
Malam ini terasa lebih dingin dari malam sebelumnya, Kina bersiap-siap untuk tidur, menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, lampu minyak di atas meja telah lama ia padamkan, seharusnya ia sudah bisa memejamkan matanya, tapi seberapa keras ia mencoba, tetap tidak bisa, berulang kali ia membolak-balikan tubuhnya dengan gelisah.
Ada apa ini? Apa mereka akan datang lagi?
Ia berharap malam ini tidak mendengar suara lonceng, sedikit cemas kalau-kalau mayat hidup datang kembali mencarinya, Kina sudah menghitung-hitung kedatangan para mayat hidup itu tidak setiap malam, tetapi ada hari-hari tertentu, seperti ada pola tersendiri.
Tapi ia yakin selama berada di rumah mereka tidak akan bisa masuk.
Kina teringat dengan Narsih, yang meninggal di sumur tadi, lalu Nenek Niba yang duduk santai di kursi goyangnya, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal, tapi tidak tahu apa itu, masih belum menemukan titik merah kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini.
Pemakaman Narsih berlangsung sangat singkat, mungkin untuk menghindari senja tiba, dan juga tubuh Narsih yang membusuk, tidak ada doa-doa, hanya isak tangis Nukas yang tiada henti, Kina merasa sangat sakit melihat bocah itu menangis pilu, ingin membawa bocah itu pulang ke rumahnya, namun bu Mursa telah melakukannya lebih dahulu, wanita itu seperti tidak membiarkan Kina mendekati dan menyentuh Nukas.
Kina memejamkan matanya lagi, berharap bisa tidur. Suasana sangat sepi, tidak ada suara binatang malam atau suara daun-daun yang bergerak tertiup angin, sangat sepi, hingga Kina dapat mendengarkan napasnya sendiri.
Lama ia berdiam diri tak melakukan apa-apa.
“A.na..kku..”
Kina terbelalak langsung bangkit dari kasurnya, menahan napas, menajamkan pendengarannya dan memperhatikan sekeliling. Suara laki-laki dengan kantong plastik itu terdengar tepat di telinganya.
Mereka datang?
Persis seperti teror di malam-malam sebelumnya, suara kecipak air, langkah-langkah kaki, dan gumamam rendah terdengar ramai di luar rumah.
Tidak apa-apa, aku di dalam rumah, sudah pasti aman.
Tapi suara-suara itu makin ramai, bahkan kali ini tidak hanya mengetuk pintu, suara seseorang merayap-rayap di dinding kayu dan bunyi gemerusuk atap rumbia.
Mereka benar-benar mencariku?
Kina dengan langkah gemetar perlahan-lahan bangkit menuju kamar kedua orang tuanya, membuka pintu dengan amat perlahan supaya tidak menimbulkan bunyi, tapi kemudian ia terperangah, Kina tidak mendapati siapa pun di sana, kasur itu kosong.
Kemana mereka?
“Ibu? Ayah?” bisik Kina dengan panik, mengitari setiap sudut ruangan rumah dari depan sampai belakang, ia kebingungan tak menemukan siapa-siapa, hanya gelap dan riuhnya suara di luar.
“BRAK!”
Pintu depan yang tadinya di ketuk-ketuk kini di gedor kencang, Kina langsung berlari ke kamarnya ketakutan.
“Duk..Duk..Duk..”
__ADS_1
Sesuatu jatuh lalu menggelinding, tidak ingin menduga-duga, Kina dengan gemetar menutup rapat pintu kamarnya, peluh membanjiri seluruh tubuhnya.
Kina melompat ke kasur, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, merengsek ke pojok dinding, tubuhnya tak berhenti gemetar.
Apa mereka akan memakanku? membunuhku?
Aku masih ingin hidup sebagai manusia!
“Kri....eettt....tek..tek..”
Pintu berderit, dibuka dengan amat pelan hingga suaranya menjadi semakin panjang dan menakutkan. Suara kecipak air diikuti langkah lamat-lamat terdengar memasuki rumah.
Kina mendekap erat-erat bantalnya.
“Krek..”
Pintu kamarnya yang tertutup rapat bergetar, pegangan pintu kamarnya bergerak, ada seseorang yang membukanya. Kina merapatkan diri ke dinding, membekap mulutnya sendiri.
