After I Die

After I Die
Ibu dan kasih sayang


__ADS_3

Anak itu tidak berakal, ibunya sakit dia tidak bisa apa-apa! “


Kina terduduk di depan pintu yang tertutup mendengar percakapan ibunya dengan salah satu tetangga yang bertandang ke rumah mereka, masalah pembayaran arisan yang tidak di bayar setelah hampir dua minggu karena ibunya terbaring sakit di rumah, Ia sudah berulang kali membujuk ibunya agar mau berobat di Ni Lewun, tabib desa Damung. Namun banyak sekali alasan, mulai dari malu dengan tetangga, kemudian uang yang sebenarnya mereka mampu saja sampai-sampai ibunya menyalahkan tetangga yang memiliki warung yang sama dengan mereka mengirimi santet


Ibunya sudah sehat, sangat sehat, sampai-sampai saat ini mulutnya rajin sekali mengumpati Kina, anaknya sendiri


“Dia tidak ada akal, kerjanya lambat sekali, masak ikan saja mentah “


Rupanya ibunya belum puas mengumpati anaknya di hadapan Bu Yuni, wanita bertubuh tambun itu hanya terkekeh, tangannya dengan cekatan menghitung lembaran-lembaran uang.


“Ah, Kina masih kecil wajarlah“


“Kecil apa, dulu aku seumur dia sudah bisa masak nasi habang buat dijual di warung, dia mana bisa “


“Ya sudah bu, yang penting sudah sehat“


Kina hanya duduk diam, sungguh hal-hal seperti ini sudah sering terjadi dalam hidupnya, entah apa yang dimaksud sang ibu, ia tidak mengerti, apakah ini adalah wujud sayang orang tua agar anaknya bisa memperbaiki diri ? ia tetap tidak paham


Ia bergegas berdiri sebelum sang ibu memergokinya di belakang pintu, berpura-pura menata buku-buku untuk sekolah walaupun sudah ia siapkan sejak malam tadi


Ibunya hanya diam melewatinya, mengabaikan siaran berita di radio yang menyala sejak subuh, Kina menggiring sepedanya keluar rumah, ia tidak pernah sarapan pagi ke sekolah, sungguh ironis mengingat mereka mempunyai warung nasi habang yang terkenal di kampungnya


Ia mengayuh sepedanya melintasi jalan setapak yang mulai ramai, di telinganya terus terngiang-ngiang kata lambat dari ibunya, selambat itukah dia?


Sejak kecil Kina tidak pernah merasakan rasanya pelukan dan kasih sayang dari orang tuanya, ketika berumur lima tahun ia dibawa ke kota oleh bibinya, tinggal dan membantu bibinya berjualan di pasar. Namun satu bulan yang lalu bibinya meninggal karena kecelakaan lalu lintas, sehingga mau tak mau dia harus kembali ke kampung halamannya


Kampung halamannya, disanalah kedua orang tuanya tinggal, Desa Damung, empat puluh kilometer dari kota, terletak di kaki bukit dekat lembah dan di kelilingi hutan rawa, akses jalan tidak memadai, hanya jalan setapak berupa tanah, jika hujan akses desa ke kota akan tertutup oleh lumpur dan banjir, dalam kondisi normal perjalanan akan mencapai satu hari dan jika terjadi hujan dan banjir perjalanan mencapai dua hari


Kina menghela napas, ia sedikit terganggu saat duduk pertama kalinya di bangku kelasnya, sekolah ini adalah satu-satunya sekolah di desa Damung, sekolah paket, usia berapa pun bisa masuk, sekolah penyetaraan itu hanya punya satu guru, dan semua memiliki jadwal masing-masing, seperti Kina yang mengambil paket kesetaraan SMP, jadwalnya pagi ini


Ruangan itu berdebu dan banyak sampah berserakan di bawah meja, ia mendengus, matanya menatap satu persatu calon teman barunya yang mulai memasuki kelas


Satu.. dua… tiga.. enam.. tunggu, Cuma enam ?

__ADS_1


Ia memperhatikan jumlah murid perempuan di kelasnya hanya ada enam orang sisanya laki-laki empat orang.


