
*H**appy Reading !😉😙*
"Tak peduli seberapa kuat dan tangguhnya seorang laki-laki. Tak peduli seberapa berani dan perkasanya ia. Lelaki akan selalu lemah karena perempuan. Karena orang yang ia cintai akan selalu menjadi titik lemahnya."
***
"Azkia !" Azkia, Putri dan Citra yang sedang berjalan beriringan memasuki gerbang sekolah kompak menoleh meski yang dipanggil hanya Azkia.
Senyum pria yang baru saja memanggilnya langsung tercetak lebar saat melihat Azkia berbalik menatapnya. Berbeda dengan Azkia yang kini malah memasang wajah malas. Dari semua orang di sekolah itu, kenapa pagi ini ia harus bertemu dengan pria itu ?
Menyebalkan !
"Kenapa, Fred ?" tanya Azkia to the point dengan raut wajah tidak suka yang terlihat jelas.
Bukan tidak sadar ! Azkia memang sengaja memperjelas ketidaksukaannya kepada pria itu. Berharap dia sadar diri bahwa Azkia merasa terganggu dengan kehadirannya. Ahh, padahal selama ini Azkia sudah berusaha keras untuk menghindari pria itu.
Sialnya hari ini ia gagal menghindar dari pria itu !
"Kamu kenapa selalu menghindariku ?" tanya Fredy dengan wajah sedih.
"Sorry, Fred ! Gue rasa nggak ada lagi yang harus kita bicarakan. Gue sudah mengatakan semuanya sama lo" kata Azkia dengan wajah yang semakin datar.
"Kamu kok tega kayak gini sama aku, Az ! Aku tulus mencintaimu. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya ?"
See ?
Pria itu bahkan mengganti panggilan lo-gue dengan aku-kamu. Azkia dibuat semakin risih dengan tingkah pria itu. Padahal Azkia sudah menolak pernyataan cintanya berkali-kali. Sebisa mungkin ia menolak dengan cara paling halus agar tidak menyakiti hati Fredy. Tapi bukannya menyerah, Fredy malah semakin gencar mengejarnya.
Akhir-akhir ini Azkia bahkan jarang membuka akun sosial medianya demi menghindari pria itu. Bukan hanya di dunia nyata, pria itu juga mengejarnya di dunia maya seperti seorang maniak. Lama-lama pria itu malah membuat Azkia takut.
"Dibandingkan cinta, lo malah terlihat seperti orang yang terobsesi sama gue. Terima kasih kalau lo memang benar tulus mencintai gue. Tapi maaf, Fred ! Gue nggak bisa membalas perasaan lo" Azkia mengucapkan kata-kata itu sehalus mungkin agar tidak membuat Fredy tersinggung.
Azkia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda karena Fredy. Namun baru berapa langkah ia berjalan, seseorang dengan kasar menahan salah satu tangannya.
"Lo benar-benar perempuan tidak tau diuntung. Gue tulus mencintai lo tapi lo malah sok jual mahal" Azkia ketakutan melihat mata Fredy yang memerah. Tangan kanannya mencengkram kuat pergelangan tangan kirinya.
"Fredy, le-lepasin ! Tangan gue sakit !" Putri dan Citra mencoba membantu Azkia melepas tangan Fredy namun sia-sia. Pria itu menggenggam tangan Azkia seperti orang kesetanan.
"Fredy, lepasin tangan kamu ! Kamu membuat Azkia kesakitan" bentak Citra yang ujung-ujungnya berakhir sia-sia. Pria itu benar-benar seperti orang kesetanan.
Gerbang yang tadinya sepi lama-kelamaan menjadi ramai. Namun semua pasang mata itu hanya bisa menjadi penonton tanpa berniat melakukan aksi untuk membantu Azkia. Semua berkerumun mengelilingi mereka hingga menyumbat motor dan mobil yang akan memasuki gerbang sekolah.
