Arta untuk membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk milik pria itu.


Azkia ikut duduk di pinggir kasur di sisi yang berbeda dengan Fikri. Pria itu terlihat sangat mengkhawatirkan Arta. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang dengan jelas menggambarkan kecemasan. Azkia bisa melihat bagaimana Fikri menatap Arta dengan alis yang saling menaut, menandakan pria itu benar-benar sedih melihat keadaan Arta sekarang.


Ketiganya kompak menoleh pada sosok wanita cantik berjilbab panjang yang baru saja masuk ke kamar itu. Azkia dan Fikri tersenyum pada wanita itu yang kini melakukan hal yang sama. Hanya saja, Azkia seperti menyadari sesuatu sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di rumah itu.


Caca seperti tidak menyukai Fikri.


"Bunda, biar Azkia bantu !" Azkia mengambil alih nampan yang tadi dibawa Caca.


"Terima kasih, sayang !" kata Caca dengan senyum ramahnya.


Namun saat wanita itu menoleh pada Fikri senyum ramah itu langsung lenyap hingga hanya menyisahkan garis lurus. Azkia tidak mengerti apa yang terjadi dengan mereka. Tapi tatapan ketidaksukaan Caca terpancar jelas dari kedua matanya.


"Kamu bisa pulang sekarang ! Terima kasih sudah mengantar Arta pulang !" ucap Caca dengan wajah tanpa ekspresi.


Demi ribuan bintang di langit, itu pertama kalinya Azkia melihat Bunda Caca menatap seseorang dengan tatapan penuh kebencian dan berbicara dengan nada yang sangat dingin. Padahal yang Azkia tahu, itu adalah pertama kalinya Fikri datang ke rumah Arta. Tapi kenapa Fikri malah sudah mempunyai bad impression di mata Caca ?


Sebenarnya ada apa dengan mereka ?


"Bunda ! Bunda apa-apaan, sih ? Kalau nggak ada Fikri aku nggak tau akan jadi apa. Bisa-bisanya Bunda bicara seperti itu pada Fikri !"


Lagi-lagi Azkia dibuat semakin tercengang. Itu benar Arta yang Azkia kenal, kan ? Bagaimana mungkin kata-kata itu bisa keluar dari mulut seorang Arta ?


Dan lagi, yang dia ajak bicara adalah Caca bundanya sendiri. Kerasukan setan apa pria itu ? Arta yang ia kenal sangat berbakti kepada bundanya. Arta yang ia kenal adalah pria yang tidak akan mungkin berbicara seperti itu kepada bundanya sendiri. Itu adalah pertama kalinya Azkia melihat Arta seperti itu.


Kenapa ?


Kenapa Arta sampai membentak bunda Caca hanya karena ingin membela Fikri ?


Tidak !


Azkia bukannya tidak suka Arta membela Fikri. Arta tidak salah karena membela Fikri. Tapi dia salah karena sampai membentak bundanya.


"Arta ! Nggak sampai ngebentak bunda juga kali ! Bicara baik-baik kan bisa !" Azkia tidak bisa diam saja. Ada yang salah dengan mereka.


Tidak adakah satu orang pun yang ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Azkia ?


Kenapa ada begitu banyak rahasia yang tidak Azkia ketahui ?


Kenapa semua orang seakan kompak menyembunyikan banyak hal darinya ?


"Kalau gitu saya pamit pulang, tante !" pamit Fikri.


"Gue antar ke depan, yaa !" Fikri mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban.


Keduanya keluar dari kamar itu menyisahkan Caca dan Arta. Semakin Azkia mencoba mencerna semua yang terjadi hari ini, kepalanya malah terasa semakin sakit. Permasalahan mereka bukanlah soal Matematika, Kimia ataupun Fisika yang sesulit apapun itu pasti bisa terselesaikan jika dikerjakan dengan rumus yang tepat.


"Gue tidak tau ada masalah apa lo dengan Bunda, dan gue tidak akan bertanya apa karena gue yakin lo tidak akan menjawabnya. Tapi terlepas dari apa yang terjadi hari ini, gue cuma mau bilang kalau Bunda bukanlah orang yang akan membenci seseorang tanpa alasan !" Azkia menatap Fikri serius.


Pria itu tersenyum seakan membenarkan apa yang Azkia katakan.


