AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 5. Azkia's Style


__ADS_3

Happy Reading !😉🤗


"Laki-laki yang tulus mencintaimu tidak akan memintamu berubah menjadi orang lain. Dia yang tulus akan mencintaimu apa adanya !"


~ Muhammad Gibran Hutama~


***


Azkia menuruni anak tangga dengan mata yang masih setengah tertutup. Sesekali ia membekap mulutnya dengan tangan kirinya karena menguap. Padahal ia baru saja selesai mandi bahkan keramas. Rambutnya yang masih basah bahkan masih terbalut handuk kecil saat menuruni anak tangga untuk mempercepat pengeringan.


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang saat ia keluar dari daerah kekuasaannya alias kamarnya. Semua gara-gara tadi malam ia begadang untuk maraton drakor. Salah satu rutinitas wajib Azkia di akhir pekan.


“Woy, bangun ! Dasar kebo !” Fajar menghampiri adik kecilnya yang sedang menuruni anak tangga yang sepertinya separuh nyawanya masih tertinggal di alam mimpi.


“Gendong !” rengek Azkia manja sambil merentangkan kedua tangannya minta digendong.


“Dasar manja !” cibir Fajar namun tetap berjongkok di depan Azkia membuat adiknya bisa dengan mudah naik ke punggungnya.


“Biarin ! Kapan lagi bisa manja-manja sama kakak ! Kakak sama papah kan sama aja, sama-sama so sibuk. Azkia sama mamah selalu dianggurin !” dumel Azkia.


Fajar kemudian berjalan menuruni anak tangga dengan Azkia di gendongannya. Mereka menghampiri Siska yang sedang sibuk menyiapkan makan siang di ruang makan.


"Innalillahi ! Anak siapa sih kucel banget ?" Azkia yang masih berada di punggung Fajar mencium pipi kiri dan kanan mamahnya bergantian.


"Bukan anak papah !" sahut Candra dari ruang tamu.


"Jahat bangat sih sama anak sendiri ! Azkia ngambek, kita nggak teman ! Bunda Caca, adopsi Azkia !" teriak Azkia membuat Siska dan Candra langsung tergelak.


"Berisik ! Ini bukan hutan, dek. Malu tuh sama temannya !"


"Teman ?"


Azkia langsung meminta Fajar menurunkannya saat kedua matanya melihat seseorang yang kini duduk di sofa ruang tamu bersama papahnya. Dan Azkia semakin membulatkan kedua matanya sempurna saat beradu pandang dengan sepasang manik hitam pekat milik orang yang sangat ia kenal itu.


"Kakak bodoh ! Kenapa nggak bilang kalau ada teman Kia ? Kia kan jadi malu !" dumel Azkia dengan setengah berbisik. Fajar hanya mengedikkan bahunya acuh.


Ohh, tidak !


Hancur sudah image Azkia !


"Gibran ? Lo kok bisa ada di sini ? Sejak kapan ? Kok nggak ngabarin kalau mau datang ?" serbu Azkia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Makanya kalau malam itu yaa tidur, jangan begadang ! Temannya datang kamu malah masih ngorok" cibir Candra membuat Azkia langsung memanyungkan bibirnya.


"Gibran sudah datang sejak tadi pagi. Kamu malah tidur kayak orang mati !" sahut Siska yang baru muncul dari arah dapur.


"Sejak pagi ? Allahu Akbar ! Aku baru ingat tadi malam kan lo sudah bilang mau datang hari ini ! Ohh, God ! I'm so sorry, Bran ! Aku lupa !" Azkia menatap Gibran dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Nggak apa-apa kok, Kia !" kata Gibran dengan senyum manisnya.


"Ck ck ck ! Lihat penampilanmu, Azkia ! Bikin malu mamah aja. Mamah semakin ragu apa kamu benar-benar anak mamah dan papah atau bukan. Jangan-jangan dulu kamu ketukar lagi sama anak orang lain. Sudah kurus, kucel, nggak ada feminim-feminimnya, hidup lagi ! Kamu nggak ada mirip-miripnya sama papah dan mamah. Secara kan papah ganteng. Mamah cantek, sekseh menggoda iman !” Azkia memasang wajah dongkol mendengar ocehan mamahnya. Dan ajaibnya lagi, papah dan kakaknya malah mengangguk menyetujui.


Azkia memperhatikan penampilannya sendiri yang menurutnya tidak ada yang salah. Baju kaos berwarna putih over size dengan tulisan EXO di bagian depannya dan EXOL di bagian belakangnya dipadukan dengan celana jogger berwarna hitam polos dengan ukuran yang memang sedikit kebesaran untuk tubuh Azkia yang kurus.


