AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 4. Azkia Teguh !


__ADS_3

Happy Reading !😉


"Sesuatu menjadi berharga itu ketika lo mendapatkannya dari hasil kerja keras lo sendiri. Sesuatu menjadi sangat bermakna bukan karena nilainya tapi karena lo mendapatkannya dengan kedua tangan lo sendiri"


~Azkia Aqilah Candra~


***


Azkia menaikkan sebelah alisnya saat melihat sebuah sticky note yang ditempel di sudut laci mejanya. Biasanya setiap pagi ia mendapat banyak surat di sana, namun hari ini sedikit berbeda. Meski surat-surat itu memang masih saja memadati laci mejanya namun tangan Azkia lebih tertarik untuk mengambil sticky note itu.


"Hay, Azkia ! Bisa lihat ke arah pintu ?"


Dan bodohnya Azkia menuruti kata-kata yang tertulis di kertas itu.


"Fredy ?" gumam Azkia yang terdengar seperti sebuah pertanyaan.


Azkia bangkit dari duduknya dan menghampiri pria bernama Fredy itu. Sebenarnya Azkia tidak begitu mengenalnya, hanya saja ia bisa mengingat namanya karena baru saja kemarin pria itu meminta kontaknya.


Azkia melepas headphone yang selalu menyumpal kedua telinganya, membuat suara merdu dari boyband kesukaannya harus terpotong. Headphone bertelinga kelinci yang akan membuat siapan pun yang melihatnya 99% akan langsung berasumsi bahwa dia adalah seorang KPopers. Senyum Fredy langsung tercetak lebar saat Azkia telah berdiri tepat di depannya.



"Kenapa, Fred ? Ada hal penting apa sampai-sampai lo harus datang ke sini ?" tanya Azkia to the point.


Bagaimana tidak, kurang dari 5 menit lagi bel tanda jam pelajaran pertama dimulai akan segera berdering. Dan Fredy yang notabenenya adalah siswa dari XII IPS 10 malah masih berdiri dengan santai di depan kelasnya. Setidaknya sekarang pria itu sudah harus berlari dari sana menuju ke kelasnya jika tidak ingin masuk terlambat.


"Gue cuma mau kasih ini ke lo. Lo suka coklat, kan ?" ucap Fredy sambil menyodorkan tiga batang coklat Silverqueen varian ChunkyBar Almond Milk Chocolate kesukaan Azkia.


Azkia menatap coklat itu dengan kening berkerut. Tangannya tetap diam di sisi tubuhnya tanpa berniat mengambil coklat itu. Azkia lebih sibuk dengan keterkejutannya.


"Lo ke sini cuma buat ngasih coklat ini ke gue ?" tanya Azkia sedikit tidak percaya.


"Iya ! Ini buat lo, lain kali gue belikan lagi ! Gue balik ke kelas dulu, bye Azkia !" Azkia dibuat semakin melongo saat pria itu benar-benar pergi setelah meletakkan tiga coklat batang itu ke tangannya.


Tuh cowok gila atau apa ?


"Ck ck ck ! Penggemarmu banyak juga, Kia ! Dia bahkan bela-belain datang ke sini cuma buat ngasih coklat itu !" Azkia menoleh dan mendapati Gibran yang kini menjulang tinggi di sampingnya.


Azkia hanya mengedikkan bahu tidak peduli. Nanti dia akan mengirim pesan ke Fredy untuk memintanya berhenti membelikannya coklat. Bukan tidak mau, Azkia memang sangat menyukai coklat. Hanya saja, dia bahkan bisa mendapatkan coklat yang lebih banyak dari itu secara gratis. Azkia hanya perlu ke rumah Arta dan ia bisa mendapatkan semua cemilan yang ia inginkan.


Yah, semudah itu !


"Sudah ngerjain tugas Matematika belum ?" tanya Azkia. Kini keduanya sudah duduk di kursi masing-masing. Sejak hari itu mereka memutuskan bertukar tempat duduk untuk seterusnya.


"Belum. Gu..."


Pletak...


"Lo datang ke sekolah niatnya apa sih, hmm ? Bentar lagi pak Yudi datang, jam pertama kita Matematika loh ! Cepat kerjain sebelum pak Yudi datang !" dumel Azkia yang bahkan tanpa ragu lagi menjitak kepala Gibran.


