AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 27. Tidak ada Penyesalan dalam Cinta


__ADS_3

Happy Reading !😉😙


"Aku tidak akan tahu bagaimana ending kami jika aku berhenti sekarang. Siap mencintai artinya sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk. Ditolak, tidak mendapat balasan, atau bahkan kemungkinan paling buruknya adalah dibenci olehnya. Aku sudah siap dengan semua kemungkinan itu. Karena aku mencintai Kia, sangat!"


~Muhammad Gibran Hutama~


***


"Yaa ampun, Azkia kenapa Ta?" tanya Siska seketika cemas.


Arta tiba-tiba datang dengan Azkia yang ada di punggungnya. Di sampingnya seorang pria berambut pirang yang sedang menenteng tas milik Azkia pun tampak tidak bisa menyembunyikan raut wajah khawatirnya.


"Azkia kedatangan tamu bulanannya, tante. Aku akan bawa dia ke kamar dulu," jawab Arta sebelum berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Azkia.


Siska yang tahu apa yang harus ia lakukan pun langsung berlari ke dapur untuk membuat lemon tea untuk Azkia. Tak lupa dengan air hangat untuk Azkia minum.


Ahh, Siska masih saja khawatir setiap kali Azkia datang bulan padahal sejak awal Azkia memang sudah seperti itu. Tapi tetap saja, hingga hari ini pun ia masih belum juga terbiasa. Siska terlalu takut anak gadisnya kenapa-napa.


Di kamar Azkia, dengan sigap Arta mengambil baju ganti dan menyuruh Azkia untuk mengganti seragam sekolahnya di kamar mandi. Tidak butuh waktu lama untuk Azkia berganti pakaian. Tepat setelah ia keluar dari kamar mandi, ibunya pun masuk ke kamar dengan sebuah nampan di kedua tangannya.


"Minum dulu, sayang!" kata Siska penuh sayang.


Azkia hanya menurut. Ia menghabiskan air hangat dan lemon tea yang sudah menjadi minuman wajibnya setiap kali kedatangan tamu bulanannya. Karena hanya dengan cara itulah rasa sakit di perutnya bisa teratasi.


Azkia tertidur hanya berselang beberapa menit saja setelah ia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Siska, Arta dan Fikri pun keluar setelah memastikan Azkia sudah baik-baik saja.


"Temannya Azkia juga, yaa? Sepertinya tante baru pertama kali liat kamu," tanya Siska pada Fikri.


Fikri mengangguk sopan sambil tersenyum ramah.


"Iya, tante! Nama saya Fikri. Saya satu kelas sama Arta dan Azkia."


Siska mengangguk-angguk mengerti. Senyumnya terukir lebar. Kedua tangannya terangkat, menepuk-nepuk lembut lengan Fikri.


"Terima kasih yaa, nak Fikri! Terima kasih sudah menjaga dan mengkhawatirkan anak tante. Azkia benar-benar beruntung karena dikelilingi teman-teman baik seperti kalian."


"Azkia pantas mendapatkannya karena dia gadis yang baik, tante!" Fikri tersenyum tulus.


"Ahh, sebelum pulang sebaiknya kalian makan siang dulu! Kalian belum makan, kan?" Siska menawarkan.


"Tapi...." sebenarnya Fikri merasa tidak enak tapi Arta langsung memotong.


"Sudah, ayo! Nggak apa-apa kok." potong Arta cepat.


Di tempat yang berbeda, SMA Nusantara. Gibran yang baru saja selesai Sholat Dzuhur berjamaah kembali ke kelas untuk mencari Azkia. Ia ingin mengajak gadis itu untuk makan siang bersama. Para anggota geng Thunder sudah sepakat ingin mentraktir Azkia karena sudah banyak membantu mereka selama ini.


"Kia, mana?" tanya Gibran saat tidak mendapati Azkia di kelas.


