AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 7. Perempuan Berharga untuk Arta


__ADS_3

Happy Reading !😉🤗


Part ini lumayan panjang.🤗


"Dia adalah perempuan paling berharga kedua di dalam hidupku setelah bunda. Dia sangat berarti untukku. Aku tidak tahu akan bagaimana jika dia sampai kenapa-napa. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjaga dan melindunginya layaknya seorang kakak laki-laki yang melindungi adik kecilnya !"


~Arta Tristan Abrisam~


***


Seluruh anggota geng Thunder kompak menghela napas berat saat melihat Gibran datang seorang diri. Semua mendesah kecewa saat tidak mendapati Azkia di sana bersama pria itu. Ahh, padahal mereka ingin makan siang bersama gadis mungil itu. Apalagi saat melihat penampilan baru Azkia pagi tadi. Semua semakin dibuat jatuh hati pada gadis mungil namun pecicilan tapi tetap cantik itu.


Gadis ceria yang selalu bisa membuat siapa pun yang melihatnya ikut tersenyum. Gadis bermulut cabe namun berhati malaikat. Meski bibirnya sering mengucapkan kata-kata pedas namun dari bibir itu pula sering terdengar kata-kata bijaksana yang mampu mengubah berandalan seperti mereka. Gadis kecil yang mampu memberikan pengaruh besar kepada siapa pun yang berada di sekitarnya.


Dia si gadis Happy Virus !


"Azkia tidak gabung sama kita hari ini ?" tanya Diki setelah Gibran duduk di kursinya.


Pria itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari Diki. Kedua tangannya sibuk dengan ponsel miliknya. Entah apa yang membuat pria itu sangat fokus dengan ponselnya. Tidak seperti Gibran yang biasanya !


Send !


Ting...


Ting...


Ting...


Suara notifikasi dari ponsel semua anggota geng Thunder terdengar bersahut-sahutan sedetik setelah Gibran menekan tombol kirim. Semua kompak mengecek ponsel masing-masing saat melihat senyum penuh arti Gibran.


Itu adalah pesan dari ketua geng Thunder di Group WhatsUp Geng Thunder. Semua kompak membulatkan matanya melihat isi pesan yang baru saja dikirim Gibran sang ketua geng.


What the hell !


Yah ! Meski tidak ada satu pun yang mengucapak kata-kata itu namun Gibran bisa melihat dengan jelas kata-kata itu dari ekspresi wajah seluruh anggota geng Thunder. Senyum Gibran semakin melebar saat tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengeluarkan suara. Padahal Gibran tahu jelas ada banyak pertanyaan yang ingin mereka tanyakan kepadanya.


"Mulai hari ini dia adalah Ratu Geng Thunder ! Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan, bukan ?" Gibran menjeda.


"Kalian pikir gue nggak tau apa yang selama ini kalian lakukan di belakang gue ? Ahh, apa itu memang pantas dilakukan oleh seorang anggota kepada ketuanya ?" semua bungkam.


Tidak ada yang berani membuka mulut mendengar penuturan Gibran. Pria itu memang sedang tersenyum, tapi percayalah ! Emosinya sedang meledak. Amarah pria itu sedang meluap. Melihat Gibran yang tersenyum seperti itu malah terlihat sangat menakutkan di mata seluruh anggota geng Thunder.


Apa kalian pikir melihat senyum seorang pria beku, kaku, tidak terbantahkan, keras kepala, berhati batu itu menyenangkan ?


Tidak !


Senyum itu malah terlihat sangat menyeramkan !


Berduaan dengan singa lapar di ruangan yang sama mungkin jauh lebih baik daripada melihat pria itu meledak. Ohh, mereka tidak ingin remuk di tangan Gibran. Dan bodohnya mereka yang malah membangunkan sisi gelap seorang Gibran Hutama yang sudah lama terbelenggu.


"Dan lo, kakak sepupuku tercinta !" Gibran mencengkram pundak kiri Hendry kuat.


