AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
28. Kedap Suara


__ADS_3

Happy Reading!😉😙🤗


"Meski otak selalu mengelak. Meski lidah terus bersilat. Tak peduli sebanyak apa mulut menolak, atau sebanyak apa tangan menepis. Hati selalu bisa tahu siapa yang benar-benar ia cintai. Hati selalu tahu siapa pemiliknya."


~Azkia Aqilla Candra~


***


Suara ketukan pintu disusul suara bel menghentikan langkah Siska yang baru saja akan menaiki anak tangga. Hendak mengecek Azkia di kamarnya. Sekalian membawakan makan siang untuk gadis itu karena ia belum makan. Siska meletakkan nampan berisi makan siang untuk Azkia di meja ruang tamu sebelum berjalan ke arah pintu utama.


"Nak Gibran?"


"Assalamu'alaikum, Tante. Azkianya ada? Katanya dia sakit, yaa." Gibran mencium punggung tangan Siska sopan.


"Ada, kok. Tapi dia lagi tidur di kamar. Biasa, lagi kedatangan tamu bulanannya."


Gibran mengangguk-angguk mengerti. Terdengar ia menghembus napas lega. Ia pikir Azkia sedang sakit apa, ternyata hanya sedang datang bulan. Syukurlah, pikir Gibran.


"Gibran mau lihat Azkia ke kamarnya?" tanya Siska. Keduanya sudah berada di ruang tamu.


"Iya, Tante. Mau ngobrol-ngobrol juga sama Kia. Hari ini belum sempat ketemu sama Kia soalnya."


"Tunggu! Barusan Nak Gibran bilang apa?" tanya Siska cukup terkejut. Sepertinya ia baru menyadari sesuatu.


"Ehh! A-aku bilang belum sempat ketemu sama Kia hari ini, Tante," ulang Gibran. Ia terlihat begitu bingung melihat Siska yang benar-benar terlihat begitu terkejut.


"Kia? A-apa Azkia tidak melarangmu memanggilnya Kia? Apa dia baik-baik saja jika kamu memanggilnya seperti itu?" tanya Siska yang bahkan sudah mulai meneteskan air matanya.


Gibran semakin kebingungan. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


"Aku sudah memanggil Azkia dengan panggilan Kia sejak hari pertama dia pindah sekolah, Tante. A-apa itu tidak boleh?" tanya Gibran khawatir. Ia teringat dengan apa yang dikatakan Arta waktu itu.


Apa dia benar-benar telah menyakiti Azkia dengan memanggilnya Kia?


Apa dia benar-benar telah membuat kesalahan?


Siska menggeleng. Ia tersenyum dalam tangisnya. Anehnya, ia malah semakin terisak. Gibran mencoba menenangkan wanita itu. Memeluk tubuhnya yang masih tampak segar di usianya yang sudah berkepala empat setengah. Wanita beranak dua yang malah terlihat seperti wanita yang baru berumur tiga puluan.


"Tidak tidak. Tante senang jika Azkia tidak marah saat kau memanggilnya Kia. Sejak lima tahun yang lalu, kata Kia adalah kata terlarang dalam hidup Azkia. Siapa pun tidak boleh menyebut kata itu di depannya. Siapa pun itu. Kamu orang pertama yang Azkia izinkan mengucapkan kata itu, Nak," jelas Siska sambil terisak.


Gibran diam mendengarkan. Menunggu kelanjutan cerita Siska mengenai masa lalu Azkia. Sudah sejak lama ia ingin mengetahui bagaimana kehidupan masa lalu gadis itu. Tentang trauma dan beban berat yang ia pikul selama ini. Gibran ingin tahu segalanya.


Sayangnya gadis itu tidak pernah ingin berbagi keluh kesah padanya. Ia tak pernah ingin berbagi cerita padanya. Bertanya pada Arta pun hanya sia-sia. Pria itu sama saja, sama sekali tidak ingin membuka mulut jika itu tentang Azkia. Ia seakan bungkam, sama seperti gadis itu. Yang selalu menjaga dan menutupi sisi lemahnya dengan serapat mungkin. Hingga yang tampak oleh mata orang-orang hanyalah dirinya yang hebat dan kuat.


Tak banyak yang tahu, ada luka menganga dari masa lalu yang belum jua tertutup hingga hari ini. Waktu yang telah banyak pergi bahkan tak mampu bahkan untuk sekedar mengobati luka itu sedikit saja.


