AFTER A LONG TIME

AFTER A LONG TIME
Part 21. Cinta Sepihak


__ADS_3

Happy Reading !😉😙


"Terkadang, kenyataan memang lebih kejam dari kebohongan."


~Hendry Hendrawan Hutama~


***


Azkia membekap mulutnya sendiri menggunakan tangan kirinya karena sedang menguap lebar. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi saat ia menuruni anak tangga hendak menuju ke ruang tamu. Mungkin saja kedua orang tua dan kakaknya sedang berada di sana. Pada akhirnya Azkia kembali tidur setelah pukul enam pagi tadi. Dan baru bangun pukul setengah delapan tadi. Tentu saja ia harus membersihkan diri dan merapikan kamarnya sebelum turun.


Seperti biasanya, tubuh mungil Azkia selalu terbalut outfit oversize kesukaannya. Seperti sekarang, ia sedang mengenakan t-shirt berwarna green army oversize yang dipadukan dengan cargo pants yang tentu saja kebesaran di tubuh Azkia. Rambutnya yang panjang disanggul asal-asalan hingga terlihat sedikit berantakan. Namun anehnya, itu malah membuat Azkia terlihat jauh lebih menggemaskan.


Senyum Azkia merekah melihat cuaca cerah di pagi ini. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Dari sela-sela jendela Azkia bisa melihat langit yang tampak sangat cerah dan berwarna biru bersih. Hanya ada sedikit awan kecil yang menghiasi langit pagi ini.


Apa Azkia membenci hujan ?


Jawabannya, tentu saja tidak ! Azkia sama sekali tidak membenci hujan. Ia malah sangat menyukainya. Sangat !


Karena hujan selalu datang bersamaan dengan kenangan manis tentangnya. Tentang seseorang yang berharga yang berada di masa lalu Azkia. Seseorang yang selalu datang menyapanya setiap detik layaknya tarikan dan hembusan napas. Dan setiap kali turun hujan, kenangan tentang seseorang itu seakan selalu terputar layaknya kaset rusak di dalam kepala Azkia.


Manis tapi juga menyesakkan !


Itulah yang Azkia rasakan setiap kali hujan turun.


"Yuhuuu...anybody home ? Ma...mah ?" teriakan Azkia yang memiliki potensi menjadi orang utan mendadak berubah seperti bisikan di akhir kalimatnya.


Kening Azkia berkerut dalam melihat kedua orang tuanya dan juga kakaknya yang kini duduk saling berhadapan dengan puluhan pria berpenampilan bad boy. Puluhan pria itu duduk dengan sopan dan tersenyum ramah. Sebagian duduk di sofa dan kebanyakan duduk melantai karena sofa di sana jelas tidak akan cukup untuk menampung mereka semua.


Pandangan Azkia beralih dari pria-pria itu dan menatap kedua orang tua dan kakaknya bergantian. Raut wajah mereka terlihat jelas kaget melihat pria-pria yang kini duduk di hadapan mereka.


"Kalian ? Kok kalian semua bisa ada di sini sepagi ini ?" tanya Azkia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Pagi apaan ? Ini sudah hampir siang, Kia !" koreksi Gibran dengan nada mengejek. Membuat Azkia mencebik tanpa suara.


"Azkia ! Benar mereka semua adalah teman-temanmu ?" tanya Siska tanpa mengalihkan pandangannya dari seluruh pria di depannya itu.


"Benar, mah ! Mereka teman-teman Azkia !"


Azkia duduk di samping Gibran karena pria itu memintanya untuk duduk di sana. Tak jauh dari Gibran, terdapat beberapa parcel buah dan juga cokelat kesukaan Azkia. Juga ada beberapa kantong lainnya yang tidak Azkia ketahui apa isinya. Yang Azkia yakini, bingkisan-bingkisan itu dibawa oleh geng Thunder.


Cih !


Benar-benar berlebihan !


"Kenapa nggak ngabarin dulu kalau kalian mau datang ? Lagian gue serius nggak kenapa-napa ! Kalian benar-benar berlebihan !" kata Azkia santai.


Sangat berbeda jauh dengan Candra, Siska dan juga Fajar yang masih sangat terkejut melihat delapan pria bertato dan bertindik dari puluhan pria itu. Siska yang tadi membuka pintu pun sampai tidak bisa berkutik saat melihat mereka. Pikirannya sudah berkelana jauh dan bahkan sampai berpikiran yang tidak-tidak.


