AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 20. Hujan dan Kenangan (Trauma)


__ADS_3

Happy Reading !😉😙


"Kau tahu apa yang paling menakutkan di dunia ini ? Saat kau ingin melupakan sesuatu, menghapus seluruhnya dari pikiranmu. Tapi kau tidak bisa. Dia tidak mau pergi. Dia terus mengikutimu seperti hantu. Karena ada beberapa kenangan yang tidak bisa hilang begitu saja. Meskipun kamu sangat ingin untuk melupakannya."


~Azkia Aqilla Candra~


***


Hero, Ibrahim, Toni dan beberapa anggota geng Thunder yang memang bekerja di Thunder Cafe tampak sibuk meski jam masih menunjukkan pukul delapan pagi. Seperti biasa, cafe selalu ramai di akhir pekan seperti sekarang. Pengunjung datang membludak meski cafe baru saja buka.


Azkia yang ikut membantu terlihat manis dalam balutan seragam pelayan yang tampak kebesaran di tubuh mungilnya. Dan ia semakin terlihat menggemaskan dengan celemek khusus pelayan Thunder Cafe yang kini ia kenakan.


Dengan lincah para pelayan termasuk Azkia mengantar pesanan para pelanggan ke meja mereka. Sementara di bagian dapur Hero, Ibrahim, dan Toni selaku koki tampak sibuk dengan alat dapur dan bahan-bahan makanan.


Thunder Cafe merupakan salah satu cafe bertema natural dan termasuk cafe kekinian dengan perpaduan antara desain cafe indoor dan outdoor. Thunder Cafe cukup populer di kalangan remaja hingga dewasa karena tempatnya yang stategis dan merupakan cafe yang sangat istagramable.


Thunder Cafe juga mempunyai menu yang siap memanjakan lidah para pengunjung dengan cita rasa khas yang mereka miliki. Harganya pun bervariasi hingga sangat terjangkau bahkan oleh anak-anak sekolahan.


Menu utama di cafe itu adalah milk coffe dan milk tea yang takarannya diracik sendiri oleh anggota geng Thunder hingga memiliki rasa yang berbeda dengan kafe-kafe kebanyakan. Jus buah juga menjadi salah satu menu andalan mereka karena kesegarannya yang tetap terjamin.


Thunder Cafe juga mempunyai berbagai menu dessert dengan varian rasa yang sangat cocok dengan lidah orang Indonesia. Untuk sekarang, Thunder Cafe baru mempunyai beberapa jenis pilihan untuk makanan berat. Karena itu, Hero dan yang lain berniat menambah menu makanan berat mereka.


Dan nasi goreng serta bubur ayam buatan Azkia pagi tadi membuat Hero berfikir akan menambahkan kedua menu itu di cafe mereka. Hero akan membicarakannya dengan Azkia nanti. Ia berharap Azkia mau membagi resepnya kepada mereka.


Hari berganti malam, dan Azkia masih bertahan di sana. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam kurang lima menit saat Azkia baru saja selesai mengganti baju pelayan dan mengenakan kembali bajunya. Mereka pun sudah makan malam bersama di Thunder Cafe.


Wajah Azkia tiba-tiba berubah pucat bahkan mengeluarkan keringat dingin. Tubuhnya bergetar seiring jantungnya yang berdetak tidak berarturan. Dengan kedua tangan yang gemetaran, ia langsung menghubungi kakaknya.


"K-kak..." susah payah Azkia mengucapkan satu kata itu. Bibirnya mendadak kelu dan suaranya tercekat.


"Kakak sudah hampir sampai. Kamu tenang, dek ! Tarik napas dalam dan hembuskan perlahan ! Lakukan seperti biasa. Kamu pasti bisa, dek !" kata Fajar di seberang sana.


Fajar sudah menduga akan jadi seperti itu. Karena itu, ia langsung berangkat bahkam sebelum Azkia meminta untuk menjemputnya.


Azkia mencoba melakukan seperti yang Fajar katakan. Kedua tangannya berusaha menutup kedua telinganya rapat-rapat. Napasnya mulai memburu dan jantungnya semakin berdetak tidak normal. Dadanya pun terasa semakin sesak hingga Azkia kesulitan untuk bernapas.


