
Happy Reading !😉😙
"Cinta memang selalu menjadi parasit dalam sebuah persahabatan."
~Muhammad Gibran Hutama~
***
Arta melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya untuk yang kesekian kalinya. Sesekali ia mengusap peluh yang mulai membasahi wajah tampan perpaduan Asia dan Timur Tengah-nya itu.
Kalau tahu akan selama itu, tadi Arta akan lebih memilih untuk menunggu di dalam saja.
“Azkia ! Lama bangat sih, kita sudah hampir telat nih !” teriaknya. Tapi orang yang ia panggil belum juga menampakkan batang hidungnya.
Bughh...
Arta meringis melihat gadis bertubuh mungil itu terjatuh tepat di hadapannya. Ia sudah ingin mengomeli gadis itu karena sudah membuatnya karatan menunggu, namun ia mengurunkan niatnya karena kasihan melihat gadis itu sepertinya kesakitan.
Bagaimana tidak, kedua lututnya baru saja menghantam kerasnya aspal jalanan di depan rumahnya.
“Yaa ampun, Azkia ! Kapan sih kamu tidak ceroboh ?” tanpa diminta Arta pun membantu Azkia berdiri.
Arta mengerang tertahan melihat gadis itu bahkan belum memakai sepatunya. Ini sudah jam tujuh pagi dan sebentar lagi upacara bendera akan dimulai. Dan ia terancam terlambat hanya karena gadis lemot bin ceroboh itu.
Cepat-cepat Arta merogok saku jaketnya dan mengeluarkan dua plaster dari sana. Ia manutupi luka di kedua lutut Azkia dengan plaster itu. Benda yang haram hukumnya jauh-jauh dari gadis cerobah seperti gadis bertubuh mungil itu.
Arta kembali berjongkok di depan Azkia kemudian membantu gadia itu memakai sepatunya. Tak lupa memakaikan kaos kaki berwarna putihnya lebih dulu.
“Naik !” pintah Arta. Dia menunjuk jok motornya dengan dagunya meminta Azkia untuk segera naik.
Azkia menurut dan langsung menaiki jok motor besar milik Arta. Tentu saja Arta juga harus membantu gadis itu naik. Tubuhnya yang super mungil itu jelas akan kesusahan menaiki motor Arta yang lumayan tinggi.
"Ehh, Arta tungu dulu ! Bekalku ketinggalan !" dengan cepat Arta kembali menghentikan motornya yang baru saja beranjak sekitar 2 meter dari posisi awalnya.
"Innalillahi ! Azkia..." seru Arta semakin frustasi.
"Maaf, lupa !" ucap Azkia penuh penyesalan.
Tapi percayalah, gadis itu sama sekali tidak benar-benar merasa bersalah ! Lihat saja wajah menyebalkannya yang minta di tampol itu ! Bukannya memasang wajah bersalah dia malah cengar-cengir seperti orang bodoh.
"Kak Fajar ! Bekal Azkia ketinggalan ! Ad..." suara seseorang langsung menginterupsi membuat Azkia menghentikan teriakannya.
"Berisik ! Maaf yaa Arta jadi ngerepotin kamu ! Sudah kakak duga sih akan jadi kayak gini" tuturnya.
"Nggak apa-apa kok, kak ! Sudah khatam aku sama semua tingkah ajaib Azkia. Kalau gitu, kita berangkat dulu yaa kak ! Assalamualaikum !" pamit Arta sopan.
"Bye bye kakak Fajarnya Azkia yang ganteng tapi tetap masih lebih ganteng DO oppa-ku ! Sabar yaa, kak ! Azkia tetap sayang, kok !" cerocos Azkia.
Fajar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kepergian adiknya dan Arta. Fajar jadi khawatir dengan ketenteraman hidup Arta di sekolah mulai hari ini. Adiknya itu memang mungil tapi memiliki sejuta tingkah ajaib. Sepuluh babysitter sekali pun tidak akan mampu menghadapi sebutir Azkia.
Dan entah mengapa Azkia hanya jinak jika itu adalah Arta. Azkia terus saja menempeli Arta seperti lintah. Memoroti uang dan apapun yang Arta punya. Dia seperti parasit yang menumpang hidup di inangnya.
Tingkah ajaib Azkia benar-benar membuat kedua orang tua dan juga kakaknya khawatir dengan kedamaian hidup Arta kedepannya. Tentu saja mereka lebih mencemaskan Arta daripada gadis itu sendiri. Karena Azkia adalah parasit dan Artha adalah inangnya.
Muhammad Fajar Candra adalah kakak laki-laki Azkia. Umurnya lebih tua 5 tahun dari Azkia. Pria tampan yang 100% ia warisi dari ayahnya itu sekarang sibuk melanjutkan study S2-nya sekaligus membantu ayahnya di kantor.
