AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 18. Luka Masa Lalu


__ADS_3

Happy Reading !😉😙


"Semua karena salahku. Sejak awal, kehadiranku memang seharusnya tidak pernah ada ! Dengan begitu, semua akan baik-baik saja !"


~Azkia Aqilla Candra~


***


Sepasang mata sembab itu tampak menatap wajah penuh bekas membiru seorang pria yang kini sedang terlelap dalam tidurnya. Wajahnya yang putih membuat bekas itu terlihat semakin jelas. Perasaan bersalah sudah bergemuruh di dalam dada Azkia sejak pertama kali melihat video yang tidak sengaja Bastian kirim ke grup Study Group mereka.


Meski tidak ada satu pun yang menyalahkannya, tapi tetap saja Azkia merasa semua karena dirinya. Semua karena kesalahannya yang hadir di tengah-tengah mereka. Ahh, jika ia tahu akan jadi seperti itu ia tidak akan memilih pindah ke SMA Nusantara. Persetan dengan keinginannya untuk bisa terus berada di dekat pria yang ia cintai.


Rasanya sakit melihat orang terluka karenamu. Rasanya begitu menyesakkan hingga untuk sekedar manarik dan menghembuskan napas saja rasanya begitu sulit. Azkia tidak ingin kembali merasakan perasaan bersalah yang harus membuatnya tersiksa setiap saat.


Azkia mungkin tidak akan bisa bertahan lagi jika itu sampai terjadi. Ia bahkan belum bisa mengatasi perasaan bersalahnya di masa lalu. Ia bahkan belum bisa memaafkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi di masa lalunya. Ia bahkan belum bisa mengobati penyesalan yang datang dari masa lalunya.


Rasanya terlalu berat. Melihat seseorang terluka karena dirimu dan tidak ada yang bisa kamu lakukan selain menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang telah terjadi. Kemudian menjalani hari-hari panjang yang pengap oleh rasa penyesalan. Yang bahkan tidak akan pernah berkurang sedikit pun terseret waktu.


Rasanya akan tetap sama. Pengap dan menyesakkan dada. Rasanya benar-benar menyiksa setiap detiknya.


Azkia keluar dan menutup pintu itu dengan sangat pelan. Takut membuat Bimo terbangun jika ia sampai membuat suara. Terdengar hembusan napas berat darinya. Seakan mencoba menguatkan dirinya sendiri sebelum melangkahkan kakinya menuju lantai dua dimana Gibran berada.


Lagi-lagi Azkia menghembus napas berat sebelum akhirnya memberanikan diri untuk memutar gagang pintu kamar di depannya itu kemudian mendorongnya pelan. Azkia masuk sebelum kembali menutup pintu itu dengan hati-hati.


Langkah kaki Azkia yang terasa begitu berat berjalan mendekati Gibran yang kini berbaring di atas kasur dengan kedua mata terpejam. Hembusan napas beraturan pria itu membuat Azkia berpikir bahwa Gibran sedang terlelap.


Azkia duduk di pinggir kasur sambil menatap wajah Gibran yang tidak jauh berbeda dengan Bimo. Hanya saja, keadaan Gibran jauh lebih baik daripada Bimo. Hanya ujung bibir Gibran yang terlihat pecah dan masih menyisahkan bekas darah yang mengering di sana.


Cukup lama Azkia hanya duduk dalam diam sambil menatap Gibran. Perasaan bersalah kembali menyelimuti sanubarinya. Menjepit dadanya menyisahkan perasaan sesak di sana. Azkia bahkan harus susah payah hanya untuk sekedar menarik dan menghembuskan napasnya.


"Maaf !" hanya kata itu yang akhirnya bisa keluar dari bibir Azkia.


Setelah mengatakan satu kata itu, Azkia langsung membekap mulutnya sendiri. Menahan isakannya agar tidak keluar hingga mengusik tidur Gibran. Sesekali ia memukul-mukul dadanya yang terasa semakin sesak hingga membuatnya kesulitan untuk bernapas.


Azkia meninggalkan kamar itu setelah merasakan sesak di dadanya terasa semakin menyiksa. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Gibran. Cukup dia yang tersiksa oleh perasaan bersalah yang akan terus mengikutinya seperti hantu. Cukup Azkia saja yang menderita karena sebuah penyesalan. Ia tidak ingin Gibran atau pun Bimo merasakan hal yang sama.


