AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 16. Menantang Monster


__ADS_3

Happy Reading !😉😙


"Gibran yang sudah terlanjur meledak tidak akan bisa dihentikan hingga pria itu selesai melampiaskannya. Sama halnya dengan peluru yang sudah terlanjur terlepas dari pelatuknya. Tidak ada yang bisa menghentikan peluru itu. Ia akan terus bergerak hingga menemukan tempat untuk bersarang. Yang tentu saja akan menciptakan luka yang mungkin selamanya akan meninggalkan bekas di sana."


~Geng Thunder~


***


Seperti biasa, jadwal olahraga kelas XII IPA 1, XII IPA 2 dan XII IPS 5 berada di hari yang sama. Semua siswa-siswi dari ketiga kelas itu kini telah berada di lapangan, bersiap untuk praktek materi lari estafet. Ketiga kelas itu akan diadu kecepatan larinya.


Para siswi mendapat giliran pertama. Setiap siswi akan berlari mengelilingi lapangan sepak bola dan akan bergantian dengan pelari selanjutnya di titik start yang sama. Para pelari pertama sudah bersiap-siap di garis start dengan tongkat estafet di tangan mereka.


"Bersedia...Siap...Priiittt !" Pak Syam memberi aba-aba.


Para pelari pertama kemudian berlari setelah pak Syam meniup peluit panjang tanda start untuk semua pelari pertama. Tiga siswi dari kelas yang berbeda tampak berlari kencang mengelilingi lapangan sepak bola yang luasnya tidak main-main. Sorakan dari ketiga kelas itu pun terdengar riuh.


Totalnya ada 13 siswi. Azkia akan menjadi pelari terakhir untuk kelas XII IPA 1, Bora dari kelas XII IPA 2 dan Asma dari kelas XII IPS 5. Ketiganya sudah bersiap-siap di garis start karena pelari ke-12 sudah hampir menyelesaikan lintasan mereka.


Bugh !


"Auu..." Azkia merintih kesakitan saat kedua telapak tangan dan lututnya mendarat mulus di atas lapangan yang kasar.


"Azkia ?" seru para siswa-siswi kelas XII IPA 1 saat melihat Azkia tampak kesukitan untuk bangkit, padahal Asma dan Bora sudah berlari cukup jauh dari garis start.


Dina, pelari ke-12 dari kelas XII IPS 5 dengan sengaja menabrak Azkia setelah menyerahkan tongkat estafetnya ke tangan Asma. Azkia yang tidak siap dengan dorongan dadakan itu pun tumbang.


"Azkia, kamu baik-baik saja ?" teriak Citra yang berada lumayan jauh dari garis start.


"Kia, lo pasti bisa !" Azkia tidak perlu menoleh untuk mencari tahu siapa pemilik suara itu. Karena hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan panggilan Kia.


Sekuat tenanga Azkia bangkit dan meraih tongkat estafetnya yang tadi terlempar dan tergeletak sekitar dua meter dari tempatnya. Ia mulai berlari kencang sambil menahan rasa perih di kedua lututnya. Bora dan Asma sudah menyelesaikan setengah lintasan saat Azkia baru mulai berlari. Namun kecepatan berlari Azkia memang patut diacungkan jempol. Lihat saja, gadis itu telah sampai di garis finish satu setengah menit sebelum Bora dan Asma sampai.


"Azkia, hebat !"


"Azkia, you are the best !"


"Aku padamu !"


"Good job !"


Dan masih banyak seruan lain dari teman sekelas Azkia. Citra dan Putri langsung membantu Azkia duduk di salah satu kursi panjang di pinggir lapangan. Mereka tahu persis lutut Azkia pasti sakit.


"Jadi pemenangnya adalah kelas XII IPA 1. Diurutan kedua, XII IPA 2. Dan kelas XII IPS 5 akan didiskualifikasi karena melakukan kecurangan !" jelas pak Syam tegas yang langsung membuat para siswi kelas XII IPS 5 heboh.


"Syukurin ! Curang, sih !"


"Ughh ! Pasti sakit !"


"Sakitnya tuh di dengkul. Otaknya kan ada di dengkul ! Betul apa benar ?"


"Makanya jangan suka curang ! Kena batunya sendiri, kan !"


