AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 19. Trauma Azkia


__ADS_3

Happy Reading !😉😙


"Sebenarnya dia tidak benar-benar tersenyum saat ia tersenyum. Dan dia tidak benar-benar tertawa saat ia tertawa. Tapi saat ia menangis, dia benar-benar menangis !"


~Arta Tristan Abrisam~


***


"Arta tolong bawa ini ke kamar Gibran, sekalian kamu jengukin dia !" pintah Azkia sambil menyodorkan nampan kecil berisi segelas teh panas.


"Kamu lupa yaa hubungan aku dan Gibran itu nggak baik ?"


"Makanya aku suruh kamu jengukin dia, Ta ! Kalau Gibran nggak bisa, cobalah untuk mengajaknya bicara lebih dulu ! Mau sampai kapan kalian kayak gitu terus, hmm ? Tidak lama lagi kita ulangan, setelah itu ujian, dan kemudian lulus. Kalian mau berpisah begitu saja tanpa meluruskan permasalahan kalian ? Kalian ingin saling menjauh begitu saja tanpa ada kata maaf dan memaafkan lebih dulu ? Arta, ayolah ! Hmmm ?" Azkia menatap Arta dengan tatapan penuh harap.


Azkia memang belum mengetahui permasalahan antara Arta dan Gibran. Ia sudah mencoba untuk menggali informasi tentang mereka, namun sia-sia. Azkia tak jua menemukan jawabannya. Jika memang Azkia tidak bisa mengetahui alasan mengapa persahabatan mereka rusak, maka setidaknya ia harus berusaha untuk membantu keduanya memperbaiki hubungan mereka.


Arta menghembus napas berat sebelum akhirnya menerima nampan itu. Senyum Azkia langsung terukir indah menghiasi wajah cantiknya.


"Semangat !" kata Azkia sambil mengepalkan kedua tangannya di udara mencoba memberi semangat kepada Arta.


Sepeninggalan Arta, Azkia juga mengantar segelas teh hangat buatannya ke kamar Bimo. Senyumnya kembali melebar melihat Bimo yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Pria itu terlihat terkejut melihat Azkia di sana.


"Azkia ? Kok lo bisa ada di sini sepagi ini ?" tanya Bimo keheranan.


"Gue langsung ke sini habis sholat tadi. Gue mau memastikan kalian berdua baik-baik saja. Gimana ? Apa masih sakit ?"


Senyum Bimo tercetak indah. Pria itu tampak menggelengkan kepalanya.


"Tidak ! Gue baik-baik saja, jangan khawatir !" jawab Bimo semangat.


"Syukurlah kalau begitu ! Kalau gitu gue mau ke belakang dulu, yaa ! Tehnya jangan lupa diminum !" kata Azkia sebelum beranjak dan berjalan meninggalkan Bimo yang hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Hah ! Bagaimana gue bisa melepaskan gadis sebaik lo begitu saja, Azkia ? Bagaimana gue bisa menghapus perasaan gue ke lo secepat itu ? Sementara rasa itu malah semakin tumbuh subur seiring berjalannya waktu. Azkia, beri tahu aku bagaimana caranya mengikhlaskanmu bersama laki-laki lain di saat hati dan pikiranku hanya dipenuhi olehmu ?" gumam Bimo.


Sementara itu, di lantai dua di kamar Gibran. Arta mengetuk pintu kamar itu sebelum membukanya. Ia masuk setelah sang empunya telah mempersilahkannya untuk masuk. Arta bisa menyadari keterkejutan Gibran saat melihat dirinyalah yang masuk.


"Lo ? Ngapain lo ada di sini sepagi ini ? Mau apa lo, hah ?" Arta menghembus napas berat saat mendengar pertanyaan sarkastik dari Gibran.


"Teh hangat. Minum, gih !" kata Arta tanpa menjawab pertanyaan Gibran.


"Cih ! Nggak sudi gue menerima pemberian lo ! Lebih baik sekarang lo keluar sebelum gue menghancurkan muka menjijikkan lo itu !" sarkas Gibran dengan menekankan setiap kata-katanya.


"Itu bukan dari aku, itu Azkia yang buat !"


"Kia ? Jadi maksud lo, lo pagi-pagi datang ke sini cuma buat bawain teh buatan Kia ini. Begitu ?"


Arta menarik napas panjang sebelum menghembusnya perlahan. Ia menatap Gibran dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ada tatapan penyesalan di sana namun juga ada tatapan kesakitan. Gibran tidak bisa memahaminya !


"Azkia ada di bawah !" Arta tampak menjeda.


