After I Die

After I Die
Hukum Desa


__ADS_3

Aroma harum dari pisang goreng dari warung persimpangan jalan desa menguar, membuat siapa pun yang melintas tergugah untuk mampir sekedar mencicipi secangkir kopi dengan pisang goreng. Warung sederhana itu milik Ibu Tura, seorang janda yang tidak punya anak, warung itu hanya terbuat dari bambu dengan atap rumbia, dinding dari anyaman bambu seadanya, sebuah dapur sederhana disudut, berisikan tungku dengan api yang menyala, kemudian dua buah meja berisikan pisang goreng dan beberapa cangkir kopi yang baru diseduh


Sada, laki-laki peternak sapi itu masih dengan semangat menceritakan pengalamannya pagi tadi, diikuti dengan Barka seorang petani buah yang baru saja menghabiskan pisang goreng kelimanya


“Aku benar-benar kaget!“


Entah ke sekian kalinya ia berucap seperti itu, Barka yang di sampingnya hanya mengangguk-angguk acuh, antara percaya dan tidak


“Mungkin saja, makamnya di bongkar anjing liar!“


Kiah, seorang laki-laki tua yang rambutnya telah memutih namun gerak tubuhnya masih terlihat gagah itu menyangkal, tak jauh darinya Bu Tura hanya mendengarkan dengan seksama, tangannya bergerak mengupas pisang lalu memasukkannya ke dalam wadah


“Mana mungkin anjing menggali makam sedalam itu? Mustahil melakukannya kalau tidak menggunakan alat!"


“Jangan-jangan dia bangkit dari kubur?“


“Hiii.. Amit-amit kenapa bisa bangkit dari kubur?!“


Bu Tura bergidik mendengar celetukkan dari Barka, Pak Tua Kiah hanya terkekeh-kekeh saja


“Mungkin saja dia memiliki ilmu hitam, jasadnya tidak diterima oleh bumi”


“Ilmu hitam apa? jangan asal kalau keluarganya dengar nanti bisa jadi masalah”


“Halah, keluarganya hanya bocah itu" Sada terkekeh ringan, seolah yang dikatakannya bukan apa-apa, dia menyeruput kopinya, Barka hanya mengangguk-angguk


“Tapi, kasihan juga.. Bocah itu harus menggantikan tugas ayahnya menggoyangkan lonceng“


Bu Tura berkata dengan mata menerawang menatap menara lonceng yang berdiri kokoh di balik rimbunnya pohon balangeran yang menjulang di tengah desa


Tugas menggoyangkan lonceng tidaklah mudah, tidak sembarang orang bisa melakukannya, bahkan untuk naik ke sana pun hanya orang-orang tertentu


“Yah.. mau bagaimana lagi bu, kewajiban “


Sada menandaskan kopinya menghitung pisang yang ia makan, lalu membayarnya dengan beberapa koin uang, ia memanggul keranjang rumputnya, berniat mencari pakan buat sapinya


Belum sempat melangkah, lonceng di menara desa berbunyi berkali-kali, semua orang menghentikan kegiatan secara bersamaan menatap lonceng tersebut


Bu Tura dengan segera mematikan api yang menyala di tungku dengan seember air, merapikan warungnya secepat mungkin, Barka dan Sada meninggalkan warung dan keranjangnya begitu saja, begitu pula dengan Pak Tua Kiah di belakang mereka

__ADS_1


Mereka semua, seluruh warga desa meninggalkan kegiatan sejenak dan pergi ke tengah desa, berkumpul di depan menara lonceng. Di sana berdiri dua sosok yang sangat dihormati warga desa, Pak Mursa sang ketua desa dan sang tabib, Ni Lewun


Ni Lewun sudah berumur, rambutnya putih semua, wajahnya keriput, tubuh kurus tinggal tulang dibalut gaun coklat dan tongkat menyangga tubuhnya, matanya masihlah terlihat tajam menatap satu persatu warga desa yang datang


