
Happy Reading !😉
"Seakan-akan jawaban atas semua pertanyaannya adalah bom waktu yang akan meledak tepat saat ia menggenggam semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya itu."
~Azkia Aqilla Candra~
***
Arta meletakkan helm-nya sebelum membantu Azkia yang tampak kesulitan melepas helm miliknya. Selalu seperti itu, entah kapan gadis itu bisa melepas helm-nya sendiri tanpa harus Arta bantu.
Benar-benar gadis bodoh !
Satu minggu telah berlalu sejak mereka masuk sekolah yang berarti satu minggu pula telah berlalu sejak Azkia pindah ke SMA Nusantara. Azkia bersyukur nyawanya masih aman-aman saja sejauh ini. Belum ada tanda-tanda pergerakan dari fans Arta. Dan semoga saja kehidupan sekolah Azkia kedepannya baik-baik saja.
"Gibran ! Bareng ke kelas, yuk !" panggila Azkia pada Gibran yang juga baru saja memarki motor besarnya.
Azkia melambaikan tangan kanannya di udara saat Gibran menoleh ke arahnya. Pria itu juga melambaikan tangannya membalas lambaian Azkia. Sejak satu minggu ini Azkia dan Gibran memang jadi lebih dekat. Azkia senang mendapat teman sebangku seperti Gibran.
"Azkia, aku kan sudah bilang jangan terlalu dekat sama dia !" Arta menatap Azkia tidak suka.
Melihat Azkia dan Gibran yang semakin hari semakin dekat jelas membuat Arta khawatir. Tentu saja pria itu membuatnya tidak tenang jika Azkia berada di dekatnya. Arta jelas mengenal ketua geng Thunder itu. Mereka pernah sangat dekat saat SMP dulu. Namun persahabatan mereka hancur lebur sejak mereka lulus 3 tahun yang lalu.
Arta langsung merangkul Azkia dan menyeretnya untuk berjalan lebih dulu saat melihat Gibran yang akan menghampiri mereka. Tentu saja Azkia memberontak meminta Arta melepas rangkulannya.
Tidak !
Bukan karena Azkia tidak suka. Bukan karena Azkia tidak mau. Hanya saja, Azkia jelas lebih menyayangi nyawanya sendiri daripada rasa sukanya kepada Arta.
Ohh, ayolah !
Lihat mata-mata itu yang kini menatapnya tajam. Seperti seekor singa lapar yang sedang mengintai mangsanya. Mengambil ancang-ancang bersiap menerkamnya. Bulu kuduk Azkia bahkan sampai meremang melihat tatapan kebencian dari fans Arta. Bukan hanya dari fans Arta saja, tapi juga dari fans Gibran.
Fakta yang belum lama ini Azkia ketahui tentang seorang Gibran selain sebagai ketua geng Thunder adalah bahwa pria itu berada di posisi yang sama dengan Arta di SMA Nusantara. Fans Gibran sama bejibunnya dengan fans Arta.
Hidup Azkia bisa selesai jika sampai fans dari kedua kubu itu menyerangnya. Tubuh mungilnya jelas akan remuk jika itu sampai terjadi.
Dan sepertinya Azkia harus meralat pernyataannya saat baru pindah ke SMA Nusantara minggu lalu saat dia mengatakan teman sekelasnya tampak ramah dan bersahabat. Nyatanya pernyataan itu hanya berlaku untuk teman laki-laki dan teman sekelas perempuannya menjadi pengecualian.
Satu minggu sekolah di sana saja sudah membuat ratusan bahkan mungkin ribuan siswi membencinya. Bayangkan saja berapa banyak fans Arta dan Gibran yang marah melihatnya karena bisa dekat dengan kedua pria the most wanted boy di sekolah mereka.
Gibran memilih memperlambat langkahnya saat menyadari Arta memaksa Azkia berjalan lebih cepat saat ia berniat menghampiri mereka. Sebuah seringai tercetak di bibir Gibran. Melihat Arta yang mati-matian menjauhkan Azkia darinya membuat Gibran semakin bersemangat mendekati gadis itu.
