
Happy Reading !ππ
"Sekolahlah setinggi-tingginya dan tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina ! Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan di masa mudamu. Tapi ingat ! Sehebat-hebatnya perempuan dan setinggi-tinggi apapun karirnya, tetap saja karir terbaiknya ada di dalam rumah. Jangan lupakan karir utama seorang perempuan yakni menjadi seorang istri dan ibu. Karena itu, memasak adalah hal wajib yang harus bisa setiap perempuan lakukan !"
~Azkia's Father (Candra)~
***
Gibran tersenyum melihat wajah terlelap Azkia yang terlihat begitu tenang. Tangan kanannya masih mengusap lembut kepala Azkia meski gadis itu sudah berkelana di alam mimpi sejak tadi. Itu adalah kedua kalinya ia bisa melihat wajah Azkia saat tertidur. Wajah itu benar-benar membuat Gibran gemas ingin mencubitnya.
Menggemaskan sekali !
Senyum Gibran semakin lebar melihat tubuh mungil Azkia yang tenggelam dalam balutan jaket miliknya. Jaket berwarna green army itu memang tampak pas di tubuh tinggi tegap atletisnya, namun tentu saja akan menenggelamkan tubuh kecil Azkia saat gadis itu memakainya.
Entah mengapa gadis itu tiba-tiba ingin memakai jaketnya itu. Katanya jaket itu sangat lembut dan membuatnya merasa seperti sedang dipeluk. Azkia juga mengatakan bahwa ia sangat menyukai wangi parfum Gibran yang masih menempel di jaket itu.
Demi apa, Azkia adalah orang pertama yang Gibran izinkan menyentuh jaket itu. Jaket paling berharga untuk Gibran karena jaket itu adalah hadiah terakhir dari ibunya sebelum ia meninggal. Selama ini Gibran tidak pernah mengizinkan siapapun menyentuh jaket itu. Ia bahkan akan mencucinya sendiri setelah ia pakai. Ia tidak akan membiarkan pelayan di rumahnya menyentuhnya.
Tapi entah mengapa Gibran dengan mudah membiarkan Azkia memakainya. Aneh !
Gibran menatap lekat wajah terlelap Azkia. Ia senang akhirnya gadis itu bisa tidur dengan nyenyak. Jadi ia tidak perlu lagi merasa tersiksa melihat wajah kesakitannya. Ia sudah melakukan semua yang dikatakan Arta. Membeli pembalut, membuatkan lemon tea chamomile untuk membantu meredakan rasa nyeri serta memastikan Azkia minum air hangat sebelum tidur.
Hari ini Azkia memakai baju kaos lengan pendek berwarna misty grey polos yang dipadukan dengan celana training panjang berwarna hitam polos. Seperti biasa, normalnya gadis itu memakai baju berukuran S, tapi ia lebih suka memakai baju over size hingga membuat tubuh kecilnya tenggelam dalam balutan baju yang ia kenalan.
Gibran mengedarkan pandangannya mengelilingi kamar Azkia. Kamar yang dicat berwarna mocca itu memang tidak seluas kamarnya, tapi entah mengapa Gibran suka. Terdapat beberapa lemari yang tertata dengan rapi. Di salah satu sisi ranjang dipenuhi boneka mulai dari ukuran kecil hingga ukuran jumbo.
Salah satu lemari yang berhasil menarik perhatian Gibran adalah lemari kaca yang terdiri dari beberapa tingkat. Di barisan paling atas lemari itu tertata rapi sembilan foto anggota boyband Korea Selatan yang menjadi idola gadis itu. Di bagian bawah terdapat perintilan-perintilan fangirl-nya. Mulai dari album, lightstick EXO mulai dari versi 1, 2 dan 3. Dan masih banyak lagi barang yang berkaitan dengan boyband EXO.
Di bawahnya lagi terdapat piala, piagam, medali serta perhargaan-penghargaan yang berhasil gadis itu dapatkan selama masa sekolah. Juga terdapat foto-foto masa kecilnya. Tentu saja di foto itu selalu saja ada Arta bersamanya.
