
Happy Reading !🤗😉
"Lidah memang tidak bertulang. Tapi lidah mampu mematahkan hati seseorang hanya dengan satu kata. Karena kata-kata layaknya sebuah peluruh. Sekali kau menarik pelatuknya, maka ia tidak akan bisa kembali lagi. Sama halnya dengan kata yang sudah terlanjur kau ucapkan, tidak akan pernah bisa kau tarik lagi"
~Azkia Aqilla Candra~
***
Semua mata tertuju pada seorang gadis yang kini berjalan memasuki gerbang sekolah. Senyum manis tercetak dari bibir mungilnya menghiasi wajahnya yang tampak berkali-kali lipat lebih cantik dari hari-hari biasanya.
Bagaimana tidak, hari ini gadis itu datang dengan rambut hitam panjang lurusnya yang dibiarkan tergerai. Dihiasi poni tipis ala-ala Korea membuatnya terlihat begitu imut. Sangat berbeda dari gadis yang selama ini mereka lihat dengan rambut yang panjangnya hanya sebahu.
Semua bertanya-tanya bagaimana bisa gadis itu kini memiliki rambut panjang sepinggang padahal baru kemarin ia datang ke sekolah dengan rambut pendeknya. Namun terlepas dari pertanyaan-pertanyaan itu, kaum adam dengan mata berbinar berdecak kagum melihat kecantikan gadis itu.
"Apa dia murid baru ?"
"Gila ! Bukannya dia Azkia ? Kok hari ini dia beda bangat ?"
"Rambut Azkia kok jadi panjang ? Bukannya rambutnya cuma sebahu ?"
"Ma syaa Allah ! Sungguh indah ciptaan-Mu !"
"Ugh ! Hatiku meleleh !"
"Azkia cantik bangat ! Dag dig dug hatiku !"
"Halah ! Dasar cabe ! Suka bangat tebar pesona ! Bikin eneg aja !"
Dan berbagai seruan lain pun cibiran yang terdengar dari mulut-mulut suci tanpa dosa itu. Banyak yang berdecak kagum namun banyak pula yang menghinanya. Azkia tahu akan jadi seperti itu. Tapi Azkia tidak akan peduli dengan mereka yang dengan mudah mengomentari penampilannya.
"Hay, Azkia ! Rambut lo..." Hendry tidak melanjutkan kalimatnya. Kedua matanya sibuk memperhatikan keindahan ciptaan Tuhan di depannya itu.
"Ahh, iya ! Sebenarnya ini rambut asli gue !" jelas Azkia yang mengerti dengan maksud Hendry.
"Azkia, kaukah itu ?" seru Bastian yang datang tak lama setelah Hendry.
"Gile ! Teman kita cantik bangat ! Rambut lo kenapa bisa jadi panjang gini ?" tanya Firman tak kalah heboh.
"Wah ! Gue kira murid pindahan, ehh ternyata lo ! Lo cantik bangat hari ini, Azkia !" lanjut Vero.
"Berarti kemarin-kemarin gue jelek, yaa ?" tanya Azkia pura-pura memasang wajah sedih.
"Nggak !" jawab semua kompak.
Azkia berbalik saat mendengar suara Gibran ikut menyahut dari arah belakangnya. Senyum Azkia semakin melebar melihat Gibran yang juga tersenyum padanya.
"Good girl !" puji Gibran sambil mengacak-acak rambut Azkia gemes.
"Jangan ngajak gue perang sepagi ini, Bran !" dumel Azkia kesal sambil merapikan rambutnya yang diberantakin Gibran.
Gibran hanya tertawa melihat wajah cemberut Azkia. Lucu sekali !
"Tumben nggak berangkat bareng pangeran lo ?" Azkia mengerutkan keningnya tidak mengerti namun kemudian ia ber-oh riah saat paham pangeran yang Gibran maksud adalah Arta.
"Arta berangkat pagi-pagi sekali. Katanya ada urusan penting yang harus diselesaikan pagi-pagi. Makanya tadi gue diantar kak Fajar !" jelas Azkia.
Gibran mengangguk-angguk mengerti.
"Pulang nanti gue antar kalau gitu !" ucap Gibran yang lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan ataupun kalimat tawaran.
"Nggak usah ! Gue bi..."
"Gue nggak terima penolakan. Gimana dong ?" potong Gibran cepat.
"Lo emang ahlinya bikin orang kesal Bran, asli !" dumel Azkia kesal. Dan Gibran hanya tertawa mendengar dumelan gadis menggemaskan itu.