"Kamu bisa, Azkia ! Kamu bisa ! Kamu harus tetap sadar !" batin Azkia mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Azkia merutuki dirinya sendiri yang lagi-lagi lupa membawa headphone-nya. Seharusnya ia membawa benda penting itu kemana pun ia pergi.


Bodoh sekali !


Fajar yang baru saja memasuki halaman rumah yang menjadi markas geng Thunder pun langsung memarkir mobilnya asal. Ia keluar dan berlari-lari kecil menuju pintu utama rumah itu. Ia bahkan mengabaikan rintik-rintik hujan yang membasahinya. Wajahnya dengan jelas menampakkan raut wajah kekhawatiran.


Gibran yang baru saja keluar dari rumah pun langsung menyambut kedatangan Fajar. Meski ia merasa sedikit terkejut dengan kedatangan mendadak kakak Azkia itu.


"Azkia mana, Bran ?" tanya Fajar to the point.


"Kia lagi ganti baju di kamar itu, Bang !" kata Gibran sambil menunjuk kamar yang berada tidak jauh dari pintu utama.


Fajar langsung berlari ke kamar yang dimaksud Gibran tanpa mengucapkan sepatah kata lagi pada Gibran. Gibran yang sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi hanya bisa mengerutkan keningnya bingung.


Fajar mengerang tertahan melihat Azkia yang kini terkulai lemas di atas lantai. Keringat dingin sudah membasi seluruh wajahnya yang sudah pucat pasih. Tanpa membuang-buang waktu lagi Fajar langsung memakaian headphone untuk menutupi kedua telinga Azkia.


"Hey, Azkia ! Azkia bernapas !" Fajar menepuk-nepuk pipi Azkia khawatir.


Azkia membuka kedua matanya sambil bernapas tersengal-sengal. Wajahnya sudah sangat pucat. Dan keringat dingin semakin banyak keluar membasahi wajahnya.


"It's okay, it's okay ! Kakak ada di sini. Jangan takut !" Fajar menarik Azkia ke dalam pelukannya. Mencoba menenangkan Azkia yang masih merasa ketakutan. Terlihat jelas sekujur tubuhnya yang masih bergetar hebat.


Gibran yang berdiri bersandar di dinding samping pintu kamar dimana Azkia berada dibuat begitu terkejut saat melihat Fajar keluar sambil membopong Azkia dalam gendongannya. Jaket yang tadi dikenakan Fajar sudah beralih menutupi tubuh mungil Azkia. Menenggelamkan tubuh kecil yang terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Fajar.


Kedua tangan Azkia melingkar di leher Fajar dengan wajah yang sengaja disembunyikan di ceruk leher sang kakak. Tak lupa, kedua telinganya tersumpal headphone yang sengaja disetel dengan volume tinggi hingga Azkia tidak bisa mendengar suara apa pun selain suara dari headphone tersebut.


"Kia kenapa, Bang ?" tanya Gibran dengan kekhawatiran yang kentara.


"Nggak apa-apa ! Azkia cuma kurang enak badan saja. Jangan khawatir !" jawab Fajar mencoba setenang mungkin.


"Ta-tapi kok tiba-tiba, Bang ? Tadi dia baik-baik saja sebelum masuk ke kamar itu ! Abang yakin Kia cuma kurang enak badan saja ?" tuntut Gibran.


Fajar hanya mengangguk sebagai jawaban 'iya'. Ia tidak ingin terlalu banyak bicara. Karena ada beberapa hal yang tidak bisa ia katakan meski ia tahu jawabannya. Ada beberapa hal yang harus tetap ia jaga hingga Azkia sendiri yang mengatakannya kepada teman-temannya.


Gibran mengambil payung besar yang ada di dekat pintu dan memayungi Fajar dan Azkia menuju mobil. Beberapa anggota geng Thunder yang melihat itu pun langusng berlari mendekat ke arah mobil Fajar. Raut penuh kekhawatiran itu terpampang jelas dari wajah-wajah mereka.


"Azkia kenapa ?" tanya Hendry yang tiba lebih dulu.

__ADS_1


"Cuma lagi kurang enak badan. Jangan khawatir ! Azkia baik-baik saja, kok ?" jawab Fajar dengan senyum ramahnya.


Meski belum mengenal teman-teman Azkia selain Gibran, tapi Fajar bisa merasakan bagaimana pria-pria itu mengkhawatirkan Azkia. Yang berarti mereka semua juga menyayangi Azkia.