"Lo ngelarang gue dekatin dia, tapi apa yang lo lakukan di belakang gue, hmm ? Hah ! Gue benar-benar tidak menyangka akan dikhianati oleh seluruh anggota geng gue sendiri. Menggelikan sekali !" Gibran tertawa di akhir kalimatnya.


"Mulai hari ini jaga dia sebagaimana seorang pengawal menjaga Ratu-nya ! Kali ini gue maafin apa yang telah kalian lakukan. Tapi jika itu sampai terjadi lagi, tidak akan ada ampun !" semua menelan salivanya susah payah mendengar kalimat terakhir Gibran.


Gibran bangkit dari kursinya setelah mengucapkan kata-kata menakutkan itu. Ia melangkah menjauh dari sana dengan tangan kiri yang sengaja dimasukkan ke dalam saku celananya sementara tangan kanannya terangkat dan melambai di udara.


Semua kompak menghela napas lega setelah melihat Gibran berjalan menjauh. Mereka bahkan tanpa sadar menahan napas selama Gibran di sana. Tidak terkecuali Hendry. Meski ia adalah saudara sepupu Gibran tapi tetap saja itu tidak akan membuat Gibran menghentikan amukannya jika memang ia berani mengusiknya.


Gibran tetaplah Gibran, sang ketua Geng Thunder yang sangat menakutkan !


"Gila ! Gue pikir gua akan mati hari ini !" seru Bastian. Raut wajah ketakutan jelas tergambar dari wajahnya.


"Gue kira Gibran akan mematahkan tulang gue !" Sandi tak kalah ketakutan.


"Kita beruntung Gibran nggak sampai mengamuk. Jangan sampai membuat dia marah lagi !" tutur Hendry gusar.


"Gue nggak nyangka lo juga berani menantang Gibran, Dry !" Surya menatap Hendry tidak menyangka.


"Padahal dulu lo terlihat nggak suka dengan Azkia !" lanjut Firman.


"Sudah sudah ! Sekarang bukan itu yang terpenting. Sekarang kita harus pastikan semua anggota geng tau kalau Geng Thunder punya Ratu yang harus mereka lindungi !" lerai Vero yang langsung mendapat anggukan setuju dari semuanya.


🍀


Seperti biasa, gosip di SMA Nusantara selalu tersebar sangat cepat. Gosip tersebar seperti debu yang terhempas angin. Sekali tiupan namun langsung menyebar ke segala arah.


Azkia yang baru saja masuk ke toilet khusus perempuan dibuat kebingungan saat semua mata tertuju padanya sejak ia melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Sepertinya ada hal lain yang membuat orang-orang menatapnya selain karena penampilan barunya.


Ahh, entahlah !


Azkia tidak ingin ambil pusing ! Seperti biasa ia akan cuek dengan pandangan orang lain padanya. Selama jalan yang ia lalui menurutnya sudah benar, maka pandangan orang bukanlah hal yang harus ia pedulikan.


"Jadi lo pacaran sama Arta atau Gibran ?" tanya Mina yang kini sibuk dengan alat make up-nya di samping Azkia.


"Gue nggak pacaran dengan salah satu dari mereka !" jawab Azkia santai.


"Hah ! Lucu sekali ! Lo masih mau menyangkal kalau lo nggak pacaran sama Gibran ? Hari ini Gibran bahkan sudah mengumumkan kalau lo adalah Ratu Geng Thunder ! Berhenti berbohong, b*cth !" Azkia menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti.


"Omong kosong macam apa itu ?" tanya Azkia yang tetap fokus dengan pantulan dirinya di balik cermin toilet.


"Lo masih berpura-pura rupanya ! Okay, let's see sejauh apa lo berani menantang Gibran's Lovers !" Mina berlalu diikuti dayang-dayangnya.


Azkia semakin mengerutkan keningnya tidak mengerti.


Ratu ?


Gibran mengumumkan kalau dia adalah Ratu Geng Thunder ?


Lelucon macam apa itu ?


Ratu apanya ?


Apa maksud dirinya menjadi Ratu Geng Thunder ?


Dan kenapa dia dan bukan perempuan lain ?

__ADS_1


"PENGUMUMAN !


