AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
30. True Love and True Friend


__ADS_3

Happy Reading!🤗😙


"Ada dua orang diluar keluarga yang akan rela melakukan apapun untukmu. Yang pertama adalah orang yang benar-benar tulus mencintaimu (true love), dan yang kedua adalah sahabat sejati (true friend). Jika kamu menemukan salah satu atau keduanya, maka jangan pernah sekali pun melepaskannya. Karena orang-orang itu adalah orang yang mungkin tidak akan pernah kamu temui dua kali."


~Geng Thunder~


***


"Jawab dengan jujur! Jangan bicara omong kosong. Kalian pikir saya akan percaya dengan murid-murid bandel seperti kalian? Cih!" Terdengar teriakan menggelegar dari pak Bahar, wali kelas XII IPS 1.


"Dari mana kalian mendapatkan bocoran soal ulangan semester kemarin? Kalian tidak mungkin bisa menjawab soal-soal itu tanpa melakukan kecurangan." Kali ini ibu Maya wali kelas XII IPA 8 yang angkat suara.


"Sabar Pak, Bu! Kita juga tidak boleh sepenuhnya menuduh mereka berbuat curang tanpa bukti." Pak Rahman ikut menimpali. Ia terpaksa ikut terseret ke ruangan itu karena dua murid dari kelasnya adalah anggota Geng Thunder. Parahnya lagi, Gibran dan Hendry adalah ketua dan wakil ketua geng itu.


"Cukup, Pak! Berhenti membela anak-anak kurang ajar ini! Mereka sudah pasti berbuat curang. Selama ini mereka bahkan tidak mampu menjawab satu soal ulangan pun. Bagaimana mungkin sekarang semua nilai mereka tiba-tiba di atas KKM. Itu sudah jelas karena mereka berbuat curang!" pak Bahar kembali berteriak. Tersulut emosi bahkan sampai menggebrak meja keras.


"Untuk apa kalian bertanya kalau ujung-ujungnya tidak percaya dengan jawaban kami. Sudah saya katakan, kami sama sekali tidak berbuat curang. Kami bisa menjawab soal-soal ulangan karena kami memang belajar." Gibran menjawab santai. Bahkan seolah-olah di sana sama sekali tidak terjadi apa-apa.


Pak Rahman menghembus napas gusar. Anak itu memang mempunyai tingkat keras kepala yang sudah melebihi kerasnya batu. Lihat saja, anak iblis itu bahkan duduk dengan santainya di salah satu kursi sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Padahal guru-guru di ruangan itu semuanya berdiri.


Di saat genting seperti ini ia masih saja berbuat seenaknya seperti itu. Benar-benar anak laknat. Tidak heran jika pak Bahar kebakaran jenggot melihatnya tingkahnya. Apalagi sejak dulu ia benar-benar membenci anak tunggal dari Direktur Sekolah SMA Nusantara itu.


Braakk...


"Omong kosong!" teriak pak Bahar semakin emosi.


🍁


"Breaking news, breaking news!" teriak Dino yang baru saja memasuki kelas dengan setengah berlari.


Semua mata langsung tertuju pada pria itu seakan bertanya, "ada berita apa?".


"Geng Thunder..."


Azkia yang sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja langsung menegakkan tubuhnya mendengar Dino menyebut nama Geng Thunder. Dia yang awalnya tidak tertarik dengan breaking news yang ingin disampaikan Dino mendadak ikut fokus mendengarkannya.


"Geng Thunder membuat Pak Bahar marah besar. Katanya semua anggota Geng Thunder mendapatkan nilai ulangan diatas KKM. Dan Pak Bahar meyakini mereka pasti melakukan kecurangan saat ulangan kemarin," jelas Dino menggebu-gebu.


Braakkk...


"SIALAN!"


Semua sontak menoleh pada gadis cantik berambut hitam panjang lurus yang tiba-tiba bangkit dari duduknya sambil menggebrak meja. Ohh, jangan lupakan umpatan yang keluar dari mulut mungil gadis bergelar golden student itu. Semua begitu terkejut melihat Azkia yang terlihat begitu marah.


"Azkia, tunggu! Jangan ikut campur urusan mereka," teriak Arta saat Azkia berlalu meninggalkan kelas. Ia mencoba mengejar gadis itu yang jelas sedang dikuasai amarah.


"Kenapa?"


"Kenapa Azkia begitu marah? Ada apa sebenarnya?"


"Azkia tidak sedang marah padaku, kan?" tanya Dino sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Jadi, benar Geng Thunder berbuat curang saat ulangan kemarin?"


"Kalau nilai mereka di atas KKM sudah jelas mereka pasti berbuat curang. Semua juga tahu anggota Geng Thunder bagaimana. Nilai mereka tidak pernah beres."