Kepala Azkia terasa panas. Bukan lagi karena ulah Fredy melainkan karena puluhan siswa-siswi yang kini menatapnya dengan raut wajah khawatir. Tanpa sadar Azkia mengumpat melihatnya. Akan jauh lebih baik kalau mereka enyah dari sana. Karena Azkia malah jijik melihat wajah sok care mereka.
Bugh...
Tubuh Azkia sedikit terdorong dan hampir saja terjatuh saat seseorang tiba-tiba memukul Fredy kuat hingga pria itu terhempas menjauh darinya. Tangan Fredy yang masih mencengkram pergelangan tangan Azkia membuat tubuh Azkia ikut tertarik. Beruntung, seseorang itu dengan sigap menangkap tubuh Azkia hingga tidak sampai ikut terjatuh.
"Are you okay ? Apa ada yang sakit ?" tanya pria itu terlihat jelas mengkhawatirkan Azkia.
Azkia menggeleng membuat pria itu langsung menghembus napas lega. Senyumnya merekah saat melihat Azkia tersenyum.
"Azkia, lo nggak apa-apa ? Sorry, kita datang terlambat !" tanya Bastian yang baru bisa menembus kerumunan itu.
"Gue nggak apa-apa, kok !"
"Sebaiknya kalian ke kelas ! Sisanya biar kami yang urus !" kata Vero.
"Tapi lo baik-baik saja, kan ?" tanya Diki memastikan. Azkia mengangguk sebagai jawaban.
"Thanks, Fikri sudah nolongin gue !" ucap Azkia. Fikri tersenyum manis sambil membantu gadis itu keluar dari kerumunan.
Ahh, Azkia bersyukur bisa mengenal Fikri. Selain Arta dan Gibran, pria itu adalah salah satu orang yang akan selalu berdiri di sampingnya untuk membantunya. Menjadikan tubuhnya sebagai benteng untuk melindungi Azkia dari orang-orang yang ingin menyakitinya. Meski baru kenal, tapi pria itu selalu memperlakukan Azkia dengan sangat baik.
Pria itu selalu membuat Azkia bersyukur karena mengenalnya.
__ADS_1
🌱
Seperti biasa, Gibran dan Hendry akan bergabung bersama geng Thunder di kantin lantai dasar. Sudah lama mereka makan siang tanpa Azkia. Gadis itu tidak pernah lagi bergabung bersama mereka sejak kepindahan Citra dan Putri. Azkia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kedua teman barunya itu.
Tapi mungkin hari ini ceritanya akan sedikit berbeda. Semua anggota geng Thunder kompak bangkit dari duduknya saat melihat Azkia dari kejauhan sedang berjalan ke arah mereka. Semua langsung bersorak heboh saat Azkia melambaikan tangannya kepada mereka dengan senyum cerah yang sudah sangat mereka rindukan.
Hanya Gibran yang tetap terlihat cool dan biasa saja. Wajahnya memang tidak memperlihatkan ekspresi kegirangan seperti yang lain. Tapi percayalah, hatinya mendadak menjadi taman bunga saat sudut matanya tidak sengaja menangkap sosok Azkia yang berjalan mendekat ke arah mereka.
Firman dan Vero berlari menghampiri Azkia dan menyambut gadis itu. Keduanya berjalan di sisi Azkia layaknya pengawal yang sedang mengawal sang Ratu. Senyum Azkia semakin lebar melihat tingkah teman-temannya.
"Silahkan duduk, Yang Mulia Ratu Azkia !" Bastian sedikit membungkuk mempersiapkan Azkia duduk di kursi yang sudah ia sediakan layaknya seorang pengawal sungguhan.
"Akhirnya bisa makan siang bareng Azkia lagi !" seru Diki heboh.
"Sudah lama nggak makan siang sama Azkia !" timpal Saldi.
"Kalian berlebihan !" kata Azkia melihat teman-temannya yang tampak begitu kegirangan.
