AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 17. Jerapah dan Singa


__ADS_3

Happy Reading !😉😙


"Semua orang memiliki masa lalu. Baik itu masa lalu indah atau pun kelam. Namun tak peduli seberapa indah atau kelamnya masa lalu itu, ia akan tetap menjadi masa lalu yang berada di masa lalu. Masa lalu dan masa depan akan selalu berbeda. Itulah yang membuat hidup indah, sekaligus menyedikan. Kesedihan itulah yang memberikan hari-hari kita rasa. Layaknya kopi. Pahit dan manis di waktu yang sama."


~Azkia Aqilla Candra~


***


"Azkia, kita duluan yaa !" pamit Putri dan Citra setelah jemputan Putri sudah datang. Citra memang biasanya nebeng di mobil jemputan Putri saat pulang sekolah.


"Okay ! Take care !" Azkia melambaikan tangannya di udara yang langsung dibalas oleh kedua gadis itu.


Azkia melirik jam tangan yang bertengger manis di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir sepuluh menit ia berdiri di sana namun Gibran belum juga menampakkan batang hidungnya. Azkia tidak tahu pria itu dimana karena ia dan Hendry langsung meninggalkan kelas tepat setelah bel pulang berdering. Keduanya bahkan keluar lebih dulu daripada guru yang sedang mengajar di kelas mereka.


"Gibran belum datang juga ? Apa aku antar saja ?" Azkia mendongak menatap Arta.


Azkia menggeleng.


"Aku tunggu saja, deh ! Takutnya nanti Gibran ke sini dan nungguin aku ! Kamu pulang duluan saja !"


"Nggak ! Aku tunggu sampai Gibran datang !" tolak Arta dan Azkia tidak berniat untuk memaksa pria itu. Ada kalanya Arta menjadi keras kepala sepertinya.


Sekitar lima menit kemudian, seseorang menghentikan motor besarnya yang baru saja memasuki gerbang SMA Nusantara tepat di depan Azkia. Ujung bibir Azkia tertarik ke atas membuat seulas senyuman cerah terbit dan menghiasi bibir mungilnya. Melihat itu, pria pemilik motor besar itu pun ikut melakukan hal yang sama.


"Sorry membuat lo menunggu lama ! Gibran ada urusan penting, jadi hari ini lo berangkat sama gue !" tutur Diki.


Azkia hanya mengangguk-angguk seakan mengerti.


"Kamu pulang, gih !" pintah Azkia. Arta mengangguk sebagai jawaban 'iya'.


"Kita duluan, Arta !" pamit Diki sambil membunyikan klaksonnya sebelum melajukan motor besarnya.


Arta masih setia berdiri di tempatnya meski Diki dan Azkia telah menghilang dari pandangannya.


"Apa sesuatu terjadi dengan Gibran ? Tumben sekali ia meminta anggota geng-nya yang mengantar Azkia !" gumam Arta bermonolog.


Pernah menjadi sahabat dan orang yang paling dekat dengan Gibran selama tiga tahun tentu saja membuat Arta sedikit banyak mengetahui tentang pria itu. Dan yang Arta tahu, Gibran tidak akan suka orang lain menyentuh miliknya. Dan Azkia adalah gadis yang secara tidak langsung telah Gibran klaim sebagai gadisnya.


Ada yang aneh !


"Loh, kamu belum pulang ?" seruan seseorang membuyarkan lamunan Arta.


"Ohh, tadi aku tungguin Azkia ke rumah Gibran dulu. Ini baru saja mau pulang" jelas Arta.


Fikri mengangguk-angguk paham.


"Nanti malam jadi nginap di rumah, kan ?" tanya Fikri memastikan.


"Tentu saja !"


"Okay, sip lah ! Kalau gitu aku duluan" Arta mengangguk.


"Hati-hati !" Fikri membunyikan klatson mobilnya sebagai jawaban 'iya'.


Di mension keluarga Gibran...


Diki membantu Azkia melepas helm full face yang membingkai sempurna kepalanya. Azkia mengerutkan keningnya bingung saat mendapati halaman mension itu sudah dipenuhi oleh motor besar anggota geng Thunder. Ini bahkan masih jam dua lewat lima belas menit.


Kenapa semua sudah ada di sana ?


Belajar bersamanya kan baru dimulai pukul empat sore nanti.


Keduanya kemudian berjalan menuju pintu utama mension mewah itu. Enam pengawal berseragam sama yang berbeda dari pengawal yang kemarin bertugas di sana langsung membungkuk memberi hormat saat mereka melewatinya.