"Bodoh ! Kenapa lo yang minta maaf ? Harusnya gue yang minta maaf sama lo !" ucap Gibran sepeninggalan Azkia.


Sebenarnya sejak tadi Gibran memang tidak pernah tidur. Ia hanya sedang berpura-pura tertidur saat mengetahui Azkia akan datang ke kamar itu.


🍁


Jam masih menunjukkan pukul lima pagi kurang lima belas menit saat Azkia menuruni anak tangga. Jika biasanya ia akan tidur kembali setelah sholat Subuh, maka berbeda dengan hari ini. Ia bahkan sudah mandi dan mengganti bajunya sebelum keluar dari singgasananya. Penampilannya sudah rapi dengan topi hitam polos andalannya yang kini bertengger manis di atas kepalanya. Rambut panjangnya sengaja diikat satu.


Candra, Siska dan Fajar yang melihat pemandangan langkah itu kompak menatap Azkia heran. Ketiganya semakin dibuat takjub saat mengingat hari itu adalah akhir pekan. Normalnya, malamnya gadis pecicilan itu pasti akan maraton drakor dan baru tidur setelah sholat Subuh.


Normalnya, seharusnya seperti itu. Tapi, sepertinya hari ini gadis itu sedang tidak normal.


"Apa hari ini matahari terbit dari arah Barat ?" tanya Candra masih dengan wajah terkejutnya.


"Sepertinya kemarin dia salah makan !" timpal Fajar tak kalah terkejut.


"Jangan-jangan itu bukan Azkia anakku ! Atau apa mungkin ia terjatuh dan kepalanya terbentur saat berada di kamar mandi ? Atau jangan-jangan dia kesambet lagi !" Siska memasangan wajah khawatirnya.


"Kak antar aku ke rumah yang kemarin, dong !" kata Azkia yang malah semakin membuat Candra, Siska dan Fajar terkejut.

__ADS_1


"Sepagi ini ? Sepertinya kamu masih setengah sadar, dek ! Kumpulin nyamamu dulu, gih !" kata Fajar tidak habis pikir.


"Betul ! Sepertinya kamu masih mengigau, nak. Sana, balik ke kamarmu lagi aja ! Nggak apa-apa deh kamu bangunnya siang. Tidur ampe besok pagi lagi juga nggak apa-apa. Melihat kamu kayak gini malah membuat mamah takut. Apa selama ini kita terlalu keras yaa sama Azkia ? Kok dia jadi nggak waras gini ?" kata Siska yang sukses membuat Azkia merasa dongkol.


Mamahnya memang ratunya ibu-ibu ajaib. Bagaimana mungkin ia menyebut anaknya sendiri tidak waras ? Ohh, dan jangan lupakan anggukan setuju dari papah dan kakaknya !


Hey, people !


Azkia 100% masih waras. Mereka saja yang berlebihan menanggapi perubahannya hari ini. Fix ! Keluarga Azkia dipenuhi oleh orang-orang ajaib. Tentu saja dia juga termasuk ke dalam kategori orang ajaib itu.


"Ihh, mamah apaan sih ? Weekend bangun telat, salah. Bangun cepat juga salah. Maunya apa, sih ?" dumel Azkia dengan bibir yang dimanyungkan.


"Ini terlalu ajaib, nak ! Kalau kamu waras pasti kamu nggak akan seperti ini. Jadi, itu berarti kamu sudah tidak waras ! Ahh, papah sangat menyesal sudah terlalu keras padamu selama ini. Maafin papah yaa, sayang !" kata Candra dramatis.


Azkia menatap ketiga orang itu dengan tatapan cengo. Kurang ajaib apa lagi keluarga itu ?


"Ihh, kalian nyebelin ! Yasudah, kalau kakak nggak mau antar. Aku suruh Arta saja ! Bye !" Azkia menghentakkan kakinya sebelum berlalu keluar dari rumah yang pintunya memang sudah terbuka lebar.


Hanya butuh beberapa langkah saja untuk Azkia sampai di rumah Arta. Ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan salam lebih dulu. Anak tidak ada akhlak memang !