Menyebalkan !
π
Perlahan, Azkia mulai membuka kedua matanya. Ia mengerjakan matanya berkali-kali saat mendapati wajah tampak Gibra yang berada sangat dengan wajahnya. Jaraknya hanya beberapa senti saja. Deru napasnya yang beraturan membuat Azkia yakin pria itu sedang tertidur.
Ahh, biasanya Azkia melihat wajah tampan Arta saat ia terbangun dari tidurnya. Namun berbeda dengan hari ini, karena wajah yang pertama kali ia lihat malah wajah karismatik Gibran.
Senyum Azkia merekah melihat wajah tampan itu terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Wajah yang biasanya datar itu terlihat begitu menggemaskan saat sedang tenang. Senyumnya semakin melebar melihat salah satu tangan Gibran bahkan masih menempel di atas kepalanya, sementara tangan yang lainnya menggenggam salah satu tangannya.
Ahh, manisnya !
Azkia bahkan tanpa sadar tersipu malu.
Menggemaskan sekali !
Salah satu tangan Azkia terulur. Menyentuh hidung mancung Gibran yang semakin menyempurnakan ketampanan pria itu dengan jari telunjuknya. Azkia mengetuk-ngetuk hidung itu gemas namun tetap berusaha agar tidak mengusik tidur Gibran.
Melihat posisi tidur pria itu membuat Azkia meringis. Leher Gibran mungkin saja akan sakit setelah ia bangun nanti. Ia duduk di lantai dengan kepala yang disandarkan di pinggir kasur dimana Azkia sedang tertidur. Azkia jadi merasa bersalah. Padahal Gibran sudah banyak membantunya hari ini tapi dia malah tidak memperdulikan kenyamanan pria itu.
"Bran ! Hey, Gibran !" Azkia yang sudah dalam posisi duduk menepuk-nepuk pelan pipi kiri Gibran untuk membangunkan pria itu.
"Hmmm..." racau Gibran saat merasakan tidurnya terusik.
"Gibran, bangun ! Leher lo bisa sakit kalau tidur kayak gitu" tutur Azkia setelah Gibran akhirnya membuka kedua matanya yang tampak sayup.
"Kia ? Kenapa ? Apa perutnya sakit lagi ?" tanya Gibran mendadak khawatir.
Azkia menggeleng.
"Nggak ! Gue baik-baik saja sekarang. Sorry gue bangunin lo soalnya gue nggak tega liat lo tidur kayak gitu. Leher lo bisa sakit ! Sebaiknya lo tidur di sini !" ucap Azkia tanpa ragu.
Gibran seketika membulatkan kedua matanya mendengar penuturan Azkia. Separuh nyawanya yang tadi masih tertinggal di alam mimpi seketika menyatu dengan raganya. Melihat gadis itu bahkan menepuk-nepuk kasur di sampingnya memintanya untuk ikut tidur di sana benar-benar sukses membuat Gibran ternganga kaget.
Apa gadis itu sudah gila ?
Dia memintanya tidur di ranjang yang sama dengannya ?
What the hell !
Ohh, ayolah ! Gibran adalah laki-laki normal. Tidak bisa dipungkiri bahwa dia juga memiliki pemikiran bejat. Dia laki-laki yang tentu saja tertarik dengan seorang perempuan. Dan Azkia malah memintanya untuk tidur bersamanya ?
Berada di kamar yang sama berduaan dengannya saja sudah hampir membuatnya gila. Gibran harus sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak lost control. Sekali lagi dia adalah laki-laki normal.
"Lo gila ? Bagaimana mungkin lo menyuruh gue tidur di ranjang yang sama dengan lo ?" wajah Gibran mendatar, ia terlihat jelas sedang marah.
"Kenapa ? Gue sering kok tidur di kamar Arta. Yah, selama mamah, papah dan kak Fajar nggak tau, sih !" kata Azkia enteng.
