AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 14. Tentang Penyesalan


__ADS_3

Happy Reading !๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜Š


"Penyesalan terbesar dalam hidup adalah kehilangan. Karena ada beberapa hal yang tidak akan pernah bisa kembali lagi. Tak peduli seberapa kau menyesalinya !"


~Azkia Aqilla Candra~


***


Azkia merentangkan kedua tangannya setelah seseorang membangunkannya dari tidur lelapnya. Senyumnya terukir saat melihat siapa pelakunya. Dia adalah Fikri, si pria tampan berambut pirang. Azkia mengedarkan pandangannya mengelilingi kelas yang ternyata sudah sepi. Hanya tersisa dirinya, Fikri, Arta, Citra, Putri dan Gibran di kelas itu.


Ahh, sudah satu minggu berlalu sejak kejadian Gibran memukuli Arta. Yang berarti sudah satu minggu pula Azkia mendiami pria itu. Ia terus menghindar darinya dan mengabaikan saat pria itu mengajaknya berbicara.


Okay ! Katakan Azkia kekanakan. Katakan dia berlebihan. Hanya saja, Azkia terlalu bingung untuk bisa memahami semuanya. Segalanya terasa abu-abu dan begitu membingungkan.


"Ayo, makan siang bareng !" ajak Fikri dengan senyum yang selalu membuat Azkia tertarik untuk melakukan hal yang sama.


"Ehmmm...hari ini gue makan di kantin lantai dasar" Fikri, Arta, Citra dan Putri langsung mengangguk mengerti. Biar bagaimana pun mereka senang jika Azkia dan Gibran akhirnya berbaikan. Rasanya aneh melihat dua orang yang selalu bersama tiba-tiba saling menjauh.


Gibran yang sudah berada di ambang pintu kelas langsung menghentikan langkahnya saat mendengar Azkia mengatakan akan makan siang di kantin lantai dasar. Senyumnya mengembang dan semakin melebar saat sepasang tangan mungil melingkar di lengan kirinya.


"Ayo ke kantin bareng !" kata Azkia yang tentu saja langsung diangguki Gibran.


Melihat Gibran dari kejauhan yang datang bersama Azkia di sampingnya lagi-lagi membuat geng Thunder heboh. Apalagi setelah kejadian minggu lalu, Azkia benar-benar menjauhi mereka. Bukan hanya Gibran namun seluruh anggota geng Thunder pun ikut kena batunya.


Perempuan memang mengerikan saat sedang marah !


"Akhirnya lo gabung sama kita lagi !" Bimo bangkit dari kursinya dan langsung memeluk Azkia.


Sepertinya pria itu benar-benar senang melihat Azkia akhirnya mau bergabung bersama mereka lagi. Karena selama satu minggu ini, jangankan makan siang bersama mereka, Azkia bahkan tidak mau berbicara dengan semua anggota geng Thunder.


Azkia yang mengerti perasaan Bimo pun membalas pelukan pria itu. Ia menepuk-nepuk punggung Bimo bermaksud menenangkannya. Dari semua anggota geng Thunder, Bimo-lah yang paling gencar mengiriminya pesan dan meminta maaf kepada Azkia atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.


Mengingat itu malah membuat Azkia semakin merasa bersalah. Ahh, padahal tidak ada yang bersalah diantara mereka. Baik itu Gibran atau pun anggota geng Thunder lainnya. Tapi Azkia malah melampiaskan kemarahan atas ketidaktahuannya kepada mereka.


Benar-benar kekanakan !


"Sorry ! Gue benar-benar keterlaluan sudah melampiaskan amarah gue sama kalian" ucap Azkia penuh penyesalan.


Semua kompak menggeleng sebagai tanda Azkia sama sekali tidak bersalah.


Gibran hanya diam. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya bahkan setelah menyaksikan Bimo memeluk Azkia dengan mata kepalanya sendiri. Padahal normalnya pria itu akan langsung marah jika melihat seseorang menyentuh Azkia. Gibran adalah tipe pria posesif yang tidak suka miliknya disentuh orang lain. Tidak peduli bahkan jika itu adalah sahabatnya sendiri.


Untuk beberapa saat semua ikut terdiam menunggu Gibran membuka suara. Namun hingga beberapa menit berlalu mereka sama sekali tidak mendengar ocehan dari Gibran. Pria itu masih tetap diam. Memilih mengatupkan kedua bibirnya rapat.


Ada yang salah dengan pria itu !


"Ohh yaa, tadi pagi gue nggak sengaja melihat kalian lari-lari pagi di lapangan umum kompleks Merpati !" ucap Bastian santai sambil menyantap ayam bakar pesanannya.


