
Kina dan Dayuti terus melangkah dengan tergesa-gesa melintasi hutan, hujan telah berhenti, menyisakan lumpur dimana-mana.
“Kau yakin kita tidak tersesat?” Kina berkata dengan bibir bergetar, ia memeluk tubuhnya sendiri, melangkah tertatih-tatih mengikuti Dayuti yang keadaannya tak jauh berbeda dengan dirinya.
“Aku yakin.” Dayuti menyahut singkat, tidak menoleh ke belakang, mereka melewati pohon-pohon besar dan rumput tinggi, kadang kaki mereka terbenam di lumpur.
Mereka berjalan hingga pakaian mereka hampir mengering, dari balik tingginya rerumputan, rawa mulai terlihat.
“Kita sampai,” kata Dayuti dengan lega, ia melihat Kina di belakangnya. “Sekarang apa?”
Kina menelan ludahnya, ia memperhatikan sekeliling, genangan air berwarna hitam kecoklatan itu terhampar di depan mereka, pohon-pohon dengan akar mencuat keatas tumbuh di setiap sudut, tanaman air tumbuh dan mengambang diatas air.
“Kita … harus menemukan Eda dimana?" Dayuti bertanya dengan bingung, suara kodok dan belalang bersahutan dengan riuh, angin dingin berhembus menggoyangkan dedaunan, menimbulkan bunyi gesekan daun dan ranting yang terdengar patah-patah.
Kina melihat ke tanah, ada rerumputan yang tidak tumbuh dan membentuk jalan tipis di balik batang pohon yang telah mati dan melintang, ia melangkah tanpa berkata apa-apa.
Dayuti di belakangnya tertegun, ia melihat ke sekitar mereka, di depan Kina hanya ada pohon besar yang daunnya saling menyentuh, membuat cahaya matahari tidak bisa masuk.
Mereka melangkah tanpa suara, Dayuti dengan kegugupannya, sedangkan Kina dengan keyakinan dirinya yang entah muncul darimana. Semakin mereka masuk, semakin pandangan mereka terbatas, sesekali cahaya matahari masuk akibat dari daun yang bergoyang akibat tertiup angin.
“BUKH!” Kina berhenti tiba-tiba, Dayuti yang tidak awas tidak sengaja menabraknya, ia memekik pelan, memegangi hidungnya yang berdenyut nyeri.
“Ada apa?”
Kina menempelkan telunjuknya di bibir, ia menarik Dayuti bersembunyi ke belakang pohon, menunjuk ke depan, ada sebuah rumah kayu yang setengahnya dikelilingi akar-akar pohon, menampilkan seakan rumah itu tengah di makan oleh pohon besar itu, pintu dan jendela yang menyebul di sela-sela akar pohon tertutup rapat.
Dayuti membelalakkan matanya, ia tidak pernah tahu jika ada sebuah rumah di tengah hutan gelap seperti ini. Di bawah akar-akar pohon yang saling melilit itu ada sebuah nampan berisi sajen dan sebuah dupa yang menyala.
“Ada orang?” Dayuti bergumam, ia memandang Kina yang terlihat mengendap-endap mendekat, ia menelan ludah, mau tidak mau mengikuti setiap langkah temannya itu.
Aroma dupa merebak memenuhi hutan, Dayuti dan Kina mendekat, mengintip di jendela, mereka tidak menemukan apa-apa selain gelap. Dayuti melirik sajen di atas nampan rotan itu, darahnya berdesir, ia merinding tiba-tiba.
__ADS_1
Kina melihat lilin yang tertempel di dinding dan sekotak korek api, dengan pelan ia mengambilnya, membuka pintu itu.
Jantungnya berdebar keras, Kina menahan napasnya, pintu kayu itu sudah lapuk, menimbulkan bunyi yang membuat gigi terasa ngilu, ia mendorongnya pelan sampai pintu itu terbuka lebar. Yang mereka dapati adalah lantai tanah dan kegelapan, Kina menarik Dayuti masuk dan menyalakan lilin.
Cahaya lilin bergoyang, ia mengangkatnya tinggi, ada ruangan dan dinding bersekat dan sebuah pintu, Kina mengendap-endap, matanya melihat dengan waspada, samar-samar ia mendengar deru napas seseorang dibalik dinding.
“Eda?” Kina bersuara lirih, ia mengetuk pintu, tidak ada jawaban, hanya suara napas teredam terdengar.
Kina melihat jika pintu itu digembok, ia menyuruh Dayuti memegang lilin, sedangkan dia sendiri mengambil batu untuk menghancurkan gembok itu.
Dayuti hanya menggigit bibirnya memperhatikan gerak-gerik Kina, wajahnya harap-harap cemas. Setelah beberapa tumbukan pintu itu terbuka, buru-buru Dayuti mengarahkan lilin ke dalamnya.
“Tidak mungkin,” seru Kina dengan suara tertahan, Dayuti mematung dengan mata terbelalak.
“Eda?!”