Apa sudah selama itu Azkia tidak bergabung bersama mereka ?
"Tumben gabung sama kita ! Teman-teman lo gimana ?" tanya Gibran yang diam-diam bersyukur karena bisa makan siang bersama Azkia lagi.
"Citra dan Putri makan siang berdua di lantai tiga. Sudah lama kita nggak makan siang bareng, gue jadi rindu !" jawab Azkia sukses membuat mereka terharu mendengarnya.
Mereka kemudian larut dalam makan siang bersama yang penuh canda tawa. Azkia bahkan tidak bisa berhenti tertawa selama makan siang karena candaan receh mereka yang mampu membuat perut tergelitik. Makan siang bersama anggota geng Thunder memang selalu mempunyai sensasi yang berbeda untuk Azkia.
"Ahh, kalian jadi nggak bisa bertanya banyak soal pelajaran karena akhir-akhir ini gue jarang gabung sama kalian. I'm so sorry ! Pokoknya kalau ada yang nggak kalian mengerti langsung chat gue, okay ?" ucap Azkia penuh penyesalan.
"Sebenarnya lo nggak perlu minta maaf, Azkia ! Lo nggak salah apa-apa dan juga lo udah sangat membantu kami selama ini kok. Penjelasan lo lewat chat juga udah membantu bangat !" tutur Hendry.
Yang lain langsung mengangguk mengiyakan.
"Tetap saja, harusnya gue bisa melakukan yang lebih baik lagi. Atau gini, karena kurang dari dua bulan lagi kita sudah ulangan akhir semester. Gue rasa lebih baik kita belajar bersama di luar jam sekolah. Gimana ?" Azkia memberi saran.
"Tentu saja tidak ! Gue malah senang bisa membantu teman-teman gue. Saat mengajari kalian gue juga bisa sambil memperdalam pemahaman gue dengan pelajaran itu !"
Semua terlihat begitu tertegun mendengar kata-kata yang diucapkan Azkia. Baru kali ini mereka dianggap berarti dimata seseorang. Baru kali ini mereka begitu dianggap. Dan baru kali ini mereka tidak dipandang sebelah mata. Semua karena gadis itu. Hanya Azkia yang selalu memperlakukan mereka sebagai seorang kawan. Hanya Azkia yang tidak menganggap mereka parasit.
"Kalau gitu di rumah gue aja ! Waktunya lo yang tentuin. Intinya jangan sampai ngerepotin lo aja !" semua setuju dengan usulan Gibran.
Azkia mengangguk setuju.
~_^
Bel tanda pulang sudah berdering sejak beberapa menit yang lalu. Namun Azkia, Putri dan Citra terlihat baru saja keluar dari gerbang sekolah. Itu karena mereka berganti pakaian lebih dulu sebelum keluar. Saat ini mereka sudah tidak lagi memakai seragam sekolah. Seperti rencana mereka tadi malam, sepulang sekolah mereka akan langsung berbelanja.
Azkia tampak manis dengan boyish style. Ia memilih tuck style dengan memakai black jeans model mid yang dipadukan dengan kemeja flanel berwarna coklat. Dan front tuck style menjadi pilihan Azkia hari ini. Dimana bagian depan kemejanya sengaja dimasukkan ke dalam celana dan membiarkan bagian belakangnya tetap dikeluarkan. Rambutnya sengaja diikat satu yang kemudian semakin disempurnakan dengan baseball cap berwarna hitam polos. Sepatu sekolahnya pun sudah diganti dengan sneakers.
Putri juga terlihat begitu anggun dengan Jumper dress berwarna hitam dengan motif flower yang dipadukan dengan baju kaos berwarna putih polos. Tak lupa dengan tas salempang kecil berwarna hitamnya dan juga flat shoes.