"Selamat datang, tuan dan nona !" kata mereka kompak.


"Ahh, kalian tidak perlu seperti itu ! Rasanya aneh saat malah kalian yang bersikap sopan. Harusnya kan yang lebih muda yang bersikap hormat kepada yang lebih tua !" tutur Azkia panjang lebar sebelum mengikuti Diki yang sudah berjalan masuk lebih dulu.


"Nona Azkia ternyata baik bangat ! Beruntung sekali tuan muda bisa mendapatkan gadis sepertinya !" ucap salah satu pengawal di sana.


"Betul ! Semoga hubungan mereka langgeng selamanya !" timpal yang lain.


Semua mengangguk setuju.


Berita tentang Gibran yang sedang jatuh cinta tentu saja sudah tersebar di seluruh kalangan pengawal dan pelayan di mension itu. Kabar mengejutkan itu tentu membuat mereka ikut senang dan merasa kasihan di saat yang sama. Kasihan dengan gadis malang itu yang harus bertemu tuan muda mereka yang dingin seperti kulkas 21 pintu.


Setelah sampai di ruang tamu, Azkia kembali dibuat semakin kebingungan saat melihat semua teman-temannya sudah duduk rapi di tempat masing-masing. Bahkan sudah siap dengan alat tulis dan buku paket mereka.


Ada apa dengan mereka ?


Sesemangat itukah mereka mengikuti belajar bersama hari ini ?


"Kita langsung mulai, nggak apa-apa kan ? Gibran dan yang lain hari ini nggak bisa ikut belajar bersama bareng kita-kita. Ada urusan penting yang nggak bisa ditunda !" tutur Diki yang juga sudah bersiap dengan alat tulisnya.


Selain Diki, seluruh anggota geng Thunder dari SMA Nusantara absen hari ini. Akal sehat Azkia tidak bisa menerimanya begitu saja. Perasaannya tidak enak. Dan hatinya terus bergumam bahkan semua tidak sedang baik-baik saja.


Ada yang tidak beres !


Pasti !


Azkia ingin menanyakannya namun tidak bisa. Bibirnya mendadak kelu dan terasa kaku. Pikirannya sudah terlanjur berkelana terlalu jauh. Membuatnya seakan tiba-tiba lupa bagaiama cara bertanya.


Azkia mencoba tetap fokus dengan angka-angka yang sedang ia tuliskan di papan tulis. Mencoba untuk tetap memusatkan perhatiannya pada apa yang sedang ia jelaskan. Meski faktanya hanya raganyalah yang berada di sana, sementara pikirannya sudah jauh berselancar entah kemana.


Adzan Ashar berkumandang merdu membuat Azkia secara otomatis menghentikan penjelasannya untuk menjawab seruan Adzan yang selalu mampu menggetarkan sukmah mereka yang paham bagaimana dahsyatnya panggilan itu. Semua anggota geng Thunder pun ikut melakukan hal yang sama hingga Adzan berakhir.


Kali ini sholat berjamaah mereka diimami oleh pak James, ketua pengawal di mension itu. Semua tampak khusyuk dalam sholatnya. Mengikuti bacaan pak James yang merdu di dalam hati. Melakukan gerakan yang sama mengikuti imam yang berdiri di barisan paling depan.


Ting ting ting...


Azkia meraih ponselnya yang diletakkan di atas meja ruang tamu saat mendengar ada banyak notifikasi WhatsUp yang menandakan ada pesan group masuk. Azkia mengerutkan keningnya saat mendapati itu adalah pesan Study Group mereka.

__ADS_1


"@Bastian Lo salah kirim, bodoh ! Hapus, cepat !" tulis Diki.


"Tian lo gila, yaa ? Ngapain kirim ke group ini, bodoh ?" Saldi ikut mengomentari.


"Mati, gue ! Gue nggak fokus !" balas Bastian.


"Azkia nggak liat, kan ?" Azkia mengerutkan keningnya saat membaca pesan Vero.


Sekarang apa lagi ?


Azkia memilih untuk tetap kalem. Sebenarnya mulutnya sudah sangat gatal ingin menanyakannya kepada Diki namun ia urunkan. Tidak ada gunanya bertanya, karena Azkia yakin pria itu tidak akan mengatakan yang sebenarnya.


Azkia memilih membuka galeri di ponselnya. Jika yang Bastian kirim adalah gambar atau video maka seharusnya itu akan secara otomatis tersimpan ke galerinya, meskipun pesan itu telah dihapus pengirimnya.