Pletaak...
Satu jitakan maut mendarat mulus di puncak kepala Azkia. Tentu saja gadis itu langsung mengadu kesakitan. Ia menatap Gibran dengan bibir mengerucut.
"Otak lo itu isinya apa, sih ? Emang lo nggak takut kalau gue apa-apain, hah ? Gue juga laki-laki normal, bodoh !" dumel Gibran.
"Nggak mungkinlah ! Gue percaya kok sama lo dan gue yakin lo nggak mungkin melakukan apa-apa sama gu..." kalimat Azkia terpotong.
Tiba-tiba Gibran mendekatkan wajahnya ke wajah Azkia. Terlalu dekat hingga Azkia bahkan bisa merasakan deru napas Gibran yang berat. Kedua tangan pria itu berada di sisi tubuh Azkia, memerangkap tubuh mungil gadis itu.
Mata Azkia semakin melebar seiring wajah Gibran yang bukannya menjauh malah semakin mendekat ke wajahnya. Azkia memundurkan tubuhnya mencoba menjauh dari Gibran yang kini benar-benar begitu dekat dengannya. Tubuh Azkia kini bahkan sudah telentang di atas kasur dengan Gibran yang berada di atasnya. Memerangkapnya hingga Azkia tidak bisa keluar dari kungkungannya.
__ADS_1
Jantung Azkia menggila. Jantungnya seperti mencelos dari sarangnya. Azkia tidak tahu harus bagaimana. Mendorong pria itu atau menamparnya ? Azkia terlalu terkejut hingga membuat otaknya tiba-tiba ngeblank.
Brak !
Pintu kamar Azkia tiba-tiba terbuka membuat keduanya kompak menoleh ke arah pintu. Azkia tidak kalah terkejut dengan orang yang baru saja membuka pintu itu. Pria itu berdiri kaku di ambang pintu. Kedua matanya membulat melihat pemandangan panas yang kini diperagakan oleh Azkia dan Gibran di atas ranjang.
Dan Azkia semakin membulatkan matanya sempurna saat mendapati ternyata bukan cuma Arta yang datang. Fikri, Hendry, Citra dan Putri juga ada di sana. Berdiri di belakang Arta, menatapnya dengan keterkejutan yang tidak bisa mereka tutupi. Arta yang tadi membuka pintu kamar Azkia bahkan belum bergerak sesenti pun saking terkejutnya.
Makhluk hidup mana yang masih akan berpikiran positif setelah melihat pemandangan itu ?
Jawabannya, tidak ada !
Sekuat tenaga Azkia mendorong dada bidang Gibran agar menyingkir dari atas tubuhnya. Berhasil ! Pria itu langsung bangkit dan berdiri di sisi ranjang Azkia. Wajahnya terlihat santai seperti biasa, seakan-akan sama sekali tidak terjadi apa-apa.
Berbeda dengan lima pasang mata yang bola matanya hampir saja terjungkal keluar dari sarangnya andai saja tidak ada kelopak mata yang menahannya. Tatapan mereka dengan terang-terangan meneriakkan pertanyaan 'apa yang baru saja kalian lakukan ?'
"Berhenti memasangan wajah bodoh ! Kami tidak melakukan apa pun seperti yang kalian pikirkan" ucap Gibran.
"Be-benar ! Kita nggak ngapa-ngapain kok !" timpal Azkia dengan suara bergetar.
"Kita percaya kok kalian nggak mungkin kayak gitu ! Yasudah, ayo makan bareng sama kita ! Kalian pasti belum makan, kan ?" kata Citra membuat semua menoleh padanya.
Putri tersenyum tanda ia setuju dengan kata-kata Citra. Arta dan Fikri pun hanya menghembus napas panjang untuk melepas keterkejutan mereka barusan. Namun berbeda dengan Hendry yang masih menatap Gibran tajam. Dan Gibran jelas bisa menyadari tatapan tidak suka dari kakak sepupunya itu.