"Pengecut seperti biasa ! Menjijikan sekali !" gumam Gibran. Ia tersenyum mengejek melihat Arta yang masih setia merangkul Azkia.
"Berhenti mendekatinya, Gibran ! Apa lo nggak bisa lihat bagaimana perempuan itu menatap Arta ? Perempuan itu menyukai sahabatnya, Bran ! Berhenti melakukan sesuatu yang akan menyakiti diri lo sendiri di kemudian hari !" Gibran tahu siapa itu bahkan tanpa menoleh padanya.
"Namanya Azkia kalau lo lupa, Dry !" Gibran menoleh dan menepuk-nepuk pundak Hendry sebelum berlalu meninggalkan pria itu.
Hendry berdecak kesal melihat Gibran mengabaikan kata-katanya seperti biasa. Itu bukan pertama kalinya Hendry memperingati Gibran untuk tidak lagi mendekati Azkia. Hendry sudah menjadikan kata-kata peringatan itu seperti mantra yang harus ia ucapkan setiap hari selama satu minggu ini.
Hendry bukan laki-laki yang akan dengan mudah membenci seseorang tanpa sebuah alasan. Tapi sepertinya mulai hari ini ia akan sedikit membenci gadis bernama Azkia itu. Gadis yang dengan mudahnya mengetuk pintu hati sahabatnya. Meruntuhkan pertahanan Gibran tanpa rasa bersalah dan di saat yang sama dia malah menyukai pria lain.
Hendry membenci Azkia !
Karena sejak gadis itu berhasil mengetuk pintu hati sahabatnya, maka sejak saat itu pulahlah ia menjadi orang yang memiliki peluang paling besar untuk menghancurkan hati Gibran. Dan Hendry tidak ingin lagi-lagi melihat sahabat terbaiknya itu kembali mengalami kehancuran. Sudah cukup dulu ia menyaksikan bagaimana hancurnya seorang Gibran tepat di depan matanya.
~_^
Azkia menghempaskan bokongnya di atas kursi miliknya. Salah satu tangannya mengipasi dirinya sendiri menggunakan buku tulisnya. Mereka baru saja selesai upacara bendera dan sialnya hari ini cuaca sedang panas-panasnya. Padahal masih pagi tapi terik matahari sudah sangat menyengat. Wajah Azkia bahkan terlihat seperti menggunakan blush on karena memerah.
"Mau tukeran tempat ?" Azkia menoleh pada Gibran yang entah sejak kapan duduk di kursinya.
"Boleh ?"
"Tentu saja !" Azkia langsung bersorak senang mendengar persetujuan dari Gibran.
Karena kursi Gibran yang berada tepat di samping jendela membuat angin yang mengenai Gibran lebih banyak daripada Azkia. Dan bertukar tempat duduk dengan Gibran jelas membuat Azkia senang. Setidaknya dia tidak harus merasa kepanasan selama pelajaran berlangsung.
"Kamu kok sama sekali nggak keringatan, Bran ? Emang nggak kepanasan habis upacara ?" tanya Azkia sedikit heran melihat Gibran masih tampak fresh dan wangi. Sama sekali tidak keringatan atau bau matahari sepertinya.
"Karena aku nggak ikut upacara !" jawab Gibran enteng.
__ADS_1
Pletaak...
"Lah si monyet ! Enak bangat nggak ikut upacara. Aku lapor pak Bahar, tamat you !" celoteh Azkia setelah menjitak kepala Gibran.
Seisi kelas langsung menoleh dan menatap Azkia dengan tatapan yang berbeda-beda. 100% kaum hawa menatapnya tajam dan tatapan penuh kebencian. Sementara dari kaum adam ada yang menatapnya heran, kebingungan, takjub dan juga tatapan tidak percaya.
Apa lo sudah gila, Azkia ?
Azkia bisa menerjemahkan tatapan mereka dengan pertanyaan itu. Azkia jadi sedikit gugup karena semua masih tetap menatapnya. Arta yang Azkia ketahui adalah orang super cuek bahkan ikut menoleh menatapnya heran.
