
Happy Reading!🤗
Jangan lupa vote, like, komen, dan bintang limanya!😉😙
"Cinta...Selalu saja menjadi teka-teki yang sulit untuk dipecahkan. Karena cinta selalu saja menjadi rahasia terbesar. Siapa yang tahu, kapan, dimana dan kepada siapa ia akan berlabuh?"
~Azkia Aqilla Candra~
***
Di sebuah mall besar yang hampir selalu padat pengunjung meski sang Surya masih berada tepat di atas kepala. Banyak kerumunan orang-orang dengan tujuan berbeda-beda tampak silih berganti keluar masuk. Canda tawa pun tak luput menghiasi langkah-langkah mereka. Semua terlihat bersuka cita. Meski tak sedikit juga yang berkunjung hanya seorang diri.
Beberapa siswa-sisiwi berseragam sama dengan logo SMA Nusantara yang menempel di lengan baju kanan mereka tampak berjalan beriringan memasuki mall. Semua terlihat penuh semangat. Apalagi pria-pria tampan bergelar anggota Geng Thunder yang akhirnya bisa membuktikan bahwa mereka tidak seburuk cover mereka. Mereka bisa selama mereka berusaha.
"Bagusnya aku beli apa yaa untuk Kak Fajar?" tanya Azkia pada pemilik pengan yang tengah ia rangkul erat.
"Menurutmu, sekarang Kak Fajar lagi menginginkan apa?" Bukannya memberi saran, pria itu malah menjawab pertanyaan Azkia dengan pertanyaan juga.
"Itu dia masalahnya. Aku nggak tahu Kak Fajar lagi menginginkan apa. Padahal selama ini Kak Fajar sudah banyak memberiku barang-barang yang aku inginkan."
Jika dipikir-pikir lagi, sepertinya selama ini Azkia begitu jarang membeli sesuatu untuk kakaknya. Dan hari ini ia berniat membeli hadiah untuk Fajar sebagai ucapan selamat atas wisuda kakaknya besok.
"Bagaimana kalau lo belikan jaket atau t-shirt. Jam tangan dan sepatu juga boleh," kata Gibran memberi saran.
"Ahh, sepertinya itu ide bagus." Azkia menanggapi dengan semangat.
Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam hanya untuk berbelanja. Lebih tepatnya menemani Azkia berbelanja hadiah untuk kakaknya. Tak ada yang mengeluh atau pun berhenti mengikuti kemana pun gadis itu melangkah. Dua jam bukanlah waktu yang lama untuk menemaninya mengunjungi satu toko ke toko yang lain. Meski pada akhirnya banyak toko yang hanya sekedar mereka datangi dan sama sekali tidak membeli apa-apa di sana.
Sepatu, jaket, jam tangan dan t-shirt. Pada akhirnya Azkia memutuskan untuk membeli semua barang-barang yang tadi disarankan Gibran. Pria itu yang notabenenya paham dengan barang-barang branded pun membantu Azkia dalam memilih barang-barang tersebut.
Tidak tanggung-tanggung, Azkia sampai menghabiskan uang jutaan rupiah hanya untuk membeli hadiah untuk sang kakak. Ia rela merogok koceh lebih dalam demi bisa memberi yang terbaik untuk satu-satunya saudara yang ia miliki.
Toh, selama ini Fajar bahkan sudah banyak berkorban untuknya. Uang, perhatian, kasih sayang, cinta, dan waktu. Semua Azkia dapatkan dari sang kakak yang begitu menyayanginya. Bahkan ada kalanya Azkia merasa sangat bersalah saat Fajar lebih memilih menemaninya daripada menghabiskan waktu bersama teman-temannya seperti pria kebanyakan.
"Main ice skating, yuk!" usul Diki.
Acara berbelanja mereka baru saja usai. Dan mereka belum mempunyai rencana lain setelah itu. Diki yang melihat jam masih terlalu siang untuk langsung pulang pun mengusulkan untuk bermain-main di sana sebelum pulang.
Toh, Geng Thunder masih mempunyai utang ucapan terima kasih pada Azkia. Mereka sudah sepakat untuk membelikan apapun yang gadis itu inginkan.