"Kenapa? Apa yang membuat Kia tidak ingin mendengar kata Kia?" tanya Gibran penasaran. Dadanya bergemuruh, berharap bisa menemukan jawabannya dari Siska sekarang.


"Tante ingin cerita sama kamu, tapi tidak bisa. Itu bukan hal yang harus kamu dengar dari Tante. Kalau kamu mau mengetahui yang sebenarnya, tunggu sampai Azkia yang menceritakannya sendiri. Azkia akan marah jika Tante cerita tentang masa lalunya kepada orang lain. Azkia tidak akan suka, Nak," jelas Siska mengakhiri ceritanya.


Gibran menunduk lesu. Lagi-lagi ia gagal mengorek informasi mengenai Azkia. Gadis yang selalu terlihat kuat dari luar itu ternyata memendam luka masa lalu yang teramat besar. Gadis yang selalu memamerkan wajah ceria berhias senyuman manis itu ternyata masih dihantui kenangan buruk di masa lalunya. Gadis itu, belum mampu berdamai dengan masa lalunya.


Pada akhirnya Gibran lagi-lagi tidak bisa mendapatkan informasi apa-apa mengenai Azkia. Tentang apa yang terjadi di masa lalunya. Mengapa ia tidak mau mendengar orang menyebut kata Kia di depannya? Apa dan mengapa Azkia sampai memiliki trauma.


Gibran naik ke lantai dua menuju kamar Azkia. Ia masuk ke kamar bernuansa mocca itu setelah mengetuk pintu sebanyak dua kali. Ia memutar knop pintu meski tak mendengar jawaban dari dalam sana. Ia yakin Azkia pasti masih tidur.


Benar saja. Gibran melihat gadis itu masih betah berlama-lama di alam mimpinya. Entah apa yang sedang ia mimpikan sampai kedua alisnya tampak saling bertaut. Keningnya juga mengeluarkan keringat dingin.


Apa dia benar-benar sedang bermimpi atau perutnya yang sakit?

__ADS_1


Gibran tidak tahu.


Ia duduk di tepi kasur setelah meletakkan nampan berisi makan siang Azkia di nakas. Salah satu tangannya terulur dan mengusap peluh yang membasahi wajah cantik yang sedikit pucat itu. Saat hendak menarik tangannya kembali, kedua tangan Azkia tiba-tiba saja mencengkram tangannya kuat. Gibran kaget bukan main.


"Tidak, jangan pergi. Kumohon! Jangan tinggalin Qilla. Tidak. Jangan pergi, kumohon!" ucap gadis itu masih dengan mata terpejam.


Gibran tidak mengerti. Wajah Azkia semakin basah oleh keringat. Cengkramannya di tangan Gibran pun semakin kuat, seperti orang ketakutan. Gibran tidak tahu apa yang sedang gadis itu lihat di alam mimpi, yang jelas seseorang hendak meninggalkannya pergi.


Siapa itu, Gibran pun tak tahu.


"Kia. Hey, bangun! Kia." Gibran menepuk-nepuk pipi Azkia dengan tangannya yang lain. Mencoba membangunkan gadis itu.


"JANGAN PERGI!" pekik Azkia dan seketika bangun terduduk dan refleks memeluk tubuh Gibran. Tubuhnya bergetar, sepertinya ia benar-benar mimpi tentang sesuatu hal yang buruk.


"Jangan tinggalin aku, kumohon..." ucap Azkia lirih. Ia mulai menangis sekarang.


"Hey! Look at me. I'm here, don't worry!" Gibran membalas pelukan Azkia. Mencoba menenangkan gadis itu.


Seketika Azkia menarik mundur tubuhnya. Membuat pelukan mereka otomatis merenggang. Gadis itu membulatkan kedua matanya, terkejut.


"Gibran! Lo kok bisa ada di sini? Sejak kapan? Kenapa aku memelukmu? Aku menangis? Apa yang aku lakukan?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut gadis itu.


Gibran tersenyum miris. Ia tahu kata 'jangan tinggalin aku' yang diucapkan Azkia tadi bukanlah untuknya. Anehnya, meski ia sudah tahu rasanya tetap sesak saat Azkia mengatakannya secara langsung.


Menyedihkan.


"Sepertinya lo mimpi buruk sampai langsung meluk gue. Lo juga memohon agar tidak ditinggalkan. Lo nggak ingat barusan mimpi apa?" tanya Gibran.