Disampaikan kepada seluruh siswa-siswi SMA Nusantara bahwa jam pelajaran keempat dan kelima akan dikosongkan karena ada rapat OSIS dengan Komite Sekolah ! Seluruh siswa-siswi diperbolehkan untuk pulang. Sekian !"


Azkia merogok saku roknya dan mengeluarkan ponsel miliknya dari sana. Ia mengirim pesan ke Gibran bahwa ia akan menunggunya di depan gerbang sekolah. Beruntung tadi ia sudah membawa tasnya jadi dia tidak perlu lagi kembali ke kelas. Rasanya Azkia mulai muak dengan tatapan menyebalkan orang-orang padanya.


"Gibran kita ketemu di gerbang, yaa !" tulis Azkia.


Di kelas XII IPA 1.


"Gibran, gawat ! Naga Hitam berulah lagi !" teriak Diki yang baru saja memasuki kelas XII IPA 1.


Gibran dan Hendry kompak bangkit dari duduknya mendengar teriakan Diki. Rahang Gibran seketika mengatub keras mendengarnya.


"Kali ini apa yang mereka lakukan ?" tanya Gibran yang kini melangkah meninggalkan kelas diikuti Hendry di belakangnya.


"Mereka menahan Anto !" Gibran semakin melebarkan langkahnya saat Diki memperlihatkan foto Anto yang babak belur.


"Sial ! Alex bangs*t ! Lo berani menantang gue, lo akan tau akibatnya, sialan !" umpat Gibran yang kini sudah berubah berlari. Diki dan Hendry ikut berlari mengikuti Gibran yang sudah terbakar emosi.


Anto adalah salah satu anggota geng Thunder dari SMA Bayangkara. Geng Thunder adalah salah satu geng besar yang diketuai oleh Gibran, siswa SMA Nusantara. Namun anggota geng-nya bukan hanya dari SMA Nusantara saja melainkan gabungan dari berbagai sekolah-sekolah di kota mereka. Bahkan geng Thunder pun mempunyai anggota dari kalangan pemuda yang bukan pelajar.


🍁


Azkia sampai di gerbang setelah sekolah mulai sepi. Ia sengaja memperlambat langkahnya bahkan sengaja turun melalui tangga agar tidak bertemu dengan siswi lain di lift.


Sebenarnya Azkia tidak terlalu peduli dengan apa yang akan mereka katakan padanya. Hanya saja, mengingat mereka akan menatapnya seperti menatap seorang tahanan napi benar-benar membuatnya malas.


It's so annoying !


Azkia mengerutkan keningnya saat tidak mendapati Gibran di gerbang sekolah. Pesan darinya bahkan belum dibaca pria itu. Dan kerutan di kening Azkia semakin dalam saat ia mencoba menghubungi Gibran namun pria itu sama sekali tidak menggubris panggilannya.


Azkia memilih untuk menunggu sebentar di halte depan sekolah. Kalau Gibran belum juga membalas pesan darinya hingga dua puluh menit kemudian barulah ia akan menelfon kakaknya. Azkia tidak enak jika langsung pulang sebelum mendapat kabar dari Gibran. Ia takut malah Gibran yang nanti menunggunya jika ia pulang sekarang.


Dua puluh menit telah berlalu, namun belum juga ada kabar dari Gibran. Azkia baru saja akan kembali menelfon pria itu saat sebuah pesan masuk. Senyum Azkia terukir namun ia juga mengerutkan keningnya bingung.


"Sorry membuatmu menunggu lama ! Tapi bisakah kamu ke taman belakang sekolah ? Aku akan menunggumu di sini. By : Gibran !"


Azkia tidak mengerti mengapa Gibran menyuruhnya ke taman belakang sekolah. Ia tidak mengerti mengapa Gibran malah mengirim pesan melalui nomor baru. Dan Azkia tidak paham mengapa Gibran baru menghubunginya sekarang. Padahal ia sudah menunggunya sejak dua puluh menit yang lalu.


