AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 15. Study Group


__ADS_3

Happy Reading !


"Sebelum memperjuangkan seseorang, pastikan orang itu memang pantas untuk diperjuangkan ! Jangan mau menjadi orang bodoh yang berjuang seorang diri ! Jangan menjadi orang menyedihkan yang memperjuangkan seseorang yang malah memperjuangkan orang lain !"


~Vino Bramasta Hutama~


***


Seorang pria berseragam formal menatap jam tangan di pergelangan tangan kirinya tanpa menghentikan langkahnya yang akan memasuki mension super mewah di depannya. Enam pengawal yang bertugas berjaga di depan pintu utama membungkuk hormat saat pria itu melewatinya.


Langkahnya sedikit terburu-buru hingga ia berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada keenam pengawal tersebut. Padahal biasanya ia akan mendumel jika pengawal-pengawal di keluarga Kim Min Joo yang umurnya beberapa tahun lebih tua darinya bertingkah terlalu formal kepadanya.


Jam masih menunjukkan pukul tiga sore saat pria itu sampai di mension mewah itu. Ia terpaksa berangkat dari kantor meninggalkan tumpukan berkas yang sudah hampir mengalahkan tinggi gunung Mahameru yang seharusnya ia cek satu-persatu hari ini. Pria itu langsung menuju mension mewah itu setelah mendengar kabar keajaiban terjadi di sana.


Ia sudah berada di anak tangga ketiga saat melihat Bi Nuya, kepala pelayan di mension itu. Membuatnya menghentikan langkah kakinya yang hendak menuju lantai dua dimana kamar anak dari pemilik mension itu berada.


"Jadi, si Iblis Kecil itu benar-benar sudah pulang ?" tanyanya.


"Benar, tuan !" jawab Bi Nuya dengan sedikit membungkuk hormat.


"Membawa seorang gadis ? Ke kamarnya ?" tanyanya lagi. Ia mencoba untuk tetap bersikap biasa saja namun tidak bisa. Kabar itu terlalu ajaib untuk bersikap biasa saja.


"Benar, tuan !"


Pria itu mengangguk mengerti sebelum melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga. Langkahnya semakin lebar saat kamar itu sudah terlihat.


Braakk...


Pria itu membuka pintu kamar Gibran tanpa meminta izin sang empunya terlebih duhulu. Dan kedua matanya sukses membulat sempurna saat melihat pemandangan yang menyambutnya tanpa malu.


Pintu kamar yang terbuka tiba-tiba membuat Gibran yang baru saja keluar dari kamar mandi menghentikan langkahnya. Pria yang baru saja membuka pintu kamarnya dengan seenak jidat itu menatap tubuhnya yang masih sedikit basah karena baru saja selesai mandi. Tubuh tinggi tegap atletis itu hanya terbalut sehelai handuk yang terlilit dari pusar hingga ke lututnya. Sementara kedua tangan Gibran masih sibuk menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk yang lain.


"Apa yang baru saja kau lakukan ?" tanya pria itu dengan berteriak.


"Harusnya aku yang bertanya, kenapa Bang Vino bisa ada di sini ? Bahkan masuk ke kamarku tanpa izin !" Gibran menatap Vino dengan ekspresi kesal.


Gibran mengikuti kemana arah mata Vino menatap. Ia menaikkan kedua alisnya saat baru menyadari sesuatu. Di sana, seorang gadis sedang tertidur lelap di atas ranjang empuk king size-nya. Hampir seluruh tubuh mungil gadis itu tertutupi selimut hangat milik Gibran hingga hanya menampakkan wajahnya saja.


Gibran menatap Azkia dan Vino bergantian. Kemudian menatap dirinya sendiri yang sedang bertelanjang dada karena ia baru saja selesai mandi.


Fix !


Vino salah paham !


