AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 24. Bukan Pemeran Utama


__ADS_3

Happy Reading !😉😙


"Aku tahu, aku tidak lebih dari hanyalah seseorang yang kebetulan lewat dalam hidupmu. Aku bahkan bukanlah pemeran utama pria dalam kisah hidupmu. Terlebih lagi hanya aku yang berjuang seorang diri. Bodohnya, aku sudah tahu semua itu sejak awal namun aku masih tetap bertahan untuk menunggumu."


~Muhammad Gibran Hutama~


***


Hari telah berganti hari. Senin pun telah berlalu dan kini tergantikan Kamis. Itu berarti masa izin Azkia telah berakhir. Seharusnya hari ini gadis itu kembali masuk sekolah seperti biasa karena di surat izinnya tertulis bahwa ia hanya akan izin selama tiga hari.


Jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Semua siswa-siswi telah berada di kelas masing-masing menunggu kedatangan guru mereka.


Gibran tampak gusar menunggu kedatangan Azkia yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Padahal kurang dari lima menit lagi bel jam pelajaran pertama akan segera berdering.


"Apa dia datang terlambat ?" Gibran membatin.


Pria itu langsung menoleh saat mendengar pintu terbuka. Senyumnya sudah mengembang karena mengira pintu itu dibuka oleh seseorang yang sudah ia tunggu sejak tadi. Sayangnya, ia harus menelan pil pahit saat melihat ternyata orang itu bukanlah Azkia.


Wajahnya yang bertabur senyum indah seketika berubah datar tanpa ekspresi. Ia kembali menghadap ke depan sambil menghembus napas lesu. Namun tidak lama kemudian pintu kembali terbuka. Dan Gibran langsung bersemangat saat melihat Arta yang kini berjalan memasuki kelas.


Gibran masih menatap ke arah pintu menunggu seseorang meski Arta kini telah duduk di depannya. Namun lagi-lagi Gibran harus dibuat kecewa karena hingga bel berdering Azkia tak kunjung datang.


"Kia mana ?" tanya Gibran datar.


Arta yang sedang sibuk mempersiapkan peralatan belajarnya pun menghentikan aktivitasnya. Meski Gibran tidak menyebut namanya, tapi ia cukup sadar diri bahwa pria itu sedang berbicara padanya.


"Berhenti memanggilnya Kia !" kata Arta dengan nada tegas, alih-alih menjawab pertanyaan Gibran.


"Gue memanggilnya Kia atau apa pun, itu bukan urusan lo !" suara gibran terdengar lebih tegas. Merasa tidak suka Arta mengusik panggilan sayangnya pada Azkia.


"Jika itu menyangkut Azkia, maka jelas itu adalah urusan aku juga ! Tidak ada yang lebih mengenal Azkia daripada aku. Dan aku tau apa yang terbaik untuk dia !" jawab Arta dengan nada dingin. Menampar Gibran talak !


Bukan hanya nada bicaranya saja yang terdengar dingin, namun wajah Arta pun terlihat datar tanpa ekspresi. Ada kesan penegasan dalam tatapannya. Membuat seisi kelas terkejut melihat Arta yang tidak seperti biasanya. Pria itu terlihat jelas sedang menahan amarahnya.


Apa yang membuat pria seperti Arta bisa semarah itu ?


"Aku mengenalnya lebih dari siapapun. Karena itu aku tau apa yang tidak seharusnya dilakukan di depannya. Jadi berhentilah memanggilnya Kia, karena kau hanya akan memperdalam luka di hatinya !" kata Arta lagi mempertegas kata-katanya.


Itu pertama kalinya Arta sampai membentaknya. Itu pertama kalinya pria itu marah kepadanya. Dan itu pertama kalinya Arta menatapnya dengan tatapan penuh kebencian seperti itu. Dimana tatapan penuh rona yang selalu diperlihatkan pria itu padanya ?


Sepertinya Arta benar-benar sedang marah !


Gibran kicep. Membenarkan semua yang dikatakan Arta. Merasa cukup sadar diri bahwa dia hanyalah seseorang yang hanya kebetulan lewat dalam hidup Azkia. Ia bahkan bukanlah pemeran utama pria di dalam kisah hidup gadis itu.


Menyedihkan !


