AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 2 Geng Thunder


__ADS_3

Happy Reading !😉😙


"Apakah gadis itu bisa memperbaiki segalanya ? Atau malah memperkeruh air yang memang sejak awal sudah keruh ?"


~Geng Thunder~


***


"Jadi benar kamu adalah sahabat Arta sejak kecil ?" tanya Pak Rahman.


Pak Rahman adalah guru yang saat ini sedang mengantar Azkia ke kelas barunya sekaligus guru yang akan menjadi wali kelasnya selama menjadi siswa SMA Nusantara selama 1 tahun kedepan. Pak Rahman juga adalah guru Bahasa Indonesia di SMA Nusantara.


"Benar, pak ! Itu karena orang tua kami sudah bersahabat sejak muda. Rumah kami juga sebelahan, pak !" jawab Azkia sopan.


Di dalam hati Azkia bertanya-tanya, apakah Arta yang menceritakan tentang mereka yang sudah bersahabat sejak kecil kepada guru itu ?


Pak Rahman tampak mengangguk-angguk mengerti.


"Bapak tidak pernah melihat Arta dekat dengan perempuan sejak ia sekolah di sini. Bapak pikir dia memang tidak suka dekat-dekat dengan seorang perempuan. Ternyata bapak salah ! Arta ternyata dekat sama nak Azkia sejak kecil !" kerutan di kening Azkia tampak semakin dalam karena sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan guru itu.


"Syukurlah bapak ternyata cuma salah paham !" kata Pak Rahman mengakhiri kalimatnya.


Azkia hanya tersenyum tipis sambil mengangguk-angguk kecil sebagai jawaban. Meski kenyataannya dia sama sekali tidak paham apa yang Pak Rahman bicarakan. Sudahlah ! Itu juga tidak penting untuk Azkia. Yang terpenting sekarang adalah dia mau berada di kelas yang sama dengan Arta.


Senyum Azkia seketika melebar melihat Pak Rahman berhenti di depan ruang kelas yang bertuliskan XII IPA 1. Dan wajah Azkia semakin cerah saat Pak Rahman memintanya mengikutinya masuk ke kelas itu. Tentu saja Azkia senang karena itu adalah kelas dimana Arta berada.


"Selamat pagi, anak-anak !"


"Pagi, pak !" jawab siswa-siswi di kelas itu kompak.


"Hari ini kalian kedatangan teman baru. Bapak harap kalian bisa berteman baik ! Silahkan nak Azkia perkenalkan dirimu !" Azkia mengangguk mengiyakan.


"Perkenalkan nama saya Azkia Aqilla Candra, bisa dipanggil Azkia. Saya pindahan dari SMAN 1 Bayangkara. Mohon bantuannya, teman-teman !" Azkia tersenyum lebar di akhir kalimatnya. Senyum positif itu membuat semua orang di kelas itu ikut melakukan hal yang sama.


"Baik, kalau kalian ada pertanyaan sama Azkia kalian bisa tanyakan nanti ! Sekarang kita tentukan tempat duduk kalian dulu ! Ketua kelas apakah nomor-nomornya sudah ditempel ?"


"Sudah, pak !" jawab Arta. Dan Azkia baru tahu ternyata Arta yang menjadi ketua kelas mereka.


"Bagus ! Sekarang kalian naik ambil nomor dan duduk di kursi sesuai dengan nomor yang kalian ambil !" pintah Pak Rahman.


Satu-persatu siswa-siswi di kelas itu pun bangkit dari duduknya dan maju mengambil nomor yang sudah ditulis di kertas kecil yang kemudian digulung dan disimpan di dalam sebuah toples. Mereka yang sudah mengambil nomor pun satu-persatu duduk di kursi sesuai nomor yang mereka ambil.


"Nih !" Azkia mengangkat kepalanya untuk mencari tahu siapa pemilik tangan yang menyodorkan satu gulungan kertas kepadanya.


Azkia memang belum mengambil nomor karena masih terlalu ramai. Dia memilih untuk menunggu sampai semua telah mengambil nomor.


