After I Die

After I Die
Yang Tidak Bisa Mati


__ADS_3

“Kau mengatakan akan memberitahuku tentang teror yang terjadi pada malam itu” Kata Kina dengan pandangan menuntut, mereka baru saja pulang dari sekolah, matahari masih tinggi dan berdiam di tempat teduh adalah hal yang menyenangkan sebelum pertanyaan Kina muncul, temannya ini tidak sekali dua kali bertanya pada hari ini, mungkin hampir setiap waktu mengeluarkan pertanyaan yang sama. Dayuti merasa jengkel sampai ke ubun-ubun. Dia duduk di atas batang pohon yang sudah mati hanya menghela napas panjang.


Kina memikirkan banyak hal akhir-akhir ini, mulai dari teror yang dialaminya, kejadian mayat Mada bangkit dari kubur hingga hukum desa. Ia sudah berkali-kali menanyakan apa alasan orang tuanya menyuruhnya diam, dan juga alasan kenapa ia tidak boleh keluar pada malam hari, tapi nihil, orang tuanya tak memberikan jawaban apa pun, hanya makian.


Sepertinya ibunya memang punya kebiasaan memaki. Walaupun sudah merasa terbiasa menerima makian setiap hari, hatinya semakin hari semakin sakit mendengarnya.


“Aku? Aku tidak ingat” Ujarnya santai, Kina memelototi Dayuti beberapa saat, bibirnya melengkung ke bawah, pertanda kesal. Dayuti merasa tidak nyaman ditatap seperti itu hingga gadis itu menyerah.


“Baik, baik. Akan kuceritakan yang aku tahu”


Kina mendekat dan duduk di atas batu tepat di seberang Dayuti. Mereka saat ini berada di pinggir danau tak jauh dari sekolahnya, danau itu tidak besar, airnya berwarna hijau karena banyak lumut, warga desa jarang menggunakan danau ini, hanya sesekali untuk memancing ikan.


“Dua bulan yang lalu aku datang kemari bersama kakakku, dan kami tinggal di rumah kontrakan milik Pak Mursa, awalnya setiap sore beliau datang dan menyuruh kami untuk tidak pernah membuka pintu di malam hari, kami pikir mungkin karena tempat ini terpencil ada binatang buas atau perampok, jadi kami tidak terlalu memperhatikan”


“Apa yang terjadi?”


“Malam itu tepat dua minggu kami tinggal di sini, aku tidak bisa tidur, rasanya panas, jadi aku membuka sedikit jendela kamarku untuk mendapat angin segar”


“Kau melihat mereka?”


“Ya. Untungnya hanya aku yang melihat, bukan mereka, aku cepat-cepat menutup pintu dan tidur, besoknya Pak Mursa datang dan memarahi kami”


“Dia bilang aku beruntung tidak dilihat oleh mereka”


“Mereka itu apa?”


“Pak Mursa berkata mereka adalah manusia yang tidak bisa mati, bagaimana ya.. seharusnya mereka sudah mati, tetapi tidak bisa. mereka adalah manusia memiliki ilmu hitam, katanya jika melihat mereka, kau tidak akan aman di mana pun kecuali rumah. Mereka akan mencarimu”


“Sesuatu yang tidak bisa mati? Maksudmu mayat hidup seperti zombie?” Tanya Kina penasaran, dia ingat dulu pernah menontonnya di televisi, saling menggigit dan memakan sesama manusia.


“Itu terlalu keren dibilang zombie”

__ADS_1


Mengenai sesuatu yang tidak bisa mati, ia tiba-tiba teringat Nenek Niba, badannya bergidik ketakutan kemarin, ia tidak melihat nenek tua itu bangkit dari kasurnya menggendong Nukas tetapi ia melihat bayangannya.


Bayangan seorang wanita berambut panjang yang mengerikan.


Tanpa pikir panjang Kina lari dengan gemetar, untungnya ia tidak menabrak sesuatu di sana, dalam hati kecilnya ia juga mengkhawatirkan Nukas.