Gibran memang menyuruh Azkia yang katanya mengantuk karena semalam tidak bisa tidur untuk tidur sebentar di kamarnya. Setidaknya masih ada waktu sebelum belajar bersama dimulai.


"Kamu ! Beraninya kamu melakukan hal sebejat itu !" Vino kembali berteriak seperti orang kesetanan.


"Aku akan melaporkannya pada Appa !" ucap Vino tidak main-main.


Tentu saja Gibran tidak akan tinggal diam. Dengan kasar ia merebut ponsel Vino saat pria itu hendak menelpon ayahnya. Gila ! Bisa tamat riwayat hidup Gibran kalau ayahnya sampai tahu. Tak peduli bahkan jika itu hanyalah sebuah kesalahpahaman.


Tidak !


Gibran tentu saja tidak mungkin melakukan hal bejat itu. Ia akui dia memang bukanlah orang baik. Dia pun bukanlah anak yang berbakti. Ia bahkan melakukan banyak kenakalan dan membuat banyak masalah di sekolah. Tawuran dengan geng lain, bahkan mematahkan tulang orang yang berani menantangnya. Dan masih banyak lagi kenakalan lainnya.


Ayahnya memang tidak pernah melarangnya. Ayahnya selalu memberinya kebebasan untuk melakukan apapun yang Gibran inginkan. Kecuali satu hal ! Kim Min Joo tidak akan memberinya ampun jika ia sampai berani menodai anak gadis orang lain di luar nikah.


Kim Min Joo tidak akan pernah mengampuninya jika itu sampai terjadi !


Tidak akan pernah ada ampun !


Dan Gibran sudah cukup mengerti akan hal itu.


"Abang salah paham ! Aku nggak melakukan apapun !" jelas Gibran cepat.


"Salah paham ?" beo Vini tidak percaya.


"Abang bisa tanya sama Kia kalau dia bangun nanti. Asal Abang tau, aku tidak sebejat seperti yang Bang Vino pikirkan !" Gibran mencebik kesal.


Pria bernama Vino itu tampak mengangguk-angguk mengerti. Kemudian menghelah napas panjang karena merasa lega. Sebenarnya, bahkan jika Gibran benar-benar melakukannya ia tidak akan mungkin tega melaporkannya kepada ayah pria itu. Meski hanya anak angkat dari Kim Min Joo, bagi Vino Gibran adalah adiknya sendiri.


Jadi, bagaimana mungkin ia tega melihat iblis kecil itu terluka ?


Meski Gibran selalu membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Meski Gibran selalu membuat pekerjaannya berkali-kali lipat lebih banyak. Dan meski Gibran selalu membuat hidupnya susah. Gibran benar-benar telah menjadi seseorang yang berharga untuk Vino. Pria itu adalah salah satu alasan Vino tersenyum. Dan melihat Gibran bahagia tentu saja adalah prioritasnya.


Menghabiskan hampir seluruh hidupnya bersama Gibran membuat Vino terbiasa bersamanya. Menganggap Gibran sebagai adik kandungnya sendiri sebagaimana Gibran juga menganggapnya sebagai kakaknya sendiri. Mereka adalah defenisih saudara tidak sedarah.


"Jadi, namanya Kia ? Cantik, seperti orangnya !" Gibran berdecak tidak suka mendengar kata-kata Vino.


"Namanya Azkia. Abang panggil Azkia saja, karena hanya aku yang boleh memanggilnya Kia !"


Vino tertawa kecil mendengar penuturan Gibran. Jadi, sekarang Gibran sudah mempunyai gadis yang ia cintai ? Ahh, waktu berlalu begitu cepat. Lihat saja, iblis kecil itu kini sudah tumbuh dewasa !


"Cih ! Aku tebak, kamu mencintainya tapi dia mencintai pria lain !" kata Vino berniat menggoda Gibran.

__ADS_1


Terdengar Gibran menghela napas berat.


"Abang memang hebat dalam tebak-tebakan !" Gibran kembali menghela napas berat.