Satu orang duduk di depannya, ia menoleh sebentar ke arah Kina sambil tersenyum dengan gigi gingsul


"Aku Arna" ia mengulurkan tangannya, Kina menyambutnya dengan sukacita


“Kina”


Arna menunjuk seseorang berambut ikal yang duduk di depan papan tulis


“Namanya Dayuti, dia orang yang pintar, sayang sombong”


Kina tidak mengerti apa maksud Arna menjelek-jelekkan seseorang di depan orang yamg baru di kenalnya


Arna memamerkan giginya lagi sambil melambai ke arah Dayuti yang mulai menyusun buku-bukunya di atas mejanya, namun Dayuti acuh saja "Tuh' kan"


“Oh begitu” Kina menyahut seadanya


“Ku dengar bibimu tewas kecelakaan” Arna mengalihkan topik, Kina sedikit kesal mendengar bibinya diungkit-ungkit


Seminggu sebelum kematian sang bibi Kina memang sempat beradu mulut dengan preman pasar yang suka mengganggunya. Tapi bukan berkelahi apalagi sampai mati


gosip sampah dari mana itu?!


“Mustahil aku melakukan hal itu!”


“Mungkin saja bibimu tewas karena preman itu ‘kan?”


Kina mengepalkan tangannya, ia mempunyai kemarahan yang meledak-ledak, hal-hal kecil seperti ini bisa jadi sangat mengganggunya, apalagi jika hal ini menyangkut bibinya yang merawatnya sejak kecil


“Owh, ayolah.. semua orang tahu”


“Itu tidak benar!“

__ADS_1


“Kenapa berteriak? Aku hanya bertanya!”


Arna menutup telinganya dengan jengkel, melangkah pergi keluar sambil menggerutu, padahal ia hanya sedikit menggoda Kina tapi reaksi Kina sangat berlebihan


“Kau berurusan dengan orang yang salah..”


Kina berucap lirih penuh penekanan, ia kesal, sudah kesal dari pagi karena ucapan ibunya, dan ditambah orang ini, yang baru saja bertemu sudah mengolok orang lain, tidak punya sopan santun, mungkin orang yang lambat dan bodoh seperti yang dikatakan ibunya, tapi ia bukan orang yang bisa diinjak harga dirinya atau di rendahkan seperti ini, orang ini harus diberi pelajaran!


Kina berlari menyusul Arna menarik rambutnya sampai gadis itu menjerit kesakitan


“Argh.. Dasar kurang ajar!“


Arna berusaha melepaskan cengkeraman tangan Kina dari rambutnya membuat beberapa rambutnya lepas, ia balas menjambak Kina dan mencakar wajahnya


“Beraninya kau anak baru !”


Cakaran wajahnya menggores wajah Kina membuat luka, Kina makin geram ia menendang Arna sampai jatuh terduduk dilantai


“Berani ? tentu saja aku berani “


Kina menggeret kursi menuju Ke arah Arna.


Suasana kelas mendadak sunyi, hanya suara geretan kursi yang terdengar, seluruh mata menatap ke arah Kina


“Kau mau apa ? mau ku laporkan ke guru ?”


Seorang laki-laki berkacamata mendekat mencoba menghalangi langkah Kina, ia sedikit bergidik menatap mata Kina, pandangan matanya gelap, tidak terlihat takut sama sekali


“Apa yang terjadi disini !?” Sebuah suara menggema membuat ricuh suasana kantin, seluruh siswa yang sedari tadi menonton adegan itu kocar kacir begitu melihat sesosok laki-laki paruh baya dengan rambut memutih berdiri tak jauh mereka


Dia adalah Pak Wawan, sekilas yang kina tahu dari nama yang di jahit di baju coklatnya, mungkin guru di sekolah paket ini


“Kalian ikut bapak“

__ADS_1


Kina menatap laki-laki berkacamata itu dengan geram, bangku yang sedari tadi di pegangnya di lempar ke lantai olehnya, laki-laki berkacamata membantu Arna mengikuti dengan langkah tertatih


__ADS_2