"Kamu benar, Azkia ! Tante Caca tidak menyukaiku memang karena sebuah alasan"


"Kalau gitu, aku balik yaa ! Aku titip Arta !" Azkia mengangguk sambil melambaikan tangannya kepada pria berambut pirang itu.


"Titip ? Kayak Arta pacar lo aja, Fik. Ck ck ck !" Azkia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.


Azkia kembali ke lantai dua rumah Arta setelah Fikri keluar dari gerbang rumah itu dengan mobil mewahnya.


"Istighfar, nak ! Itu salah. Kamu nggak boleh kayak gitu, nak !" terdengar isakan Caca di akhir kalimatnya.


"Kamu sendiri tau itu dosa, nak ! Kenapa kamu seperti itu ? Bunda mohon hentikan, Arta !"


Azkia yang baru saja akan masuk ke dalam kamar Arta memilih mengurunkan niatnya saat mendengar suara Caca yang berbicara dengan nada serius. Azkia menghentikan langkahnya sementara tangan kanannya menarik kembali daun pintu yang sebelumnya sudah sempat ia dorong. Mencoba memberi ruang privasi kepada ibu dan anak di dalam sana.


“Azkia ?” seru Arta dengan raut wajah terkejut yang terlihat begitu jelas.


“Nak Azkia ! Sudah berapa lama kamu di sana, sayang ?” tanya Caca dengan wajah tak kalah terkejut.


“Ahh, ma-maaf Bunda ! Aku nggak bermaksud menguping pembicaraan kalian. Seharusnya aku...”


“Jadi apa saja yang kamu dengar ?” potong Arta cepat.


“Aku hanya mendengar Bunda berbicara tentang dosa. Sebenarnya ada apa, Bun ?” Azkia menatap Arta dan Caca bergantian.


“Ahh, bukan apa-apa sayang ! Kalau gitu Bunda keluar dulu, yaa !” Azkia mengangguk mengiyakan meski hatinya meronta ingin mendengar penjelasan.


“Ta, sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan sampai membuat Bunda nangis ? Kamu nggak terlihat seperti Arta yang biasanya saja” Azkia ikut berbaring di samping Arta.


Arta tampak menghela napas berat. Membuatnya terlihat seperti sedang memikul beban yang teramat berat. Azkia semakin mengerutkan keningnya tidak mengerti.


“Soal Gibran. Apa kamu belum mau cerita apa yang sebenarnya terjadi dengan persahabatan kalian ?” Azkia menjeda.


“Baik Gibran, Hendry dan juga Fikri, mereka selalu bilang aku harus mendengar jawabannya dari kamu. Aku tidak mengerti mengapa harus seperti itu. Memangnya apa bedanya kalau aku mendengar jawabannya dari mereka ? Itu kamu atau pun mereka kan sama saja. Jawabannya akan tetap sama”


Lagi-lagi Arta menghela napas berat. Bahkan terdengar lebih berat dari yang sebelumnya. Azkia semakin dibuat kebingungan.


“Aku tidak yakin, tapi hatiku mengatakan bahwa jawaban atas pertanyaanku adalah alasan kenapa Bunda nangis. Right ?” Azkia menoleh pada Arta yang sejak tadi hanya diam sambil menghela napas berat.

__ADS_1


Pria itu mengangguk membenarkan.


Azkia ikut melakukan hal yang sama. Setidaknya dua puzzle yang berbeda telah menemukan pasangannya hingga bisa menyatu dengan tepat. Selebihnya akan Azkia rangkai satu-persatu.


“Maaf ! Tapi tolong beri aku waktu sedikit lagi ! Setelah aku cukup percaya diri untuk mengatakannya, aku akan langsung menceritakan semuanya padamu !” Azkia memamerkan senyum lebar andalannya sambil mengangguk semangat.


Mungkin wajahnya terlihat biasa saja, namun percayalah hati Azkia kini semakin meraung-raung meminta jawaban. Telinganya gatal ingin segera mendengar semuanya. Mulutnya ingin melontarkan ribuan pertanyaan yang jawabannya ingin sekali ia ketahui sesegera mungkin.


Sebenarnya apa yang terjadi ?


Apa rahasia besar itu ?


Kenapa Arta harus menunggu sampai ia sudah cukup percaya diri untuk menceritakannya ?


Kenapa Azkia harus menunggu lebih lama lagi ?


Kenapa bukan sekarang ia mendengar jawabannya ?