"Arta, Bunda ?" panggil Azkia dengan suara keras.


Calon penghuni hutan memang !


"Apa sih pagi-pagi udah rusuh di rumah orang ? Dan bisa nggak sih kamu nggak usah teriak-teriak kayak orang utan gitu ?" dumel Arta yang baru saja muncul dari arah dapur.


Dari penampilannya, Azkia bisa menebak Arta baru saja pulang dari rumah Fikri. Arta memang biasanya selalu pulang pagi-pagi sekali setiap kali menginap di rumah temannya. Itu karena ia tidak ingin Caca mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Pria itu akan selalu membantu Bundanya mengurus rumah dan juga memasak.


Azkia hanya cengengesan tanpa rasa bersalah. Namun kemudian ia tersenyum manis pada wanita cantik yang berjalan di belakang Arta.


"Pagi, Bunda !" sapa Azkia sopan.


Tingkahnya memang terlampau ajaib hari ini. Tidak heran jika seisi kompleks akan terkejut melihatnya. Dan tentu saja kakak, mamah, papah, Bunda Caca dan Arta-lah yang dibuat paling takjub.


"Azkia mau ke rumah teman, Bun. Makanya nggak tidur lagi pas sudah sholat. Azkia ke sini mau pinjam Artanya sebentar. Boleh ?"


"Pinjam, kamu pikir aku barang !" komplain Arta dengan wajah datar.


Azkia hanya tersenyum tanpa dosa sambil melingkarkan kedua tangannya di lengan kiri Arta. Wajah Arta memang datar dan nada bicaranya juga sedikit ketus. Tapi Azkia sudah paham betul bagaimana pria itu. Mungkin ia terlihat tidak peduli dari luar, namun kenyataannya dia adalah orang yang paling care pada Azkia setelah keluarganya.


"Mau kemana ?" tanya Arta setelah mereka berada di atas motor besar milik Arta.


"Markas geng Thunder !" jawab Azkia santai.


"Sepagi ini ke markas mereka mau ngapain ? Akhir-akhir ini kamu juga lebih banyak menghabiskan waktu bersama mereka. Jangan terlalu memaksakan diri, Azkia !" kata Arta tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Azkia tidak menjawab. Ia hanya menghembuskan napas berat untuk menanggapi Arta.


"Sebenarnya ada apa ? Apa sesuatu terjadi di sana ? Ini ada kaitannya dengan Gibran dan Bimo, kan ?" tebak Arta tepat sasaran.


Ahh, pria itu memang selalu bisa memahami Azkia. Ia selalu bisa mengerti perasaan Azkia bahkan sebelum Azkia menjelaskannya. Arta...selalu bisa memahami perasaan Azkia.


Lagi-lagi terdegar helaan napas berat dari Azkia. Membuat Arta ikut melakukan hal yang sama. Arta paham betul bagaimana perasaan gadis itu. Gadis yang selalu tampak ceria itu nyatanya tidaklah seceria casing-nya. Image tegarnya hanyalah sebuah topeng. Sementara kenyataannya ada banyak luka mengangah yang tertutupi oleh topeng itu. Luka besar yang hanya akan terlihat setelah membuka topeng yang gadis itu kenakan.


"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri atas kesalahan yang tidak pernah kamu lakukan ! Please, stop hurt yourself, Azkia !" kata Arta berubah serius.

__ADS_1


Ada nada penegasan dalam kalimat itu. Dan Azkia sangat paham apa yang dimaksud Arta. Kalimat itu bukan hanya untuk masalah Azkia yang sekarang. Tapi juga untuk penyesalan masa lalu yang masih setia mengekori Azkia kemana pun ia melangkah. Layaknya bayangan yang akan selalu mengikutinya, tak peduli itu siang atau pun malam.


"Semua karena salahku. Sejak awal, kehadiranku memang seharusnya tidak pernah ada ! Dengan begitu, semua akan baik-baik saja !"


Azkia mungkin terdengar santai saat mengucapkan kata-kata itu, tapi tidak dengan Arta. Ia harus mengendalikan dirinya agar tidak mengucapkan kata-kata yang malah akan semakin menghancurkan hati gadis rapuh itu.


Tidak, lagi !