Azkia terlihat terkejut mendengarnya, namun sedetik kemudian ia menormalkan ekspresinya kembali. Dengan cepat kembali ke mode Azkia Si Gadis Tegar. Azkia yang ceria dan penuh semangat, gadis kuat yang selalu terlihat baik-baik saja. Itulah casing seorang Azkia Aqilla Candra.


"Ahh, apa itu makan siangku?" tanya Azkia langsung mengalihkan pembicaraan.


"Gue baik-baik saja, Gibran. Jangan khawatir!"


"Kia, apa lo nggak mau cerita apa-apa sama gue? Gue tahu lo nggak lagi baik-baik saja. Lo nggak mungkin ketakutan seperti tadi kalau lo memang nggak ada apa-apa. Please, tell me Kia."


"Gibran, gu-"


"Berhenti sok kuat, Kia! Gue benar-benar benci melihat lo yang selalu terlihat baik-baik saja. Gue benci melihat lo yang selalu menipu orang dengan wajah ceria lo. Kalau memang sakit, kenapa harus tersenyum?" Gibran tanpa sadar meninggikan suaranya.


Azkia tersentak kaget mendengarnya. Apalagi saat melihat wajah Gibran merah padam. Menandakan pria itu serius dengan apa yang ia katakan. Pria itu tidak sedang main-main.


Azkia meletakkan kembali nampan berisi makan siangnya di tempat semula. Ia kembali duduk di kasur, tepat di depan Gibran. Pandangan mereka saling terkunci. Azkia masih ingin mempertahankan casing kuatnya, namun tidak bisa. Sejak awal, ia memang tidak pernah bisa benar-benar berpura-pura baik-baik saja di depan pria itu.


Air mata kembali membasahi wajah Azkia. Tak ada lagi senyum di bibirnya. Hanya tersisa wajah pucat nan sendu. Ia memeluk tubuh Gibran, menumpahkan air matanya di dada bidang itu. Ia bahkan tak ingin capek-capek menahan isakannya. Ia ingin meluapkan semuanya.


Toh, kamarnya kedap suara. Bahkan jika ia berteriak sekeras apapun, orang di luar tidak akan mendengarnya. Hanya Gibran yang akan mendengar isakannya sekarang. Hanya Gibran yang akan melihat dirinya yang kacau.


"I will tell you everything, Gibran. But not now. Give me time, cause I need time to convince myself."


"Of course, Kia. I will be waiting."


Gibran mengacak-acak rambut Azkia gemas. Gadis itu sudah lebih tenang sekarang. Ia bahkan sudah mulai melahap makan siangnya. Ia terlihat begitu lahap. Gibran pun makan bersamanya. Bekal makan siang Azkia tadi masih utuh tak tersentuh. Itulah yang Gibran makan.


"Lo benar-benar jelek kalau lagi nangis." Azkia langsung menghentikan makannya dan menatap Gibran horor.


"Lo mau gue sunat sampai habis, hah?" Azkia mengacungkan garpu yang sedang ia pegang tepat di depan Gibran. Tak lupa mengunyah makanannya dramatis.


Gibran susah payah menelan ludahnya. Meringis ngilu membanyangkan bagaimana jika disunat sampai habis. Menyeramkan. Itu kan masa depan. Bisa suram masa depannya jika ia kehilangan itu.

__ADS_1


"Bercanda lo nggak lucu, Kia." Gibran menyerah untuk mengganggu Azkia.


Sesaat Gibran lupa bahwa ini adalah hari pertama Azkia. Dunia bisa-bisa kiamat jika ia berani mengusik seekor singa betina yang sedang datang bulan.


Itu jauh lebih menyeramkan lagi.


Keduanya kembali melanjutkan makan sambil bercerita banyak hal tentang ulangan kemarin. Tentang pengalaman mereka selama satu minggu tidak bertemu. Dengan semangat Azkia bercerita tentang banyak teman baru yang ia temui, juga tentang banyaknya Gibran's lovers and Arta's lovers yang menyinyirinya setiap hari.


Dengan senang hati Gibran menjadi pendengar yang baik untuk Azkia. Sesekali ia tertawa mendengar cerita lucu yang Azkia ceritakan. Namun tak jarang pula ia mendengus kesal jika mendengar banyak siswa-siswa dari kelas lain yang mencoba mendekati Azkia selama satu minggu kemarin.


Tidak heran, karena selama ini mereka sama sekali tidak bisa menjangkau Azkia yang selalu berada dalam pengawasan Gibran dan semua anggota Geng Thunder. Dan minggu lalu, untuk pertama kalinya pengawasan mereka sedikit melonggar karena sedang fokus ulangan semester.