__ADS_1
Hari ini siswa-siswi bahkan guru-guru SMA Nusantara dikejutkan dengan banyak kejutan. Pertama dengan penampilan sang golden student pindahan dari SMA Bayangkara. Kedua dan yang paling mengejutkan adalah kehadiran Gibran dan kawan-kawannya di upacara bendera pagi itu.
Geng Thunder, khususnya sang ketua geng yang tak lain adalah Muhammad Gibran Hutama yang tak lain pula adalah anak dari direktur sekolah yang sebelumnya tidak pernah sekali pun mengikuti upacara bendera hari ini tiba-tiba saja mengikuti upacara.
Semua semakin dibuat terkejut dengan penampilan para anggota geng Thunder yang terlihat rapi dan memakai atribut lengkap. Bukan tanpa alasan, karena mereka selama ini tidak pernah sekali pun mengikuti aturan sekolah. Namun hari ini entah mengapa semua malah berpenampilan rapi dan lengkap.
Ada yang aneh dengan mereka !
Semua kembali masuk ke kelas masing-masing setelah berjam-jam berjemur di bawah sinar matahari pagi yang katanya baik untuk kesehatan karena tubuh mendapatkan asupan vitamin D. Yang entah mengapa matahari pagi di hari senin selalu jauh lebih panas daripada hari-hari lainnya.
Seperti biasa, wajah putih Azkia tampak memerah membuatnya terlihat seperti sedang merona. Gibran yang melihat itu dibuat semakin gemas.
"Nih, minum !" senyum Azkia merekah saat menerima minuman dingin yang disodorkan Arta.
Ahh, pria itu memang selalu tahu apa yang dibutuhkan Azkia.
"Trims, Ta !" ucap Azkia.
Dan senyumnya semakin lebar saat mendapati penutup botol itu bahkan sudah dibuka lebih dulu oleh Arta sebelum memberikannya padanya.
"Maaf yaa tadi pagi nggak bisa berangkat bareng ! Nanti juga kayaknya masih nggak bisa pulang bareng deh, aku ada rapat OSIS soalnya" tutur Arta penuh penyesalan.
"It's okay ! Nanti aku pulang diantar Gibran, kok !" Arta mengangguk mengerti.
"Sudah aku bilang kan lebih bagus kayak gitu !" Arta mengusap lembut puncak kepala Azkia. Membuat siapa pun yang melihatnya bisa tahu bahwa Azkia adalah seseorang yang sangat berarti di dalam hidup pria itu.
Azkia menakutkan kedua alisnya saat menyadari perubahan aura di sekitarnya. Azkia menelan ludahnya saat melihat raut wajah Gibran yang jelas tidak bersahabat. Wajah Hendry yang biasanya memang dingin kini ia terlihat mengatupkan rahangnya kuat seperti sedang menahan amarah. Juga Fikri yang tadinya terlihat ceriah kini tampak murung dan membuang muka.
Azkia ingin bertanya namun ia urunkan. Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuknya bertanya. Meski kebingungan, Azkia mencoba menahan diri untuk tidak bertanya alasan mengapa semua terlihat tidak suka saat Arta mengusap kepalanya.
Akhir-akhir ini Arta memang lebih banyak diam dengan kedekatan Azkia dengan Gibran. Jika dulu ia mati-matian menjauhkan Azkia dari pria itu, maka sekarang ia lebih terlihat acuh. Banyak hal yang tidak dipahami Azkia tentang hubungan Arta, Gibran, dan Fikri juga Hendry. Seperti ada noda dalam hubungan keempatnya yang sampai sekarang belum juga dibersihkan.
Azkia bukannya tidak pernah mencoba mencari tahu permasalahan mereka. Berkali-kali ia sudah menanyakannya kepada Arta maupun Gibran juga Fikri dan Hendry. Namun hingga hari ini ia belum juga mendapatkan titik terang dan akar permasalahan mereka.
Hubungan mereka layaknya ribuan benang yang saling terlilit kusut hingga begitu sulit untuk menemukan ujungnya. Azkia harus bersabar mencari dan memilah satu-persatu benang itu yang tentu saja membutuhkan banyak waktu untuk bisa menemukan ujungnya. Untuk bisa memecahkan permasalahannya, setidaknya Azkia harus bisa menemukan salah satu ujung benangnya.
"Selamat pagi, anak-anak !" seru Bu Hasma yang baru saja memasuki kelas diikuti dua siswi di belakangnya.
"Pagi, Bu !" sahut semua kompak.
"Baik, anak-anak ! Hari ini kita kedatangan dua teman baru lagi ! Silahkan nak perkenalkan diri kalian !" tutur Bu Hasma dengan senyum ademnya.