Apa yang salah ?


That is Azkia's style !


“Bran ! Di rumah lo ada kamar kosong nggak ? Kayaknya malam ini gue mau minggat dari rumah deh !” tawa Gibran yang sejak tadi susah payah ia tahan akhirnya meledak juga.

__ADS_1


Lucu sekali keluarga itu !


Sekarang Gibran tahu darimana asal usul semua tingkah ajaib Azkia. Memang benar kata pepatah, buah itu jatuh tidak akan jauh-jauh dari pohonnya. Nah, sama kayak Azkia ! Sikapnya nggak jauh beda sama wanita yang telah mengandung dan melahirkannya itu.


“Sudah sudah ! Lebih baik kita makan siang dulu sebelumnya makanannya keburu dingin. Gara-gara nungguin kamu bangun kita jadi harus nahan lapar dari tadi. Ayo, nak Gibran !" celoteh Candra membuat bibir Azkia semakin maju.


“Iye iye, Azkia salah ! Aku mah apa atuh, cuma seonggok berlian di dasar lautan !” Gibran tidak bisa untuk tidak tersenyum gemes melihat tingkah Azkia.


Mereka makan siang dengan penuh canda tawa. Gibran benar-benar iri melihat keharmonisan keluarga Azkia. Ayah bijaksana, ibu humoris namun penuh kasih dan kakak yang penyayang. Azkia beruntung bisa dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya.


Ahh, Gibran bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia makan bersama ayahnya. Gibran memang bisa mendapatkan semua yang ia inginkan. Barang mewah dengan harga selangit pun bisa ia dapatkan dengan mudah. Tapi tidak dengan kasih sayang dari orang tuanya. Ibu yang lebih dulu telah berpulang sementara ayahnya tidak pernah ada waktu untuk dirinya.


Gibran merindukan kehangatan dan kasih sayang dari orang tuanya !


Ahh, menyedihkan sekali !


Setelah makan siang bersama, Azkia dan Gibran memilih ke taman belakang untuk belajar bersama. Karena sebenarnya itulah tujuan utama mengapa Gibran datang ke sana. Azkia bersyukur, sejak kejadian hari itu Gibran dan Hendry benar-benar mulai rajin belajar. Bahkan bukan hanya mereka berdua saja, tapi juga seluruh anggota geng Thunder.


Hendry yang biasanya selalu ngacangin dia perlahan-lahan mulai menerima kehadirannya. Pria itu bahkan mulai sering mengirim pesan untuknya. Mulai dari bertanya tentang pelajaran hingga hanya sekedar say hello. Beberapa anggota geng Thunder pun sering bertanya banyak hal perihal pelajaran kepadanya melalui pesan WhatsUp.


“Rambutnya emang belum kering, yaa ?” tanya Gibran setelah mereka berada di taman belakang rumah Azkia.


“Eng...sudah kering sih kayaknya, cuma ehmm...”


“Kalau sudah kering yaa lepas aa..ja !” Gibran menatap Azkia dengan kening berkerut.


“Lo pake wig, yaa ?” Gibran menarik rambut Azkia lumayan kuat membuat gadis itu merintih kesakitan.


“Yak ! Si monyet. Lo gila, yaa ? Sakit, kambing !”


“Loh kok rambutnya panjang ? Bukannya biasanya cuma sepundak ? Emang bisa gitu rambut jadi sepanjang itu dalam semalam ?” Gibran mengacak-acak rambut Azkia mencoba mengecek keaslian rambut panjang itu.


“Singkirin tangan lo, Gibran ! Atau gue gigit, nih !” teriak Azkia kesal. Gibran bahkan sampai terlonjak kaget mendengar teriakan menggelegar dari Azkia.


“Maaf, hehee !”


“Ini rambut asli gue. Selama ini sengaja pake pita untuk nyembunyiin setengah dari panjang rambut asli gue !” jelas Azkia masih terlihat kesal.


“Kenapa ?” tanya Gibran tidak mengerti.


“Lo nggak dengar tadi mamah gue bilang apa ? Gue cuma mau terlihat sedikit feminim. Yah, tapi sepertinya itu sama sekali nggak berhasil !” Azkia menghela napas berat.