Ekspresi jenaka Vino perlahan meluruh. Dia tidak menyangka tebakan asalnya itu ternyata benar. Ahh, padahal itu adalah cinta pertama Gibran. Gadis bernama Azkia itu adalah gadis pertama yang Gibran bawa ke rumah, Gibran bahkan mengizinkannya masuk ke kamarnya.


Vino pun baru kali ini melihat Gibran menatap seorang gadis dengan tatapan yang sangat lembut. Tatapan yang dengan jelas meneriakkan kata cinta. Yang menandakan pria itu benar-benar tulus mencintai gadis bernama Azkia itu.


"Apa dia tau dengan perasaanmu ?" tanya Vino berubah serius. Tidak ada lagi nada bercanda dalam bicaranya.


Gibran menggeleng.


"Bagaimana aku bisa mengutarakan perasaanku disaat hati dan pikirannya hanya dipenuhi oleh satu nama ? Aku sama sekali tidak mempunyai ruang sedikit pun di hatinya !" tutur Gibran putus asa.


Kali ini Vino yang menghembus napas berat. Ia menepuk-nepuk pelan bahu Gibran. Mencoba memberi semangat kepada adiknya itu.


"Dan sekarang kau sudah menyerah ? Secepat itu ? Are you kidding me, brother ?" Vino menatap Gibran dengan kedua mata minyipit.


"Kau membuatku malu, bro ! Bagaimana bisa adik seorang Vino menyerah semudah itu ? Ck ck ck !" Vino menggelengkan kepalanya dramatis.


"Kau tau pepatah, selama janur kuning belum melengkung segala kemungkinan masih bisa terjadi ?" Vino kembali tersenyum jenaka.


"Cih ! Itu terkesan terlalu memaksa dan...sangat menyedihkan !" Gibran tersenyum miris di akhir kalimatnya.


Pletaakk....


"Jadi, kamu mau menyerah begitu saja ? Kalau begitu, ngapain pake jatuh cinta segala ? Pejuang cinta kok takut ditolak !" dumel Vino mendadak kesal.


"Trus, kenapa dulu Abang membiarkan kak Ratna menikah dengan pria lain ?" Vino menatap Gibran semakin kesal karena mendadak membahas masa lalunya.


"Sebelum memperjuangkan seseorang, pastikan orang itu memang pantas untuk diperjuangkan ! Jangan mau menjadi orang bodoh yang berjuang seorang diri ! Jangan menjadi orang menyedihkan yang memperjuangkan seseorang yang malah memperjuangkan orang lain ! Dan wanita itu bukan seseorang yang pantas Abang perjuangkan." Vino menoleh pada Gibran. Pria itu terlihat tertegun mendengar penuturan kakaknya.


Gibran ikut tersenyum membalas senyum kakaknya.


"Jadi kapan Abang akan menikah ? Bukankah sudah waktunya Appa menjadi seorang kakek ?" tanya Gibran dengan nada bergurau.


"Kau mengalihkan pembicaraan. Dan lagi, itu adalah tugasmu !"


"Yaak ! Abang bercanda, yaa ! Aku bahkan belum lulus SMA. Seharusnya Abang yang segera menikah. Anak Appa kan bukan cuma aku !"


Vino tersenyum lebar mendengarnya. Meski ia bukanlah keluarga kandung Gibran, dan meski ia bukanlah anak kandung Min Joo. Tapi Vino tidak pernah sekali pun diperlakukan seperti orang lain. Ia benar-benar diperlakukan selayaknya keluarga sendiri.


Vino yang diangkat menjadi anak oleh Min Joo dan Dewi saat umurnya masih lima tahun benar-benar mendapatkan kasih sayang yang selayaknya ia dapatkan dari keluarga kandungnya. Ia tidak pernah sekali pun kekurangan kasih sayang. Vino bersyukur bisa bertemu orang-orang baik seperti mereka.