"Aku setuju."


"Diam kalian! Kalian semua tidak tahu apa-apa jadi berhenti sok tahu! Geng Thunder tidak seburuk yang kalian pikir. Malah orang-orang munafik seperti kalianlah yang jauh lebih buruk."


Satu kejutan lagi membuat seluruh siswa-siswi XII IPA 1 begitu terkejut. Putri, gadis pendiam yang selama ini bahkan tidak pernah banyak bicara di kelas tiba-tiba saja berteriak lantang tanpa ragu. Dia sama seperti Azkia yang terlihat begitu marah mendengar Geng Thunder dijelek-jelekkan.

__ADS_1


Ada apa sebenarnya?


Citra yang duduk di samping Putri bahkan dibuat begitu takjub melihat keberanian gadis itu. Gadis yang terkenal pendiam itu dengan berani menegur teman-teman mereka yang seakan menyalahkan Geng Thunder sepenuhnya. Padahal mereka sama sekali tidak benar-benar tahu bagaimana Geng Thunder yang sesungguhnya.


Citra yang masih murid baru bahkan bisa menyimpulkan bahwa Geng Thunder bukanlah geng yang buruk. Mereka tidak seburuk casing mereka. Mereka tak seburuk dengan apa yang orang-orang katakan. Citra dan Putri yang bahkan tidak begitu dekat dengan anggota Geng Thunder saja bisa tahu itu.


Bagaimana bisa mereka yang sudah lama mengenal Geng Thunder malah berpikir sepicik itu?


"Selama ini anggota Geng Thunder membuat Study Group. Dan Azkia yang menjadi guru private mereka. Karena itu tadi Azkia sangat marah mendengar apa yang Dino katakan. Aku dan Putri yang masih murid pindahan di sekolah ini bahkan bisa tahu bahwa Geng Thunder bukanlah orang-orang buruk seperti yang kalian pikir. Lantas mengapa kalian yang sudah lama mengenal mereka sama sekali tidak bisa benar-benar mengenal mereka dengan baik? Kalian hanya bisa bersikap sok tahu atas apa yang sama sekali kalian tidak tahu. Benar-benar menggelikan." Citra ikut mengeluarkan amarahnya. Meski ia masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak sampai berteriak.


Semua diam tak berkutik. Merasa tertampar dengan apa yang Putri dan Citra katakan. Malu dengan sikap sok tahu mereka yang aslinya memang sama sekali tidak mengenal Geng Thunder dengan baik. Mereka hanya menilai dari apa yang mereka dengar.


Memuakkan.


Putri dan Citra langsung meninggalkan kelas setelahnya. Meninggalkan mereka yang hanya diam tanpa suara. Wajah kesal, marah, malu, merasa bersalah tampak menghiasi wajah-wajah itu.


"Aku yang sejak awal tidak pernah menyukai Gibran dan Hendry saja tidak sampai berpikir sehina itu. Tapi kalian yang mengaku teman mereka malah mengatakan hal-hal menjijikkan itu." Fikri menjeda.


Ia tersenyum miring. Menatap semua dengan tatapan merendahkan.


"Dan kalian yang mengaku Gibran's Lovers, kalian semua benar-benar menjijikkan! Pantas saja selama ini Gibran tak pernah melirik satu pun dari kalian. Mau tahu kenapa? Karena kalian semua adalah perempuan murahan yang menjijikkan!" Fikri memang tersenyum saat mengucapkan kata-kata itu, tapi karena ia tersenyum menghina membuat semua terdengar begitu menohok.


Fikri ikut meninggalkan kelas setelah mengatakan itu. Ia muak dengan orang-orang munafik. Dan naasnya dia adalah salah satu dari member orang-orang munafik itu. Satu dan lain hal membuatnya tergolong kedalam kategori orang munafik itu.


Sial.


🍁


Braakkk...


Semua sontak menoleh saat pintu ruangan BK tiba-tiba terbuka dari luar. Karena pelakunya membuka dengan tidak manusiawi membuat daun pintu itu membentur dinding dan menciptakan suara benturan yang cukup keras.


"Azkia, apa yang kamu lakukan?" pekik pak Rahman melihat tingkah salah satu anak didiknya itu.


"Maaf Pak, Bu! Azkia, ayo keluar. Jangan ikut campur." Arta yang datang menyusul Azkia mencoba menarik tangan Azkia keluar. Sayangnya gadis itu adalah gadis kepala stone. Tidak akan mudah membuatnya menurut.


Benar saja, hanya dengan sekali hentakan Azkia berhasil melepas cengkraman Arta di kedua lengannya. Gadis itu sepertinya benar-benar terbakar amarah sekarang. Arta tidak bisa diam saja, atau gadis itu benar-benar melakukan hal-hal di luar dugaan. Dia tidak akan menyerah sebelum apa yang ia anggap benar menang.