Bodoh sekali, karena tadi pagi Gibran datang terlambat jadinya ia belum bertemu Azkia sampai sekarang. Gadis itu sudah pergi ke perpustakaan sebelum ia datang tadi. Hingga Adzan berkumandang, gadis itu belum juga kembali. Gibran pun memilih untuk Sholat lebih dulu, setelah itu ia akan kembali lagi untuk menemui Azkia.


"Azkia sudah pulang. Sepertinya dia lagi sakit karena tadi dia kayak pucat gitu," jawab Bayu. Salah satu teman sekelas mereka.


Tanpa membuang waktu sedetik pun, Gibran langsung berlari meninggalkan kelas. Di koridor ia berpapasan dengan Hendry yang baru saja akan menyusulnya ke kelas. Dengan wajah keheranan Hendry menghentikan Gibran yang berlari seperti orang kesetanan.


"Woy! Lo kenapa? Lo mau kemana lari-lari kek gitu?" tanyanya sedikit khawatir.


"Gue mau ke rumah, Kia. Katanya dia pulang karena sakit."

__ADS_1


Hendry seketika menghela napas gusar mendengar jawaban Gibran. Ahh, seharusnya dia sudah bisa menebak alasan pria itu berlari seperti orang gila. Karena saat ini satu-satunya alasan yang bisa membuatnya seperti orang gila hanya ada satu.


Azkia.


Yah, saat ini hidup Gibran hanya berputar di sekitar gadis itu.


Wajah Hendry menegang. Kedua tangannya mencengkram kuat kedua lengan adiknya. Mencoba menyadarkan pria itu dari kegilaannya. Sudah cukup selama ini ia hanya diam. Sudah cukup dia hanya menjadi penonton. Persetan jika ada banyak hati yang akan hancur setelahnya. Bahkan dirinya sekali pun tidak akan lolos dari salah satu orang-orang yang akan tersakiti itu.


Persetan!


Tapi setidaknya Gibran tidak menjadi orang yang paling tersakiti nantinya. Meski akan tetap hancur, tapi setidaknya rasa sakit yang ia akan rasakan tidak sebesar rasa sakit jika ia hanya diam.


"Gibran, cukup! Berhenti memperdulikan Azkia seakan dia adalah satu-satunya orang berharga di dalam hidupmu. Dia tidak pernah menganggapmu ada. Dia tidak pernah menganggapmu lebih dari sekedar sahabat. Berhenti mencintainya begitu besar karena itu hanya akan membuatmu terluka lebih parah. Dia tidak mencintaimu, Gibran. Dia mencintai pria lain, bukan kamu." Hendry mengeluarkan semua uneg-unegnya. Mencoba mencegah hati Gibran untuk hancur tak berbentuk di hari esok.


"Hyeong, apa Hyeong tidak suka sama Kia? Dia gadis yang baik, Hyeong. Dan dia adalah yang pertama untukku. Dan Hyeong tahu sendiri, dia gadis pertama yang bisa membuatku berubah dan membuatku begitu mencintainya." Gibran terlihat serius.


"Justru karena itu, Gibran. Justru karena dia yang pertama untukmu dan dia pulang yang akan menjadi orang pertama yang membuatmu terluka. Dia tidak mencintaimu. Apa itu belum cukup jelas?" Hendry mengerang frustasi.


"Aku tahu. Aku tahu Kia tidak mencintaiku, dia mencintai Arta. Tapi aku juga tahu, Arta mencintai orang lain. Dan itu bukan Kia!" Gibran menjeda.


"Aku tidak akan tahu bagaimana ending kami jika aku berhenti sekarang. Siap mencintai artinya sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk. Ditolak, tidak mendapat balasan, atau bahkan kemungkinan paling buruknya adalah dibenci olehnya. Aku sudah siap dengan semua kemungkinan itu. Karena aku mencintai Kia, sangat!" lanjut Gibran penuh keyakinan.


"Kau akan kecewa." Hendry menatap Gibran sendu.


"Aku tahu."


"Kau akan menyesal, Gibran," kata Hendry lagi. Masih mencoba meyakinkan Gibran untuk berhenti sekarang.