"Bukankah menyedihkan saat hanya aku yang menginginkanmu, mengharapkanmu dan hanya aku yang mendambakanmu ? Aku tahu, aku tidak lebih dari hanyalah seseorang yang kebetulan lewat dalam hidupmu. Aku bahkan bukanlah pemeran utama pria dalam kisah hidupmu. Terlebih lagi hanya aku yang berjuang seorang diri. Bodohnya, aku sudah tahu semua itu sejak awal namun aku masih tetap bertahan untuk menunggumu. Setidaknya sampai kau menyadari bahwa ada seseorang yang mencintaimu begitu besar. Aku hanya ingin kau menoleh padaku sekali saja. Bukan sebagai sahabatmu tapi sebagai Gibran !"


"Kenapa ?" hanya kata itu yang akhirnya berhasil keluar dari bibir Gibran.


Arta tidak langsung menjawab, dia diam beberapa saat. Mencoba memikirkan kata-kata yang pas untuk ia katakan pada Gibran tanpa harus mengungkit masa lalu kelam mereka.


"Ada beberapa hal yang harus kau lakukan tanpa perlu tau alasannya !"


Gibran tampak menghembus napas gusar. Ia masih ingin menuntut alasan pada Arta namun kedatangan Pak Rahman langsung membuyarkan semuanya. Ia memilih duduk dengan perasaan gelisah di kursinya. Lagi-lagi ia duduk sendiri karena ketidakhadiran Azkia, lagi.


Arta maju ke meja guru setelah membimbing seluruh teman-temannya untuk memberi salam kepada Pak Rahman. Pak Rahman yang sudah duduk di kursinya siap memulai pembelajaran hari ini pun tampak menunda saat melihat Arta mendekatinya. Kerutan di kening pria setengah baya itu terlihat jelas saat Arta menyodorkan sebuah surat sakit.


Pria setengah baya itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa banyak bertanya setelah membaca nama yang tertera di atas kertas itu. Seluruh pasang mata di kelas itu terfokus pada Arta yang kini kembali ke kursinya. Seakan bertanya 'Azkia sakit apa ?'

__ADS_1


"Azkia sakit !" kata Arta bahkan sebelum Gibran membuka mulutnya untuk bertanya.


"Kia sakit apa ?" tanya Gibran yang lebih tepatnya seperti sebuah teriakan.


Benar saja, seisi kelas langsung menoleh padanya. Menatapnya dengan alis yang saling menaut seakan berkata 'Are you crazy, Gibran ?'


Menyadari kebodohannya, Gibran langsung mengucapkan kata maaf pada Pak Rahman yang kini menatapnya horor. Seperti sudah siap mencabik-cabik pria itu detik itu juga. Sayangnya, ia selalu tidak bisa merealisasikannya mengingat siapa bocah tengik itu.


Pak Rahman melanjutkan penjelasannya membuat fokus kembali padanya. Tentu saja terkecuali Gibran. Ia kembali menuntut penjelasan dari Arta yang jelas pasti tahu apa yang sedang terjadi dengan Azkia.


"Dia sakit ! Apa itu kurang jelas ?" kesal Arta.


"Jika kau berniat mendatangi rumahnya untuk menemuinya, maka sebaiknya kau urunkan niatmu itu. Azkia tidak sedang berada di rumahnya !" kata Arta lagi yang sukses membuat Gibran semakin gusar setengah mati.


"Jadi dia ada dimana ?" tanya Gibran hampir putus asa.


"Sebaiknya jangan temui dia dulu ! Keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri !"


Gibran malah dibuat semakin cemas mendengar penurunan Arta. Memikirkan Azkia sedang sakit saja sudah cukup mengguncangnya. Dan sekarang ia bahkan tidak bisa menemuinya ? Ia tidak bisa menjenguknya. Ia tidak bisa melihat bagaimana keadaan gadis itu.


Yang berarti, ia akan disiksa rasa khawatir selama ia belum bisa memastikan keadaan Azkia. Ia akan tersiksa oleh rasa cemas sampai ia bisa memastikan gadis itu baik-baik saja dengan kedua matanya sendiri.


Gibran menghembus napas gusar berkali-kali. Hendry yang duduk belakangnya bisa mendengar dengan jelas apa yang sejak tadi Gibran dan Arta sedang bicarakan. Membuat dada Hendry semakin bergemuru saat melihat kekacauan adiknya.


Bukan hanya Hendry yang terlihat tidak suka melihat pembicaraan Gibran dan Arta. Fikri yang sedang duduk di samping Arta pun dengan terang-terangan memperlihatkan sikap tidak sukanya. Ekspresi wajahnya dengan jelas menggambarkan itu. Bahkan berkali-kali ia melirik Arta seakan berkata 'Berhenti berbicara padanya !'