Dia adalah sosok seorang kakak yang bisa diandalkan, penyayang, pengertian, dan selalu rela mengalah demi adik kecilnya. Apapun akan Fajar lakukan demi membuat Azkia senang. Dia adalah seorang golden brother untuk Azkia.
Azkia yang memiliki sifat busuk seperti Medusa tentu saja selalu memanfaatkan kebaikan hati kakak laki-lakinya itu. Menjadikan Fajar berada di posisi pertama sebagai dompet berjalannya. Siapa yang berada di posisi kedua ? Jawabannya tentu saja Arta.
Benar-benar gadis Medusa !
Beruntung, fans Arta yang jumlahnya bejibun itu tidak mengetahuinya. Kalau tidak, sudah lama riwayat hidupnya tamat tanpa ada kelanjutan ataupun extra part apalagi special part. Tentu saja ceritanya akan Sad Ending !
Hari ini adalah hari pertama Azkia pindah ke sekolah Arta. Sebenarnya, sudah sejak lama ia ingin pindah tapi kedua orang tuanya tidak mengizinkan. Itu karena mereka tidak ingin gadis itu menyusahkan Arta.
Sudah dipastikan Arta tidak akan bisa sekolah dengan tenang jika Azkia bersamanya. Gadis itu akan terus menyiksanya dengan banyak hal yang tidak akan ada habisnya.
__ADS_1
Namun pada akhirnya hari itu pun tiba. Hari dimana mereka akan berada di sekolah yang sama. Itu semua berkat kerja keras Azkia untuk bisa menjadi juara umum di sekolahnya. Dengan begitu, kedua orang tuanya akhirnya memberikan izin pindah sekolah.
Arta dan Azkia sudah bersahabat sejak kecil. Mereka adalah tetangga. Rumah Arta berada tepat di samping rumah Azkia. Desain rumah mereka bahkan sengaja dirancang sama persis.
Kedua orang tua Arta dan Azkia memang sudah bersahabat sejak masih muda dulu. Dan kedua orang tua Azkia sangat menyayangi Arta. Mereka menganggap Arta sebagai anak mereka sendiri.
Karena itu, sebisa mungkin mereka menjauhkan anak gadisnya dari Arta. Azkia si gadis ceroboh tidak akan membuat hidup Arta tenang jika berada di dekatnya. Ia akan selalu menyusahkan Arta dengan sejuta tingkah ajaibnya.
Mamah Arta adalah seorang single parent. Orang tua Arta bercerai saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Papahnya ketahuan selingkus dengan rekan kerjanya dan itu benar-benar menghantam Arta begitu kuat. Hal itu membuatnya begitu membenci laki-laki yang berstatus ayahnya itu. Sejak saat perceraian itu Arta tidak pernah lagi bertemu dengan ayahnya sampai hari ini.
🍁🍁🍁
Semua mata tertuju pada Arta yang baru saja memasuki gerbang sekolah SMA Nusantara dengan motor besarnya. Sosok pria yang begitu dikagumi karena segudang kelebihan yang ia miliki. Tampan, pintar, bersahaja, sopan, dan serentetan sifan baik lainnya.
Pria itu adalah perpaduan sempurna antara good boy dan good looking. Semua yang melekat pada pria itu akan selalu diikuti label good dibelakangnya. Benar-benar tipe pria idaman.
Para fans Arta langsung ribut melihat sang idola datang bersama seorang perempuan. Azkia meringis melihat tatapan tajam dari para fans Arta. Mereka langsung mengerumuni Arta dan menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.
Pria itu tampak cuek dan tidak memperdulikan teriakan ataupun pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan ada habisnya dari para fans-nya. Setelah memarkir motor besarnya, ia langsung menarik tangan Azkia dan melewati kerumunan begitu saja.
“Yaakk ! Tega kamu sama aku, Arta !”
“Siapa perempuan itu ? Aku belum pernah lihat”
“Dasar b*tch ! Berani dekatin Arta sama saja berani nantangin gue !”
“Apa itu pacarnya Arta ?”
“Ohho ! Cari masalah tuh cewek ! Berani lo sama kita, hah !”
“Sial ! Itu sahabatnya Arta. Aku sering nitip kado ke dia. Mereka tetanggaan !”
“Siapa dia ? Berani-beraninya dekati Arta”
“Gila ! Beruntung bangat jadi tuh cewek. Bisa dekat dan pegangan tangan sama Arta !"
“Dasar cabe sialan !”
Dan masih banyak lagi seruan dan umpatan lainnya.
Yeah ! Itulah Arta Tristan Abrisam.