"Ayo ayo!" seru yang lain tak kalah semangat.
"Gue juga mau, tapi gue nggak bisa main ice skating."
"Don't worry, nanti gue yang ngajarin."
"Don't worry, nanti aku yang ajarin."
Sahut Arta dan Gibran kompak.
Semua sontak menoleh pada kedua pria yang baru saja bersuara itu. Fikri dan seluruh anggota Geng Thunder juga Putri dan Citra. Azkia yang berdiri di tengah-tengah keduanya bahkan seketika merasa tidak enak. Apalagi saat melihat tatapan kedua pria tersebut.
Hanya Hendry yang terlihat seakan tidak peduli karena sejak tadi fokusnya memang tidak berada di sana. Melainkan tengah tertuju pada sosok seorang gadis pendiam yang entah mengapa berhasil menyita seluruh perhatiannya.
Untuk beberapa detik mereka hanya saling terdiam. Tidak ada yang ingin memulai pembicaraan untuk sekedar mengusir kecanggungan yang mendadak menyelimuti mereka. Semua membisu dalam langkah yang menyisahkan suara derap langkah kaki yang bersahut-sahutan dan sepasang mata yang saling melempar pandang.
"Aku juga tidak bisa bermain ice skating," ucap Putri tiba-tiba. Berhasil mengusir sedikit canggung di sana. Meski hanya sedikit.
"Nanti gue ajarin," sahut Hendry cepat. Seakan takut ada yang menawarkan bantuan kepada gadis itu sebelum dirinya.
"Be-benarkah? Te-terima kasih kalau gitu."
"Tentu saja." Hendry terlihat sangat bersemangat.
Berhasil!
Kali ini semua fokus tertuju pada Hendry dan Putri. Terutama pada Hendry yang terlihat begitu antusias ingin mengajari Putri bermain ice skating. Dan melihat wajah Putri yang terlihat merona merah membuat Azkia yang tak sengaja mengabadikan momen itu langsung menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
Azkia bertanya-tanya dalam hati, apakah ada yang melihat pemandangan itu selain dirinya?
Ada apa ini?
Mungkin pertanyaan itu yang saat ini memenuhi kepala mereka. Namun tak satu pun dari mereka yang memilih untuk mengeluarkan kalimat tanya itu dalam bentuk suara. Hanya otak mereka yang sibuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi antara kedua insan manusia itu.
• • •
Semua telah siap dengan sepatu seluncur masing-masing. Bagkan dengan mudah anggota Geng Thunder menggerakkan kaki mereka. Membuat sepatu luncur bergerak sesuai arah yang mereka inginkan. Tanpa ragu dan takut mereka bergerak dengan lincah. Meluncur dari satu sisi sky rink ke sisi yang lain.
Sangat berbeda jauh dengan Azkia dan Putri. Kedua gadis itu bahkan kesulitan untuk sekedar menggeser sepatu luncur yang mereka kenakan. Melakukan gerakan kecil pun mereka kesusahan.
Namun dengan sabar Hendry membantu Putri sementara Gibran membantu Azkia. Pada akhirnya pria itulah yang bertanggungjawab atas Azkia. Bimo dan Fikri yang awalnya ingin ikut membantu memilih menyerah dengan niat baik mereka setelah mendapatkan tatapan membunuh dari Gibran.
"Gibran, gue takut! Ini gimana caranya, sih?"
"Pelan-pelan saja, Kia. Jangan panik, tenang!"
"Huaa... Ini susah bangat!"
"Gibran, jangan lepaskan tangan gue!"
Gibran harus berjuang keras untuk bisa mengendalikan dirinya. Azkia yang terus mendekapnya erat membuatnya hampir kehilangan akal sehatnya. Gibran bahkan kesulitan untuk sekedar menarik dan menghembuskan napas. Jantungnya pun lagi-lagi berdentum keras.
"Hey, jantung tenanglah! Jangan berisik. Jangan sampai Kia mendengar suara dentumanmu itu." Gibran merutuki jantungnya yang malah semakin menggila.