Di atas menara, Eda yang bertugas membunyikan lonceng besar menggantikan sang ayah. Belakangan Kina tahu jika bunyi lonceng itu memiliki arti, jika lonceng berbunyi sekali artinya warga harus memulai/mengakhiri aktivitas, jika berbunyi dua kali maka telah terjadi musibah atau seseorang telah meninggal. Dan untuk lonceng yang berbunyi berkali-kali artinya akan ada pengumuman penting yang mengharuskan semua warga berkumpul


Ni Lewun menatap warga yang berdatangan satu persatu, desa ini kecil, sehingga akan mudah mengetahui siapa yang tidak datang


Kina datang bersama ibu dan ayahnya, ia tak bisa banyak protes ketika ibunya menyeretnya kemari saat sedang mencuci piring


Pak Mursa memberi isyarat agar Eda berhenti membunyikan lonceng, ia menatap warganya


“Terima kasih sanak saudara telah berkumpul”


Pak Mursa menarik napas panjang, seluruh warga diam mendengarkan


“Jam malam akan diberlakukan lebih ketat lagi, untuk beberapa waktu ke depan dimulai satu jam sebelum senja”


Satu jam sebelum senja berarti jam lima sore, peraturan jam malam terdahulu adalah warga tidak boleh melakukan aktivitas diluar rumah ketika gelap datang, sekitar pukul tujuh malam, para warga mulai protes menganggap itu merugikan mereka, para petani biasanya menyiram tanaman di ladang, peternak masih menggiring bebek ke kandang


“Tenang sanak. Ini hanya untuk sementara”


TOK.. TOK.. TOK..!!


Tongkat milik Ni Lewun dientakkan ke tanah, wanita tua itu tidak berekspresi banyak, hanya raut wajah yang tidak mengenakkan untuk dilihat


“Semua ini tidak akan terjadi kalau ada orang yang melanggar hukum desa tadi malam!”


“Melanggar?” Sada yang bertubuh paling besar menyahut, suaranya nyaring


“Siapa yang berani melanggar hukum desa?!”


“Kami tidak melakukannya! Kami selalu menutup pintu dan jendela saat malam hari”


“Tidak mungkin ada yang melanggar!”


“Benar kami semua di rumah!”


Warga mulai mengeluarkan protes mereka, Kina menggenggam erat tangan Dayuti

__ADS_1


Aku! Aku yang melanggar hukum desa! Haruskah aku mengaku?


“Aku melihat ada yang melanggarnya!”


Ya itu aku!


Kina membatin, ia merasakan sebuah bayangan menghalangi sinar matahari ke arahnya, Ibu dan ayahnya tengah berdiri membelakangi Kina, menyembunyikan Kina dari pandangan Ni Lewun


Kina ingin membuka mulutnya namun urung ketika melihat mata sang ibu yang mengisyaratkannya tetap diam


Kina tidak mengerti, apa yang salah dengan keluar di malam hari? Apa ini berhubungan dengan teror yang di dapatnya di dua malam sebelumnya?


“Siapa yang melakukannya Ni?”


“Siapa orang yang lancang itu!”


Sada memperhatikan satu persatu warga, menghitung jumlah mereka, ada tiga warga yang tidak hadir


“Keluarga Niba! Apakah mereka?! Mereka tidak terlihat dimanapun!”


Warga mulai menoleh mencari keberadaan Nenek Niba, Kia mengerutkan keningnya


Apa mereka gila? Nenek yang sekarat itu mana mungkin dapat hadir di perkumpulan seperti ini


Tapi perkumpulan di Desa ini adalah hal yang sangat penting dan sakral, semua orang wajib datang, begitulah yang Kina dengar dari ibunya


Perdebatan antar warga pun tak dapat terhindarkan


“Sudah kuduga wanita tua itu menyembunyikan sesuatu”


“Dukun itu pasti merencanakan sesuatu!”


“Ah! Dasar sundal tidak mati-mati!”


Kina teringat Nukas dimana bocah itu sekarang? Ia khawatir


“Hukum desa dimulai hari ini!” Suara Pak Mursa membuat suasana hening seketika, warga menunduk pasrah, lalu perlahan-lahan kembali ke tempat masing-masing


Kina mengikuti langkah kedua orang tuanya sebelum sang ibu berbalik dan berbisik

__ADS_1


“Jangan bertanya apa pun!”


__ADS_2