“Kenapa lo harus jadi orang lain hanya untuk terlihat feminim ? Jadilah diri lo sendiri ! Semua perempuan itu cantik dengan style mereka sendiri ! Lo nggak perlu merubah diri lo menjadi orang lain karena lo sudah cantik dengan lo yang sekarang !" Azkia mengerjabkan kedua matanya mendengar penuturan Gibran.


"Bukannya laki-laki suka cewek feminim ?" tanya Azkia.


"May be, but not all ! Laki-laki yang tulus mencintaimu tidak akan memintamu berubah menjadi orang lain. Dia yang tulus akan mencintaimu apa adanya ! So, mulai sekarang lo nggak perlu lagi berusaha terlihat feminim di depan orang lain. Jadilah dirimu sendiri ! Dan lagi menurut gue lo lebih cocok jadi Kia yang seperti ini, pecicilan dan bermulut cabe !" Gibran mengacak-acak rambut Azkia gemas.


"Gue hampir saja terharu mendengar kata-kata lo ! Lo bisa nggak sih kalau muji yaa muji aja. Jangan lo terbangin gue ke langit ketuju terus tiba-tiba lo hempasin ke bumi ! Asem, tau !" Azkia menatap Gibran kesal.


Dan pria itu hanya tertawa melihat wajah cemberut Azkia. Menggemaskan sekali !


"Intinya lo nggak perlu menjadi orang lain untuk membuat orang suka sama lo. Karena orang yang tulus akan tetap menyukai meski lo menjadi diri lo sendiri ! Bay the way, I like your long hair ! It's so beautiful ! Aku jadi nggak sabar ngeliat lo di sekolah dengan rambut panjang lo ini !" tatapan Gibran berubah serius.


"Thanks, Gibran ! Jujur saja selama ini gue nggak percaya diri dengan penampilan gue. Gue pencinta rambut panjang tapi gue sadar dengan sikap gue yang sama sekali tidak cocok dengan perempuan berambut panjang. Karena itu selama ini gue sembunyiin ini dari orang-orang. Lo adalah orang pertama yang melihat rambut panjang gue setelah Arta !" Azkia tersenyum lega.


Rasanya, beban yang selama ini menghimpit dada Azkia sedikit terangkat, membuatnya bisa dengan leluasa bernapas. Dan itu semua berkat Gibran. Pria itu membangkitkan kepercayaan dirinya yang selama ini terbelenggu keraguan.


Azkia lega karena ia tidak perlu lagi berusaha terlihat seperti gadis pada umumnya. Azkia senang karena ia tidak perlu lagi berpura-pura di depan orang lain. Mulai hari ini ia akan menjadi dirinya sendiri.

__ADS_1


Tidak peduli orang akan menganggapnya aneh atau semacamnya. Ia hanya perlu mendapatkan satu dukungan saja untuk membuatnya tetap percaya diri. Dan hari ini ia telah mendapatkannya dari Gibran.


"Ngomong-ngomong, bisa nggak lo berhenti natap gue ? Lo membuat gue salah tingkah, tau nggak !" ceplos Azkia menyadarkan Gibran dari lamunannya.


"Khmm...Si-siapa yang natap lo ? Gue cuma merasa aneh aja karena baru pertama kali melihat rambut asli lo !" ucap Gibran beralasan.


Azkia mengangguk-angguk seakan mengerti.


"Lah, bukannya sama aja yaa ? Itu sama aja lo natapin gue, Gibran ! You make me embarrassed !" batin Azkia.


Hampir tiga jam lamanya mereka larut dalam tugas-tugas sekolah. Azkia dengan sabar menjelaskan bagian-bagian yang belum Gibran pahami. Dan begitu pun dengan Gibran yang dengan serius memperhatikan penjelasan Azkia. Meski beberapa kali ia malah salah fokus. Membuat Azkia harus menegurnya untuk kembali fokus dengan soal-soal di depannya.


Gibran yang baru saja menyelesaikan tugasnya ikut meletakkan kepalanya di atas kursi panjang yang hari ini mereka sulap menjadi meja belajar dadakan. Ia menggunakan tangan kirinya sebagai bantal sementara tangan kanannya terulur menyingkirkan anak rambut Azkia yang menutupi wajah cantik gadis itu.


Menggemaskan sekali !


Senyum Gibran terukir manis melihat wajah terlelap Azkia. Itu adalah pertama kalinya ia melihat Azkia yang sedang tertidur. Wajahnya mungilnya yang sedang terlelap terlihat sangat lucu. Gadis itu sepertinya masih sangat mengantuk sampai-sampai ia ketiduran saat menunggunya menyelesaikan soal terakhir.