Suara kecipak air terdengar lagi, pintu kamar telah terbuka sepenuhnya, Kina mau tak mau membuka matanya, di tengah kegelapan matanya melihat dengan jelas, siluet wanita berambut bergelombang berdiri diam diiringi tetesan-tetesan air berjatuhan ke lantai dari gaun dan rambutnya.
Siapa wanita ini?
Dia adalah Narsih!
Kina menggigil, melihat mayat yang baru saja di kuburkan itu berdiri di hadapannya, kesalahan apa yang di perbuatnya sehingga Narsih gentayangan kepadanya?
Apa Narsih bangkit dari kubur seperti ayah Eda?
Narsih menghilang dari depan pintu, belum sempat Kina menarik napas, sosok itu telah berada di sampingnya.
Kina melotot, dalam gelap ia masih dapat melihat dengan jelas, betapa basahnya tubuh itu, menggelembung dan membengkak, mengeluarkan bau yang hampir membuatnya muntah andai ia tidak membekap mulutnya sendiri.
“A..pa, apa yang kau inginkan?” dengan suara bergetar Kina bertanya, masa bodoh kalau sosok ini adalah hantu yang gentayangan.
Kina tidak dapat menahan rasa mual karena jijik, ia membungkuk dan muntah di kasurnya sendiri.
Narsih, hantu itu mencondongkan tubuhnya ke arah Kina yang meringkuk di atas kasur, tetesan-tetesan air berjatuhan di atas kepala Kina.
“A..nak...Ana..kk..” suaranya serak dan terputus-putus, mulutnya terbuka dan mengeluarkan air dan lendir, jatuh membasahi rambut pendek Kina.
“Ku....”
__ADS_1
Kina menutup wajahnya tidak dapat mengendalikan rasa jijik di kepala dan punggungnya yang hampir dipenuhi lendir berbau tidak sedap, pelan-pelan ia menggeser tubuhnya merangkak menjauh.
Anakku?
Apa Narsih mencari Nukas? Ia salah mengira Kina adalah Nukas? Bagaimana mungkin wanita ini salah mengenali anaknya sendiri?
“Ak..Akuu bukan anakmu!” Kina berteriak getir setelah sekian lama mengumpulkan keberaniannya, Narsih menggeram, seperti tidak puas.
Kakinya ditangkap oleh tangan yang penuh lendir, Kina mau tak mau menjerit sejadi-jadinya, mengabaikan rasa takut sampai ke ubun-ubun.
“LEPASKAN! LEPASKAN AKU AAAAKHH..!!”
Ia terseret sangat cepat dan kasar, keluar dari kamarnya, dagunya tergesek lantai, mengeluarkan darah, rasanya sangat sakit.
Kina berpegangan pada pintu, menahan tubuhnya, kakinya ia gerak-gerakan mencoba memberontak.
"Aku bukan anakmu!"
Narsih menggeram, masih memegang kakinya, menariknya kuat-kuat.
Kina sekuat tenaga memegang pintu.
"Lepaskan aku! Aku bukan anakmu! Nukas!" Kina berteriak putus asa, air matanya rasanya tertelan, "Nukas adalah anakmu!"
Narsih diam, tiba-tiba melepas kaki Kina.
Kina memeluk pintu sambil menangis sesegukan, seluruh tubuhnya basah oleh air dan lendir, menggigil seperti anak kucing.
Hening sejenak, Kina tidak berani menengok ke arah Narsih, mencoba menenangkan dirinya yang gemetar.
Ia mendongak tak mendapati siapa pun di sana, menghela napas lega.
Apa dia benar-benar mencari Nukas?
Merangkak ke kamarnya, mengunci pintu dan bersandar dengan napas terengah-engah, ia lemas sekali.
Nukas.
Wajarkah seorang ibu yang sudah mati membengkak di sumur mencari anaknya? Apa Narsih mempunyai pesan yang ia sampaikan pada Nukas? Atau jangan-jangan dia akan membunuh Nukas? Bocah itu mungkin saja saat ini dalam bahaya!
Pikiran Kina kalut, mengkhawatirkan Nukas, kepalanya pusing, dan kesadarannya perlahan menghilang.
__ADS_1