Rasanya seperti ada begitu banyak rahasia yang tidak Azkia ketahui. Rasanya ada begitu banyak puzzle yang berserakan tidak beraturan. Rasanya ada begitu banyak hal yang mereka sembunyikan darinya. Seperti ada begitu banyak hal penting yang telah Azkia lewatkan.


Tapi apa ?


Kenapa tidak ada satu pun dari mereka yang ingin mengatakannya kepadanya ?


Kenapa tidak ada satu pun yang ingin bercerita kepadanya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi ?


Azkia ingin mengetahuinya juga. Tapi kepada siapa ia harus bertanya ?


Kemana ia harus mencari jawabannya ?


“Bukankah kau harus segera pulang sebelum kak Fajar datang dan menyeretmu pulang karena tidur di kamarku ?”


Azkia yang kini menyandarkan kepalanya di dada bidang Arta pun mendongak menatap pria itu.


“Mereka tidak akan tahu kalau kau tutup mulut !”


“Tante Siska dan om Candra akan menceramahimu kalau mereka sampai tau !” ucap Arta lagi namun tidak ada jawaban dari Azkia.


Seulas senyuman tercetak indah di bibir Arta saat melihat wajah tenang Azkia yang kini memeluk lehernya erat seperti sedang memeluk boneka. Kepalanya ia sandarkan di dada Arta layaknya seorang istri yang sedang tidur dengan manjanya dalam pelukan sang suami.


Dasar Azkia !


“Jadi yang sedang sakit aku atau kamu, sih ? Kok malah kamu yang tidur. Ck ck ck !” Arta bermonolog. Dengan lembut ia mengelus kepala Azkia.


Sekali lihat pun orang akan langsung tahu bahwa pria itu amat sangat menyayangi Azkia.


🍁


Hiks hiks hiks...


Dua gadis lainnya terus menatapnya dengan wajah cengo melihat tingkah ajaib gadis itu. Keduanya mengerjab mata berkali-kali untuk memperjelas apakah yang mereka lihat sekarang memang benar adalah gadis yang sama dengan gadis yang mereka kenal selama ini.


“Film-nya nggak sesedih itu loh, Az ! Kok kamu nangis sampai segitunya, sih ?” tanya Citra hampir tidak mempercayai Azkia menangis tersedu-sedu hanya karena menonton film jika saja ia tidak menyaksikannya secara langsung.


“Aku yang masuk kategori cewek cengeng saja nggak sampai nangis kok. Lah, kamu ?” sambung Putri.


“Ihh, kalian ngomong apa sih ? Itu sedih bangat tau ! Kalian kok nggak nangis ? Sedih bangat padahal !” Azkia kembali menyeka air matanya yang masih mengalir deras padahal film-nya sudah selesai sejak sepuluh menit yang lalu.


Citra dan Putri menaikkan kedua alisnya mendengar jawaban Azkia. Dan melihat Azkia yang masih terus meneteskan air matanya benar-benar membuat mereka takjub. Keduanya tersenyum tidak habis pikir, Azkia si gadis tomboy pecicilan dan ceroboh ternyata memiliki hati selembut sutra.


Inseparable Bros adalah salah satu film Korea Selatan yang merupakan film yang diangkat dari sebuah true story. Film tersebut memang termasuk sad movie yang bercerita tentang persahabatan dua pria yang dipertemukan takdir di sebuah Panti Asuhan. Keduanya memiliki kekurangan, salah satunya menderita cacat fisik dan satunya lagi menderita cacat mental. Namun kekurangan itulah yang membuat keduanya menjadi sangat dekat dan saling membutuhkan.


Saat ini mereka sedang berada di kamar Citra. Jika kamar Azkia didominasi warna mocca, maka berbeda dengan kamar Citra yang malah didominasi warna pink. Malam ini mereka akan menginap di rumah Citra. Jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam namun mereka belum juga tidur.


“Azkia ?” Azkia menoleh pada Citra yang berbaring di sebelah kanannya.


“Hmm ?”


“Kamu beneran suka kan sama Arta ?” tanya gadis itu.


Azkia menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti.


“Tentu saja ! Kenapa memangnya, Cit ?” Azkia balik bertanya.


Ahh, bukankah jawabannya sudah jelas. Kenapa Citra tiba-tiba mempertanyakannya ?