Teriakan demi teriakan terdengar dari Azkia. Tingkah hebohnya membuat yang lain tertawa melihatnya. Apalagi saat melihat kedua tangan gadis mungil itu yang melingkar kuat membingkai tubuh tegap Gibran. Membuat keduanya hanya bisa berdiri di tempat. Azkia masih terlihat begitu takut untuk mencoba.
Berkali-kali Gibran mencoba menenangkannya. Mencoba menjelaskan bagaimana cara bermain ice skating yang benar. Mengajari gadis itu untuk menggerakkan kakinya. Menuntunnya untuk berseluncur dengan perlahan.
Sesekali masih terdengar pekikan ketakutan dari Azkia. Padahal Gibran sudah menjaganya dengan sangat baik. Memastikan gadis itu tidak sampai kenapa-napa. Berbeda dengan Putri yang tetap terlihat anteng meski ia juga kesusahan. Hendry sendiri membantunya dengan baik. Melindunginya agar tidak sampai jatuh menghantam kerasnya lantai es.
Beberapa pengunjung lain tidak bisa untuk tidak memusatkan perhatian mereka pada Azkia dan Gibran. Melihat keromantisan keduanya yang membuat iri siapa pun yang melihatnya. Apalagi saat melihat Gibran yang dengan sabar mengajari Azkia. Melindungi gadis itu agar tidak sampai terjatuh. Memastikan gadisnya baik-baik saja. Mereka berpikir, keduanya adalah sepasang kekasih.
Para kaum hawa menjadi korban yang paling banyak. Melihat sikap gentle Gibran membuat mereka berangan-angan memiliki pasangan yang sama seperti pria itu. Tak sedikit pengunjung yang mengenali Gibran pun langsung berbisik-bisik kecil. Menyuarakan kecemburuan mereka melihat gadis beruntung yang berhasil memenangkan hati pewaris tunggul Kim Min Joo. Dan melihat tatapan pria itu saja sudah cukup menjelaskan seberapa besar cinta pria itu kepada Azkia.
Pada akhirnya Arta memilih untuk tidak ikut bergabung dengan yang lain yang kini tampak sangat menikmati permainan ice skating di sky rink. Di salah satu sisi di luar sky rink ia berdiri memperhatikan semuanya. Terutama gadis yang kini tampak sangat ketakutan untuk menggerakkan kedua kakinya.
Sebuah senyuman tipis tanpa sadar tercetak menghiasi wajahnya. Senyum yang tidak benar-benar berarti sebuah senyuman. Melainkan lebih terlihat seperti sebuah senyuman miris. Sosok gadis yang berdiri tepat di sampingnya bahkan bisa menangkap senyum penuh kepedihan itu.
"Padahal dulu kamu sama sekali tidak pernah mau mencobanya. Gadis pencinta dingin yang sangat membenci ice skating hanya karena aku menyukainya. Tapi lihatlah sekarang, meski kesulitan kamu bahkan terlihat begitu ingin menguasai permainan itu." Senyum kepedihan itu kembali menghiasi wajahnya.
"Mau sampai kapan kamu bersandiwara menjadi dirinya? Mau sampai kapan kamu bersusah payah untuk menjadi sepertinya? Mau sampai kapan? Berhenti menyiksa dirimu sendiri hanya untuk bisa terlihat sama persis sepertinya. Jadilah dirimu sendiri, Qilla."
Arta menundukkan kepalanya tanpa semangat. Terdengar jelas nada penuh keputusasaan dalam kata-katanya. Tatapan matanya yang sendu membuat hati gadis di sampingnya terasa begitu pedih. Ia belum pernah melihat sisi Arta yang seperti itu. Rapuh dan sangat putus asa.
"Aku selalu iri melihat hubungan kalian. Kau terlihat begitu menyayangi Azkia dan begitu pun sebaliknya. Azkia juga sangat menyayangimu." Suara gadis itu menyadarkan Arta bahwa di sana ia tidak sedang seorang diri. Melainkan ada orang lain yang sejak tadi ikut berdiri di sampingnya.