"Bukunya mana ? Keluarin cepat ! Wah, lo bikin gue malu aja. Setidaknya gue harus ada faedahnya jadi teman sebangku lo !" Gibran mengerjab kedua matanya melihat Azkia yang masih saja mendumel.


Azkia langsung merebut tas Gibran dari tangan pria itu. Dan wajah Azkia langsung berubah datar saat melihat isi ransel mahal itu. Ia sudah memeriksa setiap bagian dari tas itu namun sama sekali tidak menemukan peralatan belajar di sana. Sama sekali tidak ada buku ataupun pulpen. Yang ada hanya baju salinan yang entah apa faedahnya Gibran bawa ke sekolah.


"Lo ? Tugas lo sudah selesai belum ?" kali ini Azkia bertanya pada Hendry yang duduk di belakangnya.


Pria itu menggeleng tanda belum selesai.


"Buku, lo ada bawa buku ?" Hendry kembali menggeleng sebagai jawaban tidak.


Azkia mengangguk-angguk mengerti. Ia memilih meletakkan tas Gibran di tempatnya semula. Ia menggerakkan tangan kanannya memberi isyarat kepada Hendry agar mendekat kepadanya. Tak lupa menunjuk kursi pria itu dengan dagunya. Hendry yang paham maksud gadis berambut pita itu pun entah mengapa hanya menurut saja. Ia menyeret kursinya dan membawanya ke samping Gibran kemudian ikut duduk di sana bersama mereka.

__ADS_1


Azkia langsung berdiri diantara kedua pria tampan namun menyebalkan itu. Dan detik berikutnya kedua tangan Azkia telah melingkar di leher kedua pria itu.


"Lo berdua ke sekolah sebenarnya untuk apa, sih ? Kalau cuma mau tebar pesona mending nggak usah datang ke sekolah. Ke lampu merah aja sana !" Azkia kembali mendumel layaknya seorang emak-emak yang sedang memarahi anaknya yang bandel.


Seisi kelas kembali menjadikan Azkia sebagai pusat perhatian. Apalagi sekarang gadis itu tengah menjewer telinga Gibran dan Hendry. Tidak main-main, Azkia benar-benar menjewer keduanya kuat. Membuat Gibran dan Hendry harus merintih kesakitan. Dan gadis bar-bar itu baru melepaskan telinga keduanya setelah memastikan kedua pria itu berjanji akan mengerjakan tugas mereka.


Kali ini Azkia duduk diantara Gibran dan Hendry. Ia meminta Gibran untuk duduk di kursinya sementara ia duduk di kursi Gibran. Setelah meminjamkan buku tulisnya kepada Gibran dan Hendry, Azkia mulai mengajari mereka bagaimana cara menyelesaikan soal Matematika itu.


Dengan seksama keduanya memperhatikan Azkia yang menjelaskan satu-persatu soal itu. Sesekali Gibran dan Hendry mengangguk paham kemudian mulai menuliskan jawaban atas soal-soal itu. Bel tanda masuk berdering keras tepat setelah Gibran dan Hendry menyelesaikan PR yang malah menjadi pekerjaan sekolah itu.


"Hari ini gue pinjamin buku tulis, besok lo berdua harus bawa alat tulis sendiri ! Kalau nggak, bukan telinga lo lagi yang gue jewer tapi ginjal lo berdua sekalian !" Hendry memasang wajah ngeri mendengar ocehan Azkia.


"Gue tau lo berdua mungkin beruntung karena lahir dengan sendok emas di mulut kalian, tapi itu nggak boleh menjadikan kalian malas belajar ! Itu bukan milik kalian tapi milik orang tua kalian. Harusnya kalian malu karena bisa memakai barang-barang mahal tanpa harus melakukan apapun. Sesuatu menjadi berharga itu ketika lo mendapatkannya dari hasil kerja keras lo sendiri. Sesuatu menjadi sangat bermakna bukan karena nilainya tapi karena lo mendapatkannya dengan kedua tangan lo sendiri" Azkia menjedah.


"Mungkin selama ini orang-orang menatap kalian dengan tatapan kagum. Tapi tidak menutup kemungkinan satu dari ribuan orang itu malah menatap kalian dengan tatapan remeh. Karena tidak semua orang memandang hanya dari materi. Yang harus elit bukan cuma barang-barang yang kalian pake saja, tapi yang terpenting adalah otak yang harus elit. Untuk apa memakai barang harga ratusan juta kalau menjawab satu soal saja tidak mampu ? Bukankah itu sangat memalukan ?" lanjut Azkia tanpa menoleh pada Gibran maupun Hendry.