Deg...


Tubuh Azkia mendadak kaku. Jantungnya berdetak tidak karuan. Matanya melebar melihat apa yang kini terputar di layar ponselnya. Dadanya sesak seiring detik demi detik video itu terputar.


Tidak !


Azkia tidak sanggup lagi melihatnya. Ia tidak sanggup melihat video itu lebih lama lagi.


"Ini yang lo sebut urusan penting ?" tanya Azkia dengan suara serak menahan tangis.


Salah satu tangannya memperlihatkan layar ponselnya pada Diki, sementara tangannya yang lain menarik kerah baju pria itu kasar. Diki terlihat terkejut untuk beberapa saat, namun dengan cepat ia kembali menormalkan ekspresinya.


Terdengar helaan napas berat dari pria itu. Dengan lembut ia mencoba melepas cengkeraman salah satu tangan mungil Azkia di kerah bajunya.


"Bawa gue ke sana, cepat !" pintah Azkia tegas tanpa melepas cengkeramannya.


"Tidak ! Gibran akan marah kalau gue membawa lo ke sana. Please, pura-pura saja tidak tau !" tatapan mata Azkia menajam mendengar penuturan Diki.


Diki sedikit merasa lega saat Azkia akhirnya melepaskan tangannya dari kerah bajunya. Gadis itu terlihat berjalan menjauh darinya. Memasukkan ponselnya ke dalam tas ranselnya sebelum kembali melakukan sesuatu yang membuat semua kompak memasang wajah cemas.


"Antar gue ke sana, sekarang !" titah Azkia dengan wajah datar dan tatapan mata tajam.


Dengan kasar Azkia menarik kerah baju Raka keluar dari mension. Ia memaksa pria itu mengantarnya ke tempat dimana Gibran dan yang lain berada. Raka ingin menolaknya tapi tidak bisa. Azkia terus memaksanya dan ia tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti keinginan gadis itu.


🍁


Raka dan Diki beserta anggota geng Thunder yang lain berlari-lari kecil menyusul Azkia yang sudah lebih dulu berlari memasuki markas geng Thunder. Suasana markas yang awalnya memang sudah gaduh dibuat semakin riuh saat melihat kedatangan Azkia, sang Ratu geng Thunder.


Dada Azkia semakin sesak melihat pemandangan yang kini terpampang jelas di depan matanya. Napasnya memburuh seakan paru-parunya membutuhkan pasokan oksigen lebih banyak lagi. Rasanya begitu sesak padahal Azkia sedang berdiri di tempat yang sangat luas.


Azkia membeku di tempatnya. Menatap dua pria yang kini beradu otot di atas ring tinju. Keduanya terlihat sudah babak belur, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berniat mengakhirinya. Azkia mengedarkan pandangannya, menatap satu-persatu anggota geng Thunder yang hanya diam melihat Gibran dan Bimo.


Pandangannya berhenti pada Hendry yang bahkan hanya bisa menatap adiknya dengan tatapan yang tidak bisa Azkia mengerti. Pria itu jelas terlihat gusar namun disaat yang sama dia tidak mempunyai pilihan lain selain menjadi penonton.


Sialan !


Apa yang harus Azkia lakukan ?


"Tidak adakah yang bisa kita lakukan untuk menghentikan mereka ?" tanya Azkia putus asa. Ia mendongak menatap Raka dan Diki bergantian yang kini berdiri di sisi tubuhnya.


Seluruh anggota geng Thunder sendiri bahkan tidak ada yang berani menghentikan mereka. Lantas apa yang bisa Azkia lakukan selain ikut serta menjadi penonton ?


Ahh, menyebalkan sekali berada di posisi itu !


Posisi yang membuatmu menjadi serba salah namun tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk sekedar menebusnya. Itu benar-benar terasa begitu menyiksa. Saat kau hanya mampu menjadi penonton atas kekacauan yang terjadi karena dirimu.


Braakk....


"Cepat hentikan mereka ! Sialan !" teriak seseorang dengan suara menggelegar.


Azkia menoleh mencoba mencari tahu siapa pemilik suara berat itu. Bukan hanya Azkia, namun seluruh anggota geng Thunder yang ada di ruangan itu ikut menoleh. Sedetik kemudian pria bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitam itu naik ke atas ring dan langsung memisahkan Gibran dan Bimo. Semua ikut naik untuk membantu pria tadi karena Gibran dan Bimo mencoba memberontak.