Azkia hanya mengangguk membenarkan.


Ia bahkan tidak mau capek-capek mendongak untuk menatap Bastian yang sedang berbicara. Ia lebih tertarik dengan ayam penyet super pedas pesanan Gibran yang baru saja diantarkan pelayan kantin. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Azkia menarik piring Gibran hingga berada tepat di depannya kemudian meletakkan kotak bekal makan siangnya di depan pria itu.


Yah ! Azkia menukar makan siang mereka dengan seenak jidat. Ia bahkan tidak meminta izin Gibran lebih dulu sebelum menukarnya. Benar-benar gadis tidak berperike-Gibran-an.


Gibran ?


Tentu saja pria itu hanya diam tanpa menolak sama sekali. Dengan senang hati ia langsung melahap bekal Azkia tanpa protes. Apapun akan Gibran lakukan selama itu bisa membuat Azkia bahagia. Sekali lagi, sudah dia bilang kan apapun akan ia lakukan untuk gadis pecicilan itu ?


"Tadi gue lihat lo ketemu seorang pria di lapangan. Gue juga sempat liat lo jatuh, tangan lo nggak apa-apa ?" Bastian sengaja mengucapkan kata-kata itu untuk melihat reaksi Gibran.


Dan....


Berhasil !


Bastian bisa melihat Gibran yang langsung menghentikan makannya dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Sepasang mata hitam legam pria itu seketikan menatapnya tajam seperti mata elang yang sedang memantau target mangsanya.


"Siapa ?" tanta Gibran.


Ahh, Bastian bahkan baru saja ingin menanyakan pertanyaan itu pada Azkia meski sebenarnya ia tentu saja sudah tahu jawabannya. Sebenarnya, Bastian memang sudah berniat memberitahu hal tersebut kepada Gibran. Dan karena Azkia bergabung bersama mereka, sekalian saja Bastian membahasnya langsung dengan gadis itu.


"Dulu kita sekolah di SMP yang sama !" jawab Azkia santai tanpa menghentikan makannya.


"Namanya ?" tanya Gibran lagi.


"Lo nggak kenal !"


"Sebut saja namanya siapa !" tuntut Gibran.


Azkia berdecak kesal mendengar nada menuntut Gibran. Apa pria itu lupa mereka baru saja berbaikan beberapa menit yang lalu ? Dan sekarang dia sudah mau membuatnya marah lagi ?


Dasar tidak tahu terima kasih !


"Alex !" ucap Azkia kesal.


Dia kemudian melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Ahh, ayam penyet itu terlalu enak untuk tidak segera dihabiskan. Ayam penyet ibu Siti memang juara.


"Mwo ?" teriak Gibran sambil menggebrak meja keras.

__ADS_1


๐Ÿ“ŒMwo ? : Apa ?


Uhuk uhuukk uhuukkk...


Azkia, Vero, Bimo dan Saldi kompak terbatuk-batuk karena tersedak makanan mereka. Lagi-lagi Saldi dan Bimo tersedak kuah bakso super pedasnya. Wajah Bimo yang berkulit putih susu bahkan seketika berubah merah padam. Sama seperti Azkia yang wajahnya kini berubah merah seperti memakai blush on.


"Gibran, sialan ! Bisa nggak sih kalau mau gebrak meja jangan pas gue lagi makan bakso super pedas, hah ?" teriak Bimo kemudian berebut air putih dengan Saldi dan Vero.


"Asem lo, mbing !" Vero meneguk air putih yang akhirnya berhasil ia dapatkan dari hasil berebut dengan Bimo dan Saldi. Sialnya ia juga sedang makan nasi goreng pedas.


Bimo mengisi dua gelas air putih. Satu gelas ia berikan pada Azkia yang tampak kepedasan karena tersedak ayam penyet super pedasnya. Setelah memastikan Azkia minum, barulah Bimo ikut meneguk air putih miliknya.


"Pedis ! Bimo, airnya lagi cepat !" Azkia bergerak seperti lintah kepanasan saking pedasnya. Wajahnya terlihat semakin merah sekarang.


"Sorry sorry ! Gue nggak sengaja ! Gwencanha ? Ahh, Azkia mianhae !" Gibran menatap Azkia dengan kekhawatiran yang kentara.


๐Ÿ“ŒGwencanha ? : Apa kamu baik-baik saja ?


๐Ÿ“ŒMianhae : Maaf (informal)


Pletaakk...