Siapa yang tidak mengenalnya ? Pria tampan perpaduan Asia dan Timur Tengah yang menghasilkan wajah dengan pahatan yang luar biasa indah. Kulitnya putih bersih, hidung mancung, dan rahang tegas. Ia memiliki tatapan mata yang tajam serta lesung pipi di kedua pipinya menambah kadar ketampanannya berkali-kali lipat. Jangan lupakan tubuh tinggi tegap atletisnya. Ia memang rajin berolahraga hingga ia memiliki tubuh yang jelas mampu menggugah iman para kaum hawa yang melihatnya.
Arta sudah memiliki banyak penggemar sejak masih SMP dulu. Dan fans-nya semakin banyak setelah dia masuk SMA. Apalagi setelah dia menjadi kapten basket SMA Nusantara yang sudah berkali-kali membawa timnya menjadi pemenang dalam berbagai pertandingan antar sekolah. Mereka bahkan pernah menjadi juara pertama pertandingan basket tingkat SMA/SMK/Sederajat se-Indonesia.
Arta dikenal bukan hanya di SMA Nusantara saja. Tapi juga di sekolah-sekolah lain. Azkia selaku sahabatnya seringkali menjelma menjadi mbah comblang dadakan atau pun tiba-tiba beralih profesi menjadi kurir kado dari fans-Arta. Yang ujung-ujungnya tentu saja tidak pernah disentuh pria itu.
Coklat, bunga, buku, sepatu, jam tangan, tas, baju, topi, dan serentetan kado bermerek lainnya. Dan yang lebih gilanya lagi ada fans yang memberikan Arta boneka.
Tentu saja boneka-boneka itu berakhir terdampar di kamar Azkia yang sepertinya sebentar lagi harus dilakukan transmigrasi demi mengurangi kepadatan boneka di kamarnya. Azkia bahkan tidak ingat lagi sudah berapa banyak boneka yang menumpuk di kamarnya.
Tentu saja Azkia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia selalu dijadikan tempat penitipan kado untuk Arta tapi pria itu tidak pernah menyentuhnya. Tentu saja Azkia yang akan mengambil kado-kado itu sebelum Arta membuangnya atau menyumbangkannya ke panti asuhan.
Azkia sangat jarang membeli cemilan. Karena jika ia mau, ia hanya perlu ke rumah Arta dan ia bisa mendapatkan semua cemilan yang dia inginkan.
Kadang Azkia berpikir. Untuk apa mereka memberikan ini itu kepada Arta yang belum tentu menerimanya apalagi mambalas perasaan mereka. Buang-buang waktu, uang, dan tenaga saja. Azkia juga sering merasa kasihan pada fans Arta. Mereka rela membeli barang-barang mahal tapi ujung-ujung tidak pernah disentuh Arta.
“Kamu tunggu di sini, aku mau ikut upacara dulu ! Pak Dirga sepertinya sebentar lagi datang !” Azkia mengangguk mengiyakan. Ia menerima tas Arta karena sudah tidak sempat membawanya ke kelas.
Azkia duduk di sofa kantor menunggu pak Dirga. Arta bilang, pak Dirga yang akan mengurus siswa-siswi pindahan. Sekitar lima menit menunggu, guru yang dimaksud Arta pun datang. Pak Dirga meminta Azkia mengisi beberapa berkas sebelum guru itu kembali keluar. Sepertinya guru itu mengikuti upacara.
Azkia bangkit dari duduknya saat tak sengaja melihat lemari piala di sudut ruang kantor. Ia mendekati lemari itu dan tersenyum lebar saat mendapati hampir semua piala tertulis nama Arta di sana.
Bukan cuma piala dari bidang olahraga, tapi juga akademik. Selain hebat dalam bidang olahraga, Arta juga siswa yang cerdas. Ia sudah beberapa kali menjuarai olimpiade yang pernah diikutinya.
Senyumnya semakin lebar kala melihat satu piala yang bertuliskan ‘Juara 1 Basket Tingkat SMA/SMK/Sederajat se-Indonesia’.
__ADS_1
Itu adalah piala yang berhasil didapatkan SMA Nusantara dalam pertandingan basket tingkat SMA/SMK/Sederajag se-Indonesia tahun lalu. Saat itu, Azkia nekat pergi ke Jakarta tanpa memberitahu kedua orang tua juga kakaknya untuk menyaksikan langsung pertandingan Arta.
Dan hasil dari tindakan nekatnya itu, ia berhasil mendapatkan hukuman tidak keluar rumah selama masa liburan. Tidak tanggung-tanggung, Azkia terpaksa menghabiskan hari liburannya selama dua minggu dengan mendekam di dalam kamarnya.
Sungguh miris !
“Siswa baru ?” Azkia tersentak kaget saat seseorang tiba-tiba berbicara di belakangnya.