"Lepasin, Bang ! Lepasin gue !" teriak Gibran seperti orang kesetanan. Tak jauh berbeda dengan Bimo yang terus memberontak mencoba melepaskan diri dari cengkeraman teman-temannya.


Azkia masih bergeming di tempatnya. Kedua kakinya seperti mendadak tidak bisa digerakkan. Keduanya kakinya seakan terpaku ke lantai dimana ia sedang berdiri. Ia hanya bisa memandang mengikuti kemana Gibran dan Bimo dibawa. Gibran dengan susah payah diseret ke lantai dua, sementara Bimo dimasukkan ke salah satu kamar di lantai satu.


Kedua mata Azkia terus mengikuti kemana orang-orang itu berlari. Beberapa dari mereka membawa es batu dan kain kompres ke kamar dimana Bimo berada dan sebagian lainnya ke lantai dua dimana Gibran berada.


Semua terlihat sibuk. Azkia mendadak seperti patung yang tidak terlihat. Kehadirannya seakan terlupakan. Tapi Azkia mensyukuri itu. Setidaknya ia tidak menjadi beban di sana. Dengan begitu semua bisa fokus mengobati Gibran dan Bimo.


Cukup lama Azkia bertahan di tempatnya. Semakin lama pandangannya semakin memudar. Air mata yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga pada akhirnya mengalahkannya. Merobohkan dan menerobos pertahanan yang susah payah ia bangun.


Azkia menangis !


Ia memilih keluar dari sana. Mencari tempat sepi dimana ia bisa menumpahkan air matanya tanpa malu. Mencari tempat dimana ia bisa menangis sepuasnya tanpa harus memperlihatkan kerapuhannya kepada orang lain.


Hiks...hiks...hiikss....


Azkia menangis tersedu-sedu di taman yang berada di samping markas geng Thunder. Markas yang lebih terlihat seperti rumah pada umumnya. Jika dilihat dari luar, bangunan itu sama sekali tidak memiliki image markas sebuah geng. Bangunan itu lebih terlihat seperti rumah normal berlantai dua pada umumnya. Mungkin orang tidak akan percaya itu adalah markas geng Thunder sebelum mereka memasukinya.


Azkia mendongakkan kepalanya saat mendengar seseorang berdehem. Dan ia mendapati seorang pria keturunan jerapah berdiri di sana. Dia adalah pria yang tadi menghentikan Gibran dan Bimo. Pria berpenampilan preman dengan tato dan tindik yang menghiasi tubuh kekarnya. Ajaibnya, penampilan bad-nya itu sama sekali tidak membuatnya terlihat seperti bad person.


"Lanjutkan saja, anggap gue nggak ada !" kata pria itu dengan suara beratnya.


Azkia menatap pria bertubuh jerapah itu dengan tatapan dongkol. Bagaimana tidak, pria itu menyuruhnya melanjutkan acara nangis bombainya dan menganggapnya tidak ada di sana. Namun di saat yang sama, pria jerapah itu malah ikut duduk di sampingnya.


Kurang ajaib apa lagi, coba ?


Demi perang dunia ketiga semut dan gajah, bagaimana bisa Azkia menganggap pria jerapah itu tidak ada di sana ?


Itu sih sama saja bersembunyi di dalam lemari kaca transparan. Kali nol alias sia-sia !


"Tidak perlu sungkan ! Gue nggak akan membocorkannya ke yang lain, kok. Jangan khawatir ! Santai saja, Azkia !" Azkia semakin dongkol mendengar penuturan ajaib pria itu.


Dan lagi, dari mana pria jerapah itu bisa mengetahui namanya ?


Itu bahkan pertama kalinya Azkia melihat pria itu.

__ADS_1


Andai saja tato dan tindik-tindik menyeramkan itu tidak menempeli tubuh kekar berotot pria itu, maka dengan senang hati Azkia menjitak kepalanya. Sayangnya, Azkia masih ingin hidup jadi ia mengurunkan niat bunuh dirinya itu.


Setidaknya ia harus menyempurkan separuh agamanya sebelum menyandang gelar almarhumah atau rahimahullah, kan ?


"Gua Hero. Gibran dan yang lain biasanya manggil gua Bang Hero. Tidak perlu heran begitu kenapa gua bisa tau nama lo. Sebagai salah satu anggota geng Thunder, sudah pasti gua tau nama Ratu geng gua !" Azkia menaikkan sebelah alisnya mendengar penjelasan pria jerapah yang ternyata bernama Hero itu.