"Maaf, Pak. Saya minta maaf karena sudah ikut campur dengan masalah ini. Tapi saya juga tidak bisa hanya diam saja saat melihat Bapak dan Ibu menuduh Geng Thunder berbuat curang saat ulangan kemarin. Itu jelas tidak benar, mereka sama sekali tidak berbuat curang. Hasil ulangan mereka murni hasil dari otak mereka." Azkia mengeluarkan pembelaannya.


"Lihat, siapa yang sedang bicara! Azkia Aqilla Candra Si Golden Student. Apa benar siswi tak punya sopan santun sepertimu pantas mendapatkan gelar itu? Bapak rasa kau tidak pantas, Nak. Untuk apa mempunyai otak cerdas kalau budi pekertinya nol. SMA Nusantara tidak butuh siswi sepertimu!" Mata pak Bahar tampak memerah menahan amarah.


Azkia sama sekali tidak merasa getir. Ia masih berdiri kokoh di tempatnya. Arta masih berupaya membujuk Azkia agar meninggalkan ruangan itu, namun sia-sia. Gadis itu benar-benar telah menjelma menjadi gadis batu sekarang.


"Pak Bahar, bagaimana mungkin Bapak bicara seperti itu pada seorang siswi? Kita dengarkan dulu penjelasan Azkia. Selama ini saya sudah mengenal Azkia dengan baik. Dia siswi yang baik. Azkia juga bicara dengan sopan. Dimana letak ketidaksopanannya, Pak?"


Pak Rahman tidak terima pak Bahar menghina anak didiknya. Ia jelas tahu bagaimana Azkia. Dia bukanlah siswi yang tidak tahu sopan santun seperti yang pak Bahar katakan.


"Apa kamu punya bukti mereka tidak berbuat curang saat ulangan kemarin?" tanya bu Maya menuntut.


"Kami membuat Study Group selama ini dan saya yang menjadi guru private Geng Thunder. Mereka bisa menjawab soal-soal ulangan kemarin bukan karena mereka curang atau pun mendapat bocoran soal. Mereka menjawabnya sesuai kemampuan mereka. Jika nilai mereka diatas KKM itu wajar karena mereka sudah bekerja keras selama ini. Jadi, Bapak dan Ibu tidak bisa menuduh mereka berbuat curang," jelas Azkia penuh keyakinan.


Ibu Maya dan pak Bahar tersenyum menghina mendengar penjelasan Azkia. Gadis mungil yang terlalu percaya diri itu sepertinya sama sekali tidak mengenal bagaimana tabiat Geng Thunder selama ini.


"Apa hanya itu yang bisa kamu katakan, Azkia? Bahkan jika mereka ikut Study Group, itu sama sekali bukan jaminan mereka tidak berbuat curang saat ulangan." Ibu Maya menatap Azkia dengan tatapan meremehkan.


"Apa kamu mempunyai jaminan mereka benar tidak melakukan kecurangan?" tanya pak Bahar.


"Saya yang akan menjadi jaminannya," jawab Azkia tanpa ragu.


"AZKIA!" pekik Arta, pak Rahman, Gibran dan seluruh anggota Geng Thunder juga Putri, Citra dan Fikri yang entah sejak kapan sudah ada di sana.

__ADS_1


"Okay! Sepertinya kamu begitu percaya diri, Nak Azkia. Kita akan mengetes ulang mereka. Kita lihat sampai dimana kemampuan mereka. Mari kita membuat kesepakatan terlebih dahulu. Jika mereka ketahuan berbuat curang saat ulangan, maka kamu harus meninggalkan sekolah ini."


"Pak Bahar, kesepakatan macam apa itu! Bagaimana mungkin Anda membuat kesepakatan seperti itu dengan seorang siswi!" Pak Rahman kembali memberi komentar ketidaksetujuannya.


"Baik! Tapi kalau mereka terbukti tidak berbuat curang, Bapak yang angkat kaki dari sekolah ini." Lagi-lagi Azkia menerima tantangan dari pak Bahar tanpa ragu.


"Kia, cukup! Lo apa-apaan, sih. Lo jangan konyol. Jangan ikut campur dengan masalah ini!" Gibran menghampiri Azkia. Ia mencengkram kedua lengan Azkia mencoba menyadarkan gadis itu.


"Setengah jam lagi kita berkumpul di aula. Guru-guru yang bersangkutan akan membuat soal baru terlebih dahulu." Ibu Maya kembali bersuara.


Semua bubar meninggalkan ruangan BK. Pak Rahman memilih mengikuti Azkia dan anggota Geng Thunder. Ia harus bicara dengan gadis itu. Kemana sebenarnya perginya rasa takut gadis itu? Mengapa ia menerima tantangan dari pak Bahar tanpa rasa takut atau pun ragu-ragu sedikit pun.