Kim Min Joo memang mempercayakan cabang perusahaan yang ada di Indonesia kepada Vino. Sementara Kim Min Joo yang mengurus perusahaan pusat di Korea Selatan.


"Ahh. satu lagi ! Appa benar-benar senang kau akhirnya menghubunginya. Jangan terlalu dingin pada Appa ! Gadis itu sangat hebat. Sepertinya kamu banyak berubah karena dia !" Vino menggelengkan kepalanya dengan senyum menggoda sebelum meninggalkan kamar itu.


🍁


Azkia menatap satu-persatu anggota geng Thunder yang kini sudah duduk manis di tempat masing-masing. Semua sudah siap dengan alat tulis masing-masing. Di depan mereka sudah ada buku paket Matematika yang tebalnya bisa membuat geger otak jika digunakan menimpuk kepala orang.


Hari ini, mereka akan belajar Matematika, Fisika untuk kelas IPA dan Akuntansi untuk kelas IPS. Azkia memang lebih berfokus dengan mata pelajaran hitungan untuk belajar bersama mereka. Karena itu, Azkia memberikan lebih banyak waktu untuk pelajaran hitungan dan hanya dua hari khusus untuk semua pelajaran tanpa hitungan.


Totalnya ada 40 orang dari tiga sekolah berbeda yang ikut dalam belajar bersama itu. Semua adalah anggota geng Thunder yang tentu saja seluruhnya adalah laki-laki. Sayang sekali Citra dan Putri tidak bisa turut serta dalam belajar bersama tersebut.


Raka adalah salah satu siswa IPS dari SMA Bayangkara yang Azkia kenal lumayan cerdas dalam pelajaran IPS. Karena itu Azkia mempercayakan pelajaran kelas IPS kepadanya. Beruntung Azkia mengenal semua anggota geng Thunder yang berasal dari sekolah lamanya.


"Okay ! Kita mulai ! Kalau ada yang tidak kalian pahami langsung tanyakan saja. Tegur gue kalau gue menjelaskan terlalu cepat !" semua mengangguk kompak.


Azkia mulai menjelaskan pelajaran Matematika dari pertemuan pertama mereka. Menerangkan satu-persatu soal-soal dari setiap materi. Sesekali ia menjawab dan menjelaskan ulang saat ada yang tidak mereka pahami. Dengan sabar Azkia mengajari mereka layaknya seorang guru sungguhan.


Mereka berpindah dari satu materi ke materi yang lain. Hingga tanpa sadar empat materi sekaligus telah mereka selesaikan tepat saat adzan Maghrib berkumandang dengan merdunya. Dua jam berlalu dengan sangat cepat. Sama sekali tidak terasa karena acara belajar bersama mereka berlangsung menyenangkan.


Semua dengan mudah memahami penjelasan Azkia yang sangat rincih dan menggunakan bahasa sederhana hingga mudah mereka pahami. Entah mengapa, rasanya mereka lebih cepat mengerti saat Azkia yang mengajar daripada guru di sekolah.


"Kita sholat dulu ! Setelah itu kita baru lanjut lagi" kata Azkia mengakhiri pelajaran Matematika untuk hari ini.


Semua mengangguk kompak.


Azkia berdiri di barisan belakang bersama para pelayan di mension itu. Di barisan depan ada anggota geng Thunder dan para pengawal yang jumlahnya ada lusinan. Dan di barisan paling depan, Gibran berdiri dengan gagahnya dalam balutan baju kokoh yang entah mengapa terlihat begitu indah saat melekat di tubuh pria itu.


"Allahu Akbar !" semua mengikuti Gibran melakukan takbir mengucap kebesaran Allah.


Tanpa sadar air mata Azkia menetes saat mendengar lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan Gibran dengan tartil dan sangat merdu. Menyentuh sukmah mereka yang berdiri di barisan belakangnya. Air mata Azkia semakin deras seiring ayat demi ayat yang dibacakan pria itu.