"Apa nenek Niba tidak bisa mati juga?" Kina bertanya tiba-tiba


"Aku tidak tahu, pernah dengar beberapa kali rumor itu, tapi itu hanya rumor, tidak ada yang tahu. Lagipula tidak ada yang pernah melihatnya keluar rumah"


Aku melihatnya kemarin, tidak. Aku melihat bayangannya.


Mengusir bayangan Nenek Niba dari kepalanya Kina berusaha berpikir realistis “Jadi, karena aku dilihat oleh mereka makanya aku terus-menerus mengalami teror? Apa aku akan menjadi salah satu dari mereka?”


Membayangkan daging di tubuhnya terlepas satu demi satu saja sudah membuat Kina bergidik ngeri.


Dayuti tidak menjawab, ia melempar kerikil ke danau, menimbulkan bunyi kecipak air.


Tidak tahu harus menjawab apa.


Aku akan aman selama di rumah, itu akan baik-baik saja.


Kina dan Dayuti saling pandang dan berpikir keras, terlalu banyak hal yang terjadi.


“Sepertinya, aku tidak tahu banyak akan hal itu, seseorang mungkin tahu dan bisa menangani ini” Kata Dayuti dengan wajah serius, Kina mendongak ke arah Dayuti yang berdiri.


“Siapa?”


“Seseorang yang baru-baru ini menjadi penjaga lonceng, Eda”


Dayuti menunjuk menara lonceng dari kejauhan dibalik rimbunnya pepohonan. Penjaga lonceng punya wewenang untuk keluar di malam hari untuk membunyikan lonceng. Bukan hal yang tidak mungkin bagi Eda untuk tahu segala sesuatunya.

__ADS_1


Mereka berdiri, berjalan beriringan menuju rumah Eda, dari kejauhan ia melihat laki-laki berkulit kecokelatan itu tengah duduk di teras sambil memilah-milah buah mangga yang baru dipetiknya dari pohon.


“Aku ingin bertanya sesuatu,” Tanpa basa-basi Kina berkata di depan Eda, laki-laki itu mendengus.


“Tidak akan kuberitahu walaupun aku tahu sesuatu” Sahut Eda ketus tanpa melihat ke arah Kina.


“Kenapa?”


Eda tidak menjawab, sibuk memasukkan satu demi satu mangga ke dalam keranjang rotan, kemudian berdiri masuk ke dalam.


“Eda!”


Pintu ditutup Eda dengan bunyi yang keras, pertanda dia tidak ingin diganggu.


“Dia sangat... kasar” Dayuti berkomentar.


“Sebenarnya kau kenapa? Kau selalu terlihat membenciku dari waktu ke waktu, padahal kita teman dari kecil!” Teriak Kina di depan pintu, menggedor pintu dengan kencang.


Hening sesaat dan tanpa di duga Eda membuka pintunya dan berkata pelan, “Jangan berteriak di depan rumahku!” Eda menatap Kina kesal, “Seharusnya kau tidak melupakannya, kau berubah banyak dari yang ku ingat”


Kina terdiam kaku, apa yang dia lupakan? Raut wajah Eda terlihat kesal dan penuh gurat kesedihan.


“Apa yang berubah?” Kina bertanya lagi.


"Kau"


"Aku?"


“Kembalilah ke kota” Eda berniat mengusir, tanpa sengaja tangannya mendorong Kina, sedikit terkejut tetapi ia kembali menutup pintu dengan kasar. Kina jatuh terduduk dengan kebingungan mencerna tiap kata yang keluar dari mulut Eda. Dayuti menariknya, membantunya berdiri, ketika mereka hampir meninggalkan teras, pintu terbuka lagi, memunculkan separuh badan Eda.


“Hati-hati dengan tindak-tandukmu” Bisiknya dengan mata yang melirik ke kanan dan ke kiri, Kina mengikuti arah pandangnya, tidak ada siapa pun di sana.

__ADS_1


“Mereka mengawasimu” Ujarnya dengan tangan yang perlahan bergerak menutup pintu, Kina seketika merasa tubuhnya lemas, wajahnya pucat pasi, saat matanya melihat genangan air berwarna hitam tak jauh dari mereka, tanpa berkata apa pun, dia menyeret Dayuti menjauh pergi.


Aku pasti akan mati!


__ADS_2