"Dan gue yakin satu dari ribuan orang itu adalah lo, Kia !" gumam Gibran yang kini bertopang dagu menggunakan tangan kanannya dan menatap gadis itu tanpa menoleh ke arah lain.


Hendry sampai tertegun mendengar penuturan panjang Azkia. Entah mengapa hari ini ia malah mendengarkan dumelan gadis bermulut cabe namun ternyata sangat care itu. Padahal selama ini Hendry lebih memilih mengabaikan saat Azkia mengajaknya berbicara.


Hendry merasa tertampar begitu keras mendengar kata-kata Azkia. Diam-diam Hendry membenarkan apa yang Azkia katakan. Karena yang gadis itu katakan memang benar adanya.


Selama ini orang-orang memang selalu memandang mereka dengan tatapan takjub. Tidak ada satupun dari mereka yang memberi komentar atas tingkah mereka yang acuh tak acuh terhadap sekolah. Itu karena orang-orang itu memang tidak pernah peduli kepada mereka.


Dan hari ini, Hendry dipertemukan dengan satu dari ribuan orang yang malah menatapnya remeh !


🍁


Hari ini Azkia juga bergabung bersama geng Thunder di kantin lantai dasar untuk makan siang. Dan seperti biasa Arta dan Fikri lebih memilih makan siang di kantin lantai tiga. Sejak pindah ke SMA Nusantara baru beberapa kali saja Azkia makan siang bersama Arta. Itu karena selera makan Azkia lebih bagus saat di ruang terbuka.


"Asik ! Hari ini Azkia gabung sama kita lagi !" seru Saldi saat melihat Azkia datang bersama Gibran dan Hendry.


"Mau pesan kayak biasa atau ada yang beda, nih ?" tanya Vero yang sudah siap dengan kertas dan pulpennya.


"Gue kayak biasa !" kata Hendry.


"Gue juga !" jawab yang lain kompak.


"Gue pesan bakso !" timpal Gibran. Hari ini pria itu ternyata memesan menu yang berbeda karena biasanya ia selalu memesan ayam lalapan.


"Aku juga kayak biasa, Ice chocolate !" Azkia ikut memesan.


Vero beranjak membawa kertas berisi pesanan mereka ke ibu kantin sebelum kembali lagi ke tempat duduknya semula. Tidak butuh waktu lama hingga pesanan mereka datang.


"Lo setiap hari emang bawa bekal ke sekolah, yaa ? Kayaknya gue belum pernah ngeliat lo nggak bawa bekal sehari pun !" tanya Gibran saat Azkia mengeluarkan kotak bekal dan botol air minumnya dari dalam ranselnya.


"Iya, setiap hari gue memang selalu bawa bekal dari rumah. Itu sudah sejak gue masih SMP kelas satu. Semua karena mamah parno gue pernah makan di luar dan keracunan makanan. Padahal waktu itu gue sebenarnya nggak apa-apa. Tapi yaa, namanya juga orang tua. Terkadang mereka memiliki pemikiran yang nggak bisa kita pahami. Beruntung masakan mamah enak, jadi gue nggak pernah bosen meski setiap hari bawa bekal dari rumah !" jelas Azkia panjang lebar.


Semua yang tanpa sadar ingin mengetahui alasan mengapa Azkia selalu membawa bekal pun langsung mengangguk mengerti. Selama ini mereka memang selalu melihat Azkia membawa bekal. Di kantin gadis itu biasanya hanya memesan ice chocolate atau cemilan saja.


"Enak yaa jadi lo, bisa makan masakan mamah setiap hari. Gue jadi iri. Sudah lama bangat gue nggak pernah lagi makan masakan mamah gue !" ekspresi wajah mereka langsung berubah mendengar penuturan Gibran. Hanya Azkia yang masih tetap terlihat santai karena tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Iya sih, masakan mamah emang masakan paling enak di dunia. Nggak ada duanya deh pokoknya ! Jadi anak orang kaya emang rada susah yaa kalau mau makan masakan mamah. Biasanya mereka sibuk jadi nggak sempat masak. Iya nggak, sih ?" kata Azkia enteng. Masih belum menyadari perubahan suasana di sana yang kini tampak suram.