Citra, Putri, Fikri dan Arta sudah turun lebih dulu menyisahkan Hendry dan Gibran yang masih menunggu Azkia yang tadi masuk ke kamar mandi. Hendry langsung menarik kerah baju Gibran kasar. Tatapan matanya menusuk kedua mata hitam Gibran. Gibran hanya diam, membiarkan Hendry melakukan apa yang ingin ia lakukan.
"Apa yang baru saja lo lakukan ? Lo mau menodai Azkia ? Apa lo sudah gila, hah ?" suara Hendry terdengar berat menandakan pria itu benar-benar sedang emosi.
Gibran menghela napas berat.
"Gue belum melakukan apapun, hyeong !"
πHyeong : Kakak laki-laki (khusus digunakan oleh laki-laki untuk memanggil kakak laki-laki atau laki-laki yang lebih tua)
"Belum ? Jadi lo memang berniat melakukannya ?" murka Hendry. Ia semakin mengeratkan cengkramannya di kerah baju Gibran.
"Nggak ! Bukan begitu, hyeong ! Gue cuma mau menakut-nakuti Kia. Dia meminta gue tidur di ranjang bersamanya. Gue nggak mau dia sampai mengatakan hal seperti itu lagi pada laki-laki lain. Mungkin Kia beruntung karena itu gue, bagaimana jika itu laki-laki lain ?" jelas Gibran panjang lebar.
"Gue nggak yakin lo cuma berniat menakut-nakuti Azkia. Lo emang adik gue, tapi gue nggak akan membiarkan lo hidup jika lo berani melakukan hal bejat seperti itu !" Gibran bergidik ngeri mendengat ancaman Hendry.
"Gue memang hampir kehilangan akal sehat gue. Beruntung kalian datang tepat waktu !"
Bugh...
Azkia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya saat ia baru saja membuka pintu kamar mandi dan melihat bogem mentah Hendry mendarat keras di perut Gibran. Cepat-cepat ia menghentikan Hendry yang masih ingin melayangkan tinjunya.
"Hendry, cukup ! Lo apa-apaan, sih ?" pekik Azkia yang kini berdiri diantara Gibran dan Hendry.
"Lo nggak apa-apa ?" tanya Azkia khawatir.
"Gue memang pantas mendapatnya, Kia" Gibran menjeda.
Gibran menarik Azkia kedalam pelukannya. Azkia sedikit terkejut karena Gibran memeluknya tiba-tiba, namun tetap membiarkan pria itu merengkuh tubuh mungilnya. Terdengar helaan napas berat dari Gibran. Seperti ada beban berat yang menghimpit dada pria itu.
"Maaf ! Seharusnya tadi gue nggak gitu. Gue cuma nggak mau lo sampai bilang kayak gitu sama laki-laki lain. Tidak peduli seberapa percaya lo sama dia, lo tetap nggak boleh mengizinkan mereka tidur di kasur yang sama dengan lo. Berada di ruang yang sama berduaan saja sudah cukup berbahaya, apalagi sampai tidur seranjang. Please, lo jangan sampai melakukan itu lagi ! Tidak peduli laki-laki itu gue atau siapa pun. Kalau itu Arta mungkin aku tidak akan sekhawatir ini" tutur Gibran masih memeluk Azkia.
"Tadi gue ngagetin lo, yaa ? I'm so sorry !" Azkia membalas pelukan Gibran, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu.
Mendengar kata-kata Gibran membuat hati Azkia menghangat. Ia seperti begitu dihargai. Ia merasa menjadi perempuan yang sangat berharga. Dan Azkia beruntung karena laki-laki yang ia suruh tidur di sampingnya adalah Gibran.
Bagaimana jika itu adalah laki-laki lain ?
Ahh, betapa bodohnya ia !