Saat ini, mereka duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Mereka sudah selesai makan, tapi cerita Azkia sepertinya masih ada banyak stok. Gibran masih setia mendengarkan cerita gadis itu. Ia bahkan senang bisa seperti itu, menjadi telinga untuk mendengarkan ocehan gadis mungil itu.


Ahh, Gibran bahkan akan rela membuang waktunya hanya untuk mendengarkan gadis itu mengoceh. Penting atau tidak, paham atau pun tidak. Gibran tidak peduli. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Azkia. Baginya itu sudah lebih dari cukup. Ia bahagia.


Yah!


Bagi Gibran, bahagianya memang sesimple itu.


Pandangan Gibran tak sengaja melirik ke arah jendela kamar Azkia yang kain gordennya sedikit terbuka. Keningnya seketika berkerut dalam saat melihat di luar sedang turun hujan dengan derasnya. Pohon-pohon tampak bergerak kesana kemarin karena tertiup angin kencang. Bahkan sesekali terlihat kilatan petir yang menyambar-nyambar.


Gibran baru ingat, saat dalam perjalanan tadi langit memang sudah sangat mendung. Bahkan sebelum memasuki gerbang rumah Azkia, hujan rintik-rintik sudah turun membasahi bumi. Dan benar saja, sekarang hujan turun dengan lebatnya di luar sana.


Anehnya, Gibran sama sekali tidak mendengar suara apapun dari luar di kamar itu. Suara rintik hujan, guntur atau pun kilat yang tampak bergemuruh di luar sana sama sekali tidak terdengar di kamar itu.


Bukankah itu aneh?


Kecuali jika kamar Azkia memang sengaja dirancang kedap suara.


Benarkah?


Tapi, kenapa?


Gibran kembali menoleh pada Azkia yang masih asyik bercerita. Sebenarnya ia ingin menanyakan itu kepada Azkia, namun ia juga tidak tega menjeda cerita Azkia yang sedang seru. Gibran pun memutuskan untuk bertanya di lain waktu saja.


Toh, masih ada banyak waktu, kan?


Jarum jam terus berputar tanpa lelah. Detik, menit, hingga jam pun terus berlalu. Entah bagaimana ceritanya Gibran bisa sampai tertidur. Melihat itu, Azkia berniat memperbaiki posisi Gibran. Dengan hati-hati ia membaringkan tubuh Gibran di kasur, takut jika ia sampai membangunkan pria itu.


"Apa dia kelelahan? Sepertinya dia benar-benar bekerja keras untuk ulangan semester." Azkia tersenyum diakhir kalimatnya.


Karena tak ada yang bisa ia ajak mengobrol, Azkia memutuskan untuk tidur juga. Ia ikut membaringkan tubuhnya yang mungil di atas kasurnya yang empuk. Meletakkan dua guling untuk menjadi pembatas antara dirinya dan Gibran.


Azkia teringat dengan kata-kata Gibran waktu itu. Azkia tampak berpikir sejenak sebelum benar-benar ikut berbaring.


"Ini nggak apa-apa, kan? Lagian kita cuma tidur, nggak lebih. Okay, have a nice dream Gibran."


Azkia memeluk boneka Teddy Bear ukuran jumbo favoritnya. Mulai memejamkan kedua matanya yang mendadak terasa berat. Rasa kantuk dengan cepat menguasainya. Membelainya lembut dan membuainya. Perlahan mengantarnya ke dalam alam mimpi.


Dalam lelapnya, seulas senyuman terukir lembut menghiasi bibir mungil Azkia. Sepertinya sekarang ia sedang bermimpi indah. Wajahnya terlihat sangat tenang. Berbeda jauh dengan tadi. Saat ia terbangun sambil menangis ketakutan. Kali ini ia benar-benar tidur dengan nyenyak.


Senyum itu bahkan masih bertahan meski beberapa menit telah berlalu. Apa dia sebahagia itu di dalam mimpinya?


Meski otak selalu mengelak. Meski lidah terus bersilat. Tak peduli sebanyak apa mulut menolak, atau sebanyak apa tangan menepis. Hati selalu bisa tahu siapa yang benar-benar ia cintai. Hati tahu selalu siapa pemiliknya.


Semoga kalian suka!😉😙


Jangan lupa tinggalkan jejaknya. Please support Author dengan cara LIKE, VOTE, COMMENT, kasih bintang limanya juga, yaa!😉😙🤗

__ADS_1


See you next part!😉🤗


__ADS_2