Azkia benar-benar telah berhasil masuk ke dalam relung hati terdalam Gibran. Itu berarti, gadis itu adalah pemegang kunci utama pria itu. Senyum dan tangis Gibran berada dalam genggaman tangannya. Semangat dan kacaunya pria itu sangat bergantung pada gadis itu.


Sial !


Hendry sudah bisa menebak akan bagaimana part selanjutnya dari kisah menyedihkan itu. Dan ia benci karena ia jelas tahu siapa pria yang Azkia suka.


🍃


Bel panjang berdering tanda proses belar-mengajar hari ini telah usai. Yang berarti seluruh siswa-siswi SMA Nusantara bisa untuk segera pulang. Mendinginkan otak yang sudah hampir mengeluarkan asap saking banyaknya dipakai untuk berpikir.


Entah mengapa angka-angkat yang tertulis di atas kertas buku pelajar selalu bisa membuat kepala siapa pun yang melihatnua sakit. Padahal ceritanya akan sangat jauh berbeda jika angka-angka itu tertera di dalam informasi saldo rekening. Itu malah akan membuat siapa pun bersorak gembira. Semakin banyak angka yang tertera malah akan semakin baik.


Semua bangkit dari kursinya setelah guru meninggalkan kelas, tak terkecuali Arta dan teman-temannya. Namun Arta tidak langsung berjalan keluar. Ia malah menghampiri kursi Gibran di belakangnya. Pemilik kursi itu pun masih setia mendudukkan bokong di sana.


Gibran mendongak menatap Arta dengan tatapan yang seakan bertanya 'Kenapa ?'


"Aku akan menggantikan Azkia mengajar untuk belajar bersama kalian selama dia sakit. Dia juga menyampaikan permintaan maafnya karena tiba-tiba menghilang tanpa memberi kabar kepada kalian. Dia benar-benar menyesalinya" tutur Arta panjang lebar.


Mendengar itu, Hendry dan Fikri langsung memasang wajah tidak suka. Jika Fikri menatap mereka dengan tatapan ketidaksukaan karena kedekatan mereka, maka berbeda dengan Hendry yang menatap Arta dengan penuh kebencian. Dia benar-benar benci situasi itu.


"Tidak perlu ! Lebih baik kami menunggu Azkia sembuh !" itu adalah Hendry. Ia jelas tidak sudi Arta menjadi guru pengganti Azkia untuk mengajari mereka.


Ia sungguh tidak sudi !


"Aku melakukannya bukan karena aku mau, tapi karena Azkia yang memintaku menggantikannya. Aku hanya tidak ingin membuatnya kepikiran dan merasa bersalah karena tidak bisa mengajari kalian !"


Telak !


Hendry diam tidak berkutik. Begitu pun dengan Gibran yang yang bungkam sejak tadi. Mendengar penjelasan masuk akal Arta membuat Gibran dan Hendry malah merasa bersalah.


Apa Azkia sakit karena kelelahan ?


Apa dia sakit karena harus menjadi guru private untuk mereka sepulang sekolah dan baru bisa pulang ke rumah setelah pukul delapan malam ?

__ADS_1


Ahh, mereka harap Azkia baik-baik saja.


"Arta !" Fikri memperlihatkan protesnya. Membuat Arta menoleh dan menatapnya dengan tatapan penyesalan.


Dari tatapannya tersirat kata 'Aku tidak mempunyai pilihan lain'. Namun Fikri bukan orang bodoh yang akan percaya begitu saja dan tidak bisa menyadari apa yang terjadi. Mungkin benar Arta memang tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti keinginan Azkia. Karena Fikri jelas tahu Arta dan Azkia adalah satu paket yang sulit untuk dipisahkan. Dan pria itu akan rela melakukan apapun untuk sahabatnya itu.


Hanya saja, bukan itu masalahnya sekarang. Pria bermata hitam pekat itulah yang menjadi masalahnya. Arta dan Gibran akan bersama selama berjam-jam. Itulah masalahnya sekarang. Fikri jelas tidak menyukainya.


Menyadari acara protesnya tidak akan membuahkan hasil, Fikri memilih berlalu pergi meninggalkan ketiga pria itu. Arta hanya bisa menghembuskan napas berat melihat punggung Fikri yang sesaat kemudian telah menghilang dari pandangannya.


"Cih ! Gue hampir saja merasa takjub dengan hubungan kalian !" Hendry tersenyum miring sambil menggeleng-menggelengkan kepalanya.


Arta diam. Sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi kata-kata Hendry.