Benar-benar sangat indah !


Don't judge book by its cover ! Mungkin itu adalah ungkapan yang tepat untuk seorang Gibran. Pria ber-cover bad boy itu ternyata memiliki sisi yang berbeda. Benar-benar sangat mengagumkan !


Mereka melanjutkan belajar bersama mereka setelah melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. Raka mengajar Akuntansi, sementara Azkia mengajar Fisika. Semua kembali larut dalam proses belajar-mengajar mereka.


Mereka mengakhiri belajar bersama itu setelah memastikan semua paham dengan materi hari ini. Azkia pun sudah memastikan semua tugas mereka untuk besok telah selesai sebelum benar-benar mengakhiri belajar bersama mereka. Azkia juga sudah mengirim tugas untuk manguji pemahaman semuanya yang sebelumnya memang sudah ia siapkan di group WhatsUp yang diberi nama Study Group.


Adzan Isha berkumandang tepat setelah mereka menyelesaikan acara belajar mereka. Kali ini Hendry yang akan menjadi imam. Lagi, Azkia lagi-lagi dibuat takjub mendengar merdunya bacaan ayat-ayat suci Hendry. Menyejukkan sanubari saat mendengarnya.

__ADS_1


Setelah sholat, mereka makan malam bersama. Para pelayan telah menyiapkan makan malam yang luar biasa mampu menggugah selera. Dari aromanya saja sudah mampu membuat perut kenyang mendadak keroncongan.


Semua makan dengan lahap, ditemani canda tawa dari para anggota geng Thunder yang hampir semuanya memiliki bakat menjadi pelawak. Pelajaran Matematika, Fisika dan Akuntansi memang selalu bisa menguras habis energi.


"Gue antar pulang !" Azkia menoleh pada Gibran yang baru saja mengatakan kalimat itu.


"Aku pulang sama Raka saja ! Lagian Raka sendiri dan kita juga searah" tolak Azkia.


"Benar ! Gua akan menjaga Azkia dengan baik, jangan khawatir !" timpal Raka meyakinkan.


Gibran menghembus napas berat. Ia ingin menolak namun ia urunkan karena tidak ingin terkesan memaksa. Ia pun memilih setuju setelah memastikan yang lain ikut mengantar Azkia hingga bisa sampai di rumahnya dengan aman.


"Kita pulang, yaa ! See you !" pamit Azkia sambil melambaikan tangannya pada Gibran.


"Gue juga pulang !" Gibran menoleh pada Hendry yang sedang memakai helm-nya.


"Hyeong tidak nginap ?" tanya Gibran.


"Tidak ! Mom sedang kurang sehat. Seharusnya lo dan Bang Vino yang nginap di rumah. Sudah lama kalian tidak pernah lagi menginap. Kalian membuat Mom khawatir !"


"Besok kami akan nginap. Nanti gue sampaikan ke Bang Vino !" Hendry mengangguk sebagai jawaban.


Gibran baru beranjak dari tempatnya setelah Hendry sudah menghilang dari pandangannya. Namun suara seseorang kembali menghentikan langkahnya yang baru saja akan masuk ke dalam mension.


"Maaf, tuan ! Sepertinya ini dompet teman perempuan, tuan. Saya menemukannya di depan gerbang" Gibran menerima dompet berwarna mocca itu dari tangan pengawal yang tadi memang sedang bertugas di depan gerbang.


"Thanks !" ucap Gibran dengan senyum lebar sebelum melanjutkan langkahnya memasuki mension.


"Apa kalian melihatnya ? Tuan muda baru saja mengucapkan terima kasih sambil tersenyum lebar. Aku tidak sedang mengigau, kan ?" tanya pengawal yang tadi menemukan dompet Azkia.