Azkia tersenyum ramah kepada pemilik tangan itu. Dengan senang hati ia menerima kertas yang diberikan Gibran kepadanya. Azkia baru menyadari ternyata Gibran juga berada di kelas yang sama dengannya. Tentu saja dia tidak melihat Gibran karena sejak tadi ia hanya terus menatap ke arah Arta.


"Thanks, Gibran !" ucap Azkia sembari membuka gulungan kertas itu untuk melihat dia akan duduk di kursi nomor berapa.


"Dapat nomor berapa, Kia ?" tanya Gibran.


"Aku dapat nomor 6, kamu ?" Azkia memperlihatkan kertasnya kepada Gibran.


"Wah, pas bangat aku dapat nomor 5 ! Berarti kita duduk sebelahan, dong !" jawab Gibran semangat sambil memperlihatkan nomornya kepada Azkia.


"Benarkah ? Ahh, mohon bantuannya yaa Gibran !" Gibran tertegun melihat senyum Azkia.


Itu adalah senyum paling cerah yang pernah Gibran lihat. Dia belum pernah melihat orang tersenyum seceria itu sebelumnya. Gadis itu membuat Gibran yang lebih sering memasang muka datar untuk ikut tersenyum.


Aneh sekali !


Rasanya hari ini Gibran lebih sering tersenyum karena bertemu gadis itu. Sepertinya Azkia adalah gadis yang memiliki kemampuan Happy Virus. Membuat siapa pun yang berada di dekatnya ikut tersenyum karena gadis itu.


Semua telah duduk di kursi masing-masing setelah Pak Rahman meninggalkan kelas itu. Hari ini adalah hari pertama mereka masuk sebagai siswa kelas XII. Hari ini mereka tidak akan langsung belajar dan mungkin hanya akan mengambil buku paket dan mencatat jadwal roster mereka serta pembagian piket kelas.


"Salam kenal Azkia !"


"Namaku Zen, salam kenal Azkia !"


"Aku Dino..."


"Azkia kamu kenapa pindah ke sini ? Setauku SMAN 1 Bayangkara termasuk sekolah unggul loh !"


Dengan senang hati Azkia menerima uluran tangan dari teman-teman barunya yang mengajaknya berkenalan dan menjawab satu-persatu pertanyaan dari mereka. Azkia senang bisa mendapat teman baru. Teman-teman barunya juga terlihat ramah dan bersahabat. Semoga saja kehidupan sekolah Azkia berjalan lancar selama satu tahun kedepan.


Azkia senang karena meski tidak duduk bersebelahan dengan Arta tapi pria itu duduk tepat di depannya. Berada di dekat pria itu adalah hal utama dalam hidup Azkia. Gila memang !


"Hay, Azkia ! Kenalin namaku Fikri Adinanta Saputra, bisa dipanggil Fikri. Senang bertemu denganmu !" pria yang duduk di samping Arta berbalik dan mengulurkan tangannya mengajak Azkia berkenalan.

__ADS_1


"Fikri ? Ahh, jadi kamu Fikri ? Arta sering cerita soal kamu, loh. Senang juga bisa bertemu denganmu, Fikri. Mohon bantuannya, yaa !" Azkia membalas uluran tangan Fikri. Tak lupa membalas senyum manis pria itu.


Azkia baru tahu Fikri yang sering Arta cerita itu memiliki wajah tampan perpaduan Asia-Eropa. Namanya 100% Indonesia tapi wajahnya jelas bukan produk asli Indonesia. Fikri memiliki wajah campuran alias bule. Fikri bahkan mempunyai rambut pirang alami.


"Kamu ternyata blasteran, yaa ! Nggak nyangka kamu yang namanya 100% Indonesia ternyata memiliki wajah campuran !" Fikri tersenyum lebar mendengarnya.


Azkia bukan orang pertama yang mengatakan hal itu kepadanya. Dia memang mempunyai nama yang asli Indonesia tapi wajahnya adalah perpaduan Indonesia-AS. Ibunya asli orang Indonesia karena itu Fikri mempunyai nama yang 100% Indonesia, tapi wajah campurannya ia dapatkan dari ayahnya yang berasal dari Amerika Serikat.