Azkia hanya diam mendengar ejekan dari teman-temannya pada kelas XII IPS 5. Bukan hanya dari teman satu kelasnya namun juga dari kelas XII IPA 2. Tentu saja itu membuat siswi kelas XII IPS 5 kesal setengah mati.


Sial !


Sekarang adalah giliran para siswa. Para pelari pertama sudah berlari setelah pak Syam memberikan aba-aba. Pelari pertama bergantian dengan pelari kedua, kelar kedua berganti dengan pelari ketiga, dan begitu seterusnya.


"Arta go go go !"


"Arta semangat ! Kamu pasti bisa !"


"Arta go Arta go go !"


Seruan penyemangat terdengar dari para fans Arta. Bukan hanya dari siswi-siswi kelas XII IPA 1 saja, melainkan dari semua kelas. Tongkat estafet berpindah dari tangan Arta ke tangan Fikri, dari tangan Fikri berpindah ke tangan Hendry. Dan terakhir, tongkat itu berpindah ke tangan Gibran sebagai pelari terakhir kelas XII IPA 1.


Serua penyemangat yang tak kalah menggelegar terdengar dari semua penggemar Gibran. Jam istirahat telah tiba hingga seluruh siswi langsung berkerumun di pinggir lapangan. Menyerbu Gibran dengan teriakan penyemangat yang Subhanallah rasanya seperti akan meledakkan telinga.


"Gibran, fighthing !" senyum Gibran melebar saat melewati tempat dimana Azkia sedang duduk bersama Citra dan Putri. Apalagi saat mendengar seruan penyemangat dari gadis itu. Tentu saja semangat Gibran langsung terbakar.


"Kak Gibran hebat !"


"Kak Gibran benar-benar luar biasa !"


"Liat deh, kak Gibran makin kece kalau lagi keringatan !"


"Ugh ! Kak Gibran, hati adek meleleh !"


"Gila ! Gibran makin ganteng aja !"


Gibran berhasil mencapai garis finish lebih dulu dengan perbedaan waktu yang lumayan jauh dari kelas IPA 2 dan IPS 5. Fans Gibran kembali heboh dan langsung mengerumuni Gibran sambil berlomba-lomba menyodorkan air minum kepada pria itu. Berharap air minum yang mereka berikan itu akan diambil oleh Gibran.

__ADS_1


Tak jauh berbeda dengan Arta dan Azkia. Keduanya pun sama-sama dikerumuni oleh para penggemarnya. Jika Gibran dan Arta tetap bersikap dingin kepada para fans-nya, maka berbeda dengan Azkia yang sebisa mungkin untuk menolak pemberian penggemarnya dengan hati-hati. Tak lupa untuk terus memamerkan senyum lebarnya agar tidak membuat pria-pria tampan yang sedang mengerumuninya itu sampai tersinggung.


Seperti biasa, Azkia selalu berhati-hati karena tidak ingin sampai melukai hati mereka. Azkia terlalu takut jika ia sampai menoreh luka di hati mereka. Tak peduli jika Azkia tidak menyukai mereka, tak peduli jika sebenarnya Azkia merasa terusik dengan kehadiran mereka. Tetap saja, Azkia harus tetap menjaga dan menghargai perasaan mereka.


"Terima kasih, yaa ! Tapi maaf gue nggak bisa terima ! Hari ini sedang panas, lebih baik airnya kalian minum. Kalian harus tetap mengutamakan diri kalian sendiri, okay ! Maaf yaa, gue mau ke UKS dulu. Bye bye, semua !" semua heboh melihat senyum manis Azkia.


Baru saja Azkia akan melangkahkan kakinya saat seseorang telah lebih dulu mengangkat tubuhnya. Azkia yang terkejut dengan refleks mengalungkan kedua tangannya di leher pria yang menggendongnya ala bridal style.


"You ? What the f*ck are you doing now ?" Azkia menatap pria berkulit putih susu itu dengan tatapan tidak menyangka.


"Tentu saja membawa lo ke UKS ! Kaki lo sakit, gue nggak mungkin membiarkan lo jalan ke UKS !" Azkia memutar bola matanya malas mendengar jawaban santai dari pria itu.


Okay !