Padahal ayah, ibu dan kakaknya selalu mengingatkannya untuk selalu menjaga diri baik-baik. Bahkan mereka akan menceramahinya tujuh kali puasa tujuh kali lebaran jika ia ketahuan menyelinap masuk ke kamar Arta.
Azkia memang bukanlah perempuan suci tanpa dosa. Ia bukanlah perempuan sholehah seperti Citra. Bukan juga perempuan kalem seperti Putri. Dia hanyalah seorang Azkia yang memiliki sifat pecicilan, ceroboh, dan bermulut mercon. Tapi Azkia bukanlah perempuan bodoh yang akan melakukan hal-hal laknat yang akan merugikan dirinya sendiri dunia akhirat.
"Thanks sudah ingatin gue, Bran ! Gue beruntung itu lo dan bukan laki-laki lain" ucap Azkia.
Gibran merenggangkan pelukan mereka. Ia tersenyum manis saat melihat senyum indah Azkia. Dengan gemas ia mengacak-acak rambut Azkia membuat wajah ceria gadis itu mendadak murung. Bibirnya mengerucut membuat Gibran malah semakin gemas melihatnya.
"Ayo kita makan sama yang lain ! Kita pasti sudah ditungguin" Azkia mengangguk setuju dengan kedua tangan yang langsung ia rentangkan di udara meminta Gibran menggendongnya.
"Apaan ?" tanya Gibran pura-pura tidak mengerti.
"Ihh ! Gibran, gendong !" kata Azkia manja.
"Dasar manja !" Gibran mencebik namun tetap menuruti keinginan gadis itu.
Ahh, sebenarnya ia akan tetap melakukannya meski tanpa gadis itu memintanya. Ia sudah bilang kan, apapun akan ia lakukan untuk Azkia ?
Katakan saja dia pria gila !
"Biarin ! Manja sama Gibran nggak apa-apa kali. Gibran kan baik" ucap Azkia yang kini berada di punggung Gibran.
"Gue nggak baik, tuh !"
"Bodoh !"
__ADS_1
Dan mereka kembali seperti biasa. Berdebat dan tidak ada satu pun yang mau mengalah. Baik Gibran maupun Azkia tidak ada yang mau mengakhiri perdebatan itu.
Benar-benar kekanakan !
π
"Azkia ternyata EXO-L, yaa ! Baru tahu aku" kata Putri.
Azkia mengangguk sebagai jawaban 'iya'.
Putri tampak berjalan mengelilingi kamar Azkia untuk melihat semua benda-benda yang menghiasi kamar itu yang pastinya selalu ada kaitannya dengan boyband EXO. Gadis itu bahkan mempunyai lemari khusus untuk menyimpan foto kesembilan membernya juga lightstick dan album dari boyband tersebut.
"Koleksi kamu banyak bangat, Az ! Padahal 1 lightstick aja harganya sudah mahal bangat. Ditambah album. Wow !" Putri terus berceloteh melihat koleksi Azkia yang bisa dibilang lumayan banyak itu.
"Aku nggak beli semuanya pake uang aku, kok ! Aku cuma beli lightstick versi kedua dan ketiga. Selebihnya dibelikan Arta sama kak Fajar" ucap Azkia bangga.
"Arta segitu sayangnya yaa sama kamu, Az ! Dia bahkan rela beliin kamu padahal harganya mahal. Iri deh sama Azkia !" timpal Citra.
"Arta nggak pernah nolak sih kalau aku minta ini itu. Aku jadi kebiasaan deh, kalau mau apa-apa langsung minta sama dia. Kalau kata mamah, papah dan kak Fajar sih aku itu parasit buat Arta" Citra dan Putri terkekeh mendengarnya.
Malam ini Citra dan Putri akan menginap di rumah Azkia. Ternyata kedua orang tua Azkia tidak bisa pulang. Arta meminta tolong kepada kedua gadis itu untuk menemani Azkia di rumah. Malam ini ia juga tidak bisa menemani gadis itu karena harus mengantar ibunya ke rumah temannya yang sedang berduka. Fajar mungkin akan pulang tapi larut malam nanti. Arta tidak berani membiarkan Azkia sendirian di rumah.