"Tidak, Hyeong! Aku tidak akan pernah menyesal. Karena tidak ada penyesalan dalam cinta." Gibran menepuk pelan salah satu bahu Hendry, tak lupa tersenyum penuh keyakinan sebelum kembali melanjutkan langkahnya.


"Tembok itu tidak bersalah, loh! Kenapa kau melampiaskan amarahmu padanya?" kata seseorang membuat Hendry seketika menoleh padanya. Menghentikan kedua tangannya yang tadi sibuk meninju tembok.


Hendry tidak lagi meninju tembok dan hanya menatap gadis di depannya itu dengan wajah datar dan tatapan tajam yang sulit untuk diartikan. Namun meski ia sedang ditatap tajam, gadis itu tetap terlihat tenang dan sama sekali tidak merasa takut. Padahal pria yang sedang menatapnya sekarang masih dikuasai amarah.


"Lepas! Apa yang kau lakukan?" Hendry langsung menepis tangan gadis itu yang tiba-tiba saja menarik salah satu pergelangan tangannya.


"Tentu saja membawamu ke UKS. Kau tidak lihat sekarang tanganmu berdarah? Bodoh!" jawab gadis itu tegas. Seakan dia benar-benar tidak merasa takut pada Hendry.


Sayangnya, Hendry sudah terlanjur tahu bahwa gadis itu hanya sedang berpura-pura. Meski hanya beberapa detik saja, tapi ia bisa merasakan tangan gadis itu dingin dan bergetar saat menarik tangannya tadi. Gadis itu, jelas hanya sedang bersandiwara. Seolah-olah dia tidak malu namun sebenarnya ia sedang bersusah payah menahan diri karena itu adalah pertama kalinya mereka saling berbicara.


Bodoh?


Kaulah yang bodoh, dasar gadis bodoh!


Kali ini Hendry membiarkan saja saat gadis itu kembali menarik tangannya. Mengikuti langkah gadis itu yang menariknya ke arah UKS. Seulas senyuman tiba-tiba saja muncul di bibirnya. Menatap gadis itu dari belakang.


Hendry menatap pergelangan tangannya yang sedang ditarik dan juga gadis itu bergantian. Senyumnya kembali melebar saat merasakan telapak tangan gadis itu bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin sekarang.


Dasar, gadis bodoh!


Di UKS, Hendry duduk di salah satu kursi, sementara gadis itu sibuk membersihkan luka di kedua tangannya. Dengan telaten dan sangat hati-hati ia mengobati luka-luka itu. Karena mereka duduk saling berhadapan, Hendry jadi bisa melihat jelas wajahnya.


Karena UKS dalam keadaan kosong saat mereka tiba, dengan terpaksa gadis itulah yang turun tangan secara langsung. Karena sekolah sudah tidak aktif melakukan proses belajar-mengajar, wajar saja jika para siswa-siswi yang bertugas menjadi petugas UKS pada kabur.


"Menatap seorang gadis secara diam-diam seperti itu benar-benar tidak sopan. Kau tidak tahu itu?" tanya gadis itu saat menyadari Hendry terus-menerus menatapnya.


"Di jidatmu tidak ada tulisan 'dilarang menatapku', tuh. Lagian ini mataku, terserah aku mau menatap apa pun. Tidak ada yang berhak melarangku. Right?" Hendry menjawab telak membuat gadis itu langsung berdecak kesal. Wajahnya sudah bersemu merah gara-gara Hendry terus saja menatapnya.

__ADS_1


"Tapi ini wajahku. Setidaknya kau harus meminta izin jika mau menatapku." Gadis itu menjawab tanpa berani mendongak. Ia tetap fokus dengan luka-luka di tangan Hendry.


Jantungnya?


Ohh, jangan ditanya lagi. Jantung itu sudah berdentum keras layaknya musik disko sejak ia memulai pembicaraan dengan Hendry tadi. Demi apa pun, itu adalah pertama kalinya mereka saling berbicara sejak ia pindah ke SMA Nusantara. Ajaibnya, dialah yang lebih dulu mengajak Hendry berbicara.