Setelah itu, mereka berangkat ke rumah Gibran bersama-sama. Hendry sudah mengirim pesan kepada teman-temannya di Study Group bahwa hari ini mereka akan belajar bersama lagi.


Meski Gibran dan Hendry merasa sangat berat hati, tapi mereka tidak mempunyai pilihan lain selain menerima Arta sebagai guru private mereka sampai Azkia sembuh. Mereka tidak ingin membuat gadis itu kecewa hanya karena mereka menolak Arta.


🍁


Ulangan akhir semester tingkat SMA/SMK/Sederajat sebentar lagi akan digelar. Sebagian besar mereka yang bergelar siswa atapun siswi tengah sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ulangan nanti. Terutama mereka yang telah duduk di bangku XII. Bukan hanya belajar untuk persiapan ulangan saja, namun juga persiapan UN yang tidak akan lama lagi.


Namun berbeda dengan pria-pria bertubuh tinggi dan berotot itu. Daripada belajar dan melatih otak, mereka lebih sibuk melatih otot-otot mereka. Keringat tampak membasahi seluruh tubuh atletis mereka. Membuat baju yang mereka kenakan basah bermandi keringat.


"Madi ! Ini bukan waktu bersantai ! Terus latihan. Jangan ada yang istirahat sampai gue memberi perintah !" teriak pria bertubuh paling tinggi yang tidak lain adalah ketua mereka.


Pria bernama Madi yang baru saja diteriaki pun kembali berlatih meski napasnya sudah tersegal-segal karena kelelahan. Semua sibuk berlatih tanpa henti meski mereka sudah melakukannya selama berjam-jam. Mereka sudah segila itu sejak beberapa waktu belakangan.


Semua demi sebuah balas dendam.


"Alex, sudahlah ! Mereka sudah kelelahan. Jangan terlalu dipaksakan. Kita juga masih punya waktu !" kata seorang perempuan yang kini menempeli pria itu seperti lintah.


Beberapa perempuan lain yang berdiri di samping mereka pun mengangguk mengiyakan.


"Jangan sampai mereka malah kelelahan di hari-H. Bisa kacau semuanya !" lanjut perempuan itu.


Alex tampak berpikir sejenak. Merasa apa yang Viola katakan memang benar. Apalagi sudah hampir dua bulan mereka latihan tanpa henti seperti orang gila. Jika di hari pembalasan mereka malah kelelahan semua akan menjadi percuma Latihan keras mereka hanya akan sia-sia.


"Latihan hari ini, cukup !" teriak Alex memberi perintah.


Semua pun kompak menghentikan latihan mereka dan menerima botol minuman dari para anggota perempuan geng Naga Hitam. Viola yang tak lain adalah Ratu geng Naga Hitam masih setia menempeli Alex. Bahkan sama sekali tidak merasa risih saat tubuhnya yang super sexy yang dibungkus dengan pakaian super ketat itu menempel di tubuh Alex.


Seperti biasa, Viola selalu memakai baju ketat nan seksi yang akan memamerkan bentuk tubuhnya yang indah. Seperti sekarang, ia memakai long jeans berwarna hitam dipadukan dengan crop tank top putih dan jaket denim berwarna hitam sebagai outwear. Membuat perutnya terekspos dan gunung kembarnya yang hampir mencuat keluar.


Alex tersenyum penuh kemenangan. Selama ini ia sengaja bersikap kalem dengan geng Thunder. Bukan karena mereka telah kalah dari geng Thunder atas serangan mereka waktu itu.


Sama sekali tidak !


Mereka hanya sedang menyusun rencana dengan matang. Berlatih keras dan mempersiapkan segalanya secara matang. Kali ini mereka yang akan melakukan penyerangan. Dan Alex menjamin tidak akan kalah kali ini.


Mereka hanya ingin membuat Gibran lengah. Hingga mereka akan menyerang tepat saat mereka terkecoh. Memporak-porandakkan geng itu jauh lebih parah dari apa yang telah mereka lakukan pada geng mereka.


"Gibran ! Gue tidak sabar melihat kekalahan lo kali ini. Dan gue jamin, kali ini gue yang akan menang !" Alex menyeringai.


"Dan untukmu Azkiaku ! Lama tidak bertemu, sayang ! Akan kupastikan kali ini kau tidak tidak akan lolos dari genggaman tanganku lagi seperti dulu. Tidak akan, sayang !" batin Alex, seringaiannya terlihat semakin mengerikan.


Semoga kalian suka !😉😙


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ! Please support author dengan cara vote, like, comment dan bintang limanya, yaa !😉😙

__ADS_1


See you next part !😙🤗


__ADS_2