"Ohh yaa, tadi di sekolah heboh bangat loh !" seru Putri membuat Azkia langsung antusias.
"Kenapa ? Gosip baru apa lagi, nih ?" diantara mereka bertiga, Putri memang yang paling kalem dan sedikit pendiam. Tapi entah mengapa malah gadis itulah yang selalu paling update gosip di SMA Nusantara.
"Arta ditembak adik kelas di kantin !"
"Apanya yang bikin heboh ? Itu sih biasa aja kali. Udah sarapan wajib Arta setiap hari itu mah !" Azkia berceloteh.
"Memang bukan itu yang bikin heboh, tapi jawaban Arta !" Citra ikut menimpali.
"Apa ? Arta jawab apa ? Dia nggak menerima anak bau kencur itu kan ? Nggak, kan ?" serbu Azkia takut-takut.
"Ya nggaklah !" sergap Citra dan Putri kompak.
"Trus trus, apanya yang bikin heboh ?" tuntut Azkia penasaran.
"Arta tentu saja menolak adik kelas itu. Alasannya karena ia sudah menyukai orang lain. And you know who is it ? Arta bilang dia suka sama sahabatnya !" jelas Putri menjadi heboh sendiri.
"Really ? Don't lie to me !" Azkia menatap Putri dan Citra penuh harap. Berharap keduanya mengatakan itu memang benar.
"He really said that ! Satu sekolah heboh karena itu. Bukan cuma siswi tapi juga guru-guru. Lebay bangat, sumpah ! Aku yang Arta Lovers biasa aja, tuh !" Citra mencebik.
Azkia langsung bersorak kegirangan mendengarnya. Jantungnya mendadak berdetak tidak normal. Dan wajahnya pasti sudah sangat merah sekarang. Azkia benar-benar bahagia mendengarnya.
Jadi Arta juga menyukainya ?
Sebahagia itukah rasanya ketika cinta akhirnya terbalaskan ?
"Kamu sebucin itu yaa sama Arta ?" tanya Citra.
Saat ini mereka sedang berbaring di atas kasur empuk Azkia yang dibalut dengan bed cover berwarna mocca. Kamar yang seluruhnya dicat berwarna mocca dan hampir seluruh benda-benda di kamar itu memiliki warna yang sama. Hanya sekali melihat saja orang pasti bisa langsung tahu Azkia adalah pencinta warna mocca.
"Tentu saja ! Aku sudah suka bangat sama Arta sejak kita masih kecil. Bisa dibilang, Arta is my first love !" Putri dan Citra saling melempar pandangan melihat binaran cinta yang terpancar jelas dari kedua mata Azkia saat mengatakan itu.
Dasar golden student bucin !
"Mamah ! Cinta Azkia akhirnya terbalaskan ! Huaa...senangnya !" teriak Azkia. Citra dengan refleks membekap mulut tidak tahu malu itu.
"Yaa Allah, Azkia ! Nggak boleh teriak-teriak, ihh ! Cewek itu harus anggun, tau !" Azkia hanya cengar-cengir bodoh mendengar ceramah Citra. Padahal telinga Azkia sudah hampir budek mendengar ceramah yang sama dari mamah, papah dan kakaknya.
Tapi emang dasar Azkia kepala stone ! Dikasih tahu, masuk telinga kanan langsung keluar di telinga kiri. Kali nol alias sia-sia.
Mereka kemudian larut dalam pembahasan kaum hawa. Mulai dari pembahasan pelajaran, kejadian tadi siang dengan Gibran, bergosip tentang idola mereka, sharing outfit yang lagi hits, bercerita drama dan film kesukaan mereka, hingga kursus skincare-an dadakan.