Azkia hanya mengangguk-angguk untuk menanggapi penuturan Hero. Ia memilih bungkam karena tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia lebih tertarik untuk mengagumi tubuh pria itu yang terlampau tinggi.


Hero, yaa ? Sepertinya Bang Jerapah jauh lebih cocok menjadi nama panggilan untuk pria itu.


"Btw lo nggak jadi ngelanjutin nangisnya ?" Azkia langsung menatap pria itu dengan wajah datar sambil berdecak kesal mendengar pertanyaannya yang malah membuat Azkia semakin malu.


"Hahaha...Bercanda gua ! Sorry sorry ! Habis gua bingung gimana caranya menghibur perempuan yang lagi nangis !"


"Cih ! Menyebalkan !" decak Azkia kesal.


"Tapi ngomong-ngomong, lo kok nggak takut sama gua ? Secara nih yee, orang-orang biasanya langsung kabur kalau melihat penampilan gua. Kalau kata mereka sih gua menyeramkan !" Azkia menoleh dan menatap Hero dengan kedua mata menyipit.


"Gue manusia, Bang Jerapah juga manusia. Bang Jerapah punya dua kaki, dua tangan, makan nasi. Sama, gue juga ! Jadi, kenapa gue harus takut ? Kecuali kalau Bang Jerapah adalah drakula pemakan manusia atau salah satu member Hantu +62, baru dah gue takut !" jelas Azkia dengan nada bercanda.


Benar saja, itu membuat Hero tergelak !


"Bang Jerapah ?" tanya Hero dengan kedua alis yang sampai keriting karena bingung.


"Abang tinggi sih kayak jerapah !"


"Ini menghina atau menghibur ? Lagian Abang nggak tinggi-tinggi amat, kok. Cuma 191 cm mah biasa, masih banyak yang lebih tinggi dari Abang !"


Cuma 191 cm ?


Cuma ?


Hey ! Apa kabar Azkia yang tingginya cuma 160 cm kurang 5 cm ?


Menyebalkan sekali !


"Itu memuji loh, Bang !" Azkia mencebik kesal.


"Ternyata lo orangnya humoris, yaa ! Air mata lo bahkan belum kering semua tapi sudah bisa ngelucu aja !" wajah Azkia kembali datar melihat pria jerapah itu tertawa setelahnya.


Menyebalkan !


"Gibran memang nggak pernah salah memilih lo jadi Ratu Geng Thunder !" pria itu tampak menjeda.


"Mau gua ceritakan sebuah kisah membosankan tentang bagaimana bisa seekor kucing dan tikus menjadi sahabat ?" Azkia menautkan kedua alisnya.


"Sepertinya perumpamaan Jerapah dan Singa jauh lebih cocok, Bang !" koreksi Azkia membuat Hero lagi-lagi tertawa.


Hero mulai bercerita panjang tentang awal mula ia bertemu Gibran. Semua bermula saat seorang anak SMP yang tidak lain adalah Gibran menggagalkan aksinya mencopet seorang ibu-ibu di pasar. Hero tentu saja marah dan mencari Gibran untuk balas dendam. Namun Hero selalu saja gagal karena Gibran ternyata tidak selemah yang ia kira.


Gibran, si bocah tengik itu malah selalu menjadi Ustadz dadakan dan menceramahinya dengan serentetan dosa-dosa yang sama sekali tidak penting menurut Hero waktu itu. Namun semua berubah saat ia melihat ketulusan Gibran. Bocah itu tidak hanya menceramahinya saja, namun juga berupaya memberinya solusi.


Hero yang tidak lain hanyalah seorang anak jalanan, berprofesi sebagai pencopet dan memiliki hobby membuat kerusuhan dan meresahkan banyak orang. Hidup di alam antah berantah membuat Hero tidak mempunyai banyak pilihan dalam hidupnya. Hingga pada akhirnya, ia memilih jalan pintas untuk bisa bertahan hidup dalam kerasnya kehidupan.


Hingga ia dipertemukan dengan Gibran. Bocah ingusan itu benar-benar merubah hidupnya 180°. Menuntunnya menuju jalan yang lebih baik. Bocah kecil yang sebelumnya tidak pernah ia kenal malah dengan mudahnya mengulurkan tangan dan menawarkan bantuan kepadanya.


Rumah yang sekarang menjadi markas geng Thunder sebenarnya adalah rumah lama keluarga Gibran sebelum pindah ke Mension yang sekarang. Keluarga Gibran sebenarnya berniat menjual rumah itu setelah mereka pindah, namun Gibran melarangnya dengan dalih mereka mempunyai banyak kenangan di rumah itu.