Jantung Gibran berdetak tidak normal sejak pertama kali menginjakkan kakinya di rumah Azkia. Membayangkan akan menghabiskan waktu berdua dengan Azkia membuat akal sehatnya seakan berpisah dari raganya. Lihat saja senyum di bibirnya yang tak kunjung hilang dari tadi.


Yah ! Dia senyum-senyum sendiri seperti orang gila !


Sepertinya kewarasan Gibran hilang sedikit demi sedikit seiring waktu ia berada di dekat Azkia. Gadis itu benar-benar membuat akal sehatnya tidak bekerja dengan baik. Benar-benar tidak seperti Gibran yang biasanya.


Ting...ting...ting...


Gibran mengerutkan keningnya mendengar notifikasi dari ponsel Azkia yang terus berbunyi sejak tadi. Gibran menegakkan tubuhnya dan meraih ponsel Azkia. Jari-jarinya mulai menari-nari di atas layar ponsel gadis itu.


"F*ck !" umpat Gibran setelah melihat pesan-pesan yang masuk ke WhatsUp Azkia.


Bagaimana tidak, 99% dari chat itu adalah chat dari laki-laki. Tapi bukan itu yang membuat Gibran emosi. Chat dari teman-teman anggota geng Thunder lah yang membuat amarahnya meledak.


Tidak sampai di situ saja, Gibran dibuat semakin emosi saat membaca pesan dari Hendry, sahabat terbaik yang tidak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Ia tahu jelas maksud dari pesan-pesan yang Hendry kirim. Sebagai sesama pria ia bisa tahu kalau Hendry sedang mencoba melakukan pendekatan pada Azkia.


"Sialan ! Selama ini dia ngelarang gue dekat-dekat sama Kia, tapi ternyata dibelakang gue diam-diam malah dia yang mendekati Kia ! Hendry, sialan !" umpat Gibran.


From Fredy :


"Azkia kok lo tega sih nolak gue ? Gue serius sama lo, gue benar-benar cinta sama lo. Please, jangan tolak gue ! Gue janji akan melakukan apapun yang lo mau asal lo menerima gue jadi pacar lo !" isi pesan dari Fredy yang hanya di-read oleh Azkia.


Juga ada lebih dari sepuluh panggilan tidak terjawab dari pria itu namun Azkia tetap mengabaikannya. Senyum Gibran kembali terukir melihat pesan-pesan sejenis dari puluhan pria yang berbeda. Dan tanggapan Azkia tetap sama.


Menolak mereka baik-baik kemudian mengabaikan chat ataupun panggilan dari pria-pria tersebut. Sungguh sebuah sikap yang sangat tegas !


"Good girl !" puji Gibran sambil mengelus lembut kepala Azkia yang masih asik berselancar di alam mimpi.


Tangan Gibran kembali men-scroll up pesan-pesan WhatsUp Azkia. Senyum di wajah Gibran seketika meluruh saat membaca pesan dari Mona yang ia ketahui sebagai ketua fan girl-nya. Pesan berisi ancaman kepada Azkia karena gadis itu telah berani mendekati Gibran.


"Cewek cabe, berhenti dekat-dekat sama Gibran ! Lo nggak usah tepar pesona sama Gibran, deh ! Perempuan l*cur kayak lo nggak pantas berada di dekat Gibran. Kita aja yang udah lama nge-fan sama Gibran nggak pernah tuh nempel-nempel sama dia. Lo yang anak pindahan aja udah nempel aja sama Gibran dan Arta. Ini peringatan terakhir buat lo, kalau sekali lagi gue ngeliat lo dekat-dekat sama Gibran habis lo sama anak-anak Gibran's Lovers ! Gue nggak pernah main-main sama ucapan gue ! Camkan itu, dasar b*tch !"


"Iri bilang, bos !😎" balas Azkia santai.


Rahang Gibran mengatup kuat membaca pesan dari Mona. Perempuan paling menyebalkan yang pernah ia kenal di dunia ini. Perempuan yang mungkin sudah ratusan kali menembaknya. Yang tentu saja selalu ia tolak. Melihat kata-kata kasar yang ia tujukan pada Azkia benar-benar membuat emosinya meledak.


Namun senyumnya kemudian tercetak saat membaca balasan santai dari Azkia. Gadis itu memang gadis yang luar biasa. Sepertinya dia tidak memilik rasa takut pada apapun.


Benar-benar tipe gadis idaman Gibran !


Semoga kalian suka !

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan comment yaa !😉😙🤗


__ADS_2