Azkia dibuat tercengang saat mendengar penuturan panjang Citra seputar dunia per-skincare-an yang sama sekali tidak Azkia pahami. Demi ribuan bintang di langit, wajah Azkia masih polos dari hal-hal yang berbau skincare. Sepertinya belum ada satu pun produk kecantikan yang berhasil menyentuh wajahnya.
Yah ! Azkia secuek itu dengan penampilannya !
Ia terlalu sibuk nge-fangirl dengan biasnya. Bagi Azkia, album EXO jauh lebih penting dari apapun termasuk produk kecantikan. Itulah yang selama ini Azkia pikirkan. Tapi mungkin mulai hari ini ia akan sedikit lebih peduli dengan penampilannya. Azkia tidak ingin Arta tidak jadi menyukainya karena melihat wajah kucelnya.
Citra yang mendadak menjadi ahli skincare terus memberikan rekomendasi skincare kepada Azkia dan Putri. Citra merekomendasikan paket skincare acne yang sudah pernah ia buktikan sendiri khasiatnya khusus untuk Putri yang memang memiliki jerawat. Sementara untuk Azkia yang sudah memiliki kulit putih dan mulus namun sedikit kusam karena paparan sinar matahari, Citra merekomendasikan paket skincare khusus wajah kusam dari merk lokal yang tidak kalah dari merk luar.
Malam itu berlalu sedikit berbeda dengan biasanya. Hati Azkia mendadak menjadi taman bunga malam itu. Ia bahkan berhasil terjaga hingga pagi. Sedetik pun ia tidak sempat memejamkan matanya hingga mentari pagi menyingsing dengan gagahnya di Ufuk Timur. Ia terus membayangkan Arta yang ternyata juga menyukainya hingga tidak sadar pagi telah menyapa.
Azkia membangunkan Citra dan Putri setelah adzan Subuh berkumandang dengan merdunya. Menyentuh sanubari setiap Muslim untuk bangkit dari pembaringan yang begitu menggoda demi menunaikan salah satu kewajiban sebagai umat Muslim. Azkia tidak perlu mengulangi panggilannya dua kali untuk membuat kedua gadis itu bangun. Benar-benar berbeda dengan Azkia yang begitu sulit dibangunkan.
Azkia memilih mandi lebih dulu selama Citra dan Putri sholat. Satu-satunya kebiasaan perempuan kebanyakan yang melekat pada Azkia adalah mandinya lama. Saking lamanya, orang mungkin akan beranggapan gadis itu sedang bersemedi di dalam sana.
Azkia turun setelah menyelesaikan acara mandinya yang mungkin lebih tepat disebut bertapa. Ia sudah merapikan tempat tidur dan membersihkan kamarnya lebih dulu. Citra dan Putri akan menyusul setelah mandi nanti.
Di rumah hanya ada mereka bertiga. Fajar terpaksa menginap di rumah temannya karena sudah terlalu larut. Lebih tepatnya Azkia yang melarangnya pulang karena tidak mau membuat Citra repot harus bongkar pasang cadarnya.
Azkia memang adalah gadis tomboy, tapi tidak banyak yang tahu bahwa ia pintar memasak. Meski tidak selalu, tapi dia sering membantu ibunya di dapur di akhir pekan. Siska pun sudah mengajari Azkia memasak sejak kecil. Siska yang ahli dalam hal masak-memasak selalu berkata padanya 'rugi jadi anak mamah kalau Azkia nggak bisa masak !'
Candra, sang ayah pun selalu berkata padanya :
"Sekolahlah setinggi-tingginya dan tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina ! Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan di masa mudamu. Tapi ingat ! Sehebat-hebatnya perempuan dan setinggi-tinggi apapun karirnya, tetap saja karir terbaiknya ada di dalam rumah. Jangan lupakan karir utama seorang perempuan yakni menjadi seorang istri dan ibu. Karena itu, memasak adalah hal wajib yang harus bisa setiap perempuan lakukan !"
__ADS_1
Semoga kalian suka !ππ
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ! Please support author with vote, like and comment ! Jangan lupa bintang limanya juga, yaa !πππ€