Katakanlah Azkia tidak perlu terlalu takut karena pria itu bukan Gibran atau pun Arta yang mempunyai lusinan fans. Tapi tetap saja, lihatlah mata-mata yang jumlahnya kodian itu menatapnya seperti sedang menatap alien yang baru saja mendarat di bumi. Menatapnya jijik seakan-akan ia adalah sampah.


"Bimo, turunin gue ! Lo nggak liat orang-orang pada ngeliatin kita ?" Bimo menggeleng tegas dan tetap melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan titah Azkia.


Tentu saja Bimo bisa melihat tatapan mata dari orang-orang sok suci itu. Dan Bimo sama sekali tidak peduli. Toh, tidak ada untungnya memperdulikan ocehan dan komentar tak bermutu mereka. Buang-buang tenaga dan waktu saja.


"Gue titip Azkia sebentar ! Gue akan tunggu di luar. Panggil gue kalau sudah selesai !" kata Bimo pada Citra dan Putri. Kedua gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Thanks !" ucap Azkia saat Putri menyodorkan air putih dan jus alpukat padanya. Ia langsung meneguk air putih itu dengan rakus. Tenggorokannya kering setelah berlari tadi.


"Itu dari Bimo !" kata Putri. Azkia hanya mengangguk santai.


"It's not good ! It seems like he loves you !" kata Citra. Dia terlihat sedikit cemas.


"I don't think so ! Basically Bimo is a good person. He's not only nice to me, but to everyone !" Azkia mencoba ber-positive thinking.


Semua akan menjadi semakin rumit jika lagi-lagi ada cinta yang tumbuh di antara mereka. Azkia bahkan belum mampu mengatasi perasaan sukanya sendiri kepada sahabat kecilnya. Bagaimana ia bisa mengatasi perasaan suka orang lain kepadanya ?


Azkia bahkan belum bisa mempercayai apa yang Putri katakan padanya beberapa hari yang lalu, tentang Gibran yang menyukainya. Sampai detik ini pun Azkia belum berani menanyakan alasan mengapa Gibran menjadikannya Ratu geng Thunder. Azkia terlalu takut mendengar jawaban Gibran. Azkia takut akan ada hati yang terluka karenanya.


Azkia tidak siap !


Kemarin Gibran, dan sekarang Bimo ?


Ohh, big no !


Azkia tidak pernah ingin menjadi parasit di dalam persahabatan mereka. Azkia tidak ingin persahabatan mereka rusak karena kehadirannya. Azkia tidak ingin !


Azkia selalu merasa salut dengan persahabatan geng Thunder. Ia selalu merasa terharu melihat persahabatan yang lebih terlihat seperti keluarga itu. Azkia suka melihat kedekatan mereka. Berada di antara geng Thunder membuat Akzia merasa seperti sedang bersama keluarganya sendiri. Tidak ada sekat diantara mereka. Tidak ada perbedaan dan tidak ada diskriminasi. Semua sama di dalam geng itu.


Jadi, bagaimana mungkin Azkia bisa menodai kesucian persahabatan mereka ?


Itu benar-benar perbuatan yang sangat hina. Dan Azkia tidak akan pernah mau melakukannya.


"Azkia ? Bagaimana jika..."


"Aku tidak mau membayangkannya karena aku tidak pernah mau jika itu sampai terjadi !" potong Azkia cepat.


Citra menghembus napas berat.


"Okay ! I hope I'm wrong about that !" gadis bercadar itu kembali menghembus napas berat. Membuat Azkia dan Putri ikut melakukan hal yang sama.


🍁


Suara deringan bel tanda jam istirahat siang terdengar merdu di telinga semua manusia bergelar siswa dan siswi SMA Nusantara. Itu bertanda mereka bisa sejenak mengistirahatkan otak mereka yang sudah hampir koslet setelah terlalu lama bergelut dengan angka-angka yang entah mengapa mendadak mengerikan jika sudah berdampingan dengan variabel x dan y.


"Ayo makan siang dulu !" Gibran menarik salah satu tangan Azkia.


Azkia bergeming.


"Gue makan siang di kantin lantai tiga !" kata Azkia mencoba tersenyum senatural mungkin.


Gibran menaikkan sebelah alisnya bingung. Baru kemarin gadis itu mengatakan akan makan siang bersama mereka di kantin lantai dasar. Kenapa sekarang ia tiba-tiba berubah pikiran ?