Azkia menjitak kepala Gibran kuat. Hendry dan yang lain kompak meringis mendengar bunyi jitakan maut itu yang lumayan bikin ngilu. Berbeda dengan Gibran yang malah terlihat biasa saja seakan jitakan itu sama sekali tidak terasa. Pria itu malah sibuk mengkhawatirkan Azkia.


"Gibran, bodoh ! Kaget, tau !" hardik Azkia kesal.


"Mianhae ! Jeongmal mianhae !" kata Gibran penuh penyesalan.


๐Ÿ“Œ*Je**ongmal mianhae : Aku benar-benar minta maaf*.


Ia mengusap air mata Azkia lembut sebelum menarik tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya yang hangat. Memang bukan air mata karena menangis melainkan hanya air mata karena kepedisan. Azkia bisa merasakan tubuh Gibran bergetar saat ia memeluknya. Deru napasnya pun tidak beraturan.


Apa Gibran sekhawatir itu padanya ?


Ataukah pria itu takut Azkia marah dan mendiaminya lagi ?


Demi uban Donald Trump, Azkia tidak benar-benar sedang marah. Ia memang kesal karena Gibran membuatnya terkejut hingga tersedak makanannya, tapi Azkia tidak marah.


"Please, jangan marah !" mohon Gibran yang malah membuat Azkia merasa bersalah.


Nada suara pria itu terdengar sangat ketakutan jika Azkia sampai marah. Ahh, Azkia benar-benar merasa bersalah sekarang.


Azkia mengangguk sebelum melepas pelukan Gibran. Ia menatap mata yang terlihat sayup karena cemas itu dengan senyum manisnya. Mencoba meyakinkan pemilik sepasang mata hitam legam itu bahwan ia benar-benar tidak sedang marah. Membuat Gibran langsung menghembus napas lega.


"Jangan lupa nanti sore jam empat ! Awas kalau ada yang telat !" kata Azkia mengingatkan.


Hari ini adalah hari pertama mereka akan belajar bersama. Ulangan akhir semester tidak lama lagi akan dilaksanakan. Meski sudah terlambat, mereka akan memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik mungkin. Beruntung Azkia mau mengajari mereka.


Azkia sebagai satu-satunya yang otaknya berfungsi akan menjadi guru private dadakan geng Thunder mulai hari ini. Mungkin acara belajar bersama mereka akan terus berlanjut hingga UN nanti.


๐Ÿ


Azkia mendongak menatap mension berlantai tiga yang menjulang tinggi di depannya. Mension yang didominasi warna putih tulang itu bahkan mungkin lebih pantas disebut sebagai istana. Mension yang memiliki desain perpaduan modern dan vintage itu benar-benar terlihat menakjubkan.


Azkia bahkan sampai dibuat terpana hingga tidak sadar Gibran sudah memanggil-manggil namanya hingga lima kali.


"Kia ?" Azkia yang baru sadar menatap Gibran dengan mata berbinar.


"Hmmm ?"


"Ayo masuk !" Azkia mengangguk kemudian mengekori Gibran yang berjalan lebih dulu ke arah pintu utama mension.


Azkia semakin dibuat takjub melihat beberapa pengawal yang berjejer di sisi kiri dan kanan pintu utama yang dengan sopan membungkuk memberi hormat kepada Gibran. Dari wajahnya, Azkia bisa menebak bahwa tiga dari enam pengawal itu adalah warga negara Korea Selatan. Kulit putih pucatnya yang mirip dengan kulit Gibran jelas adalah ciri khas warga Negeri Gingseng tersebut. Bedanya, ketiga pengawal itu mempunyai mata sipit monolid sementara Gibran mempunyai mata lebar doublelid.


"Selamat datang, tuan muda !" ucap mereka kompak.


Azkia sedikit membungkuk saat melewati keenam pengawal itu yang tentu saja jauh lebih tua darinya. Berbeda dengan Gibran yang terus berjalan seakan keenam pria berseragam all black style itu tidak pernah ada. Benar-benar pria dingin.


Tidak sampai di situ saja. Setelah mereka sampai di depan tangga menuju lantai dua, beberapa pelayan telah berbaris rapi dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan enam pengawal tadi. Membungkuk 90ยฐ dan mengucapkan selamat datang kepada Gibran.


"Makan siangnya sudah siap, tuan !" ucap salah satu dari mereka.


Gibran menghentikan langkahnya setelah sampai di anak tangga pertama, membuat Azkia ikut menghentikan langkahnya. Pria itu menoleh dan menatap para pelayan berseragam sama itu dengan tatapan datar dan dingin.


"Bawakan jus alpukat coklat dan celiman ke kamarku !" pintah Gibran.


"Baik, tuan !"