"Memang benar kata Arta, kalian mempunyai selera yang sama. Ck ck ck !" Azkia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tas, sepatu, jam tangan dan model rambut Arta dan Fikri yang semuanya sama.


"Iya, kami memang mempunyai selera yang sama. Karena itu kami jadi dekat !" senyum Fikri semakin lebar.


Gibran tersenyum miring mendengar jawaban Fikri. Sejak tadi ia lebih memilih menatap keluar jendela. Kenyataan bahwa dia harus berada di kelas yang sama dengan Arta dan Fikri selama satu tahun kedepan benar-benar membuatnya muak.


Sial !


Emosi Gibran menjadi begitu sulit dikendalikan jika berada dalam jarak yang dekat dengan kedua pria itu. Dan sekarang kedua pria itu malah duduk tepat di depannya.


Holy shit !


"Aku mau ke kantor dulu. Ketua dan wakil ketua kelas disuruh kumpul di kantor. Kalau mau keluar, jangan lupa kirim pesan ke aku !" kata Arta kepada Azkia.


Azkia mengangguk dengan senyum ceria yang tidak pernah luntur dari wajahnya.


"Berarti aku juga harus ke kantor. Kita ngobrol-ngobrol lagi nanti yaa, Azkia !" Azkia mengangkat kedua jempolnya pada Fikri yang ikut bangkit dari duduknya.


Di kelas mereka tinggal beberapa orang saja. Sebagian besar memilih ke kantin untuk mengisi perut atau sekedar nongkrong. Azkia dan Gibran adalah dua dari sedikit orang yang masih setia berada di kelas itu.


"Kamu sudah punya seragam olahraga belum ?" tanya Gibran memecah keheningan yang sempat tercipta.


"Belum, sih !"


"Yasudah, ayo aku temani ke koperasi ! Sekalian keliling sekolah !" kedua mata Azkia berbinar mendengar tawaran Gibran.


"Boleh ? Aku nggak ngerepotin kamu, kan ?"


"Sama sekali tidak ! Daripada mumet cuma di kelas, mending keliling-keliling biar nanti nggak nyasar ! Sekolah kita lumayan luas, loh !" Azkia mengangguk dengan semangat.


Azkia mengirim pesan ke Arta terlebih dahulu sesuai perintah pria itu sebelum keluar bersama Gibran. Ia menyampirkan tali ranselnya di pundaknya. Ransel yang hanya berisi satu buku tulis, satu pulpel dan satu kotak bekal makan siang.


"Kamu dekat bangat yaa sama Arta ?" tanya Gibran.


"Jadi benar kamu adalah satu-satunya perempuan yang dekat dengan Arta selain ibunya ?" tanya Gibran lagi yang lebih seperti memastikan sesuatu.


"Arta juga dekat sama mamah aku sih !" Gibran lagi-lagi mengangguk paham.


Saat ini mereka sedang mengelilingi lantai dasar SMA Nusantara. Gibran hanya menjelaskan tentang lantai satu khusus untuk kelas X, lantai dua khusus untuk kelas XI dan lantai tiga khusus untuk kelas XII.


Totalnya ada tiga bangunan di sekolah itu. Dua gedung berlantai tiga khusus menjadi kelas. Satu diantaranya untuk gedung IPA dan satu lagi untuk gedung IPS.


Sementara satu gedung lagi hanya memiliki dua lantai. Di gedung itulah kantor, UKS, Koperasi sekolah, ruang musik, ruang gambar, ruang perlengkapan olahraga, ruang komputer, audiotorium, perpustakaan, laboratorium IPA dan segala fasilitas SMA Nusantara berada.


Di ujung gedung itu ada musholah yang cukup besar. Musholah itu bahkan bisa menampung seluruh siswa SMA Nusantara sekaligus. Sementara untuk siswi, mereka memiliki musholah tersendiri di setiap lantai gedung kelas masing-masing.


Ketiga gedung itu dibangun membentuk huruf 'U' dimana ditengah-tengahnya terdapat lapangan yang sangat luas. Bukan cuma lapangan sepak bola tapi juga ada lapangan voli, lapangan basket, lapangan lompat jauh juga lintasan lari estafet.