"Mereka semua orang baik, mah ! Azkia kenal mereka karena mereka adalah teman-teman Gibran. Dan sekarang sudah jadi teman Azkia juga !" jelas Azkia.


Siska dan Fajar mengangguk-angguk mengerti. Beberapa dari mereka sebenarnya sudah bertemu dengan Fajar kemarin saat ia datang menjemput Azkia di markas Geng Thunder. Tapi Fajar yang sudah terlanjur panik sama sekali tidak memperhatikan semua pria yang datang menghampiri mobilnya untuk menanyakan keadaan Azkia.


Siska dan Fajar sudah bisa kembali bersikap biasa setelah mendengar penjelasan Azkia. Keduanya bahkan mulai ikut nimbrung dengan pembahasan mereka. Berbeda dengan Candra yang hanya diam saja sejak tadi.


Diam-diam Azkia mencuri-curi pandang pada ayahnya yang sama sekali tidak membuka suara sejak tadi. Azkia menjadi takut-takut ayahnya akan kembali marah seperti tadi malam. Melihat wajah sang ayah yang bahkan tanpa ekspresi itu benar-benar membuat Azkia merasa serba bersalah.


Memang benar, akhir-akhir ini Azkia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya dan jadi jarang berkumpul bersama keluarganya. Azkia bahkan selalu melewatkan makan malam bersama dengan kedua orang tua dan juga kakaknya.


Bodoh sekali !


"Apa semua temanmu memang hanya laki-laki ? Kenapa kamu sama sekali tidak mempunyai teman perempuan, Azkia ?" tanya Candra tiba-tiba. Membuat semua fokus terarah padanya.

__ADS_1


"Ehh ? A-azkia juga punya teman cewek kok, pah ! Citra sama Putri ! Teman Azkia yang waktu itu nginap di rumah, pah !" jawab Azkia cepat namun tidak bisa menyembunyikan sikap canggungnya mengingat apa yang terjadi semalam.


"Papah tahu, maksud papah selain Citra dan Putri !"


Azkia menggelengkan kepalanya sebagai tanda ia tidak mempunyai teman perempuan lagi selain Putri dan Citra. Melihat itu membuat Candra menghembuskan napas panjang.


"Saya bisa mempercayai kalian, kan ? Anak om akan baik-baik saja kan bersama kalian ?" tanya Candra dengan suara beratnya. Ia memang terkesan santai saat mengatakan itu, namun jelas ada penekanan dalam setiap kata-katanya.


Candra menatap puluhan pria di depannya itu dengan tatapan tegas seorang ayah yang ingin melindungi anak gadisnya.


"Tentu, om !" jawab semuanya kompak. Tak terkecuali Gibran.


Candra kemudian menganggukan kepalanya mengerti. Sepertinya memang benar mereka adalah pria-pria yang baik. Meski penampilan luar mereka terlihat bad, tapi itu tidak berarti hati mereka juga busuk. Jika mereka adalah teman-teman Gibran, setidaknya Candra bisa lebih tenang jika anak gadis satu-satunya berteman dengan mereka yang tidak lain adalah teman Gibran juga.


Sepertinya Candra bisa mempercayai mereka.


"Kafenya siapa yang jaga kalau Bang Jer ke sini ?" tanya Azkia pada Hero.


"Ada Firman dan Toni, kok ! Ohh yaa, ini Abang bawakan milk coffee yang nggak sempat lo cobain kemarin !" senyum Azkia langsung merekah melihat beberapa gelas milk coffee* yang menjadi menu andalan Thunder Cafe* yang kini Hero sodorkan padanya.


"Thanks, Bang Jer !" kata Azkia senang.


Ia langsung mencicipi milk coffee itu dengan semangat. Kedua matanya berbinar setelah lidahnya bersentuhan dengan cairan dengan warna perpaduan hitamnya kopi dan putihnya susu itu. Sungguh perpaduan yang luar biasa nikmat.


"Ehmmm...enak sekali ! Pah, mah, kak Fajar, kalian harus cobain milk coffee dari Thunder Cafe ! Ini enak sekali !" seru Azkia kegirangan sambil membagikan milk coffee itu satu-persatu kepada ayah, ibu dan kakaknya. Untuk sesaat Azkia bahkan melupakan fakta tentang ayahnya yang semalam marah besar padanya.