"Apa karena dia kelelahan ? Ahh, seharusnya tadi dia tidak perlu bantu-bantu di kafe !" kata Hero penuh penyesalan.


"Kalau gitu kami balik duluan, yaa !" pamit


Fajar yang langsung diangguki oleh seluruh anggota geng Thunder.


Semua saling melempar pandang mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun tak ada satu pun dari mereka yang mengetahuinya.


Gibran termenung memikirkan apa yang terjadi dengan Azkia. Otaknya mencoba berpikir keras untuk menebak-nebak, apakah itu ada kaitannya dengan trauma masa lalu Azkia ?


Tapi apa ?


Jika benar itu ada kaitannya dengan trauma Azkia, lantas apa yang membuat trauma itu kambuh di kamar tadi ?


Semakin Gibran memikirkannya, kepalanya malah semakin sakit. Ia sama sekali tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di dalam kepalanya. Yang Gibran dapatkan hanyalah jalan buntu di ujung jalan.


🍁


Musim hujan kembali menyapa. Mungkin banyak waktu telah berlalu. Silih berganti sebagaimana mestinya. Membawa zaman yang setiap tahun selalu berubah. Begitu pun dengan musim hujan. Bagi semua orang, musim hujan jelas telah banyak berubah.


Namun tidak dengan gadis itu. Karena bagi Azkia, musim hujan masih tetap sama seperti musim hujan waktu itu. Sama sekali tidak ada yang berubah. Sedikit pun tidak ada !


Ahh, seharusnya waktu itu semua tidak terjadi tepat saat hujan turun. Dengan begitu, semua akan baik-baik saja meski musim hujan kembali bersua. Karena setiap hujan kembali menyapa, sesak itu kembali terulang bersama genangan yang bernama kenangan.


Hujan sudah redah saat Fajar menghentikan mobilnya di halaman rumah mereka. Ia keluar dan berlari-lari kecil mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk Azkia. Gadis itu tampak masih memeluk lututnya yang sengaja ditekuk di atas kursi dimana ia duduk dengan wajah yang sengaja disembunyikan di atas lututnya yang ditekuk itu.


Fajar menghembus napas panjang sebelum menyentuh lengan sang adik.


"Azkia, kita sudah sampai di rumah ! Tak apa, hujannya sudah redah ! Everything is okay now !" kata Fajar dengan suara yang sangat lembut sambil melepas headphone yang masih terpasang di telinga Azkia.


Azkia akhirnya membuka kedua matanya yang sejak tadi ia pejamkan. Ia mencoba mengulum senyuman membalas senyum sang kakak. Wajahnya memang masih terlihat pucat namun sudah tidak sepucat tadi.


"Maaf, Azkia membuat kakak khawatir lagi !" sesal Azkia.


"Ngomong apa sih, dek ! Sudah ahh, ayo masuk ! Jalan sendiri atau kakak gendong ?"


"Assalamu'alaikum !" ucap Azkia dan Fajar kompak.


"Wa'alaikumussalaam..." jawab Candra dan Siska yang sedang duduk di meja makan. Sepertinya mereka baru saja akan makan malam.


"Malam, mah pah !" sapa Azkia sambil mencium punggung tangan Candra dan Siska bergantian.


"Malam, sayang ! Kamu baik-baik saja kan, nak ?" tanya Siska sedikit khawatir.


"Azkia baik-baik saja, mah ! Ohh yaa, kalau gitu Azkia ke kamar dulu, yaa ! Good night, mamah, papah, kak Fajar !" Azkia langsung berlalu menuju tangga berniat ke kamarnya.


"Kamu tidak ikut makan malam ?" tanya Candra dengan suara beratnya.


Azkia yang sudah berada di sepertiga anak tangga menuju lantai dua pun menghentikan langkahnya. Ia menoleh pada sang ayah yang baru saja bertanya padanya.


"Tadi Azkia sudah makan malam sama teman-teman, pah !"


Braaakk...


Dengan keras Candra menggebrak meja makan dengan kedua tangannya yang terkepal kuat. Membuat Azkia dan Siska sontak terkejut kaget. Sementara Fajar yang juga sudah ikut duduk di meja makan untuk makan malam bersama kedua orang tuanya hanya bisa menghembus napas berat.