Dengan sabar Gibran menemani Azkia berkeliling dan menunjukkan satu-persatu tempat-tempat penting kepada gadis itu.


"Sebenarnya dari lantai satu sampai lantai tiga semua memiliki kantin tapi kantin di lantai dasar selalu menjadi yang paling ramai. Itu karena kantin lantai dasar adalah kantin semi outdoor membuat banyak siswa yang lebih suka ke sana !" jelas Gibran.


Azkia mengangguk mengerti. Dia juga termasuk siswa yang akan lebih suka kantin outdoor daripada indoor.


"Mau ke kantin ?" tanya Gibran.


"Ayo !"


Berhubung mereka sudah selesai mengelilingi sekolah dan Gibran sudah mulai haus. Wajar saja karena mereka harus berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Matahari juga semakin tinggi dan lumayan terik. Azkia juga sudah mendapatkan seragam olahraga jadi tidak ada lagi yang harus mereka datangi.


"Itu Gibran jalan sama siapa ?"


"Siapa perempuan itu ? Aku sepertinya baru pertama kali liat dia !"


"Bukannya dia yang tadi pagi datang sama Arta, yaa ?"


"Tuh cewek cabe bangat sih ! Tadi pagi sama Arta sekarang nempel sama Gibran !"


"Gila ! Menang banyak tuh cewek !"


"Namanya Azkia, dia sekelas sama gue ! Cantik sih tapi kesal gue liat dia dengan mudah bisa dekat sama Arta dan Gibran. Murid pindahan padahal !"

__ADS_1


"Yaelah, sirik aja lo pada ! Kalian bilang gitu karena tuh cewek cantik, kan ?"


"Buset ! Tipe gue bangat tuh !"


"Siswi pindahan, yaa ? Bening bangat !"


"Gibran ! Kenalin gue sama dia, dong !"


Gibran menarik tangan Azkia dan berjalan cepat ke meja langganannya bersama geng-nya. Entah mengapa Gibran kesal mendengar bisik-bisikan siswa yang memuji kecantikan Azkia. Gibran bukan tipe orang yang mau ikut campur urusan orang lain. Tapi rasanya berbeda dengan Azkia. Dia bertingkah aneh sejak bertemu Azkia pagi tadi.


"Hay bro ! Sama siapa tuh ?"


"Akhirnya lo gandengan cewek juga ! Kirain lo belok karena gue nggak pernah liat lo sama cewek"


"Gila ! Cantik bangat !"


"Nggak pernah bawa cewek, tapi sekalinya bawa langsung yang mirip bidadari !"


Azkia langsung bersembunyi dibalik tubuh Gibran yang menjulang tinggi. Malu dan sedikit takut saat menyadari semua teman-teman Gibran langsung menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Azkia artikan.


"Ahh kenalin, mereka teman-teman aku. Jangan khawatir, muka mereka memang seram tapi mereka jinak kok !" Azkia tersenyum canggung kepada teman-teman Gibran.


"Jinak lo kira binatang !" Azkia tidak bisa melihat siapa yang baru saja berbicara tapi semua langsung tertawa mendengar dumelannya, termasuk Gibran.


"Nggak apa-apa aku gabung sama kalian ?" tanya Azkia yang masih bersembunyi dibalik tubuh Gibran, takut-takut kehadirannya malah mengganggu teman-teman Gibran.


"Kita malah senang kali ada teman baru. Iya nggak ? Btw gue Sandi dari IPA 10 !" mendengar jawaban itu membuat Azkia lebih tenang dan akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya.


Azkia tersenyum ramah kepada teman-teman Gibran yang juga tersenyum menyambutnya.


"Gue Zidan dari IPS 1 !"


"Kenalin gue Firman dari IPA 8 !"


"Vero dari IPS 7 !"


"Bastian dari IPS 4 ! Ngomong-ngomong gue kayaknya belum pernah liat lo deh sebelumnya !"


"Aku Azkia dari IPA 1, salam kenal semuanya !Aku memang baru pindah hari ini jadi wajar kalau kalian baru liat aku !" jelas Azkia dengan senyum yang sudah kembali cerah.