"Perkenalkan nama saya Citra Yunita Salman, bisa dipanggil Citra. Saya pindahan dari SMAN 181 Sultan Hasanuddin. Salam kenal semuanya dan mohon bantuannya !" gadis berjilbab syar'i dan memakai cadar itu memperkenalkan dirinya dengan percaya diri.
"Na-nama saya Zakia Putri, bisa dipanggil Putri. Saya pindahan dari SMA Bayangkara. Mohon bantuannya teman-teman !" jika Citra terlihat percaya diri, maka berbeda dengan Putri yang terlihat malu-malu. Gadis berkaca mata bulat dan berkepang dua itu terlihat pemalu.
Azkia menaikkan kedua alisnya. Pindahan dari SMA Bayangkara ? Itu berarti mereka dari sekolah yang sama. Tapi kenapa Azkia tidak ingat pernah melihat dia di SMA Bayangkara dulu ?
"Baiklah ! Kalian berdua silahkan duduk di bangku kosong di sana !" Ibu Hasma menunjuk dua kursi kosong yang berada di baris yang sama dengan kursi Azkia dan Gibran.
Pantas saja tadi mereka melihat ada dua kursi tambahan yang diletakkan di samping Gibran.
"Okay ! Today we will learn about ..."
Ibu Hasma selaku guru Bahasa Inggris mulai menjelaskan materinya. Semua memperhatikan dengan seksama.
🍁
Seperti biasa, semua berhambur keluar dari kelas masing-masing setelah mendengar bel tanda istirahat berdering merdu di segala penjuru sekolah. Azkia tidak langsung meninggalkan kelas melainkan menghampiri kedua siswi pindahan tadi.
"Hay, aku Azkia ! Salam kenal Citra, Putri !" Citra dan Putri membalas uluran tangan Azkia dan membalas senyuman Azkia.
"Salam kenal juga, Azkia ! Mohon bantuannya, yaa !" balas Citra dengan suara lemah lembutnya. Meski Citra memakai cadar tapi Azkia bisa tahu gadis itu sedang tersenyum karena kedua matanya yang sedikit menyipit.
"Ohh yaa, Put ! Aku juga pindahan dari SMA Bayangkara, loh ! Aku pindah awal semester beberapa minggu yang lalu. Maaf tapi sepertinya aku tidak mengenalmu. Apa kau mengenalku ?" tanya Azkia sedikit tidak enak.
__ADS_1
"Tentu saja aku mengenalmu. Memangnya siapa yang tidak mengenal Azkia Aqilla Candra ? Siswi paling populer, cerdas, baik hati, ramah, dan cantik. Tidak ada yang tidak mengenalmu, Azkia ! SMA Bayangkara bahkan masih heboh karena kamu pindah. Wajar kalau kamu tidak mengenalku. Kita memang jarang berpapasan dan tidak pernah berada di kelas yang sama" jelas Putri dengan semangat. Gadis itu bahkan sepertinya tidak sadar telah bicara panjang lebar.
"Kau terlalu berlebihan memujiku, Putri ! Aku tidak sebaik yang kamu kira. Ohh yaa, mau ke kantin bareng nggak ?" Citra dan Putri mengangguk mengiyakan.
Azkia terlalu fokus dengan Putri dan Citra sampai ia lupa dengan Gibran yang sejak tadi menunggunya. Ia baru menyadari keberadaan pria itu saat hendak mengambil ranselnya dan melihat Gibran yang masih duduk di kursinya.
"Ohh, my ! Gue lupa lo masih ada di sini, Bran !" ucap Azkia penuh penyesalan.
"Jadi, hari ini nggak makan siang sama kita ?" tanya Gibran.
"Hari ini aku kayaknya makan siang sama mereka, deh ! Bilang ke yang lain kalau hari ini aku nggak gabung, yaa ! Ohh yaa, Bran kenalin ini Citra sama Putri ! Putri, Citra ini..."
"Muhammad Gibran Hutama !" potong Citra dan Putri kompak.
"Kok kalian bisa tahu ?" tanya Azkia kaget.
"Bukan cuma lo yang populer, Kia ! Yasudah, aku duluan. Salam kenal Putri, Citra ! Aku titip gadis ceroboh ini, yaa !" Gibran mengacak-acak rambut Azkia sebelum berlalu meninggalkan ketiganya.
"Dasar menyebalkan !" dumel Azkia.
"Wah, Gibran nyebut nama aku ! Senangnya !" seru Putri. Azkia dan Citra saling melempar pandangan.