Sepertinya kewarasannya sudah patut dipertanyakan sekarang.


"Sepertinya kau sudah sering mengobati luka seperti ini. Kau terlihat cekatan, balutannya pun rapi," puji Hendry saat melihat salah satu tangannya yang sudah selesai dibalut dengan perban.


"Aku aktif PMR sejak SMP hingga sekarang. Menangani luka seperti ini sudah sering kulakukan," jawabnya masih fokus dengan salah satu tangan Hendry.


"Apa kau juga bercita-cita menjadi seorang dokter?" tanya Hendry lagi.


Aneh!


Kemana perginya dirinya yang dingin dan cuek?


Kenapa dia tiba-tiba jadi cerewet di depan gadis itu?


"Juga? Berarti kamu juga?" gadis itu balik bertanya.


"Iya. Mungkin karena ayahku seorang dokter, sejak kecil aku sudah bercita-cita menjadi seorang dokter yang hebat. Jadi benar, kau juga ingin menjadi seorang dokter?" lagi, senyum itu kembali menghiasi wajah Hendry.


Gadis itu mengangguk mengiyakan.


"Sama dong kalau begitu. Aku juga bercita-cita menjadi seorang dokter karena ayahku."


"Benarkah? Jadi, ayahmu juga seorang dokter?" tanya Hendry antusias.


Gadis itu menggeleng.


"Tidak! Ayahku bukan seorang dokter. Dia hanya rakyat biasa sepertiku. Hanya saja, saat itu ayah meninggal karena tidak ada seorang dokter pun yang ingin mengoperasinya. Karena kami hanya rakyat biasa dan tidak punya uang untuk biaya operasi." Gadis itu tersenyum miris diakhir kalimatnya.


"Aku hanya tidak ingin ada orang lain yang harus mengalami hal yang sama sepertiku. Aku tidak ingin ada anak yang harus kehilangan sosok ayahnya karena tidak bisa membayar biaya rumah sakit. Aku tidak ingin ada rumah tangga yang kehilangan sosok kepala keluarganya karena masalah seperti itu. Meski tidak bisa banyak membantu, tapi jika kelak aku benar-benar menjadi seorang dokter, aku akan berupaya sebisaku untuk membantu mereka. Meski tak bisa membantu banyak!" tuturnya panjang lebar.


"Ahh, sorry! Aku malah ngelantur kemana-mana. Sudah selesai. Lukanya sudah selesai aku balut," katanya kemudian setelah sadar pembicaraannya sudah kemana-mana.


Hendry masih diam tak menjawab.


"Kalau gitu, aku duluan." Dan gadis itu langsung berlalu pergi meninggalkan Hendry yang masih membatu di tempatnya.


Fix!


Ada yang aneh dengan dirinya. Perasaan, selama ini dia biasa saja. Melihat gadis itu pun rasanya biasa saja. Tak ada perasaan tertarik atau pun ingin berbicara lebih banyak lagi dengannya. Selama ini mereka bahkan tidak pernah saling bertegur sapa. Padahal mereka berada di kelas yang sama.


Anehnya, sekarang hatinya tiba-tiba ingin mendengar suara gadis itu lagi. Ia ingin melihat wajahnya lebih lama lagi. Ia ingin berbagi cerita dengan gadis itu. Apalagi saat mendengar ceritanya tentang ayahnya yang telah tiada. Entah mengapa, hati Hendry berdenyut sakit melihat wajah sendu gadis itu.


"Tidak! Sepertinya aku sudah gila. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya." Hendry bermonolog.


Semoga kalian suka!😉😙


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, yaa!


Pelase support author dengan cara VOTE, LIKE, COMMENT dan bintang limanya!😉😙🤗


See you next part yang entah kapan, yaa!😉😙🤗

__ADS_1


__ADS_2