"Pagi-pagi sekali dia datang ke rumah dan memintaku mengantarnya ke sini. Kamu tau kenapa ? Itu karena kau ! Dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi denganmu dan Bimo. Bukankah sudah aku bilang, jauhi Azkia kalau kamu tidak bisa menjaganya ! Mungkin dia terlihat kuat dari luar, tapi tidak dengan hatinya. Azkia...dia tidak sekuat penampilan. Itu hanya topeng. Kenyataannya, dia rapuh ! Jadi berhenti menyusahkannya !" tutur Arta berubah serius.


"Topeng ? Apa maksud lo ?" tanya Gibran tidak mengerti.


Arta kembali menghembus napas berat. Kali ini ia terlihat memijat-mijat pangkal hidungnya yang terasa begitu pening. Kepalanya mendadak pusing mengingat kenangan lama mereka yang tak kunjung sirna oleh waktu.


"Azkia...Sebenarnya dia tidak benar-benar tersenyum saat ia tersenyum. Dan dia tidak benar-benar tertawa saat ia tertawa. Tapi saat ia menangis, dia benar-benar menangis !" Gibran mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Azkia banyak berubah sejak ia dekat denganmu. Dia lebih banyak tersenyum dan tertawa, tapi juga menangis. Aku bahkan tidak ingat, kapan terakhir kali melihat Azkia menangis. Sampai akhirnya dia bertemu denganmu. Azkia benar-benar berubah ! Ia selalu berusaha melakukan yang terbaik untukmu dan anggota geng-mu. Jika kau mempertanyakan ketulusannya, jangan khawatir karena Azkia benar-benar tulus dalam membantu orang lain. Itu karena...dia terlalu takut mempunyai penyesalan di hari esok !" tutur Arta mengakhiri ceritanya.


"Kenapa ? Apa Kia mempunyai trauma di masa lalu ?" tanya Gibran. Hatinya mendadak sakit mendengar penjelasan Arta.


"Iya !" jawab Arta tanpa ragu.


"Jangan bertanya trauma apa itu, karena aku tidak akan mengatakannya. Sama seperiku, aku mempunyai rahasia yang harus Azkia dengar langsung dari mulutku. Begitu pun dengan Azkia, kau hanya boleh mendengarnya dari Azkia langsung !" kata Arta cepat membuat Gibran yang sudah membuka mulutnya hendak bertanya kembali mengatubkan bibirnya.


🐧

__ADS_1


"Innalillahi !" seru Azkia setelah mencicipi nasi goreng hasil karya kedua tangan Hendry.


"Kenapa ? Kurang asin, yaa ?" tanya pria itu dengan tampang polos yang malah membuat Azkia gemas ingin mencekiknya.


"Tadi gue memang cuma kasih sedikit garam, sih ! Ntar gue tambahin lagi kalau gitu !" sambung Hendry membuat Azkia semakin ingin membunuh pria itu.


"Ini sih garam pake nasi, Hend ! Kalau mau jadi sapi mah jangan ngajak-ngajak ! Seluruh anggota geng Thunder bisa langsung hipertensi habis makan nasi goreng buatan lo ini !" ceramah Azkia sambil menatap nasi goreng buatan Hendry dengan tatapan ngeri.


Azkia belum pernah memakan makanan dengan rasa semengerikan itu sebelumnya.


"Nasi putihnya masih ada, nggak ?" tanya Azkia. Ia berniat menambahkan nasi putih untuk mengurangi keasinan nasi goreng itu.


"Sudah habis !"


"Lo masak lagi gih kalau gitu ! Jangan terlalu lembek, yaa !" Hendry mengangguk kemudian melaksanakan perintah Azkia. Sementara gadis itu mulai mempersiapkan bumbu-bumbu nasi goreng lagi.


"Di kulkas ada apa aja, Hend ?" tanya Azkia lagi.


"Ada ayam, ikan, tahu, tempe, sosis sama sayuran !"


"Telur nggak ada ?"


"Telur apa dulu, nih ?" tanya Hendry dengan nada bercanda.


"Telur buaya ! Yaa telur ayam lah, masa iya telur lo. Suram dah masa depan lo nanti !" Azkia memasang wajah mengejek sementara Hendry hanya bisa mendengus karena niatnya menggoda Azkia malah dia yang kena sendiri.


Asem memang tuh cewek !


Mana mulutnya nggak pake filter, lagi ! Ck ck ck !


Keduanya kemudian larut dalam acara memasak mereka. Azkia harus super sabar menghadapi kebobrokan Hendry dalam hal memasak. Lihat saja, nasi yang tadi dimasak pria itu lebih cocok disebut bubur daripada nasi. Azkia terpaksa membuatnya menjadi bubur ayam dan memasak nasi kembali untuk nasi gorengnya.