"Do you one of Gibran's Lovers ?" tebak Azkia.
"Iya, aku nge-fans bangat sama Gibran. Aku nggak nyangka bisa satu kelas sama dia. Beruntungnya !" Azkia tersenyum geli mendengar penuturan Putri.
"Aku sih nge-fans bangat sama Arta ! Aku juga senang bisa satu kelas sama dia !" senyum Azkia semakin lebar mendengar fakta Citra yang ternyata salah satu fans Arta.
"Azkia sahabat kecilnya Arta, loh !" ceplos Putri.
"Benarkah ?"
"Iya, aku dan Arta udah sahabatan sejak kecil. Rumah kami juga tetanggaan"
"Wah, jadi iri sama Azkia ! Berarti bisa ketemu sama Arta tiap hari dong yaa !" Azkia hanya tersenyum sebagai jawaban.
"Senangnya bisa punya teman ! Aku pikir nggak akan punya teman cewek sampai lulus nanti. Hampir semua siswi di sini langsung benci sama aku sejak awal pindah karena mereka tau aku dekat sama Arta dan sekarang bisa dekat juga sama Gibran"
"Malah aku yang takut bangat nggak bisa punya teman di sini. Secara aku pake pakaian syar'i gini. Aku pikir nggak akan ada yang mau temanan sama aku !"
"Harusnya aku yang ngomong kayak gitu. Aku benar-benar tidak percaya diri, aku cupu, jelek, jerawatan dan sulit bersosialisi. Aku malah nggak nyangka bisa berteman sama Azkia si golden student. Ternyata memang benar Azkia itu baik hati. Sudah cantik, pintar tapi tidak pernah sombong" Azkia tertawa mendengar Putri yang lagi-lagi memujinya terlalu berlebihan.
"Semua wanita itu cantik dengan style mereka sendiri. Itu yang Gibran katakan pas aku juga sedang tidak percaya diri dengan penampilanku" Putri dan Citra kompak membulatkan kedua mata mereka saat mendengar penuturan Azkia.
"Wah ! Azkia yang cantik, pintar, baik hati dan tidak sombong ternyata juga pernah yaa nggak percaya diri !" seru Citra tidak menyangka.
Mereka berjalan beriringan menuju kantin yang berada di ujung lantai tiga. Suasana kantin sudah sangat ramai saat mereka sampai. Di pojokan kantin Fikri dengan senyum lebarnya melambaikan tangannya kepada Azkia. Azkia membalas senyum pria itu dan ikut melambaikan tangannya di udara.
"Citra nggak apa-apa makan di sini ? Kalau mau kamu bisa pesan makan terus kita makan di musholah aja !" saran Azkia.
Karena Citra memakai cadar mungkin ia akan sedikit kesusahan makan di kantin yang sedang ramai oleh siswa dan siswi kelas XII IPA.
"Ahh, nggak apa-apa nih ? Tapi kalau kalian mau makan di kantin aku bisa kok makan sendiri di musholah" kata Citra tidak enak.
"Aku sih nggak apa-apa !"
"Aku juga !"
Ketiganya menuju musholah lantai tiga khusus perempuan setelah Citra dan Putri memesan makanan di kantin. Sementara Azkia seperti biasa membawa bekal dari rumah. Azkia senang akhirnya bisa mempunya teman perempuan di SMA Nusantara. Selama ini ia hanya berteman dengan Arta, Fikri, Gibran dan anggota geng Thunder yang seluruhnya adalah laki-laki.
Azkia merasa takjub saat melihat wajah cantik Citra dibalik cadarnya. Gadis bersahaja yang kini dan seterusnya akan menjadi temannya. Azkia dan Citra terus menyakinkan Putri yang merasa berkecil hati. Apalagi saat beberapa siswi lain dengan terang-terangan menghujat penampilan Putri.
Azkia benar-benar benci dengan hal-hal yang berbau bully apalagi hal semacam body shaming. Azkia benci orang-orang yang dengan mudah mengeluarkan kata-kata hinaan yang mungkin saja akan mematahkan hati seseorang.
Lidah memang tidak bertulang. Tapi lidah mampu mematahkan hati seseorang hanya dengan satu kata. Karena kata-kata layaknya sebuah peluruh. Sekali kau menarik pelatuknya, maka ia tidak akan bisa kembali lagi. Sama halnya dengan kata yang sudah terlanjur kau ucapkan, tidak akan pernah bisa kau tarik lagi.
__ADS_1
Semoga kalian suka !🤗😉😙
Jangan lupa VOTE, LIKE, and COMMENT yaa !😙😉🌟🌟🌟