Sial!
Bagaimana bisa Arta melupakan kehadiran Citra?
Yah, Citra pun tidak ikut bermain ice skating bersama yang lain. Ia memilih untuk sekedar menjadi penonton bersama Arta.
"Aku tidak mengerti dengan ucapanmu yang mengatakan menginginkan Azkia menjadi dirinya sendiri. Apakah maksudmu selama ini Azkia yang aku lihat bukanlah Azkia yang sebenarnya? Benarkah seperti itu Arta?" tanya Citra penasaran.
"Iya...dan tidak."
"Maksudnya?"
"Azkia adalah Azkia. Hanya saja, dalam beberapa hal ia melupakan dirinya sendiri dan berupaya untuk menyerupai seseorang. Ia ingin terlihat sama persis seperti seseorang. Aku tidak menyukainya karena aku tahu dia hanya sedang melukai dirinya sendiri."
"Kalian benar-benar sangat dekat, yaa. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian di masa lalu, tapi aku merasa sesuatu yang buruk pernah terjadi di sana. Sejujurnya aku penasaran, tapi aku pikir itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya aku tahu. Aku hanya berharap kedepannya semua akan baik-baik saja."
"Aamiin. Terima kasih sudah memahamiku, Citra," ucap Arta tulus.
Sebuah senyum simpul ia berikan kepada gadis itu sebagai ucapan terima kasih karena sudah memahaminya. Jantung Citra mendadak bertalu-talu di dalam sarangnya. Memompa cepat hingga membuat aliran darahnya menjadi dua kali lebih cepat pula. Dibalik sehelai kain yang menutupi kemolekannya, wajah Citra sudah memerah malu. Beruntung ia memakai cadar. Dengan begitu Arta tidak sampai melihat wajahnya yang merona.
__ADS_1
Citra Yunita Salman. Satu hal yang tidak bisa ia sangkal adalah fakta bahwa dirinya tidak hanya menatap Arta sebagai sang idola. Ia tidak hanya memandang Arta sebagai pria yang ia kagumi saja. Arta tidak hanya menyandang status pria yang ia kagumi, melainkan juga sebagai pria yang ia idamkan. Pria yang dalam angan-angan semunya berada di masa depan bersamanya.
"Padahal dulu dia benar-benar tidak menyukai ice skating." Arta kembali bergumam saat melihat Azkia yang sangat kegirangan karena mulai bisa menjaga keseimbangannya di atas lantai es.
"Arta, look at me! Aku sudah bisa main ice skating," teriak Azkia sambil melambaikan kedua tangannya pada Arta.
"Kia, pelan-pelan!" kata Gibran menasehati.
Gibran ikut mempercepat gerakannya mengikuti Azkia. Mengekori kemana pun gadis itu bergerak layaknya seorang pengawal yang sedang mengawal sang Tuan Putri. Karena bukannya memperlambat gerakannya, Azkia malah semakin semangat mendorong sepatu luncurnya. Rasa takut gadis itu sepertinya sudah menguap tak tersisa. Lihat saja ia dengan berani berseluncur tanpa bantuan Gibran lagi.
"AZKIA!!" Semua kompak meneriaki Azkia saat gadis itu meluncur cepat ke arah dinding pembatas sky rink.
"Kia, berhenti!" teriak Gibran.
"Gue nggak bisa. Gi-Gibran! GIBRAAN!!!" teriak Azkia ketakutan.
Gibran semakin mempercepat gerakannya. Tubuh Azkia sudah hampir menabrak dinding pembatas saat tubuh Gibran lebih dulu sampai di sana. Punggung Gibran menubruk dinding pembatas sky rink tepat sebelum Azkia mencapainya. Membuat gadis itu tidak sampai menabrak dinding pembatas yang tentu saja bisa melukainya. Tubuh mungilnya pun berhasil mendarat mulus di dada bidang Gibran.
Dengan gerakan cepat kedua tangan Gibran langsung mendekap tubuh Azkia. Mencegah tubuh mungil itu limbung dan jatuh menghantam kerasnya lantai es. Memastikan gadis itu baik-baik saja. Ia bahkan mengabaikan punggungnya yang terasa ngilu setelah bertabrakan dengan kerasnya dinding pembatas.