"Azkia, sebaiknya kamu membatalkan kesepakatan konyol itu. Ini sudah akan memasuki semester terakhir untuk kalian. Kamu tidak akan bisa pindah ke sekolah manapun. Tidak akan ada sekolah yang menerimamu. Bukan karena tidak ingin menerimamu, tapi karena surat-surat dan data kepindahanmu akan sulit diurus."


"Jangan khawatir, Pak. Semua akan baik-baik saja. Saya yakin mereka bisa membuktikan kalau mereka memang tidak berbuat curang saat ulangan kemarin."


Pak Rahman menghela napas gusar. Biar bagaimana pun ia tidak bisa sepenuhnya percaya dengan anggota Geng Thunder. Sedikit banyak ia sudah paham bagaimana tabiat semua anggota Geng Thunder. Tiga tahun menjadi guru mereka sudah cukup membuat pak Rahman tahu bagaimana mereka.


"Hah! Kalian harus melakukan yang terbaik. Jangan sampai Azkia bermasalah karena kalian. Pak Bahar dan Bu Maya tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka mau."


"Baik, Pak," jawab semua kompak.


Saat ini mereka sedang berada di taman belakang sekolah. Semua anggota Geng Thunder, Azkia, Arta, Putri, Citra dan Fikri juga ada di sana. Sementara pak Rahman sudah kembali ke ruang guru untuk mengawasi pembuatan soal.


Bughh...


Semua kompak meringis melihat Gibran yang tampak kesakitan. Ia bahkan terbatuk-batuk setelah satu pukulan keras mendarat tepat di ulu hatinya. Memang tidak sesakit mendapat pukulan saat sedang bertarung dengan geng lain, tapi tetap saja tinju kecil dari tangan mungil itu berhasil membuat Gibran kesakitan.


"Lo ngapain duduk saat semua guru berdiri, sialan? Lo pikir lo bisa melakukan apa saja karena lo anak tunggal dari Direktur Sekolah? Keparat, sialan!" Azkia mencengkram kuat kerah baju Gibran. Memaksa Gibran yang masih memiliki gen jerapah mau tak mau harus membungkukkan badannya.


Gadis itu ternyata tidak sedang main-main.


"Gu-gue minta maaf, gue nggak akan mengulanginya lagi." Gibran kembali meringis kesakitan saat ujung sneakers Azkia menghantam tulang keringnya kuat.


"Sialan!" Azkia kembali mengumpat. Ia akhirnya melepas cengkeramannya di kerah baju Gibran.


Gibran mengusap perutnya yang tadi ditonjok Azkia. Hendry dan Bimo yang sedang berdiri di sisinya hanya bisa meringis sambil menepuk-nepuk bahu Gibran. Ternyata Azkia menyeramkan juga kalau sedang marah.


"Sudah aku bilang, perempuan yang sedang datang bulan bisa lebih menyeramkan dari singa lapar. Jangan coba-coba mengusiknya." Bisik Arta yang juga berada tak jauh dari tempat Gibran berada.


Sial. Gibran lupa ini bahkan baru hari kedua Azkia. Pantas saja dia terlihat begitu menyeramkan. Semua yang tak sengaja mendengar bisikan Arta pun sontak ber-ohh riah. Akhirnya mengerti dengan perubahan sikap Azkia yang terlihat jauh lebih buas hari ini. Ternyata mode Singa Betina gadis itu memang sedang aktif.


"Waktunya tidak lama lagi. Gue percaya kalian bisa. Lakukan sesuai keinginan Pak Bahar. Buktikan kalau kalian memang pantas mendapatkan nilai tinggi. Buktikan kalau Geng Thunder bukanlah sampah seperti yang orang-orang pikirkan," kata Azkia membakar semangat mereka.


"Siap!" jawab mereka kompak.


"Sekarang waktunya kalian ke aula." Arta ikut menimpali setelah mengecek jam di pergelangan tangannya.


"SEMANGAT!" seru semuanya.


Ada dua orang diluar keluarga yang akan rela melakukan apapun untukmu. Yang pertama adalah orang yang benar-benar tulus mencintaimu (true love), dan yang kedua adalah sahabat sejati (true friend). Jika kamu menemukan salah satu atau keduanya, maka jangan pernah sekali pun melepaskannya. Karena orang-orang itu adalah orang yang mungkin tidak akan pernah kamu temui dua kali.


~


~


~


~Semoga kalian suka!😉😙


Jangan lupa tinggalkan jejaknya. Please support Author dengan cara LIKE, VOTE, COMMENT, dan kasih bintang limanya, yaa!😉😉😙

__ADS_1


See you next part!😉👋👋👋


__ADS_2