Lagi-lagi Azkia membungkuk sopan kepada para pelayan itu sebelum mengikuti Gibran menaiki anak tangga menuju lantai dua. Dan lagi, Azkia lagi-lagi dibuat takjub melihat kamar Gibran yang luasnya mungkin sepuluh kali lipat dari luas kamarnya. Kamar itu benar-benar luas dan sangat bersih. Semua tertata rapi dan terlihat begitu mengagumkan.


Hal yang paling Azkia suka adalah jendela besar di salah satu sisi kamar tersebut. Dinding di bagian itu hampir seluruhnya terbuat dari kaca bening hingga taman belakang rumah itu yang luar biasa indah bisa terlihat dari kamar Gibran. Senyum Azkia terukir indah saat Gibran membuka jendela itu. Hingga angin sepoi-sepoi langsung masuk dan dengan lembut menyapa mereka. Mengibaskan rambut panjang Azkia hingga sedikit berantakan.


"Wow !" seru Azkia yang kini berjalan mengitari kamar itu sambil melihat koleksi-koleksi Gibran yang tentu saja high class.


"Ohh yaa, pak Direktur kan orang Korea. Apa lo...Muslim ?" dari sekian banyak pertanyaan, entah mengapa Azkia malah menanyakan pertanyaan bodoh itu.


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Azkia tentu saja sukses membuat Gibran melongo. Benarkah gadis bodoh itu yang akan menjadi guru private mereka ?

__ADS_1


"Lo lupa nama gue siapa ?" Gibran balik bertanya.


"Gibran !"


"Lengkapnya ?"


"Muhammad Gib...Ahh, bodoh ! Nama lo kan Muhammad Gibran Hutama. Bagaimana bisa aku melupakannya ?" kata Azkia menjawab pertanyaannya sendiri dan menghardik dirinya yang pelupa.


"Tentu saja lo nggak ingat, karena yang ada di kepala lo hanya ada Arta ! Sementara gue nggak pernah ada ruang di hati lo !" Gibran membatin. Ia tersenyum kecut menatap Azkia yang kini berdiri membelakanginya.


Menyedihkan sekali !


"Lucunya !" seru Azkia saat melihat foto masa kecil Gibran.


Di sana terlihat Gibran mengambil foto bersama kedua orang tuanya. Senyum manis terukir lebar di bibir pria itu. Dia terlihat sangat bahagia. Ahh, ibu Gibran ternyata wanita yang sangat cantik. Mata hitam legam Gibran sepertinya ia dapatkan dari ibunya.


Menggemaskan sekali !


"Lo pernah masuk pesantren ?" tanya Azkia saat melihat foto Gibran kecil di depan sebuah pesantren.


Gibran mengangguk sebagai jawaban.


"Appa memang seorang muallaf sebelum menikah dengan Eomma. Tapi Appa adalah seorang hafidz Qur'an. Appa bahkan sudah khatam 30 juz di tahun kedua ia menjadi Muslim" jelas Gibran yang sukses membuat Azkia merasa tertampar begitu keras.


Hey ! Azkia yang sudah menjadi Muslim sejak lahir bahkan belum menghapal juz 30. Ahh, Azkia jadi malu.


Azkia mengangguk-angguk mengerti. Ia meletakkan kembali foto itu di tempatnya semula sebelum ikut duduk di sofa yang ada di kamar itu bersama Gibran.


"Lo sudah menghubungi pak Direktur ?" tanya Azkia berubah serius.


Gibran menggeleng. Terdengar hembusan napas berat dari pria itu.


"Kenapa ? Bukannya papah sudah bilang untuk menghubungi beliau lebih dulu ? Gue setuju sih sama papah. Mungkin pak Direktur terkesan cuek dan tidak peduli, tapi sebenarnya beliau sangat merindukan lo !" jelas Azkia.


Lagi-lagi terdengar hembusan napas berat dari pria itu. Membuat Azkia ikut melakukan hal yang sama. Entah mengapa, melihat wajah sedih Gibran yang biasanya terlihat datar dan dingin benar-benar membuat hati Azkia menjerit.


Dia tidak suka ekspresi wajah sedih itu !


"Penyesalan itu datangnya selalu belakangan. Karena itu, kita menyebutnya penyesalan. Tapi sebelum penyesalan datang, kita selalu diberi kesempatan untuk mencegahnya. Hanya saja, kesempatan itu mempunyai durasi. Yang sayangnya kita tidak pernah tahu kapan durasinya akan berakhir. Mungkin saja esok, lusa, minggu depan ? Ahh, atau mungkin saja beberapa menit kemudian. Karenanya, kita harus memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya sebelum ia berlalu begitu saja bersama durasinya yang semakin lama semakin menipis. Yang pada akhirnya akan mendatangkan penyesalan !" tutur Azkia panjang lebar.