Hah!
Semua menghela napas lega karena tak ada yang sampai terluka. Pengunjung lain yang secara otomatis menghentikan gerakan mereka pun kembali berseluncur seakan tidak terjadi apa-apa. Putri, Hendry dan anggota Geng Thunder pun kompak menggerakkan skate mereka mendekati Azkia dan Gibran. Ingin memastikan bahwa keduanya baik-baik saja.
"Yaak! Sudah gue bilang pelan-pelan. Dasar kepala batu!" dumel Gibran. Kedua tangannya masih melingkar di pinggang Azkia karena gadis itu belum bisa benar-benar mengembalikan keseimbangannya.
"Hehee... Maaf!" Azkia cengengesan.
Gadis itu mendongak menatap Gibran yang juga tengah menunduk menatapnya karena perbedaan tinggi mereka. Kedua tangannya juga sudah melingkar di pinggang Gibran. Membuatnya bisa merasakan tubuh itu yang bergetar. Ahh, padahal Azkia yang baru saja hampir celaka, kenapa malah pria itu yang terlihat begitu ketakutan?
"Please, jangan membuat gue khawatir. Gue takut lo kenapa-napa. Lo nggak terluka, kan? Nggak ada yang sakit?" Gibran tidak bisa menutupi kekhawatirannya. Kedua mata hitamnya dengan jelas meneriakkan kecemasan.
Ada yang berdesir di dalam hati Azkia saat Gibran merengkuh tubuhnya. Mendekapnya erat seakan takut tubuh itu terluka meski hanya goresan kecil saja. Ada perasaan yang tidak bisa Azkia pahami saat kembali merasakan tubuh Gibran yang bergetar. Dan seperti biasa jantungnya selalu saja berdetak tidak biasa saat pria itu memeluknya. Semakin ia mencoba menelaah perasaan itu, semakin ia tidak dapat memahaminya.
"Gue baik-baik saja. Maaf membuat lo khawatir, Bran."
"Syukurlah! Jangan sampai melukai diri lo sendiri, okay!" Azkia mengangguk patuh.
"Kalian baik-baik saja, kan?" tanya Hendry setelah berhasil mencapai tempat Azkia dan Gibran. Di sampingnya ada Putri yang masih melingkarkan kedua tangannya di salah satu lengan pria itu.
Azkia dan Gibran mengangguk sebagai jawaban membuat semua kompak menghela napas lega. Kekhawatiran yang sempat menyelimuti mereka perlahan meluruh. Semua kembali menari-nari di lantai es setelah memastikan Azkia dan Gibran baik-baik saja.
Tidak butuh waktu lama untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Sekarang semua sudah kembali asyik bermain ice skating. Hanya Azkia yang masih berupaya mencerna semuanya. Menelaah perasaan aneh yang selalu muncul setiap kali ia berada di dekat Gibran.
Azkia tidak mengerti. Azkia tidak paham dengan rasa itu. Rasa aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya bahkan saat ia bersama Arta. Pria yang menyandang status sebagai pria yang ia cintai.
Bukankah perasaan aneh itu seharusnya muncul saat ia sedang bersama pria yang ia cintai?
Pertanyaan itu terputar berulang-ulang di kepala Azkia. Sekali lagi mencoba menelisik semuanya. Sayangnya, lagi-lagi hanya ada ketidakmengertian. Tidak ada jawaban yang tepat untuk menjelaskan rasa itu.
Azkia tidak mengerti.
Cinta...
Selalu saja menjadi teka-teki yang sulit untuk dipecahkan. Karena cinta selalu saja menjadi rahasia terbesar. Siapa yang tahu kapan, dimana dan kepada siapa ia akan berlabuh?
~
~
~
~
Semoga kalian suka.😉😙
*Jangan lupa su**pport Author dengan LIKE, VOTE, dan COMMENNT.😉😙🤗*
__ADS_1
See you next part!👋👋👋