Enam pengawal lain yang sedang bertugas di depan pintu utama mension mengangguk kompak sebagai jawaban 'iya'. Keenamnya tidak kalah terkejut dengan pengawal tadi melihat tuan muda mereka yang baru saja melakukan hal yang menurut mereka sangat ajaib.


"Tuan muda masih waras, kan ?" tanyanya.


"Tuan muda tidak sedang kesambet hantu pohon beringin, kan ?"


"Jangan-jangan tuan muda kerasukan hantu perawan lagi !"


"Aku dengar semua, loh !" ketujuh pengawal itu sontak berbalik dan membulatkan matanya sempurna melihat siapa yang berdiri di sana.


"Selamat datang, tuan Vino !" ucap mereka kompak. Tak lupa membungkuk hormat kepada salah satu tuan mereka itu.


Vino tertawa melihat wajah terkejut ketujuh pengawal tersebut. Wajah mereka mendadak pucat karena takut.


"Aku sudah berkali-kali bilang, tidak perlu membungkuk seperti itu !"


"Baik, tuan !" jawab mereka kompak.


"Ahh ! Gibran tidak sedang kerasukan hantu perawan ataupun kesambet hantu pohon beringin ! Dia juga masih waras. Hanya saja, dia sedang jatuh cinta !" kata Vino dengan sedikit berbisik di kalimat terakhirnya.


Ketujuh pengawal itu langsung ber-ohh riah sambil mengangguk-angguk mengerti. Pantas saja tingkah tuan muda mereka rada ajaib. Orang yang sedang dimabuk cinta memang kadang bertingkah tidak biasa.


Sementara itu di kamar Gibran.


Pria itu duduk bersandar di kepala ranjang king size-nya. Ujung bibirnya tertarik naik saat membuka dompet milik Azkia itu. Gibran mendapati sepuluh lembar uang seratusan, empat lembar uang lima puluh, dan uang pecahan dua puluh ribu sebanyak lima lembar. Juga ada dua kartu ATM dan tiga foto lembar.


Mengapa gadis itu membawa uang cash sebanyak itu ?


Bagaimana jika dompet itu jatuh di tempat lain ?


Dasar gadis ceroboh !


Gibran kembali tersenyum melihat salah satu foto yang kini berada di tangannya. Di foto itu ada Azkia dan kedua orang tuanya serta kakaknya. Sepertinya itu adalah foto saat kelulusan SMP-nya dulu. Terlihat dari kebaya yang Azkia kenakan dan juga buket yang sedang ia pegang.


"Cih !" Gibran berdecak melihat foto kedua.


Itu adalah foto sembilan member boyband yang menjadi idola Azkia. Siapa lagi kalau bukan boyband EXO. Dan Gibran semakin dibuat kesal saat melihat foto ketiga. Foto itu adalah foto masa kecil Azkia. Gibran sudah pernah melihat foto yang sama di kamar gadis itu sebelumnya. Bedanya, foto yang sekarang ada di tangannya dicetak dengan ukuran lebih kecil sementara foto yang ada di kamar Azkia dicetak dengan ukuran besar 10 R.


"Lo secinta ini yaa sama Arta ? Sampai fotonya diedit kayak gini. Cih ! Bikin kesal aja !" Gibran mendumel.


Gibran menatap foto itu dengan perasaan dongkol. Bagaimana tidak, di foto itu dua gadis kecil yang memiliki wajah sama persis berdiri di sisi kiri dan kanan Arta. Ketiganya tersenyum lebar menatap ke arah kamera. Yang menurut Gibran, foto itu adalah foto yang sengaja diedit Azkia.


Menyebalkan !


Apakah Gibran benar-benar sudah tidak mempunyai peluang ?


Apakah ia benar-benar sudah tidak mempunyai kesempatan ?


Apakah masih ada ruang untuknya di hati gadis itu ?


Semoga kalian suka !😉😙


*Ja**ngan lupa support author dengan vote, like, comment dan juga bintang limanya, yaa !😉😙😍*


See you next part !😉😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2