"Hendry ! Metode merebus ayam zaman kapan itu ? Yaa Allah, Hendry ! Berantem aja yuk kita ! Atau mau main cubit-cubitan pake tang sekalian, hah ?" Azkia mengerang frustasi melihat Hendry yang bukannya membantu, pria itu malah membuat Azkia kesal setengah mati.


Bagaimana tidak, Azkia meminta Hendry merebus ayam sebelum disuwir-suwir, tapi pria itu malah menggorengnya. Okay ! It's not bad ! Dan seharusnya memang ayamnya di goreng. Hanya saja, Azkia tidak ingin Gibran dan Bimo sampai kesulitan mengunyah daging ayamnya nanti. Azkia sekalian membuat bubur pun karena tidak ingin kedua pria itu sampai kesulitan makan.


"Rebus yaa pake air, Hendry ! Kalau pake minyak namanya digoreng, paham ?" Hendry langsung mengangguk mengerti. Bisa berabe kalau ia sampai membuat Azkia lebih kesal lagi. Bisa-bisa dia yang akan gadis itu rebus.


Happy Virus, yaa ?


Ternyata Gibran memang tidak pernah salah memberi julukan itu pada Azkia. Gadis pecicilan dan ceroboh itu benar-benar cocok menyandang gelar itu. Semua orang yang berada di dekatnya selalu tersenyum karenanya. Dia selalu bisa membuat siapa pun bahagia.


Jam setengah tujuh pagi Azkia dan Hendry akhirnya selesai bergelut dengan alat dan bahan makanan di dapur. Azkia menyajikan makanan di atas meja saat Hendry mencuci peralatan dapur yang kotor.


"Suruh yang lain datang untuk sarapan bareng, gih !" pintah Azkia setelah Hendry menyelesaikan kegiatan mencucinya.


Hendry mengangkat kedua jempolnya sebagai jawaban 'iya'.


"Ke markas kuy, kita sarapan bareng soalnya hari ini kita masak banyak !" tulis Hendry sebelum mengirimnya ke grup Study Group.


"Sarapan masakan lo yang rasanya laknat itu ? Sorry to say, gue masih sayang nyawa bro !" balas Vero.


"Gue juga mending skip sarapan dah daripada makan masakan lo yang rasanya super ajaib itu !" timpal Bastian.


"Jahat bangat lo berdua ngomong kayak gitu. Gue kan baru aja mau bilang hal yang sama !😂😁@Tian @Vero" Saldi ikut menimpali.


"Asem lo semua ! Kalau nggak mau yasudah ! Nyesel lo nggak datang soalnya Azkia yang masak ! Bye !" balas Hendry.


"Woy, Hen lo serius Azkia yang masak ?"


"OTW kalau gitu, mah !"


"Gue sudah sampai, bukain pintu !"


Azkia terkekeh membaca isi chatingan teman-temannya. Seperti biasa mereka selalu heboh. Tidak heran geng mereka diberi nama geng Thunder.


Hari ini sarapan geng Thunder jelas sangat berbeda dari sarapan-sarapan biasanya. Jika biasanya mereka sarapan bersama anggota keluarga mereka di akhir pekan, maka berbeda dengan hari ini. Itu karena mereka sarapan bersama di markas dan juga kehadiran Sang Ratu Geng Thunder di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


Azkia mengisi dua piring bubur ayam buatannya untuk Gibran dan Bimo. Saat ini ia sedang duduk diantara kedua pria itu. Ada perasaan canggung yang menyelinap ditengah-tengah mereka, namun Azkia mencoba untuk mengabaikannya. Ia tidak ingin memperkeruh keadaan dengan menampakkan kecanggungan itu.


"Bisa makan, kan ?" tanya Azkia lembut pada Bimo yang sudah siap dengan sendoknya.


Bimo mengangguk sambil tersenyum manis melihat perhatian kecil yang Azkia berikan. Hal sesimple itu bahkan bisa membuat hati Bimo mendadak menjadi taman bunga.


Bodoh sekali !


Azkia kembali menoleh pada Gibran yang duduk di samping kanannya. Fokus Azkia tertuju pada tangan kanan Gibran yang terbungkus perban. Kening Azkia berkerut mengingat kemarin tangan itu sama sekali tidak terluka.


Jadi kapan Gibran mendapatkan luka di tangan kanannya itu ?


"Tangan lo kenapa ?" tanya Azkia membuat semua kompak menghentikan makan mereka dan ikut menatap tangan Gibran yang kini berada dalam genggaman Azkia.


Semua tampak tak kalah terkejut dengan Azkia. Yang mereka tahu kemarin tangan Gibran baik-baik saja. Apalagi Hendry dan Bimo yang memang menginap di markas bersama Gibran. Saat sholat Subuh tadi tangan Gibran bahkan baik-baik saja.