Pandangannya menerawang jauh ke masa lalu saat mengatakan kata-kata itu. Mengenang kenangan lama yang masih terukir jelas di dalam memorinya meski tahun demi tahun telah banyak berlalu. Namun penyesalan itu tak kunjung surut terbawa waktu.


"Penyesalan terbesar dalam hidup adalah kehilangan. Keputusanmu, menentukan hasilnya. Apakah itu akhir yang bahagia atau menyedihkan. Jangan sampai ada penyesalan di akhir nanti. Jangan sampai ada keputusanmu hari ini yang akan kau sesali di hari esok. Kita tidak akan tahu, kapan orang yang kita kasihi akan pergi meninggalkan kita. Karena itu selama kesempatan itu masih ada, gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Karena ada beberapa hal yang tidak akan pernah bisa kembali lagi. Tak peduli seberapa kau menyesalinya !" Azkia menyelesaikan kalimatnya.


Gibran tertegun untuk beberapa saat mendengar penuturan panjang Azkia. Lagi-lagi Gibran mendengar kalimat-kalimat bijak keluar dari mulut gadis itu. Ahh, Azkia memang selalu bisa membuat Gibran takjub karena kata-kata indahnya.


"Assalamu'alaikum, Appa ! Appa apa kabar di sana ? Apakah Appa makan dengan teratur ? Jaga kesehatannya !"


Itu hanyalah kalimat biasa yang dirangkai dari beberapa kata. Itu hanyalah beberapa kalimat sederhana, namun bisa membuat sebuah hati yang sudah lama layu kini mendadak menjadi taman bunga. Itu hanyalah beberapa kalimat tanya, namun mampu mengukir senyum lebar di bibir seseorang. Itu hanyalah sebuah pesan singkat, namun mampu menciptakan tangis haru di seberang sana.


Di tempat yang berbeda. Di belahan dunia yang berada cukup jauh dari Bumi Pertiwi. Seseorang yang baru saja menerima pesan singkat namun memiliki dampak luar biasa itu tiba-tiba membubarkan rapat penting yang sedang berlangsung. Tak peduli dengan penolakan dari semua client yang berada di dalam ruang rapat tersebut.


Ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada uang yang jumlahnya bahkan tidak bisa ia sebut nominalnya. Senyumnya semakin lebar saat menunggu seseorang di seberang sana menerima panggilan teleponnya.


"Halo ! Assalamu'alaikum, Appa !" kata seseorang di seberang sana yang seketika membuat bunga itu semakin bermekaran.


"Wa'alaikumussalaam ! Te jun, eotteokhe jinae syeosseoyo ?" tanya Min Joo semangat.


๐Ÿ“ŒEotteokhe jinae syeosseoyo ? : Bagaimana kabarmu ? (informal)


"Jal jinaesseumnida ! Appa eottokhe jinaeseyo ?"


๐Ÿ“ŒJal jinaesseumnida ! : Saya baik-baik saja ! (formal)


๐Ÿ“ŒAppa eottokhe jinaeseyo ? : Bagaimana denganmu, papah ? (formal)


"Deudgi johneyo ! Appaneun geonganghada !"


๐Ÿ“ŒDeudgi johneyo : Senang mendengarnya.


๐Ÿ“ŒAppaneun geonganghada ! : Papah sehat !


Azkia tersenyum melihat Gibran yang sedang berbincang-bincang dengan ayahnya di seberang sana. Meski sama sekali tidak mengeti dengan apa yang pria itu katakan namun senyum yang menghiasi wajah tampan pria itu sudah cukup menjelaskan semuanya.


Rasanya bahagia bisa melihatnya kembali baik-baik saja.


Tak peduli seberapa sederhana kata-kata itu. Tak peduli seberapa singkat kalimat itu. Tak peduli jika itu bahkan hanya sebuah kalimat tanya. Namun jika itu diucapkan oleh seseorang yang terkasih, maka itu akan menjadi sangat berharga. Itu akan menjadi sangat berarti.


Cobalah untuk berdamai dengan keegoisan diri sendiri !


Dan semua akan menjadi jauh lebih indah !


Semoga kalian suka !๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜™


Support author dengan vote, like, comment dan bintang limanya !๐Ÿ˜„๐Ÿ˜™๐Ÿ˜‰๐Ÿค—


Ditunggu saran dan masukannya juga, yaa !๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜™

__ADS_1


__ADS_2