"Ehmm...Okay !" kata Gibran sambil mengangguk-angguk seakan mengerti.


Azkia mengaduk-aduk bekal makan siangnya tanpa berniat memakannya. Arta, Fikri, Citra dan Putri menatap gadis itu kemudian kompak menghembus napas panjang.


"Azkia, are you okay ?" tanya Fikri lembut. Meski sebenarnya ia sudah tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan.


"Ahh yes, I'm okay ! I'm so sorry to worry you !" sesal Azkia. Ia kemudian memakan bekal makan siangnya tanpa semangat.


Arta menarik dan menghembus napas panjang. Ia paling tidak suka melihat Azkia seperti itu. Melihat wajah datar dan sedih gadis itu adalah hal terakhir yang ingin ia lihat di dunia ini. Arta hanya ingin melihat wajah ceria Azkia. Wajah cerah seperti yang selalu ia lihat.


"You know, you can stop anytime if you are tired. You can quit if you find it too hard for you !" tutur Arta. Azkia tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.


Sementara itu di kantin lantai dasar...

__ADS_1


"Yah ! Gue kira Azkia bakal ikut makan siang sama kita. Padahal gue udah beli coklat untuknya !" Bimo meletakkan coklat batang yang baru saja ia bicarakan di depannya.


Semua menghentikan makannya mendengar penuturan Bimo. Hanya Gibran yang tetap makan dengan tenang seakan sama sekali tidak terganggu dengan penuturan Bimo barusan. Hendry yang sejak tadi menyadari perubahan aura di sekitar Gibran pun menatap Bimo tajam. Seakan meneriakkan kaliamat 'Lo bisa diam nggak ?' kepada Bimo.


Bukan hanya Hendry, semua anggota geng Thunder yang ada di meja itu pun bisa merasakan perubahan suasana di sana. Sikap tenang Gibran benar-benar mampu membuat siapa pun merinding. Itu malah membuat suasana di sana terasa semakin mencekam. Menu makan siang yang sebenarnya sangat menggugah selera makan mendadak tidak mempunyai harga diri di depan jiwa-jiwa kelaparan itu.


Hah !


Hendry benar-benar menghentikan makannya setelah mendengar hembusan napas berat Gibran, lagi. Itu sudah untuk yang kesekian kalianya pria itu menghembus napas berat selama mereka duduk di sana. Bagaimana mungkin Hendry masih bisa makan dengan tenang melihat aura membunuh dari adiknya itu ?


Jangan lupakan fakta tentang seberapa mengerikannya Gibran ketika sudah kalap !


Bahkan Hendry yang tidak lain adalah kakaknya sekali pun tidak akan mampu menghentikannya.


"Lo suka sama Kia ?" pertanyaan itu keluar dengan mulus dari mulut Gibran.


Pria itu masih tetap bersikap tenang. Berbeda dengan teman-temannya yang sudah seperti tahanan yang baru saja divonis hukuman mati. Hanya Bimo yang masih bersikap biasa saja. Wajahnya bahkan masih bisa tenang sambil menikmati makan siangnya, sama sekali tidak merasa terganggu dengan aura mengerikan yang menyelimuti mereka.


Dasar Bimo sialan !


"Iya, kenapa ?" jawab Bimo dengan nada yang sangat santai. Sukses membuat semua langsung menatapnya horor. Sayangnya pria itu sama sekali tidak berniat mengakhiri rencananya untuk menantang Gibran.


Benar-benar pria gila !


"Sepertinya lo lupa kalau gadis yang lo suka itu adalah Ratu geng Thunder ! Lo tau itu artinya apa ?" Gibran tersenyum miring saat mengatakan itu.


Bimo tersenyum lebar seakan mengejek Gibran saat mendengar penuturan pria itu. Ia menatap Gibran dengan santai dan senyum yang masih setia menghiasi wajah putihnya. Ia akhirnya menghentikan makannya mengikuti Gibran yang juga menghentikan acara makan siangnya.


"Sepertinya lo juga lupa kalau gadis yang lo angkat jadi Ratu bukanlah pacar lo ! Right ?" Bimo menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mengejek.