Padahal setelah itu Gibran memintanya untuk tinggal di rumah itu. Hero hanya perlu merawat rumah itu sebagai bayarannya. Tidak hanya itu, Gibran bahkan memberinya modal usaha dari uang tabungannya.


Karena itulah, Hero membuka kafe yang berada tepat di samping mereka sekarang. Kafe yang diberi nama Thunder Cafe sekarang sudah mampu melebarkan sayapnya dan telah memiliki tiga cabang di kota besar di Indonesia.


"Bagi gua Gibran adalah seorang pahlawan. Dia benar-benar telah banyak membantu gua. Gua kenal apa itu agama juga dari Gibran. Dia yang pertama kali menuntun gua mengucapkan kalimat Syahadat, mengajari gua sholat dan sebagainya !" kata Hero mengakhiri ceritanya.


"Apa sebelumnya Abang seseorang yang tidak mempercayai adanya Tuhan ?" tanya Azkia hati-hati. Takut membuat pria itu tersinggung.


"Tidak dan iya ! Lebih tepatnya gua terlalu sibuk memikirkan besok gua akan makan apa, daripada memikirkan hal-hal seperti religi. Gua yang dulu tidak peduli ada atau tidaknya Tuhan ! Bodoh bangat nggak sih gue dulu ? Hal sepenting itu malah gua abaikan !" mengingat masa lalunya yang kelam membuat Hero menertawakan dirinya sendiri atas kebodohannya dulu.


Benar-benar sangat bodoh !


"Daripada bodoh, kata hebat sepertinya lebih cocok untuk Bang Jer ! Bukan tentang masa lalu, tapi tentang bagaimana Bang Jerapah yang sekarang ! Mungkin jika itu Azkia, tidak ada jaminan Azkia bisa sekuat Bang Jer !" kata Azkia tulus.


Senyum Hero melebar. Mendengar penuturan Azkia membuatnya semakin salut dengan gadis mungil itu. Tidak banyak gadis di muka bumi ini yang akan memiliki pemikiran yang sama dengan Azkia.


Hanya dalam hitungan menit saja, Hero bisa menarik kesimpulan bahwa gadis itu sama persis dengan Gibran. Dan Hero lega mengetahui gadis yang Gibran cintai adalah gadis sebaik Azkia.


"Masuk, yuk ! Langitnya mendung, sepertinya akan turun hujan !" Azkia membulatkan kedua matanya mendengar kata hujan keluar dari mulut Hero.


"Hujan ?" tanya Azkia yang langsung diangguki Hero.


Azkia terlalu larut dalam cerita Hero sampai-sampai tidak menyadari perubahan langit yang tadi cerah kini menjadi mendung, seakan sudah siap menumpahkan hujan ke bumi. Padahal jam masih menunjukkan pukul lima sore tapi hari sudah sangat gelap.


"Di rumah ini ada ruang kedap suara nggak, Bang ?" tanya Azkia dengan wajah berubah serius.


"Ruang kedap suara ? Untuk ? Lo takut hujan, yaa ?"


Azkia menggeleng tegas.


"Yaa nggaklah, Bang ! Gue cuma takut nanti berubah jadi Keong Mas kalau sampai kena air hujan !" canda Azkia mencoba menutupi ketakutannya.


Hero tertawa renyah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tingkah Azkia semakin membuatnya gemas. Benar-benar gadis yang tidak biasa !


"Sejak kapan orang menghindari air hujan harus masuk ke ruang kedap suara ?" Hero membatin.


Azkia mengekori Hero memasuki rumah itu. Di dalam hati ia berdoa semoga hujan tidak turun hari ini. Sialnya, tadi pagi ia malah lupa membawa headphone-nya.


Semua orang memiliki masa lalu. Baik itu masa lalu indah atau pun kelam. Namun tak peduli seberapa indah atau kelamnya masa lalu itu, ia akan tetap menjadi masa lalu yang berada di masa lalu. Masa lalu dan masa depan akan selalu berbeda. Itulah yang membuat hidup indah, sekaligus menyedikan. Kesedihan itulah yang memberikan hari-hari kita rasa. Layaknya kopi. Pahit dan manis di waktu yang sama.


Semoga kalian suka !😉😙


Jangan lupa untuk memberi support kepada author dengan vote, like, comment dan bintang limanya !😉😉😙🤗

__ADS_1


Saran dan masukannya juga author tunggu, yaa !😉😙


__ADS_2