“Baguslah ! Aku cuma takut kamu salah paham dengan perasaanmu sendiri” kali ini Putri ikut dibuat bingung dengan apa yang dikatakan Citra.


“Maksudnya ?” tanya Putri mewakili pertanyaan yang hendak Azkia lontarkan.


“Aku hanya tidak ingin perasaanmu itu ternyata bukanlah cinta melainkan obsesi. Aku takut rasa nyaman yang kamu rasakan bukan karena kamu benar-benar mencintai Arta tapi hanya sebatas rasa nyaman karena kalian sudah bersama sejak kecil” tutur Citra.


Suasana di sana tiba-tiba berubah serius. Azkia bungkam untuk beberapa saat. Mencoba mencerna dengan baik kata-kata yang diucapkan Citra. Entah berapa lama Azkia terdiam tanpa menanggapi Citra. Saat ia menoleh gadis itu telah terlelap dalam tidurnya.


“Az ?” panggil Putri lembut.


Azkia menoleh pada Putri yang berada di sisi kirinya. Ia tersenyum padanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Azkia pikir gadis itu sudah tidur.


“Aku memang tidak bisa melihat isi hati seseorang, tapi aku bisa menjamin kalau Gibran mencintaimu. Dia benar-benar mencintaimu, Az !” Azkia lagi-lagi hanya tersenyum untuk menanggapi Putri.


“Ahh, sorry kalau aku mengatakan hal yang malah membuatmu tambah bingung !” ucap Putri merasa bersalah.


“It's okay, Putri !” Azkia kembali memamerkan senyum lebar andalannya.


Bibirnya memang mengukir senyum lebar, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya sedang dirundung kebimbangan. Azkia bingung dengan dirinya sendiri. Dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


Benarkah ia benar-benar mencintai Arta ?


Apa selama ini ia hanya merasa nyaman karena sudah terbiasa bersamanya ?


Lantas bagaimana dengan Gibran ?


Azkia selalu bahagia jika berada di dekat Gibran. Meski Azkia harus mempunyai banyak haters dari fans pria itu tapi entah mengapa ia selalu merasa aman karena ada Gibran di sampingnya. Meski pria itu terkenal dengan image bad boy namun Azkia nyaman berada di sisinya.


Bukan hanya di samping Arta, namun Azkia juga merasa nyaman jika bersama Gibran.


Cinta atau obsesi ?


Azkia tidak mengerti !


ಠ_ಠ


"Azkia, jangan tidur ! Kamu bisa kena ceramah Abi, loh !" Azkia yang hampir dikuasi oleh rasa kantuk mencoba membuka lebar kedua matanya yang terasa begitu berat.


Mereka baru saja melaksanakan sholat Subuh berjamaah dan jam masih menunjukkan pukul lima pagi kurang lima belas menit. Dan kebiasaan buruk Azkia adalah tidur kembali setelah sholat Subuh. Yang naasnya hal itu adalah sesuatu yang haram hukumnya dilakukan di rumah Citra yang bernotabene keluarga yang sangat menjunjung tinggi ajaran agama Islam.


"Azkia ? Az, bangun !" Putri sampai harus menggoyang-goyangkan tubuh Azkia yang kini malah kembali tertidur.


"Huaa ! Nggak bisa, gue ngantuk bangat ! Lari pagi, yuk !" Azkia menatap Citra dan Putri bergantian dengan mata yang hampir tertutup kembali.


Putri dan Citra mengangguk setuju.


Dan di sinilah mereka sekarang. Lapangan umum yang berada sekitar satu kilometer dari rumah Citra. Mereka berlari-lari kecil mengelilingi lapangan hijau itu dengan semangat. Azkia yang berlari di depan Citra dan Putri sesekali membekap mulutnya sendiri saat kembali menguap.


Semua gara-gara pembahasan tadi malam yang membuatnya tidak bisa tidur. Semua adalah salah Citra dan Putri yang mengatakan kata-kata keramat yang malah membuatnya bingung tujuh keliling.


Braaakk...


"Auu..." Azkia merintih kesakitan saat kedua telapak tangannya tanpa malu mencium kerasanya aspal.


"Az, kamu nggak apa-apa ?" seru Putri dan Citra kompak. Keduanya membantu Azkia berdiri dan membersihkan celananya dari debu.


"Sorry, sorry ! Apa ada yang terluka ?" Azkia langsung menarik tangannya dari genggaman pria bertubuh tinggi atletis yang baru saja menabraknya.