"Mungkin yang lo bilang itu memang benar. Hanya saja gue nggak bisa makan masakan mamah gue bukan karena dia sibuk, tapi karena mamah emang udah nggak ada di dunia ini !" Gibran mengakhiri kalimatnya. Ia mengaduk-aduk baksonya tanpa berniat memakannya. Selera makannya tiba-tiba lenyap.


Azkia yang baru menyadari perubahan ekspresi wajah mereka pun menatap mereka satu-persatu yang juga kini tengah menatapnya. Wajah Azkia masih terlihat biasa saja meski Gibran baru saja mengatakan fakta mengejutkan bahwa ibunya telah tiada.


"Innalillahi wa innalillahi rojiun. Semua yang bernyawa memang pasti akan merasakan mati. Bukan cuma mamah lo, tapi kelak kita juga akan merasakannya !" ucap Azkia dengan nada bicara seperti biasa.


Azkia menatap Gibran dengan kedua alis yang sengaja dinaikkan. Kemudian kembali menatap anggota geng Thunder satu-persatu. Dari tatapan mereka Azkia bisa menyimpulkan bahwa selama ini Gibran sensitif jika membahas tentang ibunya. Azkia kembali menatap Gibran yang juga menatapnya sendu.

__ADS_1


"Kenapa ? Lo berharap gue akan bilang 'Ohh maaf, aku nggak tahu ! Kamu yang sabar, yaa !' ? Nggak ! Gue nggak akan bilang kayak gitu. Gue nggak mau ngasihanin lo dengan mengatakan hal semacam itu. Orang yang sedang terpuruk bukannya harus dikasihani tapi harus disemangatin. Bantu dia kalau memang ada yang bisa lo lakukan untuk dia. Gue tau berada di posisi lo pasti berat. Kehilangan orang yang kita cintai memang sakit. Tapi bukan berarti lo harus terpuruk selamanya. Dan gue yakin, andai orang yang sudah meninggal bisa berbicara maka mamah lo juga pasti akan mengatakan hal yang sama. Di sana mungkin dia malah sedih melihat lo di dunia ini masih berkubang dalam kesedihan karena kepergian dia. Seharusnya lo lebih bersemangat dan gunain waktu lo untuk menjaga mereka yang lo cintai sebelum waktu kembali memisahkan lo dari orang-orang yang lo cintai itu !" tutur Azkia serius.


Semua menatap Azkia dengan tatapan takjub sekaligus tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa kata-kata sebijak itu keluar dari mulut gadis mungil seperti Azkia ? Mereka juga menatap Gibran yang terlihat tertegun mendengar penjelasan panjang Azkia. Senyum mereka terukir melihat Gibran yang juga tengah tersenyum. Wajahnya yang tadi suram kini kembali bersemangat.


Dengan gemes Gibran mengacak-acak rambut Azkia yang dihiasi tali pita. Dan senyumnya semakin lebar saat mendengar Azkia yang beberapa detik yang lalu mengucapkan kata-kata paling bijaksana yang pernah ia dengar kini mendadak mendumel padanya.


"Yaak ! Singkirin tangan lo, kambing !" bukannya berhenti, Gibran malah semakin gencar mengacak rambut Azkia dengan kedua tangannya.


"Thanks, Kia !" ucap Gibran dengan senyum manisnya.


"Emang sialan lo, yaa ! Lo berterima kasih sambil bikin gue kesal ! Gibran emang beda dari yang lain ! Ck !" kesal Azkia.


Namun ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena Gibran sudah kembali bersemangat. Hal pertama yang Azkia lihat dari seorang Gibran adalah senyum lebar pria itu. Meski orang mengatakan hal yang sebaliknya tapi setidaknya itulah first impression Azkia terhadap Gibran.


Dan Azkia jelas tidak suka melihat wajah suram pria itu. Mungkin karena wajah tersenyum Gibran adalah yang pertama kali ia liat disaat pertama kali bertemu dengannya membuat Azkia merasa aneh saat melihat pria itu tampak murung. Rasanya, wajah tampan Gibran lebih cocok dihiasi senyuman dibandingkan hanya datar.