Azkia duduk diantara Gibran yang duduk di sebelah kirinya dan Bastian di sebelah kanannya. Semua sudah memperkenalkan diri masing-masing kecuali satu orang yang sejak tadi hanya diam. Lebih tepatnya dia tetap fokus dengan nasi gorengnya tanpa peduli dengan kedatangan Azkia.


"Dia Hendry ! Dia juga dari kelas IPA 1, kita satu kelas sama dia !" jelas Gibran.


"Ohh yaa ? Salam kenal, Hendry ! Mohon bantuannya, yaa !" Azkia tidak tahu Hendry ternyata berada di kelas yang sama dengannya.


"Hmm !" gumam Hendry tanpa menghentikan makannya. Pria itu bahkan sama sekali tidak menoleh pada Azkia.


Azkia menatap Gibran dengan alis yang saling menaut. Pria bernama Hendry itu sepertinya tidak terlalu suka dengannya. Apa kehadirannya di sana menganggunya ? Azkia jadi merasa tidak enak.


"Dia memang gitu orangnya ! Cuek tapi dia baik kok !" kata Gibran dengan senyum simpul mencoba menenangkan Azkia. Gibran bisa menyadari ketidaknyamanan Azkia karena Hendry mengabaikannya.


Azkia mengangguk-angguk mengerti. Tanpa Azkia sadari teman-teman Gibran saling melempar pandang satu sama lain melihat Gibran tersenyum. Gibran tersenyum adalah salah satu hal yang sangat jarang mereka lihat. Bahkan sepertinya mereka sudah tidak pernah lagi melihat pria itu tersenyum sejak tiga tahun yang lalu.


But, see ?


Pria itu sekarang tersenyum manis kepada Azkia, gadis yang baru ia temui hari ini. Semua dibuat terkejut melihat senyum yang sudah sangat lama menghilang dari wajah Gibran dan kata yang sudah lama terhapus dari kamus pria itu tiba-tiba kembali. Tentu saja semua dibuat keheranan.


Muhammad Gibram Hutama, pendiri sekaligus ketua Geng Thunder yang mereka kenal selama ini adalah seorang pria cuek, dingin, flat, tidak pernah tersenyum, tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun meski banyak yang menembaknya. Gibran yang selama ini mereka kenal bukanlah pria seperti yang sekarang ada di depan mereka.


Tentu saja mereka senang melihat Gibran berubah. Melihat pria itu akhirnya membuka hati untuk seorang perempuan tentu membuat mereka merasa lega. Itu berarti mereka bisa sedikit bernapas lega karena itu artinya pria itu akhirnya bisa melupakan masa lalunya.


Hanya saja, disaat yang sama mereka merasakan kekhawatiran yang luar biasa. Gibran yang bahkan tidak pernah menatap seorang perempuan tiba-tiba berubah dalam hitungan jam. Mereka khawatir Gibran akan kembali dikecewakan. Itu jelas akan membuat Gibran jauh lebih jatuh dari sebelumnya.


Sebenarnya siapa gadis itu ?


Bagaimana bisa dia dengan sangat mudah membuat Gibran tersenyum ?


Bagaimana bisa gadis itu mengubah Gibran hanya dalam waktu beberapa jam ?


Apakah gadis itu bisa memperbaiki segalanya ? Atau malah memperkeruh air yang memang sejak awal sudah keruh ?


Terima kasih yang sudah singgah ke cerita ini !


Jangan lupa vote, like dan komen yaa !😉😊😙


Author mau cerita sedikit dong, boleh yaa !😁 AFTER A LONG TIME sebenarnya sudah lama saya tulis. Sudah dari awal tahun 2019 kemarin. Cerita AFTER A LONG TIME juga seharusnya sudah TAMAT tapi karena waktu itu saya salah hapus, saya malah ngehapus cerita ini ! Yang tersisa hanya bagian EPILOG-nya doang !😫😫😭


Sekarang baru dapat feel untuk menulis ulang nih cerita ! Setelah sekian lama author anggurin, akhirnya AFTER A LONG TIME saya lanjutkan lagi dan menjadi cerita pertama yang saya post di NOVELTOON !😅😅😄

__ADS_1


Semoga kalian suka !😗


__ADS_2