Sudah cukup luka yang dulu pernah ia torehkan di dalam hati Azkia. Sudah cukup ia membuat hidup gadis itu menderita. Sudah cukup ia membuat Azkia harus terus dihantui penyesalan atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat.


Sudah, cukup !


Karena di masa depan, Arta akan kembali menorehkan luka yang berkali-kali lebih besar lagi dari apa yang pernah ia torehkan di masa lalu. Karena di masa mendatang, ia akan kembali menciptakan luka mengangah yang jauh lebih menyakitkan lagi di hati gadis itu.


Arta...akan kembali menghancurkan hati Azkia tak lama lagi. Hanya menunggu waktu saja hingga bom itu meledak dan menghancurkan Azkia begitu hebat. Lagi !


Brengsek, memang !


Tapi semua sudah terlanjur terjadi. Sudah sangat terlambat untuk kembali. Dan Arta tidak mempunyai pilihan lain selain melanjutkannya. Berpura-pura di depan Azkia seakan semua baik-baik saja. Yang pada akhirnya tetap saja akan menciptakan luka yang cukup menyakitkan di relung hati Azkia.


"Azkia, cukup ! Kamu tidak pernah salah ! Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri !" kata Arta lagi. Ia mencoba untuk mengatakannya dengan setenang mungkin.


Tak ada jawaban. Gadis itu memilih untuk bungkam.


Ahh, sudah Arta duga. Pasti ada yang tidak beres dengan Gibran kemarin. Jika semua baik-baik saja, pria itu tidak akan pernah mungkin membiarkan Diki atau pun yang lain yang menjemput Azkia. Dan ternyata tebakannya memang benar.


⊙︿⊙


Tidak butuh waktu lama untuk mereka bisa sampai di markas geng Thunder. Jaraknya memang hanya sekitar tiga kilometer dari rumah mereka. Karena itu, mereka bisa sampai hanya dalam beberapa menit saja. Apalagi jalanan pagi yang masih lengah membuat Arta berkendara dengan leluasa.


Hero langsung keluar saat mendengar sebuah motor berhenti di depan markas mereka. Pria itu tampak tersenyum melihat ternyata Azkia-lah yang baru saja datang. Azkia melambaikan tangannya di udara sambil tersenyum lebar membalas senyuman Hero.


"Pagi, Bang Jerapah !" sapaan ajaib itu tentu saja membuat Arta langsung menelan ludahnya dengan susah payah.


Demi tujuh bidadari yang turun ke bumi, orang yang baru saja Azkia panggil dengan sebutan jerapah itu adalah seorang pria bertubuh tinggi atletis dan kekar serta bertato juga bertindik. Melihatnya saja sudah membuat Arta bergidik ngeri.


Bagaimana bisa Azkia dengan santainya memanggil pria itu dengan sebutan jerapah ? Ohh, sepertinya Azkia sudah bosan hidup. Dan sepertinya hari ini Azkia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.


"Pagi, Queen !" balas pria itu masih dengan senyum lebarnya.


Hero melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Berniat mengecek jam di sana. Sepertinya seluruh jam di rumah Azkia rusak hingga gadis itu datang ke sana sepagi buta itu.


"Pagi benar lo datangnya !" kata Hero. Tak lupa untuk mempersilahkan Azkia dan Arta masuk.


Mentari pagi bahkan masih malu-malu menampakkan wajahnya di Ufuk Timur, tapi gadis itu malah sudah datang ke sana tanpa malu. Benar-benar gadis ajaib !


"Gibran dan Bimo masih di kamar mereka yang kemarin ! Dan tadi mereka langsung kembali lagi ke kamar masing-masing setelah sholat Subuh berjamaah !" jelas Hero bahkan sebelum Azkia bertanya.


Azkia mengangguk mengerti.


"Gue pinjam dapurnya yaa, Bang !" kata Azkia yang langsung berjalan ke arah dapur. Arta hanya mengekori kemana gadis itu melangkah.


"Okay ! Anggap rumah sendiri, Queen !" jawab Hero sedikit berteriak karena masih berada di ruang tamu.


Semoga kalian suka !😉😙

__ADS_1


Support author dengan vote, like dan comment, yaa !😉😙


Saran dan masukan dari kalian juga author nantikan ! See you next part !🤗😄


__ADS_2