Mereka melihat Eda tengah di rantai di sebuah tiang di tengah-tengah ruangan, laki-laki itu meringkuk di lantai, mulutnya disumpal kain, laki-laki itu menengadah, matanya yang merah itu menatap Kina.
Eda duduk dan meronta, Kina dengan cepat mendekat dan melepas sumpalan mulut Eda, laki-laki itu bersandar dan membuka mulutnya dengan napas menderu.
“Siapa yang melakukan ini?!” kina memburu Eda dengan pertanyaan, laki-laki itu mencoba mengatur napasnya yang putus-putus, Dayuti memegang rantai yang terikat di leher Eda, rantai itu tersambung ke tiang di belakang Eda.
“Kin … lari … kamu harus lari ….” Eda berkata dengan susah payah, Kina menatap Eda sebentar sebelum mengambil batu yang dugunakannya untuk menumbuk gembok.
Tangan Eda menggenggam lengan Kina, temannya itu mengabaikannya. “Kamu harus lari, dia … akan membunuh … mu.”
Kina menumbuk rantai dengan susah payah, ia tidak menjawab perkataan Eda, kondisi temannya itu terlihat tidak stabil, mungkin saat ini setengah sadar dan terus meracau, Dayuti segera menyangga tubuh Eda, takut kalau temannya itu ambruk ke tanah.
Bunyi batu bertemu dengan rantai berbunyi, gemrincing. Keringat Kina jatuh bercucuran diikuti detak jantungnya yang bertalu-talu, mereka berdua berusaha tetap tenang, walau itu sia-sia, tangan Kina tetap gemetar setiap waktu.
Eda mencoba menenangkan deru napasnya, ia memejamkan matanya, matanya menatap Kina lekat-lekat, di bawah cahaya lilin yang Dayuti letakkan di atas meja, matanya melihat bayangan hitam itu sudah mengeliling Kina.
__ADS_1
“Aku tidak akan lari tanpa kamu,” sahut Kina ketika rantai terputus sempurna, ia melepas ikatan rantai di leher Eda, cepat-cepat membantunya berdiri. “Kau bisa bercerita saat kita jauh dari sini.”
Dayuti dan Kina memapah Eda, mereka dengan tergesa keluar dari rumah, mencoba mencari persembunyian sementara.
Di belakang pohon bambu yang lebat, mereka bersembunyi, Kina mendudukkan Eda di sana, laki-laki itu terlihat pucat. Namun, terlihat lebih baik setelah diberi minum oleh Dayuti.
“Ni Lewun pelakunya, dia yang menganut ilmu hitam, selama ini dia mengkambinghitamkan Nenek Niba. Nukas, ayahku beserta korban yang lainnya adalah tumbal agar Ni Lewun abadi.” Eda membeberkan apa yang ia dengar ketika ia disekap, Kina duduk dan terdiam kaku, air matanya tanpa bisa di tahannya jatuh.
“Bagaimana bisa dia melakukan itu? Dia tabib.” Dayuti berkata dengan penuh kengerian, ia mengangguk dengan kaku. “Itu menjelaskan kenapa ia terlihat sehat berbeda dengan Nenek Niba.”
Kina menunduk, ia mengingat kematian Nenek Niba, ia juga ingat siapa yang menggendong Nukas waktu ia masuk ke rumah itu, pikirannya berkecamuk.
“Pokoknya, kau harus segera lari.” Eda menatap Kina dengan lekat, ia menelan ludah. “Orang yang akan ditumbalkan oleh Ni Lewun adalah keturunan pendiri desa. Kau dan aku, kita akan segera menjadi tumbal sampai tumbal kematian ketujuh.”
“Apa? Aku?” Kina menunjuk dirinya sendiri, ia pernah mendengar jika ibunya pernah bilang bahwa Ni Lewun itu adalah sepupu dari neneknya pada saat ia pertama kali datang ke desa Damung.
“Kematian ketujuh?” Dayuti bergidik ngeri, wajahnya makin pucat, dalam hatinya ia menghitung sudah ada empat kematian tragis di desa ini, itu berarti masih ada tiga orang lagi yang akan mati?
“Aku tidak memiliki keluarga lagi, hanya aku.” Eda menarik napas panjang. Ia menatap Kina. “Nukas, Pak Mursa, Narsih adalah keturunan dari Nenek Niba. Mereka sudah tewas. ”
Kina merasakan aliran darahnya berhenti, perkataan ibunya tentang Ni Lewun terulang-ulang di benaknya, seperti kaset rusak.
“Itu berarti... aku, ayah dan ibuku ... Bu Mursa ...."
Dayuti menutup mulutnya, ia menatap Eda dan Kina bergantian.
“Masih ada Arna. Dia sepupu jauhmu,” ucap Eda pada Kina. Gadis itu mengusap wajahnya, kepalanya mendadak pening.
Ibunya, ia mengkhawatirkan ibunya.
“Kita harus menyelamatkan mereka.” Kina mendongak menatap Eda, laki-laki itu gelisah. “Sebelum ada yang mati lagi, kita harus selamatkan mereka!”
__ADS_1