Meski kebingungan tapi Azkia tetap menuruti isi pesan tersebut. Ia kembali berjalan memasuki gerbang sekolah yang memang masih terbuka lebar. Dengan sedikit tergesa-gesa ia berjalan ke arah taman belakang sekolah yang lumayan sepi dan jarang dikunjungi oleh siswa-siswi di sana. Hanya mereka yang tidak menyukai keramaian yang mungkin akan datang ke sana.


"Gibran ?" Azkia mengedarkan pandangannya ke segala arah namun tidak mendapati pria itu dimana-mana.


Dan Azkia dibuat semakin terkejut saat malah melihat Mona dan kawanannyalah yang datang. Mendekatinya dengan senyum licik. Azkia berjalan mundur dengan perlahan saat sepuluh. Ahh, tidak ! Bukan sepuluh tapi lebih dari dua puluh orang yang mulai mengelilinginya.


Semua tertawa penuh kemenangan saat Azkia mulai terpojok. Wajah Azkia yang biasanya selalu dihiasi senyuman kini berubah pucat karena takut. Inilah yang selama ini Azkia takutkan. Jika hanya melawan lima orang mungkin ia masih sanggup. Tapi melawan orang sebanyak itu tentu saja ia tidak bisa.


"A-apa yang mau kalian lakukan ?" tanya Azkia gelagapan.


"Gue sudah memberi peringatan berkali-kali, tapi lo mengabaikannya. Seharusnya lo berterima kasih karena gue cuma mengajak dua puluh lima orang untuk memberi lo pelajaran !" Mona melipat kedua tangannya di dada sambil menyeringai melihat Azkia yang kini berhenti di tengah-tengah mereka.


"Lo salah telah meremehkan Gibran's Lovers, Azkia !" timpal Mina.


"Pegang dia !" perintah Mona, sang leader Gibran's Lovers.


Kedua mata Azkia mulai memerah saat Mona dan Mina berjalan mendekatinya. Sekuat tenaga Azkia menahan agar air matanya tidak tumpah.


Plakk...


Plaak...


Plaakkk....


Dengan seringai yang semakin lebar Mona dan Mina menampar Azkia bergantian. Azkia memejamkan matanya merasakan sensasi perih di kedua pipinya. Rintihan Azkia akhirnya lolos keluar dari mulutnya saat merasakan satu bogeman mendarat di sudut bibir kirinya. Azkia bahkan bisa merasakan sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah.


"Akkhh..."


Azkia mengerang kesakitan saat tangan kanan Mona dengan kasar menarik rambut panjangnya sementara tangan kirinya mencengkram kuat pipi Azkia. Rasa sakit karena tamparan bertubi-tubi tadi dan juga pukulan dari kepalan tangan Mona bahkan belum redah sedikit pun. Rasa sakitnya malah semakin menjadi-jadi dengan cengkraman kuat itu.


Ternyata Azkia salah !


Azkia salah karena selama ini ia mengira fans Arta-lah yang akan melakukan hal seperti itu padanya. Azkia salah karena ternyata malah fans Gibran-lah yang menyerangnya lebih dulu.


"Ini akibatnya kalau lo berani menantang gue ! Lo bahkan berani menjadi Ratu Geng Thunder. Itu adalah kesalahan terbesar lo, anj*ng ! B*tch seperti lo nggak pantas menjadi Ratu. Dasar wanita jal*ng, sialan lo Azkia !" suara Mona berubah menjadi teriakan di akhir kalimatnya.


Azkia harus menahan rasa sakit karena kedua tangan Mona semakin kuar mencengkram rambut dan pipinya. Azkia bisa merasakan darah yang keluar dari bibirnya yang sobek semakin banyak karena cengkraman Mona.


Sakit sekali !


"Masukkan jal*ng ini ke gudang !" Azkia menggeleng saat mendengar perintah Mona.


Ohh, tidak !


Taman belakang saja sudah sangat jarang dikunjungi orang, apalagi gudang yang berada di taman belakang sekolah itu. Gudang itu sangat jarang didatangi oleh siapa pun. Memangnya apa yang akan orang lakulan di gudang itu ? Hanya orang kurang kerjaan yang akan membuka gudang penuh debu itu.