Sementara Citra terlihat semakin bersahaja dengan black long dress-nya yang dipadukan dengan jilbab panjang berwarna soft pink. Terakhir cadar hitam polos yang menutupi wajah cantiknya. Citra juga memakai tas salempang berwarna hitam.
Hanya Azkia yang tidak membawa apa-apa selain ponsel dan dompet yang ia titipkan di tas Putri. Barang-barang mereka sudah mereka titipkan pada Arta. Karena rencananya malam ini Citra dan Putri masih akan menginap di rumah Azkia.
"Ngomong-ngomong, tante Siska kayaknya senang bangat aku dan Citra nginap" Putri memulai pembicaraan.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju mall.
"Itu karena mamah senang akhirnya aku ada teman cewek. Aku juga bawa teman cewek ke rumah !" jelas Azkia.
"Emang sudah berapa lama kamu nggak bawa teman cewek ke rumah ?" tanya Citra ingin tahu.
"Berapa lama ? Hmm...lebih tepatnya sih belum pernah ! Kalian adalah teman cewek pertamaku yang menginap di rumah. Sudah lama mamah pengen aku punya teman lain selain Arta. Dan mamah paling ingin melihat aku kayak gadis-gadis pada umumnya. Yang kadang bawa teman cewek ke rumah atau nginap di rumah teman ceweknya" Azkia mengedikkan bahunya.
Putri dan Citra mengangguk-angguk mengerti. Pantas saja Siska terlihat begitu senang melihat mereka menginap di rumahnya.
__ADS_1
Setelah sampai di tempat tujuan, ketiganya langsung mendatangi tempat khusus kecantikan untuk membeli skincare yang sebelumnya telah direkomendasikan oleh Citra. Pada akhirnya Azkia juga membeli tas dan dress yang disarankan Putri. Karena demi apa, Azkia sama sekali tidak mempunyai koleksi dress sehelai pun di rumah.
Azkia dan Citra juga menyarankan Putri untuk mengganti kacamatanya. Kacamata bulat membuatnya terlihat terlalu cupu yang malah mengundang ejekan dari teman-teman di sekolah. Sementara Citra hanya membeli beberapa helai gamis.
"Diki, Bimo ?" Azkia menunjuk pria berpenampilan bad boy yang kini juga melakukan hal yang sama.
"Ohh, Azkia ! Kebetulan bangat kita ketemu di sini" balas Bimo terkejut. Lebih tepatnya pura-pura terkejut.
"Asik, beli skincare ! Cewek kalau tiba-tiba perawatan biasanya lagi jatuh cinta. Jangan-jangan..." goda Diki sambil menaik-turunkan alisnya.
"Ahh, lo bisa aja !" ucap Azkia malu-malu. Wajahnya bahkan memerah sekarang.
Menggemaskan sekali !
"Kalau gitu, kita duluan yaa ! Sudah sore, mau balik dulu ! See you tomorrow !" Diki dan Bimo membalas lambaian tangan Azkia.
Diki dan Bimo menatap punggung Azkia yang mulai berjalan menjauh dari tempat mereka. Setelah jarak Azkia sudah lumayan jauh, barulah mereka beranjak dari sana. Mengikuti gadis itu diam-diam. Tetap menjaga jarak agar gadis itu tidak sampai mengetahuinya.
Tanpa Azkia ketahui, setiap hari anggota geng Thunder selalu mengikutinya secara diam-diam. Sejak Gibran mengumumkan ia menjadi Ratu Geng Thunder, diam-diam mereka selalu menjaga Azkia dari jauh atas perintah Gibran. Tidak menutup kemungkinan geng Naga Hitam akan mengincar Azkia jika mereka tahu sekarang dia adalah Ratu Geng Thunder. Karena itulah Gibran meminta anggota geng Thunder untuk bergantian memantau Azkia. Karena akan susah jika harus Gibran yang turun langsung.