Keberanian Bimo menentang Gibran memang patut diacungkan jempol. Hanya saja, apa pria itu masih belum sadar siapa yang sedang ia ajak bermain ? Apa dia masih belum sadar bahwa pria yang sedang ia ajak bercanda adalah monster mengerikan yang bisa menelannya bulat-bulat detik itu juga ?


Gibran adalah Anos Voldigoad di dunia nyata. Seseorang yang bisa menghabisi musuh hanya dalam sekali jentikan jari. Apakah Bimo belum cukup sadar akan fakta tersebut ?


"Jadi lo diam-diam menusuk gue dari belakang. Hebat !" Gibran kembali tersenyum miring.


Miris sekali !


"Tidak ! Gue nggak pernah menusuk lo dari belakang ! Selama ini gue selalu melakukannya dengan terang-terangan, tepat di depan mata lo !"


Rahang Gibran mengatup keras. Mata hitamnya memerah dan menatap Bimo tajam.


"Bimo, cukup !" seru Hendry dan yang lain kompak.


Suasana di sana sudah terlalu panas dan mencekam. Mereka tidak bisa hanya diam saja. Mereka harus ikut campur sebelum ledakan bom atom menghancurkan mereka semua.


"Lo nantangin gue ?" senyum Bimo terlihat semakin melebar mendengar pertanyaan Gibran.


"Hah ! Lama sekali lo baru menyadarinya ! Itu maksud gue sejak awal !"


Gibran mengangguk-angguk paham. Wajahnya datar tanpa ekspresi dan tatapan matanya semakin tajam dan menusuk. Semua diam tanpa berani membuka suara. Bom atom itu sudah terlanjur diaktifkan. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menhentikannya. Tinggal menunggu waktu saja hingga bom itu meledak.


"Okay ! Pulang sekolah nanti di markas. Gue harap lo melakukan yang terbaik !" ucap Gibran sebelum berlalu meninggalkan kantin.


Semua kompak menghela napas gusar sepeninggalan Gibran. Mereka menatap Bimo dengan tatapan kesal. Mereka benar-benar tidak menyangka Bimo akan berani menantang Gibran.


Sebenarnya ada apa dengan pria itu ?


Kemana perginya akal sehat dan kewarasannya hingga ia berani menantang monster berparas manusia tampan itu ?


"Bimo, lo sudah gila yaa ?"


"Lo benar-benar sudah bosan hidup, yaa ? Bisa-bisanya lo nantangin Gibran !"


"Hah ! Lo gila, Bimo ! Dan lo membuat kita ikut-ikutan stres gara-gara kegilaan lo !"


"Sialan lo, Bimo ! Sebenarnya lo kenapa, sih ? Mendadak gila seperti ini !"


Bimo hanya mengedikkan bahunya mendengar dumelan dari teman-temannya. Sepertinya ia benar-benar sudah gila !


"Lo pikir cuma lo yang menyukai Azkia ? Kita semua juga menyukainya, tapi kita cukup sadar diri untuk tidak menganggapnya lebih dari hanya sekedar Ratu geng Thunder ! Kita semua masih cukup waras untuk tidak menjemput maut sendiri !" Hendry menatap Bimo tidak habis pikir.


Sekali lagi, Gibran memang adiknya tapi tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menghentikan Gibran yang sudah terlanjur meledak. Kalian pikir menarik kembali peluru yang sudah terlanjur terlepas dari pelatuknya, sesuatu yang bisa dilakukan ?


Tidak !


Sama halnya dengan Gibran. Menghentikan Gibran yang sudah terlanjur meledak adalah suatu ketidakmungkinan. Gibran yang sudah terlanjur meledak tidak akan bisa dihentikan hingga pria itu selesai melampiaskannya. Sama halnya dengan peluru yang sudah terlanjur terlepas dari pelatuknya. Tidak ada yang bisa menghentikan peluru itu. Ia akan terus bergerak hingga menemukan tempat untuk bersarang. Yang tentu saja akan menciptakan luka yang mungkin selamanya akan meninggalkan bekas di sana.


Semoga kalian suka !😉


Jangan lupa untuk terus men-support author dengan cara vote, like, comment dan bintang limanya !😉😙🤗

__ADS_1


See you next part !👌🖐🖐


__ADS_2