"Jangan ! Lepasin gue !" teriak Azkia namun percuma.


Dengan kasar enam orang sekaligus menyeret Azkia ke gudang. Seringaian mereka semakin lebar melihat Azkia yang akhirnya meneteskan air matanya. Raut wajah ketakutan gadis itu tentu saja menjadi tontonan menyenangkan bagi mereka yang sudah lama membencinya.


"Sebenarnya kita tidak akan bergerak dadakan seperti ini andai saja hari ini Gibran tidak mengumumkan kalau lo menjadi Ratu Geng Thunder !" Mona menepuk-nepuk pipi kiri Azkia yang kini dalam posisi terduduk.


"Ambil ponselnya !" pintah Mona yang lagi-lagi langsung dilaksanakan para bawahannya.


"Mona, jangan !" teriak Azkia saat Mona akan memasukkan ponselnya ke dalam air yang memang sudah mereka siapkan sebelumnya.


Tapi tentu saja teriakan itu tidak akan berpengaruh pada Mona yang memang sudah lama ingin memberinya pelajaran. Tangisan Azkia semakin keras saat mereka meninggalkan gudang dan menguncinya dari luar.


Ohh, tidak !


Azkia takut gelap.


Hari memang masih siang, tapi gudang yang sengaja dirancang dengan sedikit ventilasi itu sudah tampak gelap setelah pintu tertutup. Cepat-cepat Azkia mengeluarkan ponselnya dari dalam air. Berteriak pun tidak akan ada gunanya sekarang. Mungkin saja rapat telah usai sejak beberapa menit yang lalu yang berarti seluruh penghuni sekolah telah pulang.


Ahh, sial !


Seharusnya tadi ia tidak dengan mudahnya percaya kalau itu adalah Gibran !

__ADS_1


Bodoh !


Di tempat yang berbeda...


"Lo yang lebih dulu mengibarkan bendera perang ! Dan lo salah telah membangunkan singa yang sudah lama kelaparan, bangs*t !" suara Gibran menggema memenuhi ruangan bekas pabrik yang disulap menjadi markas geng Naga Hitam.


Gibran mengangkat tangan kanannya memberi kode kepada anggotanya, dan detik berikutnya pertarungan antara kedua geng tidak bisa dielakkan. Tanpa rasa takut sedikit pun Gibran menyerang Alex, ketua geng Naga Hitam. Begitu pun dengan anggota geng Thunder. Dengan membabi buta mereka menghancurkan geng Naga Hitam bersama dengan markasnya.


"Ben, Diki, Bastian, Vero ! Bawa Anto ke rumah sakit ! Bang Hiro akan mengawal kalian. Sisahnya serahkan pada kami !" Gibran memberi titah.


Ben, Diki, Bastian dan Vero mengangguk dengan kompak kemudian menuntun Anto keluar dari sana. Kondisi Anto lumayan parah. Dari penampilannya yang babak belur, setidaknya mungkin ia harus mendekam di rumah sakit untuk pemulihan paling sebentar satu minggu.


Kurang dari dua puluh menit geng Thunder berhasil mengalahkan geng Naga Hitam. Mereka juga memporak-porandakan markas Naga Hitam hingga rata dengan tanah. Tidak akan ada ampun untuk siapa pun yang berani mengusik geng Thunder. Dan menyakiti salah satu anggotanya adalah hal yang tidak akan pernah bisa Gibran tolerir.


"Kami bisa melakukan yang lebih dari ini jika sekali lagi lo berani mengusik saudaraku ! Ini peringatan terakhir untuk lo dan untuk kalian semua !" ucap Gibran dingin. Tatapan matanya menatap anggota geng Naga Hitam dengan tajam.


Gibran kembali memberi kode kepada anggotanya untuk meninggalkan tempat itu. Satu-persatu mereka meninggalkan markas Naga Hitam dengan kemenangan mutlak di tangan mereka. Gibran keluar setelah memastikan semua teman-temannya telah keluar.