Hanya Hero yang terlihat biasa saja melihat tangan berbalut perban itu. Tentu saja, karena dialah yang membalut luka di tangan kanan Gibran itu dengan perban.


"Gue nggak apa-apa ! Don't worry !" kata Gibran santai membuat satu jitakan maut langsung mendarat mulus di puncak kepalanya.


Semua meringis melihat Gibran yang kini merintih kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Azkia. Ia ingin mengomel namun ia urunkan. Melihat tatapan tajam Azkia saja sudah membuatnya bergidik ngeri.


"Maaf !" kata Gibran dengan wajah memelas. Sontak membuat semua pasang mata yang ada di sana memanatapnya cengo.


Azkia menarik kembali piring Gibran. Ia meraih sendok di piring itu dan hendak menyuapi Gibran. Semua sontak menatap Gibran dan Azkia bergantian. Dan semua dengan kompak memasang wajah yang semakin cengo melihat wajah merona Gibran. Ohh, dan jangan lupakan senyum malu-malu pria itu !


Menggelikan sekali !


Dasar kulkas 21 pintu, sama semua orang dinginnya nggak ketulungan. Tapi giliran sama Azkia saja dia mendadak jadi orang paling bodoh.


Menggelikan !


Gibran menerima suapan dari Azkia dengan semangat. Bubur buatan Azkia yang memang sudah sangat enak menjadi berkali-kali jauh lebih enak lagi karena Azkia menyuapinya. Gibran bahagia. Yah ! Semudah itu Gibran untuk merasa bahagia. Semudah Azkia berada di dekatnya.


"Yang kayak gini nih yang buat gue ragu jatuh cinta ! Preman mendadak jadi hello kitty !" kata Diki masih sambil menatap Gibran.


"Betul ! Serigala mengerikan saja bisa berubah menjadi seekor kucing. Cinta itu benar-benar mengerikan !" timpal Hero sambil menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tidak habis pikir.


"Nyatanya sejak awal gue memang tidak pernah ada ruang di hati lo, Az ! Seharusnya gue cukup sadar diri bahwa pria yang lo inginkan itu adalah Gibran. Bukan gue atau yang lain ! Menyedihkan sekali !" batin Bimo.


Ia ikut tersenyum melihat Azkia yang kini menyuapinya Gibran dengan telaten. Bimo bisa melihat bagaimana tatapan gadis itu menatap Gibran dengan penuh kekhawatiran. Mungkin Azkia juga menatapnya khawatir, namun tatapan matanya jelas berbeda saat ia menatap Gibran.


Mungkin rasanya memang menyakitkan. Gagal dalam cinta itu tentu saja menyisahkan luka. Namun Bimo harus bersyukur akan satu hal. Karena gadis yang ia cintai dicintai oleh pria yang jauh lebih baik darinya. Gadis yang ia cintai itu pasti akan lebih bahagia bersama sahabatnya. Yang jelas mencintai Azkia jauh lebih besar dari cintanya. Dengan begitu, Bimo tidak akan pernah menyesali keputusannya untuk menyerah pada cinta pertamanya.


Beberapa saat yang lalu...


Sepeninggalan Arta, Gibran termenung sendiri di kamarnya memikirkan semua penuturan pria itu. Membayangkan Azkia menangis saja sudah cukup membuatnya sakit. Apalagi jika alasan air bening itu jatuh adalah karena dirinya.


Gibran merutuki dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Azkia. Gadis yang tidak tahu apa-apa itu harus menanggung perasaan bersalah atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Gibran tanpa sadar telah memberikan banyak beban dalam hidup Azkia.


Bugh...bugh...buughhh...


Gibran terus memukuli tembok di kamar itu untuk melampiaskan amarahnya. Ia bahkan sama sekali tidak menghentikan aksinya itu meski tangannya sudah mengeluarkan darah. Hingga Hero datang dan mencoba menghentikan apa yang dilakukan Gibran yang jelas menyakiti dirinya sendiri.


"Gibran, cukup ! Lo apa-apaan, sih ?" teriak Hero.


"Lo sudah gila, hah ?" bentak Hero lagi.


Gibran terdiam sambil menunduk dalam, sementara Hero mulai membersihkan luka di tangan Gibran sebelum membalutnya dengan perban.


"Kenapa ?" tanya Hero. Suaranya sudah kembali normal. Tidak ada lagi bentakan dalam bicaranya.


Gibran menghela napas panjang sebelum menceritakan semuanya kepada Hero.


*Se**moga kalian suka !😉😙*


Jangan lupa untuk terus mensupport author dengan cara vote, like, dan comment yaa !😉😙🤗

__ADS_1


Ditunggu saran dan masukannya juga, yaa !


So, see you next part !😉😊


__ADS_2