"Kamu lupa aku dan mamah nggak bisa minum kopi ?" kata Fajar langsung menolak.


"Ohh iya, Azkia lupa !" Azkia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memamerkan cengiran bodohnya.


"Enak ! Lain kali ajak papah ke kafe itu, yaa !" puji Candra. Ia dan Azkia memang sama-sama pencinta kopi.


Azkia langsung mengangguk semangat. Ia senang jika ayahnya kembali seperti biasa. Azkia senang kalau ayahnya tidak marah lagi.


"Sakit, bodoh ! Kemarin gue jatuh di tangga gegara kurang hati-hati !" jawab Azkia berbohong.


Gibran menganggukkan kepalanya. Meski tidak puas dengan jawaban Azkia namun ia tetap memilih untuk mempercayai gadis penuh misteri itu. Sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menginterogasi Azkia.


🍁


Seluruh siswa-siswi SMA Nusantara berjalan dengan sedikit tergesa-gesa menuju kelas masing-masing. Sebagian dari mereka ada yang lebih memilih ke kantin lebih dulu untuk membasahi kerongkongan mereka yang kering setelah berjemur di bawah terik sinar matahari pagi.


Seperti biasanya, matahari pagi di hari Senin entah mengapa selalu saja lebih terik dari hari-hari biasanya. Dan tanpa merasa bersalah membakar kulit seluruh insan manusia bergelar pelajar dan juga pengajar di sekolah itu.


Gibran dan seluruh anggota geng-nya menjadi tim siswa-siswa yang lebih memilih untuk mengunjungi kantin sebelum ke kelas mereka. Semua menatap Gibran dengan tatapan penuh tanya. Sejak tadi pria itu dengan jelas memperlihatkan lagak gelisah.


Semua beralih menatap Hendry, bermaksud meminta penjelasan pada pria itu. Hendry yang menyadari tatapan penuh tanya teman-temannya hanya mengedikkan bahunya tidak tahu. Lebih tepatnya ia tidak tahu kabar seseorang yang membuat Gibran sampai seperti itu.


"Apa Kia belum ada di kelas ?" Gibran mengirim pesan itu pada Putri.


"Belum ! Aku sudah coba hubungi tapi nomornya tidak aktif. Citra juga tidak tahu apa-apa !" balas Putri.


Gibran menghela napas berat setelah membaca pesan dari Putri. Ia semakin cemas dengan Azkia. Sejak kemarin setelah mereka menjenguk Azkia, gadis itu mendadak tidak bisa dihubungi. Gadis itu tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Anehnya, Arta ikut-ikutan menghilang bersama Azkia. Keduanya kompak tidak masuk sekolah hari ini.


"Si Pirang ada di kelas ?"


Putri yang membaca pesan dari Gibran sedikit menakutkan kedua alisnya bingung.


Si Pirang ?


Putri sedikit berpikir siapa Si Pirang yang Gibran maksud. Dan saat melihat Fikri yang baru saja memasuki kelas, Putri langsung ber-ohh mengerti. Ia langsung mengetahui siapa yang Gibran maksud Si Pirang itu.

__ADS_1


"Iya, Fikri sekarang ada di kelas !"


"Bisa kau tanyakan padanya Arta kemana ?"


"Okay okay ! Wait a minute !"


Putri bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Fikri yang kini duduk di kusrinya seorang diri.


"Fikri ! Apa kamu tau kenapa Arta tidak masuk sekolah ?" tanya Putri ragu-ragu. Meski sudah sering makan siang bersama pria itu, tapi tetap saja Putri belum terlalu akrab dengannya.


"Ohh, iya ! Arta dan Azkia izin tidak masuk sekolah selama tiga hari. Tadi aku yang bawa surat izin mereka. Aku juga kurang tahu sih mereka izin kenapa !" jawab Fikri sambil tersenyum ramah.


"Ahh, begitu ! Thanks, infonya Fikri ! Aku tadi khawatir soalnya nomor Azkia nggak bisa dihubungi !"


Fikri mengangguk mengerti.


Setelah kembali ke kursinya, Putri langsung mengirim pesan pada Gibran tentang informasi yang baru saja ia dapatkan. Meski tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan mereka tapi setidaknya itu sudah sedikit memberi pencerahan.