📌


"Nggak nyangka akhirnya bisa pulang bareng kayak gini. Sudah lama kita nggak pernah lagi pulang bareng. Iya, kan ?"


"Iya, kamu benar ! Maaf yaa, kita jadi jarang berangkat dan pulang bareng sekarang. Kamu tau sendiri kan alasannya kenapa ?" pria yang sedang duduk di jok belakang mengangguk dengan senyum lebarnya meski pria yang yang sedang mengemudi motor besarnya tidak bisa melihatnya karena tertutupi helm full face yang ia kenakan.


"Senangnya ! Andai setiap hari bisa selalu seperti ini. Aku pasti senang bangat !" tuturnya semangat membuat pria yang sedang fokus dengan jalanan tersenyum di balik helm full face-nya.



Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam saat Arta sampai di rumah. Ia melepas helm yang menutupi kepalanya setelah memarkir motornya di garasi. Langkah kakinya yang hendak memasuki rumah terhenti saat mendengar suara seseorang.


"Arta ! Azkia kok nggak pulang saka kamu ?" tanya Fajar dengan raut wajah khawatir yang tidak bisa ia tutupi.


"Loh, Azkia belum pulang ? Bukannya sudah dari tadi ia pulang sama Gibran ?" rasa khawatir Fajar semakin menjadi-jadi saat mendengar jawaban Arta yang malah balik bertanya padanya.


"Azkia belum pulang, Ta ! Kakak sudah coba hubungi dia sejak tadi tapi nomornya nggak aktif ! Kakak kira dia pulang sama kamu !" Arta membulatkan kedua matanya sempurna mendengar penuturan Fajar. Rasa khawatir langsung menyelimuti hati Arta.


"Aku akan kembali ke sekolah untuk mengeceknya. Nanti aku kabari kalau ada informasi !" Fajar mengangguk mengiyakan.


Arta kembali memakai helm-nya dan mulai mengendarai motor besarnya dengan kecepatan tinggi. Ia juga sudah mengirim pesan pada Fikri untuk membantunya mencari Azkia. Arta juga sengaja memasang earphone agar bisa menghubungi Gibran selama dalam perjalanan. Ia terus mencoba menghubungi Gibran namun pria itu sama sekali tidak menjawab panggilan darinya.


Arta dibuat semakin khawatir.


Sebenarnya apa yang terjadi ?


Azkia baik-baik saja, kak ?


Ahh, Arta tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika Azkia sampai kenapa-napa !


Seharusnya tadi ia mengantar Azkia pulang sebelum mengikuti rapat OSIS ! Ahh, bodoh sekali dia yang tidak memastikan Azkia telah pulang dengan selamat.


Arta langsung memarkir motornya asal setelah sampai di depan gerbang sekolah. Di sana mobil Fikri sudah terparkir menandakan pria itu sudah datang. Dan benar saja, Arta melihat Fikri sedang berbicara dengan dua sekuriti yang sedang bertugas malam itu untuk membukakan gerbang dan membiarkan mereka masuk.


"Ehh, ada nak Arta juga ! Tapi, kalau boleh bapak tau kenapa kalian mau masuk ? Ini sudah malam, nak !" tanya pak Sopo, salah satu sekuriti yang sedang bertugas malam itu.


"Teman saya sepertinya masih ada di dalam, pak ! Kami harus mengeceknya ke dalam. Tolong izinkan kami masuk !" mohon Arta. Terlihat jelas bahwa pria itu sangat mengkhawatirkan Azkia.


"Kami akan bertanggungjawab jika terjadi sesuatu !" Fikri ikut mencoba meyakinkan pak Sopo dan pak Juna.


"Baik, baik ! Bapak percaya kok sama nak Arta dan nak Fikri !" Arta dan Fikri kompak menghela napas lega mendengarnya.


Tanpa membuang waktu lagi keduanya berlari masuk. Di depan lift mereka memilih untuk berpencar. Fikri akan naik ke lantai tiga sementara Arta akan mengecek di lantai dasar.


"Are you okay ?" tanya Arta pada Fikri yang kini berada di dalam lift, ia menahan pintu lift agar tidak tertutup dulu.