"Apa kamu ingat kapan terakhir kali kita makan malam bersama ? Sejak pindah sekolah kamu tidak pernah ada waktu lagi buat keluarga. Apa keluarga sudah tidak penting lagi buatmu ?" Azkia membeku di tempatnya. Rasanya itu pertama kalinya ia melihat ayahnya sampai semarah itu.


"Pah, sudah !" Siska mencoba menenangkan sang suaminya yang dikuasai amarah.


"Jadi, sekarang teman-temanmu itu jauh lebih penting daripada papah dan mamah, begitu ? Jadi, mamah dan papah sudah tidak penting lagi buat kamu ? Mamah kamu selalu masak makanan kesukaanmu berharap kamu akan memakannya. Kita bahkan terpaksa mengundur makan malam demi nungguin kamu pulang agar bisa makan malam bersama. Tapi apa ? Pagi-pagi sekali kamu berangkat sekolah dan baru pulang setelah hampir larut dan selalu saja sudah selesai makan malam dengan teman-temanmu. Akhir pekan pun kamu bahkan tidak ada waktu untuk keluarga !" bentak Candra dengan suara yang semakin naik.


"Pah, cukup ! Kita bisa bicarakan ini besok. Azkia belum benar-benar baik-baik saja, pah !" Fajar ikut menenangkan sang Ayah.


"Cukup, Fajar ! Berhenti membela adikmu terus !"


Duuaaarrrr....


Kilatan petir disusul suara gemuruh yang memekakkan telinga terdengar memecahkan heningnya malam yang kian beranjak larut. Hujan yang tadi sudah sepenuhnya redah kini kembali turun bahkan jauh lebih deras. Suara tetesan hujan bahkan terdengar begitu jelas meski pintu dan seluruh jendela telah tertutup rapat.


"Azkia..." panggil ketiganya kompak.

__ADS_1


Lampu tiba-tiba padam untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali menyala. Candra, Siska dan Fajar kompak membulatkan mata mereka saat tidak mendapati Azkia di tempatnya tadi. Dan semua kembali dibuat semakin terkejut saat mendapati Azkia yang kini tergeletak tidak sadarkan diri di anak tangga paling bawah.


"AZKIA !" ketiganya kembali berteriak histeris melihat kening Azkia yang bahkan mengeluarkan darah.


"Azkia kamu tidak apa-apa, sayang ?" Siska langsung merengkuh tubuh Azkia ke dalam pelukannya. Air matanya mendadak menganak sungai melihat keadaan putrinya.


"Azkia bangun, nak !" Candra tak kalah khawatir melihat keadaan Azkia.


"Papah minta maaf, sayang !" sesal Candra. Bahkan tanpa sadar air matanya ikut menetes membasahi wajah teduhnya.


"Sebaiknya bawa Azkia ke kamar, pah ! Aku akan menghubungi Dokter Bryan untuk ke sini memeriksa keadaan Azkia !" kata Fajar memberi titah. Ia mencoba tenang meski tangannya bahkan bergetar hebat saat ia mencoba mencari nama kontak Dokter Bryan.


Candra mengangguk kemudian mengangkat tubuh mungil Azkia dengan mudah. Siksa mengikuti suaminya dari belakang dengan perasaan yang campur aduk. Semua merasa khawatir setengah mati. Mereka takut akan kehilangan lagi. Sudah cukup mereka pernah kehilangan sekali. Cukup sekali dan tidak lagi !


🍁


Azkia membuka matanya yang terasa begitu berat saat samar-samar mendengar suara seseorang memanggil-manggil namanya. Senyumnya dengan refleks terukir saat melihat siapa pemilik suara itu.


"Sudah Adzan, sholat Subuh dulu baru lanjut tidur kalau masih ngantuk !" kata Fajar lembut.


Ahh, pria itu selalu bisa membuat Azkia merasa begitu beruntung memiliki kakak sebaik dirinya. Kakak yang benar-benar meluangkan begitu banyak waktunya untuknya. Tak peduli seberapa konyol permintaannya, Fajar selalu berusaha sebisa mungkin untuk memenuhinya.


Kurang beruntung apa lagi Azkia memilikinya sebagai kakak ?


Ahh, andai Fajar bukanlah kakaknya mungkin Azkia akan jatuh cinta kepada pria itu !