"Katanya lo kangen masakan mamah lo. Nih, lo boleh makan bekal gue kalau lo mau ! Yah, emang bukan masakan mamah lo sih tapi gue harap setidaknya ini bisa sedikit mengobati rasa rindu lo !" Gibran menghentikan tangannya di udara yang baru saja akan menyuapkan bakso ke mulutnya.


"Boleh ?" tanya Gibran dengan tatapan berbinar.


"Tentu saja !" jawab Azkia dengan senyum cerahnya.


"Trus lo makan apa ?" tanya Gibran.


"Yaa kita tukeran, lah ! Lo makan bekal gue, gue makan bakso lo. Sudah lama juga nggak bebas makan sambel ! Emak gue kalau ngawasin gue makan sambel udah kayak pak Bahar ngawasin ujian, tau nggak !"


"Hoho ! Azkia mulai nakal, nih !" timpal Herry.


"Sekali-kali nakal nggak apa-apa, kan ?" Azkia menaik-turunkan alisnya jail.


"Ajaran sesat itu mah !" cetus Gibran.


"Lo kali yang bawa gue ke jalan sesat !" dumel Azkia.


Semua menikmati makan siang masing-masing dengan diselingi canda tawa. Azkia tidak henti-hentinya tertawa mendengar candaan geng Thunder yang ternyata sangat humoris. Sangat berbeda jauh dari apa yang orang lain katakan.


"Ohh yaa, katanya tadi lo berdua kena semprot Azkia di kelas gegara nggak ngerjain PR ?" tanya Diki ditengah-tengah makan mereka.


"Gile ! Gue selalu takjub melihat kecepatan penyebaran gosip di sekolah ini. Lama-lama bisa ngalahin kecepatan cahaya. Ck ck ck !" Azkia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir.


"Kalian semua juga jangan sampai kayak Gibran dan Hendry yang ke sekolah udah nggak ngerjain tugas, nggak bawa alat tulis pula ! Jangan bikin gue malu ! Setidaknya gue ada faedahnya untuk kalian. Kalau ada yang mau kalian tanyain soal pelajaran, tanya aja ke gue ! Yah, gue tau gue emang nggak secerdas kakek Albert Einstein tapi gue akan bantu sebisa gue. Gue nggak suka kalau ada yang bilang geng Thunder cuma berisi orang-orang bandel yang malas belajar. Karena gue tau geng Thunder nggak seburuk yang orang-orang katakan !" lagi-lagi semua dibuat tertegun mendengar kata-kata bijak Azkia.


"Gile ! Beruntung bangat gue bisa kenal sama orang sebijak lo. Kayaknya mulai hari ini gue harus manggil lo Azkia Teguh, deh !" puji Zidan.


Seperti biasa, gosip tersebar ke seluruh penjuru sekolah dengan begitu cepat. Rasanya, dulu di sekolah lama Azkia tidak sampai segitunya. Paling cepat gosipnya baru tersebar sehari setelah kejadian. Berbeda dengan SMA Nusantara yang langsung tersebar sedetik setelah kejadian itu terjadi.


"Lo baru tau aja kalo kecepatan penyebaran gosip di sekolah ini bisa mencapai 500 MBps !" canda Vero.


"Kecepatan internet gue kalah jauh, dong !"


"Lambe Turah sama Lambenyinyir mah kalah jauh !"


Hendry ikut tersenyum mendengar candaan teman-temannya. Namun kedua maniknya tidak pernah beranjak dari Azkia dan Gibran. Ia terus memperhatikan Gibran yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Azkia. Pria itu benar-benar telah jatuh pada gadis itu.


Jujur saja Hendry senang melihat Gibran akhirnya baik-baik saja saat seseorang membahas tentang ibunya yang telah berpulang. Hendry tahu jelas bagaimana hancurnya sahabatnya itu ketika ibunya meninggal. Dan sampai sebelum beberepata menit yang lalu, Gibran selalu murung setiap kali ada yang membahas masalah ibu di dekatnya.


Hendry senang karena Azkia bisa membuat Gibran bangkit dari satu keterpurukannya. Namun lagi-lagi di saat yang sama rasa khawatirnya pun semakin besar. Khawatir jika kedekatan Gibran dengan Azkia malah akan menjadi bumerang untuk Gibran sendiri.


Semoga kalian suka !😉😙🤗


Jangan lupa vote, like dan komen yaa !!!😉😗🌟

__ADS_1


__ADS_2