Fikri tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. Membuat Arta ikut melakukan hal yang sama.


"Hati-hati ! Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, okay !" setelah melihat Fikri mengangguk mengiyakan Arta langsung berlari menuju area kantin lantai dasar.


Di dalam gudang...


Azkia memegang kepalanya yang terasa begitu sakit. Berjam-jam menangis membuat tenaganya terkuras habis. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan ia jatuh pingsan dan entah sudah jam berapa sekarang. Di sana benar-benar sudah sangat gelap yang berarti sekarang sudah malam.


Dengan meraba-raba Azkia mencoba mencari ponselnya yang tadi ia bungkus dengan kain yang ia dapat di gudang itu. Berharap bisa sedikit membantu mengeringkan ponselnya. Dengan tangan bergetar Azkia mencoba menyalakan ponselnya. Bibirnya komat-kamit melafazkan doa agar ponsel itu bisa hidup.


"Alhamdulillah ! Hidup !" seru Azkia kegirangan. Air matanya kembali tumpah saking senangnya.


Dengan cepat Azkia menekan angka 1 untuk panggilan cepat pada Arta. Tidak butuh hingga dentingan kedua untuk Arta menjawab panggilan darinya.


"Azkia ! Kamu dimana ?" tanya Arta di seberang sana yang terdengar setengah berteriak.


"Arta hiks Arta ! A-aku hiks aku ada di gudang ! Arta aku takut ! Arta hiks"


"Tunggu sebentar ! Aku akan ke sana. Kamu tenang, yaa ! Sebentar lagi aku sampai ! Kamu...Azkia ? Azkia ? Kia, are you there ?" Arta mengerang tertahan sebelum kembali berlari ke arah sebaliknya untuk mengambil kunci gudang. Tak lupa mengirim pesan pada Fikri yang masih berada di lantai tiga.


Fikri mengambil alih kunci dari tangan Arta yang bergetar hingga kesusahan membuka pintu gudang. Wajah Arta sudah berubah pucat pasih sejak tadi karena takut Azkia kenapa-napa. Fikri terus mencoba menenangkan pria yang tidak lain adalah sahabat terdekatnya itu.


Brak...


Pintu terbuka membuat gudang yang tadi gelap gulita kini sedikit mendapat penerangan cahaya dari luar. Arta dan Fikri membulatkan mata mereka melihat Azkia yang tergeletak tidak sadarkan diri di atas lantai gudang yang penuh debu.


"Azkia !" teriak mereka kompak.


"Azkia, bangun ! Azkia ! Ahh, maaf ! Azkia maafin aku ! Seharusnya aku menjagamu dengan baik ! Maaf !" sesal Arta yang bahkan kini meneteskan air matanya.


"Sebaiknya kita bawa Azkia ke rumah sakit ! Aku takut dia kenapa-napa !" ucap Fikri tak kalah khawatir.


Arta langsung menggendong Azkia di punggungnya. Dengan berlari-lari kecil Arta dan Fikri meninggalkan gudang yang bahkan tidak sempat mereka tutup.


"Kau terlihat sangat mengkhawatirkan Azkia. Bukan hanya kali ini, tapi selalu !" ucap Fikri lirih.


"Dia adalah perempuan paling berharga kedua di dalam hidupku setelah bunda. Dia sangat berarti untukku. Aku tidak tahu akan bagaimana jika dia sampai kenapa-napa. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjaga dan melindunginya layaknya seorang kakak laki-laki yang melindungi adik kecilnya. Kami menghabiskan hampir seluruh waktu kami bersama sejak kecil. Bagaimana mungkin aku bisa melihatnya terluka seperti ini ?" Fikri tersenyum mendengar penuturan Arta.


Fikri tahu bagaimana pria itu menyayangi Azkia. Dan mendengar jawaban Arta membuatnya merasa lega dan lebih tenang.


Semoga kalian suka !😉😙


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ! Please always support author with VOTE, LIKE and COMMENT !😉🤗😙

__ADS_1


__ADS_2