Azkia mendongak untuk mencari tahu siapa pria tidak berperikemanusiaan yang baru saja menabrak tubuh mungilnya. Memang bukan sepenuhnya kesalahan pria itu, tapi hukum alam yang sudah dipatenkan mengatakan bahwa perempuan tidak pernah salah. Jadi, secara otomatis pria itulah yang bersalah.


"Azkia ?"


"Lo ?" seru Azkia yang tanpa sadar berteriak sambil menunjukan pria bertubuh tinggi atletis yang kini menatapnya tak kalah terkejut.


"Akhirnya kita bertemu lagi ! Apakah ini takdir ?" wajah Azkia berubah datar mendengar kata-kata pria bertubuh tinggi yang tingginya hampir dua kali lipat dari tinggi Azkia.


Dan melihat wajah berhias senyum sumringah itu malah membuat Azkia mual. Dari ribuan bintang di langit, dari miliaran people di muka bumi ini, dan dari sekian banyaknya member kebun binatang. Kenapa Azkia harus bertemu monster berkaki dua itu ?


Azkia mencoba mengukir senyum terpaksa.


"Takdir pala lo ! Ini mah azab !" gumam Azkia.


"Apa kamu tinggal di sekitar sini ?" tanya Alex dengan senyum lebar yang masih senantiasa menghiasi wajahnya.


"Ahh, benar ! Gue tinggal nggak jauh dari sini, makanya lari-lari pagi di lapangan ini !" jawabn Azkia masih mencoba memperlihatkan senyumnya yang sayangnya terpaksa itu.


"Benarkah ?" Azkia mengangguk bohong.


"Yaa nggaklah ! Gila aja gue tinggal di sekitar sini !" batin Azkia.


"Mereka temanmu ?"


"Bukan ! Kami hanya kebetulan bertemu di sini" jawab Azkia cepat sukses membuat Citra dan Putri menatapnya dongkol.


Alex mengangguk mengerti.


"Ahh, kalau gitu gue duluan yaa ! Bye bye !" Azkia langsung berlari meninggalkan Alex sebelum pria itu mencegahnya.


"Azkia ! Sampai jumpa lagi !" teriak Alex setelah Azkia berlari menjauhinya.


"Jangan sampai !" batin Azkia meraung.


Putri dan Citra yang sama sekali tidak mengerti mencoba mengejar Azkia.


"Jangan sampai orang gila itu tau kalian adalah temanku ! Aaaa...sial sial sial ! Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya, sih ?" kata Azkia bahkan sebelum Putri dan Citra bertanya.


"Sebenarnya dia siapa ? Kamu kok kayak nggak suka bangat sama dia ?" tanya Citra.


"Dulu kami sekolah di SMP yang sama. Dia mengaku cinta sama aku. Hampir setiap menit, ahh tidak ! Maksudku hampir setiap detik dia mengirim ungkapan cinta ke aku. Dia selalu mengejarku. Pokoknya dia gila ! Katanya cinta, tapi sepertinya dia malah terobsesi sama aku !" jelas Azkia tanpa menghentikan larinya.


Citra dan Putri mengangguk mengerti.


Cinta atau obsesi ?


Pernahkah kamu merasa teramat sangat menyukai seseorang sampai terpikir terus akan dirinya, sampai rela berusaha keras hanya untuk bisa mendekatinya ?


Cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta adalah anugrah yang mendatangkan kebahagiaan. Sementara obsesi adalah ide, pikiran, bayangan, atau emosi yang tidak terkendali, sering datang tanpa dikehendaki atau mendesak masuk dalam pikiran seseorang yang mengakibatkan rasa tertekan dan cemas.


Cinta membuat dua orang berjuang bersama, sementara obsesi hanya melihat kepentingan pribadi. Cinta membuat dewasa, tapi obsesi justru membuat seseorang bersikap sangat ‘kekanakan’. Cinta memberikan kebebasan, sementara obsesi justru suka mengatur dan mengekang.


Kesimpulannya adalah cinta mendatangkan kebahagiaan, sementara obsesi mendatangkan penderitaan karena sebuah paksaan.


Semoga kalian suka !😉🤗


Jangan lupa untuk memberikan support pada author berupa LIKE, VOTE dan COMMENT ! Jangan lupa bintang limanya juga, yaa !😉🤗😙😙

__ADS_1


__ADS_2