"Ke-kenapa kalian semua menatapku ?" tanya Azkia gugup.
"Apa kau tahu apa yang baru saja kau lakukan, Azkia ?" tanya Fikri yang kini duduk di depannya sedikit berbisik.
"Me-memangnya apa yang aku lakukan ? Aku...aku kan cuma..." Azkia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Suaranya bahkan semakin mengecil seiring kata yang ia ucapkan.
"Kau baru saja memarahi Gibran karena tidak ikut upacara, menyebutnya monyet dan berniat melaporkannya pada pak Bahar, juga menjitak kepalanya. Kau tau siapa yang baru saja kau jitak itu ?" tutur Fikri masih berbisik pada Azkia yang sepertinya belum menyadari kesalahannya.
"Gibran..."
"Yes, that is right ! Kau baru saja melakukan semua itu pada Gibran, ketua geng Thunder. Kau tau kenapa geng Thunder sangat ditakuti ?" jawab Fikri sekaligus bertanya.
Azkia menggeleng tidak tahu.
"Me-memangnya geng Thunder sangat ditakuti ?" Azkia semakin khawatir saat mendengar penjelasan Fikri. Ia bahkan tidak berani lagi menoleh pada Gibran yang hanya diam setelah ia menjitak kepalanya.
Apa pria itu marah ?
"Mereka sangat ditakuti ! Itu karena mereka tidak pernah main-main dengan siapapun yang berani mengusik mereka. Tidak peduli itu perempuan atau laki-laki, guru atau direktur sekolah sekalipun !" Azkia menelan ludahnya susah payah setelah mendengar penjelasan Fikri.
"Fik ! Lo ada dendam sama gue atau gimana ? Kenapa lo baru ngasih tau berita sepenting ini sekarang ?" Azkia menatap Fikri kesal namun juga berterima kasih karena sudah besedia menjelaskan semuanya kepadanya.
"Sorry, Azkia ! Aku kira Arta sudah ngasih tau kamu sebelumnya !" Fikri menatap Azkia khawatir.
Siapa yang tahu apa yang akan Gibran lakukan padanya setelah itu. Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam kepala pria itu. Dia terlalu menakutkan hingga untuk membayangkan apa kira-kira yang akan pria itu lakukan saja mereka tidak berani.
"Arta, bodoh ! Kenapa nggak ngasih tau aku hal sepenting ini ? Apa karena itu Arta ngelarang aku dekat-dekat sama Gibran ?" dumel Azkia dalam hati.
Peluh yang tadi sudah hampir mengering kembali membasahi keningnya. Padahal ia sudah duduk di dekat jendela dan angin bahkan sedang bertiup kencang menerpa tubuhnya. Tapi karena takut, Azkia sampai mengeluarkan keringat dingin.
"Gi-gibran, a-aku minta maaf ! Se-seharusnya aku tidak melakukan itu ! Ma-maaf !" Azkia merutuki dirinya sendiri yang tiba-tiba saja gagap saking takutnya.
Arta menghembus napas gusar sebelum bangkit dari duduknya, berniat menghampiri Azkia dan memita maaf kepada Gibran mewakili gadis ceroboh itu. Bagaimana mungkin dia tidak mengetahui bagaimana mengerikannya geng Thunder itu. Arta sudah melarangnya dekat-dekat dengan Gibran tapi dasar Azkia gadis kepala batu memang !
Namun sebelum Arta melangkahkan kakinya, sesuatu yang mengejutkan menghentikan niatnya untuk menghampiri Azkia.
"Buahaha...Muka kamu kenapa kayak gitu, Kia ? Kau jelek bangat kalau lagi ketakutan, tau nggak !" Azkia langsung mengangkat kepalanya menatap Gibran yang kini tertawa terpingkal-pingkal.
Semua melongo melihat Gibran yang malah tertawa ngakak alih-alih murka kepada Azkia. Tidak ada yang mengeluarkan suara membaut tawa Gibran menjadi satu-satunya suara yang mengisi kelas itu yang tadi mendadak sunyi. Arta yang tak kalah heran melihat Gibran pun memilih duduk kembali di kursinya.