Lucu sekali !


"Loh, kok ini diperban kak ?" tanya Azkia saat baru menyadari ada pernah di keningnya.


"Nggak apa-apa ! Sini kakak bantu lepas. Wudhu sana, nanti kakak bantu pasang perban baru ! Cepat, kakak mau ke mesjid soalnya !" Azkia hanya menurut apa yang di perintahkan kakaknya.


Sepeninggalan Fajar, Azkia bersiap-siap untuk menunakai sholat Subuh. Setelah sholat, ia tidak langsung tidur kembali. Ia memilih mengecek ponselnya. Azkia menelan ludahnya susah payah melihat ada begitu banyak pesan dan panggilan tidak terjawab dari Gibran dan yang lain. Bahkan Hero pun ikut mengiriminya pesan untuk menanyakan keadaannya.


"Gue baik-baik saja ! Don't worry ! I'm so sorry to worry you !" Azkia mengirim pesan itu ke grup WhatsUp Study Group mereka. Jempolnya bisa-bisa copot jika ia harus membalas pesan dari mereka satu-persatu.


Hanya beberapa detik setelah Azkia mengirim pesan itu, sebuah panggilan telepon pun masuk. Tanpa ragu ia menerima panggilan itu saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


"Ha..."


"Lo benar-benar nggak apa-apa ?" potong Gibran cepat di seberang sana.


"Iya, gue baik-baik saja ! Gue sudah bilang jangan khawatir ! I'm okay !"


"Hah, syukurlah ! Gue pikir lo kenapa-napa. Habis lo sama sekali nggak balas pesan gue. Telefon dari gue pun lo kacangin ! Bikin khawatir aja, tau nggak !" Azkia tersenyum lebar mendengar dumelan Gibran.


"Iye iye, maaf Bang ! Semalam gue langsung tidur soalnya ! Mana bisa gue lihat HP kalau sudah ada di alam mimpi !" canda Azkia, tidak ingin membuat Gibran dan teman-temannya yang lain semakin khawatir.


"Ohh yaa, gue tutup dulu yaa ! Gue ngantuk, mau lanjut pacaran sama si Teddy ! Bye !"


"Apa lo bilang ? Teddy ?" tanya Gibran dengan tidak santai.


"Teddy Bear, Gibran ! Emang lo pikir Teddy siapa ? Sudah ahh, gue ngantuk ! Bye bye, Gibran !" Azkia langsung mematikan sambungan telepon.


Bohong !


Azkia bohong saat mengatakan ia mengantuk dan ingin tidur kembali. Nyatanya, kini kedua matanya terang benderang dan sama sekali tidak ada tanda-tanda mengantuk. Azkia memaksa kepalanya untuk kembali mengingat apa yang terjadi semalam.


"Ahh, lagi-lagi aku gagal ! Menyedihkan sekali !" hardik Azkia pada dirinya sendiri. Ia tersenyum miris mengingat kejadian kemarin.


Benar-benar menyedihkan !


"Aku benci kesendirian. karena di saat aku sendiri, aku selalu teringat hal-hal yang tidak ingin aku ingat. Aku selalu teringat hal-hal menyedihkan yang sebenarnya tidak pernah ingin aku ingat !"


Azkia duduk bersandar di kepala ranjang sambil memeluk kedua lututnya yang ditekuk. Ingatannya kembali terbawa ke masa lalu. Kenangan masa lalu yang tidak ingin Azkia ingat lagi.


Kau tahu apa yang paling menakutkan di dunia ini ?


Saat kau ingin melupakan sesuatu, menghapus seluruhnya dari pikiranmu. Tapi kau tidak bisa. Dia tidak mau pergi. Dia terus mengikutimu seperti hantu. Karena ada beberapa kenangan yang tidak bisa hilang begitu saja. Meskipun kamu sangat ingin untuk melupakannya.


Di masa lalu, tersimpan begitu banyak kenangan. Tentu saja bukan hanya kenangan indah, melainkan juga kenangan buruk yang mungkin lebih baik untuk dilupakan.


Semoga kalian suka !😉😙


Support author dengan vote, like dan comment-nya, yaa !😉😉🤗

__ADS_1


Ditunggu saran dan masukannya juga !🤗😊


__ADS_2