🍁
Prans, pria yang menjadi tangan kanan Alex sang ketua geng Naga Hitam memasuki markas mereka dengan sedikit berlari-lari kecil. Keadaan markas geng Naga Hitam masih tampak kacau balau akibat serangan geng Thunder beberapa hari yang lalu. Seluruh perlengkapan markas mereka hancur. Satu pun tidak ada yang lolos dari amukan geng Thunder.
"Kenapa ? Ada berita apa ?" tanya Alex yang kini duduk dengan angkuhnya di atas kursi kebesarannya.
"Geng Thunder akhirnya mempunyai Ratu !" jawab Prans to the point.
Jawaban Prans tentu saja sukses membuat seluruh anggota geng Naga Hitam yang sedang berada di sana terkejut, tak terkecuali Alex. Alex langsung menyeringai mendengar kabar luar biasa itu. Hanya dalam hitungan detik saja sebuah ide cemerlang telah muncul di kepalanya.
Setelah sekian lama Geng Thunder dibentuk, Gibran belum pernah sekali pun mengumumkan Ratu geng itu. Tapi sekarang, pria itu tiba-tiba saja memproklamirkan kepada publik bahwa geng Thunder telah memiliki seorang Ratu.
Seringaian Alex terlihat semakin mengerikan. Setelah bertahun-tahun lamanya geng Thunder berdiri, itu adalah pertama kalinya Gibran mendeklarasikan seorang Ratu geng Thunder.
Itu berarti, gadis itu bukanlah seorang gadis biasa. Gadis itu pasti seseorang yang sangat berharga untuk Gibran. Gadis itu jelas adalah gadis yang sangat berarti untuk pria itu. Dan tentu saja, gadis itu pasti memiliki pengaruh besar untuk Gibran.
"Jadi siapa gadis itu ?" tanya Alex lagi.
Prans tidak menjawab melainkan menunjukkan sebuah foto kepada Alex. Alex tampak mengerutkan keningnya melihat wajah cantik yang ada di foto itu. Wajah manis dengan senyuman cerah. Alex sepertinya pernah melihat gadis itu.
Tapi dimana ?
Wajah cantik, senyum cerah. Wajah itu jelas terlihat familiar. Alex seketika membulatkan kedua matanya terkejut.
Ia ingat sekarang !
"Dia Azkia, kan ?" tebak Alex tepat sasaran.
Prans mengangguk.
"Benar ! Namanya Azkia Aqilla Candra. Dia baru pindah ke SMA Nusantara dari SMA Bayangkara awal semester kemarin. Ia populer karena pintar, cantik, dan terkenal sangat ramah kepada siapa pun. Dia mempunyai banyak penggemar dimana-dimana" Prans mengakhiri penuturannya.
Seringaian Alex terlihat semakin mengerikan.
"Apa lo mengenalnya ?" kali ini Prans yang bertanya.
"Tentu saja gue mengenalnya karena gue adalah satu dari banyaknya penggemar Azkia. Kami satu sekolah saat SMP dan dia adalah cinta pertama gue yang mirisnya harus berakhir menyedihkan. Selama ini gue sudah mencarinya kemana-mana dan tidak pernah berhasil menemukannya. Tapi sekarang dia malah datang dengan sendirinya tanpa gue minta. Ternyata dunia memang sempit. Dan takdir itu sungguh lucu !" Alex tertawa diakhirnya kalimatnya.
"Kita akan beraksi secepatnya. Pastikan semua anggota Naga Hitam bersiap-siap ! Kita akan melakukan serangan balik. Kita akan balas dendam !" Alex kembali menyeringai.
Tak peduli seberapa kuat dan tangguhnya seorang laki-laki. Tak peduli seberapa berani dan perkasanya ia. Lelaki akan selalu lemah karena perempuan. Karena orang yang ia cintai akan selalu menjadi titik lemahnya.
Semoga kalian suka !🤗
Support author dengan cara vote, like dan comment yaa ! Jangan lupa bintang limanya juga !😉😊😙
__ADS_1