"Kamu benaran nggak marah sama aku ?" tanya Azkia memastikan. Gibran mengangguk sebagai jawaban di tengah-tengah tawanya yang masih pecah.
"Serius ? Benaran nggak marah, kan ?" tanya Azkia lagi yang juga lagi-lagi dibalas anggukan dari Gibran.
Plaakk...
Lagi-lagi semua semakin dibuat tercengang melihat Azkia yang bahkan menabok Gibran tanpa ragu. Tawa Gibran seketika terhenti dan wajahnya tiba-tiba berubah datar.
"Lo ! Dikasih hati minta jantung, yaa !" Gibran menatap Azkia tajam.
Lebih tepatnya pura-pura tajam karena detik berikutnya tawa Gibran kembali pecah melihat Azkia yang kembali ketakutan. Lagi-lagi sukses membuat seisi kelas memasang wajah cengo. Itu adalah sesuatu yang terlalu mengejutkan untuk mereka.
"Yaakk ! Nyebelelin bangat sih jadi orang ! Zen tukeran tempat duduk, dong ! Males aku...yaak ! Gibran, lepasin !" Azkia berusaha melepas tangan Gibran yang melingkar di lehernya. Berniat menakut-nakuti Azkia.
"Monster itu lagi kerasukan jiwa malaikat atau gimana ? Atau dia lagi salah minum obat ?"
"Ini gue yang sudah gila atau Gibran memang lagi ketawa ?"
"Ini nyata kan, bukan mimpi ? Gue mimpi nggak, sih ? Kok gue bisa liat Gibran ketawa sengakak itu ?"
"Gibran tidak marah ada yang menjitak bahkan menampolnya. Aku belum mau mati, kan ? Aku kok bisa ngeliat hal semustahil itu ?"
__ADS_1
"Sepertinya rumor tentang dunia akan segera kiamat memang benar adanya !"
Hendry menghembus napas berat untuk yang kesekian kalianya. Apalagi melihat Gibran yang kini mengusap keringat Azkia dengan lembut. Jika seisi kelas kompak menatap mereka dengan wajah cengo, maka berbeda dengan Hendry yang malah memasang wajah khawatir melihat Gibran yang malah semakin dekat dengan Azkia.
Apa yang harus ia lakukan untuk menjauhkan Gibran dari gadis itu ?
🍁🍁🍁
Tett teett teeett...
Perhatian ! Waktu istirahat telah tiba. Seluruh siswa dipersilahkan istirahat !
Suara bel tanda jam istirahat bergema di seluruh penjuru sekolah. Bel istirahat selalu terdengar merdu di telinga semua siswa-siswi. Membangunkan kaum rebahan dari tidur nyenyak mereka. Guru-guru yang sedang membawakan mata pelajaran pun mengakhiri proses belajar-mengajar di kelas.
Dan sedetik kemudian seluruh siswa-siswi telah memadati koridor. Berlomba-lomba menuju kantin agar bisa memesan makanan lebih dulu. Benar-benar masa-masa yang akan sangat mereka rindukan setelah lulus kelak.
"Mau makan siang dimana ?" tanya Arta.
"Makan di kantin bawah. Kalian berdua nggak mau sekalian gabung ?" Arta dan Fikri kompak menggeleng dan langsung meninggalkan Azkia dan Gibran.
"Sebenarnya aku sudah mau nanya soal ini dari awal aku masuk, tapi baru bisa sekarang. Kalian bertiga sebenarnya ada masalah apa sih, Bran ? Bukannya kamu bilang kamu bersahabat sama Arta pas SMP dulu ?" tanya Azkia sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
Saat ini Azkia, Gibran dan Hendry berada dalam lift untuk turun ke lantai dasar. Gibran tampak menaikkan salah satu alisnya. Sebenarnya ia tidak menyangka Azkia akan menanyakan itu sekarang. Setidaknya sampai mereka hanya berdua saja baru Azkia boleh menanyakan itu.