“Ehh sorry sorry ! Aku nggak bermaksud ngagetin kamu” Azkia berbalik dan mendapati seorang siswa berdiri di sana.
“Azkia ? Kamu akhirnya pindah ke sini rupanya. Ingat sama aku nggak ?” Azkia mengerutkan keningnya mencoba mengingat-ingat tapi hasilnya nihil.
“Maaf ! Kau mengenalku ?” tanya Azkia masih bingung. Seingatnya, ia belum pernah bertemu dengan pria itu.
“Aku Gibran ! Sahabatnya Arta pas SMP. Dulu kita pernah ketemu di rumah Arta. Ingat, nggak ? Sudah lumayan lama sih tapi mungkin saja kamu masih ingat !” Azkia menggaruk alisnya yang tidak gatal. Demi apa, Azkia sama sekali tidak ingat.
“Ahh, tidak ingat yaa ? It’s okay ! No problem !” katanya dengan dengan senyum lebar. Azkia membalas senyum pria bernama Gibran itu dengan canggung.
Apa kalian berpikir urat malu Azkia sudah berfungsi ? Jawabannya tidak ! Ia hanya sedang merasa bersalah karena sudah melupakan pria tampan itu. Dan satu-satunya alasan yang masuk akal adalah karena fokus Azkia memang hanya tertuju pada Arta.
“Yasudah, kita kenalan lagi. Aku Muhammad Gibran Hutama, panggil saja Gibran ! Salam kenal, Azkia Aqilla Candra !” Azkia membalas uluran tangan Gibran dengan senyum lebar.
Sepertinya pria itu baik.
Bughh...
Azkia langsung membekap mulutnya melihat Gibran yang terhempas menghantam lantai keramik kantor. Ia menatap Arta tidak percaya dengan apa yang baru saja pria itu lakukan. Beruntung di sana hanya ada mereka bertiga. Belum ada guru yang masuk. Azkia bahkan tidak menyadari sejak kapan Arta berada di sana.
Azkia membantu Gibran untuk berdiri. Dia sedikit terkejut melihat ujung bibir Gibrang mengeluarkan darah.
"Kamu nggak apa-apa ? Bibirmu terluka, sebaiknya kamu ke UKS !" saran Azkia.
"Aku nggak apa-apa ! Don't worry, Kia !" Gibran mencoba menyunggingkan seulas senyuman lebar untuk mendukung pernyataannya bahwa dia baik-baik saja.
Astaga !
Ada apa sih dengan mereka ?
Bukannya mereka sudah bersahabat sejak SMP ?
“Jangan pernah dekati Azkia !” peringat Arta penuh penekanan pada setiap kata-katanya.
Dan setelah mengucapkan itu Arta langsung menarik tangan Azkia keluar dari kantor meninggalkan Gibran sendirian. Azkia tidak punya pilihan lain selain mengikuti Arta.
Gibran tetap bertahan di tempatnya. Tangan kanannya terangkat untuk mengusap ujung bibirnya yang baru saja ditonjok Arta. Senyum miring tampak tercetak menghiasi wajahnya.
"Jadi lo masih tetap sama seperti dulu, Arta ? Kupikir lo sudah berubah dan sudah memberitahunya. Benar-benar menjijikkan !" gumam Gibran dan terlihat tersenyum mengejek.
Cinta memang selalu menjadi parasit dalam sebuah persahabatan. Dulu, parasit itu menghancurkan persahabatan Gibran dan Arta. Sekarang, parasit itu perlahan-lahan mulai menghancurkan persahabatan Azkia dan Arta.
Gibran menatap kepergian Azkia dan Arta. Ada perasaan bersalah saat melihat gadis itu. Gibran tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada di posisinya. Gibran tidak tahu bagaiman sakitnya berada di posisi Azkia jika kelak bom waktu itu akhirnya meledak.
“Jangan dekat-dekat dengan Gibran apalagi berteman dengan dia ! Dan jangan percaya apapun yang dia katakan ! Apapun itu !” Azkia sampai tersentak kaget mendengar teriakan Arta.
Pria itu terlihat begitu marah.
Azkia yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menatap pria itu bingung. Ia belum pernah melihat Arta semarah itu. Dan Arta belum pernah membentaknya sebelumnya. Azkia bahkan belum pernah melihat Arta semarah itu apalagi sampai memukul orang. Tapi hari ini ia melihatnya. Tepat di depan matanya.
Sebenarnya ada apa dengan Arta dan Gibran ?
Bukankah mereka sahabat sejak SMP dulu ?
Terima kasih untuk yang sudah singgah ke cerita ini !😉😍
Semoga kalian suka !
Kasih tahu kalau ada typo, yaa !😙😍🤗
__ADS_1
See you next part !😙😉