Di kantin, Gibran yang baru saja membaca pesan dari Putri malah semakin dibuat cemas. Perasaannya campur aduk. Mengingat semua kejadian beberapa hari yang lalu membuat Gibran benar-benar tidak bisa tenang.


Ada yang salah !


Itu jelas ada yang tidak beres !


Melihat tingkah Gibran yang semakin gelisah seperti cacing kepanasan membuat Hendry menghembuskan napasnya kasar. Sejak kejadian dua hari lalu, Gibran benar-benar terlihat berantakan. Dan Hendry benar-benar tidak suka itu. Ia tidak suka melihat adiknya kacau hanya karena seorang perempuan yang bahkan tidak pernah menganggapnya ada.


Hendry benci itu !


"Sudahlah, Bran ! Jangan terlalu memusingkan Azkia ! Dia pasti baik-baik saja. Sekarang mungkin dia lagi bersama Arta. Dan mungkin saja mereka sedang bersenang-senang. Untuk apa lo buang-buang waktu memikirkan dia yang bahkan tidak pernah memikirkan lo !" tutur Hendry yang langsung menarik perhatian semua terutama Gibran.


"Hyeong !" Gibran menatap Hendry tidak habis pikir.


Gibran masih ingin mengatakan sesuatu untuk menanggapi penuturan Hendry barusan, namun langsung terpotong oleh bunyi bel yang menggema di seantero sekolah tanda jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Membuat Gibran mengurunkan niatnya dan memilih untuk bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kelas mereka.


Hendry kembali menghembuskan napas berat melihat reaksi Gibran yang membuatnya semakin tidak suka. Rasa cinta Gibran kepada Azkia jelas telah menguasai pria itu. Dan melihat situasi sekarang, Hendry jelas tahu kemana ending cerita itu akan berakhir. Hendry jelas tahu kisah itu akan berakhir menyedihkan. Kisah cinta pertama Gibran tentu saja tidak akan berhasil dan happy ending.


Gibran mencintai Azkia, tapi Azkia mencintai pria lain. Dan pria yang Azkia cintai juga mencintai orang lain. Kisah cinta yang rumit itu pada akhirnya akan menyakiti semuanya. Semua akan hancur pada akhirnya. Semakin besar cinta di hati salah satu dari mereka, maka akan semakin besar pula luka yang akan dia dapatkan. Semakin besar harapannya akan cinta itu, maka akan semakin hancur hatinya kelak.


Hanya saja, pada akhirnya Azkia dan Gibran-lah yang akan merasakan sakit yang luar biasa. Pada akhirnya mereka berdualah yang akan merasakan kehancuran yang mungkin saja akan benar-benar menghancurkan mereka.


Miris sekali !


Hendry ikut bangkit dari duduknya setelah semua telah berlalu lebih dulu. Pikirannya kembali berkelana jauh ke masa lalu. Kemudian membayangkan bagaimana sakitnya berada di posisi Azkia dan Gibran kelak setelah semua kebenaran akhirnya terungkap.


Membayangkan saja sudah membuat Hendry resah. Bagaimana jika kelak hari itu akhirnya tiba ?


Ahh, Hendry tidak sanggup lagi membayangkannya !


Semua benar-benar akan sangat menyakitkan !


Tentu saja banyak cinta sepihak yang tak bisa dinyatakan di dunia ini. Orang-orang bodoh itu sebenarnya tahu caranya melarikan diri dari cinta sepihak, tapi mereka tidak bisa melarikan diri begitu saja. Itu sebabnya cinta sepihak menyakitkan.


Cinta dan kehidupan mungkin menyerupai baseball. Bahkan jika kau menghadapi lemparan kritis, tak peduli seberapa keras kau mencoba untuk menghindarinya, pada akhirnya seseorang harus menang agar pertandingan bisa berakhir.


Bagaimanapun, tak ada jalan lain bagi cinta sepihak. Entah kamu mendapatkan balasan cinta atau pun ditolak tanpa perasaan. Jika kau ingin mengakhiri cinta sepihak, jalan satu-satunya adalah dengan menyatakannya. Itu berakhir hanya jika kau menghadapinya. Cinta sepihak, itu berarti hatimu mungkin akan selalu terluka.


Terkadang, kenyataan memang lebih kejam dari kebohongan.


Semoga suka !😉😙


Support author dengan Vote, Like dan Comment-nya yaa !😉😙🤗

__ADS_1


Saran dan masukannya ditunggu, yaa !🤗😊


__ADS_2