"Emang Arta belum pernah cerita sama lo ?" tanya Hendry dingin. Dia memang selalu sensitif dengan pembahasan itu.
Azkia menggeleng.
"F*ck ! Benar-benar pengecut !" umpat Hendry membuat seisi lift menoleh padanya.
"Sudahlah, Dry !" Gibran menepuk-nepuk pundak Hendry mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Aku memang nggak tau kalian ada masalah apa sama Arta, tapi dia sahabat aku. Nggak seharusnya kamu bilang gitu di depanku !" ucap Azkia tidak terima.
"Sahabat lo atau laki-laki yang lo suka ?" tanya Hendry menekankan setiap kata-katanya.
Tubuh Azkia seketika membeku, kedua matanya membulat sempurna dan jantungnya seketika berdetak tidak normal. Darimana Hendry bisa tahu kalau dia menyukai Arta ? Selama ini Azkia bahkan sudah memendamnya dengan sangat baik.
"Ka-kamu..."
"Ayo kita cepat makan, jam istirahat nggak lama lagi habis !" Gibran langsung merangkul Azkia dan Hendry. menghentikan perdebatan keduanya yang mungkin saja akan berakhir tidak baik.
Azkia dan Hendry berupaya sebisa mungkin melepas rangkulan Gibran namun sia-sia. Jangankan Azkia, Hendry sendiri bahkan tidak bisa melepas rangkulan itu.
Seperti biasa seluruh siswa-siswi mulai dari kelas X sampai kelas XII menatap ke arah mereka. Lebih tepatnya ke arah Gibran. Namun karena Azkia berjalan bersamanya membuatnya mau tidak mau pun menjadi pusat perhatian.
Namun karena sudah terbiasa, Azkia memilih untuk cuek. Namun itu tidak berlangsung lama. Tatapan kali ini jelas berbeda dari tatapan sebelum-sebelumnya. Azkia juga bisa mendengar bisik-bisikan yang membahas tentang kejadian tadi pagi di kelas mereka saat Gibran tertawa.
Secepat itu beritanya tersebar ?
Azkia benar-benar merasa takjub dengan kecepatan gosip menyebar di sekolah itu. Itu baru jam istirahat yang berarti berita itu meluas saat jam pelajaran sedang berlangsung. Benar-benar luar biasa !
Kenapa semua orang begitu terkejut mendengar berita tentang Gibran yang tertawa ?
Sebenarnya sesuram apa Gibran selama ini sampai dia tersenyum saja membuat semua orang heboh ?
"Suatu hari nanti aku akan menceritakan semuanya padamu. Tapi bukan sekarang, Kia ! Karena aku belum siap jika harus menceritakannya sekarang !" gumam Gibran saat melihat Azkia menatapnya seakan meminta penjelasan padanya.
Sepertinya ada begitu banyak hal yang belum Azkia ketahui. Azkia selalu ingin mencari tahu jawaban atas semua keraguannya. Namun keraguan yang lebih besar selalu muncul saat ia mencoba untuk menggali informasi.
Akal sehatnya selalu melarangnya untuk mencari tahu lebih jauh. Namun hati kecilnya selalu memberontak meminta Azkia untuk terus mengorek informasi lebih banyak. Dan lagi-lagi, keraguan itu datang mengusik upayah pencarian Azkia. Ada rasa takut yang bahkan tidak tidak bisa Azkia pahami.
Mengapa ia begitu takut mendengar jawabannya ?
Seakan-akan jawaban atas semua pertanyaannya adalah bom waktu yang akan meledak tepat saat ia menggenggam semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya itu. Bukan hanya menjawab pertanyaannya, namun juga menghancurkan segala keraguannya dan rasa takutnya.
Yang pada akhirnya, Azkia akan ikut hancur bersama dengan terjawabnya semua tanda tanya di kepalanya.
Semoga kalian suka !😉
Jangan lupa VOTE, LIKE dan COMMENT !😉😄😙
__ADS_1